Share

9. Harapan Baru

Author: Ravelyn Ash
last update Last Updated: 2026-03-11 07:14:58

Lalu Nama Itu Dipanggil

‎“Yuha.”‎

Ia masuk.‎

Langkahnya tidak tergesa, Tidak juga terlalu percaya diri.‎

Hanya stabil.‎

Musik dimulai.‎

Yuha menyanyikan bait pertama.‎

Suasana ruangan masih biasa.‎

Minjae masih menatap tanpa ekspresi.‎

Tapi di baris kedua, Suaranya mulai terdengar berbeda.‎

Bersih.‎

Dalam.‎

Bukan hanya Teknik bernyanyi nya.‎

Caranya menari.‎

Caranya meng-ekpresi kan wajah nya

Seperti ada pengalaman di sana.‎

Ketika chorus datang, Nada tinggi itu tidak hanya stabil.‎

Ia menggema
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dibalik Panggung, Aku kehilanganmu   11. The First Recording

    Koper besar terbuka di lantai kamar.‎Ibu Yuha melipat pakaian dengan hati-hati, memasukkan satu per satu ke dalam koper.‎‎“Jangan lupa bawa jaket tebalmu. Di Studio biasanya dingin,” ucapnya lembut.‎Yuha tersenyum kecil.‎“Iya, Bu.”‎Hyunsik bersandar di kusen pintu, memperhatikan dalam diam. Suasana tidak tegang, tapi terasa berbeda...seolah satu fase hidup benar-benar telah berganti‎“Gimana rasanya bisa debut?” tanya ibunya pelan.‎Yuha terdiam sebentar.‎‎“Senang… tapi juga takut.”‎Ibu menghentikan tangannya, lalu mendekat dan merapikan rambut Yuha.‎‎“Takut itu emang wajar Yuha. Yang tidak wajar kalau kamu tidak berani melangkah.”‎Yuha menunduk, menahan emosi kecil yang muncul.‎Hyunsik akhirnya melangkah masuk.‎‎“Jadwalmu padat ya sampai harus siap-siap sekarang?”‎“Banget,” jawab Yuha sambil tersenyum tipis. “bayangin kak, Besok udah langsung rekaman.”‎Hyunsik mengangguk pelan.Tatapannya tidak lagi setegang dulu.Dalam hati ia berkata,Suho tidak berbohong.Ia teringat

  • Dibalik Panggung, Aku kehilanganmu   10. Cara Lain Untuk Menjaga

    Layar di ruang rapat menampilkan satu kalimat besar:‎‎3 WEEKS TO LAUNCH‎Direktur berdiri di ujung meja.‎‎“Tiga minggu dari sekarang. Kita rilis single debut dan video musik pertama.”‎Beberapa orang dari divisi pemasaran langsung membuka laptop.‎‎“Teaser harus mulai dua minggu sebelum rilis.”‎“Konsep visual harus final minggu ini.”‎“Lokasi MV paling lambat dikunci lima hari.”‎Divisi kreatif menyela,‎“Maaf direktur, tapi Kalau lagunya belum selesai kami tidak bisa mulai mengonsep MV.”‎Semua mata beralih ke Suho selaku tim produser yg bertanggung jawab atas lagu debut ini.‎Direktur menatapnya.‎“Bagaimana?”‎Suho berdiri tanpa terburu-buru.‎‎“Kita tidak punya waktu untuk menyiapkan lagu baru.”‎Beberapa orang terlihat bingung.‎‎“Aku punya satu lagu.”‎Sunyi.‎‎“Sudah kubuat sejak lama. Tinggal penyesuaian aransemen dan guide vokal.”‎‎“Kalau begitu timeline kita bisa maju seminggu.”‎Divisi pemasaran mengangguk.‎“Lebih aman untuk teaser.”‎Direktur menyipitkan mata.‎“K

  • Dibalik Panggung, Aku kehilanganmu   9. Harapan Baru

    Lalu Nama Itu Dipanggil‎“Yuha.”‎Ia masuk.‎Langkahnya tidak tergesa, Tidak juga terlalu percaya diri.‎Hanya stabil.‎Musik dimulai.‎Yuha menyanyikan bait pertama.‎Suasana ruangan masih biasa.‎Minjae masih menatap tanpa ekspresi.‎Tapi di baris kedua, Suaranya mulai terdengar berbeda.‎Bersih.‎Dalam.‎Bukan hanya Teknik bernyanyi nya.‎Caranya menari.‎Caranya meng-ekpresi kan wajah nyaSeperti ada pengalaman di sana.‎Ketika chorus datang, Nada tinggi itu tidak hanya stabil.‎Ia menggema.‎Dan untuk pertama kalinya hari itu, Minjae berhenti mencatat.‎Tangannya diam.‎tatapannya terangkat, penuh rasa kagum.‎Bukan karena terkejut.‎Tapi karena melihat sesuatu yang jarang muncul.‎Ia melihat potensi di dalam diri Yuha.Potensi yang bisa membawa agensi ini bangkit kembali.Lagu selesai.‎Sunyi.‎Bukan sunyi canggung.‎Tapi sunyi karena memproses.‎Minjae menutup mapnya.‎Wajahnya berubah.‎Tidak lagi lelah.‎Tapi ada harapan disana.‎_‎Pintu ditutup.‎Yuha dan trainee lain menun

