Share

2. Bermalam dengan Pria Hot

Author: Blue Rose
last update Huling Na-update: 2025-10-01 13:46:59

Mansion megah berdiri anggun di pinggir kota. Lampu taman menyala, gerbang terbuka. Mobil masuk, dan berhenti di halaman luas. Aron turun, menggendong Lusi ala Bridal Style ke dalam

Interior megah dengan chandelier kristal berkilau menyambut mereka. Namun Lusi hanya bisa merintih, tubuhnya goyah di pelukan Aron.

“Tolong… jangan tinggalkan aku…” gumamnya.

Aron menatap wajah itu. Hatinya berdebar, sebagai dokter, ia tahu harus menenangkan pasien. Tapi malam ini berbeda. Tubuhnya sendiri tak bisa ia kendalikan.

Dengan suara rendah dan mata yang tajam, Aron berbisik di telinganya.

“Bagaimana, Sayang… mau aku suntik di tangan… atau di tempat lain?”

Aron melempar Lusi di atas kasur membuat wanita itu kaget.

“Aaaaaa!” Lusi menjerit, tubuhnya gemetar, sementara Aron menatapnya dengan sorot tajam yang sulit ditebak.

Dan malam itu menjadi awal jeratan yang mengikat di antara mereka berdua.

•••

Cahaya matahari menembus tirai tipis kamar yang luas itu. Suasana begitu hening, hanya terdengar bunyi detak jam dinding yang pelan. Lusi membuka matanya perlahan. Tubuhnya terasa lemas, seolah baru kehilangan seluruh tenaga. Pikirannya masih kabur, namun perlahan ia mengingat sesuatu.

Malam tadi semua itu terjadi. Ia mengingat suara jeritannya sendiri, sentuhan, dan aroma tubuh pria itu. Bahkan tekstur tubuh pria itu masih terasa, ia benar-benar melakukannya.

Sekujur tubuhnya seketika merinding dan nafasnya memburu. Air mata mulai menggenang di sudut mata.

"Astaghfirullah… apa yang sudah aku lakukan?"

Ia melirik ke samping. Di sana, Aron duduk santai di sofa kulit hitam. Kemeja putih longgarnya terbuka di bagian dada, memperlihatkan otot yang terlatih. Secangkir kopi hitam di tangannya mengepulkan aroma pekat. Ia terlihat tenang, seolah malam tadi tak terjadi apa-apa.

Lusi justru sebaliknya. Tubuhnya gemetar memperlihatkan ketakutan luar biasa. Dalam dirinya, seolah menyatakan bahwa jiwanya sedang kacau. Ia menatap selimut yang menutupi tubuhnya, lalu memeluk dirinya sendiri. “Ya Allah…” gumamnya lirih.

Aron menoleh, tatapannya tenang namun menusuk. “Kamu sudah bangun.”

Suara itu membuat Lusi kaget. Ia buru-buru menarik selimut lebih rapat, seakan ingin menghilang dari pandangan siapapun.

“Anda…” suaranya tercekat, lalu pecah jadi tangis. “Bagaimana bisa… mengapa Anda—” Ia tak sanggup melanjutkan.

Aron menaruh cangkirnya di meja, lalu bangkit. Tubuh tingginya melangkah mendekat. Namun Lusi mundur, menempel pada kepala ranjang, ketakutan sekaligus malu.

“Tenang,” Aron berkata datar. “Aku tidak akan menyakitimu.”

“Tidak!” Lusi menggeleng keras, air matanya jatuh. “Kamu sudah… kamu sudah menyentuhku… malam itu… aku...” suaranya bergetar. “Dan kamu… kamu adalah—” Ia terisak. “Mantan ayah mertuaku.”

Ruangan mendadak membeku.

Aron menatapnya lama. Tak ada keterkejutan di wajahnya, seolah ia memang sudah tahu sejak awal. Ia duduk di tepi ranjang, menjaga jarak.

“Aku tidak akan menyangkalnya.” Suaranya rendah, berat. “Ya. Aku pernah menjadi ayah mertuamu Lusi. Tapi... sudahlah. Bersihkan dirimu dan keluarlah untuk makan."