  • Dibalik Panggung, Aku kehilanganmu   8. Haneul Music Lab

    “Kau tahu… dan membiarkannya?”‎Pertanyaan itu pelan.‎Menusuk.‎Suho tidak menghindar.‎“Aku tahu sebagian. Tidak semuanya.”‎Kejujuran itu berat.‎‎“Tapi kali ini aku tidak akan membiarkannya sendirian.”‎Suho melangkah sedikit lebih dekat.‎‎“Aku akan mencarikan agensi yang akan menghargai usahanya. Tempat yang tidak melihatnya sebagai ‎ancaman.”‎Hyunsik masih menatapnya.‎Mencari kebohongan.‎Mencari keraguan.‎Tidak ada.‎Hanya tekad.‎‎“Aku akan memastikan dia tetap jadi idol.”‎Suara Suho tidak keras.‎Tapi solid.‎“Dan aku akan selalu menjaganya.”‎Kalimat itu menggantung.‎Hyunsik akhirnya duduk perlahan.‎Ia menghela napas panjang.‎‎“Suho, Adikku itu tidak pernah pandai membela diri.”‎Ia menatap Suho.‎‎“Dia selalu memilih diam.”‎Suho mengangguk.‎‎“Aku tahu.”‎‎“Kalau kau serius dengan dia…”‎Hyunsik berhenti sebentar.‎Nada suaranya berubah lebih dalam.‎‎“Pastikan dia tidak pernah merasa sendirian lagi.”‎Itu bukan ancaman.‎Itu permintaan.‎Suho menjawab tanpa ra

  • Dibalik Panggung, Aku kehilanganmu   7. Dikeluarkan

    Tapi cara ia mengucapkannya sudah seperti vonis.‎‎“Maaf, Kami tidak bisa melanjutkan kontrakmu.”‎Dunia Yuha seperti berhenti.‎‎“Kamu akan dikeluarkan dari program trainee Aurora.”‎Kalimat itu terdengar jauh.‎Seolah tidak ditujukan padanya.‎‎“Saya… dikeluarkan?”‎Pelatih Lee mengangguk tegas.‎‎“Kamu bisa menganggap ini sebagai keputusan final.”‎Yuha menggigit bibirnya kuat-kuat.‎Tidak ada teriakan, tidak ada permohonan.Ia hanya berdiri diam, kaku.Tubuhnya terasa ringan seperti kehilangan pijakan.Pintu dibuka.‎Beberapa trainee masih berdiri di luar.‎Mereka semua melihatnya.‎Pelatih Lee berkata keras, cukup untuk didengar semua trainee:‎‎“Ini pelajaran untuk kalian. Walaupun kalian berbakat tapi kalau tidak jujur, jangan harap punya tempat di sini.”‎Bisik-bisik kembali terdengar.‎‎“Serius ya…”‎‎“Dia yang ambil USB?”‎‎“Padahal dia sangat berbakat…”‎Yuha mendengar semuanya.‎Setiap kata seperti jarum kecil.‎Dahyun berdiri di barisan belakang.‎Tatapannya lurus.‎Tid

  • Dibalik Panggung, Aku kehilanganmu   6. Tuduhan

    Beberapa trainee masih mengobrol.‎Yuha sedang tertawa kecil bersama dua trainee lain.‎‎“Pelatih tadi kelihatan kagum banget loh pas muji kamu.”‎Yuha tersenyum malu.‎‎“Ah, nggak juga…”‎Tawa itu.‎Nada rendah hati itu.‎Dahyun berdiri di depan cermin, pura-pura membereskan rambutnya.‎Tapi matanya menangkap sesuatu.‎USB di atas meja.‎Ia mengenalnya.‎Itu USB evaluasi.‎Ia pernah melihat pelatih memakainya untuk memutar video ranking trainee.‎Ruangan mulai sepi.‎Beberapa trainee keluar satu per satu.‎Yuha sedang membungkuk mengambil botol minumnya.‎Dahyun berjalan perlahan ke meja.‎Ia berhenti.‎Menatap USB itu.‎Tangannya tidak langsung bergerak.‎Ia menoleh ke arah Yuha.‎Yuha tidak melihatnya.‎Terlalu sibuk tersenyum.‎Dahyun teringat kalimat pelatih tadi.‎‎“Lihat Yuha. Dia baru setahun tapi perkembangannya sudah sebesar ini.”‎Tangannya bergerak.‎Perlahan.‎Ia mengambil USB itu.‎Ringan.‎Tapi terasa berat di tangannya.‎Tidak ada suara.‎Tidak ada yang memperhatikan.‎

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status