Lusi bingung, ada hal yang belum Aron sampaikan. “Apa maksudnya?”

Namun itu tak mengurangi rasa bersalah yang membakar dadanya. “Tetap saja… aku… aku... kita bercinta. Aku... dengan pria yang dulu pernah jadi ayah mertuaku… aku berdosa… aku kotor…”

Lusi menutup wajahnya, tubuhnya terguncang tangis. “Aku… aku ingin mati saja… aku sudah tak punya harga diri lagi…”

Aron mendekat sedikit, suaranya lembut namun tegas. “Jangan pernah bicara begitu. Kamu masih bisa hidup dan memilih jalanmu. Pasti ada keluar dari situai ini.”

Lusi menggeleng lemah. “Aku terjebak dan aku nggak punya siapa-siapa. Aku nggak punya rumah, bahkan orang tuaku sudah lama berpisah dan membangun keluarganya masing-masing. Aku hanyalah istri dari pria yang tega menjualku.”

Aron menatapnya dengan tatapan dalam. Ada sesuatu di sorot matanya, rasa perpaduan iba, bersalah, sekaligus ketertarikan yang tak ia ungkapkan.

“Lusi,” ucapnya akhirnya, “kamu harus bercerai dari Rangga. Hidup dengan pria sepertinya hanya akan menghancurkanmu. Percayalah padaku. Aku pernah melihat dia kecil dulu… polos, manis. Tapi dia tumbuh jadi pria bejat. Dan sebagai mantan ayah mertuamu, aku ikut merasa bersalah, dan bertanggungjawab padamu.”

Lusi terdiam, menatap Aron dengan mata sembab. “Aku… aku nggak tahu harus kemana kalau bercerai. Aku nggak punya rumah untuk pulang…”

Keheningan menggantung. Aron menegakkan tubuhnya. “Kalau begitu… tinggal di sini dulu. Sampai kamu menemukan jalan baru.”

Lusi tersentak. “Apa? Tidak! Aku nggak bisa…”

“Kenapa tidak?” Aron menatapnya lurus. “Di sini satu-satunya tempat agar kamu tetap aman. Tidak ada yang bisa menyakitimu.”

Lusi menunduk, tangannya menggenggam erat selimut. “Karena… karena setiap aku melihatmu, aku ingat kejadian semalam. Aku merasa hina.”

Aron menghela napas panjang. Ia berdiri, berjalan ke arah jendela, menatap keluar dengan tatapan kosong. “Kalau begitu, lakukan apa yang menurutmu benar. Aku tidak akan memaksa. Aku hanya ingin kamu aman, Lusi.”

Beberapa jam kemudian, Aron benar-benar mengantarnya pulang. Mobil mewah itu berhenti di ujung jalan kecil menuju kontrakan Lusi dan Rangga.

“Sudah sampai,” kata Aron singkat.

Lusi menatap rumah kontrakan itu dari dalam mobil. Napasnya tercekat, sebelum ia sempat membuka pintu, matanya menangkap sesuatu.

Di teras rumah, Rangga sedang duduk dengan seorang wanita berpakaian seksi di pangkuannya. Mereka tertawa, bercumbu, tanpa peduli tetangga yang lewat. Mulut Rangga menempel di leher wanita itu, tangannya meraba tanpa malu.

Dunia Lusi seketika runtuh lagi, dan dadanya terasa sangat sesak. Air matanya jatuh begitu saja.

“Astaghfirullah…” suaranya lirih.

Aron menoleh, melihat pemandangan itu. Rahangnya mengeras, dan tangannya mengepal di atas setir.

Lusi buru-buru menutup pintu mobil. “Aku… aku nggak jadi turun. Tolong jangan turunkan aku di sini.”

Aron menatapnya. “Kamu yakin?”

Air mata Lusi terus mengalir. Ia tak tau akan ke.mana tapi untuk saat ini, pulang bukan solusi. zia pun mengangguk.

"Izinkan aku tinggal… di tempat Bapak ya, Pak. Aku ingin mengurus perceraian. Aku sudah nggak tahan lagi hidup dengan pria itu.”

Aron menatapnya lama, lalu mengangguk pelan. “Baiklah. Mulai hari ini, kamu tinggal bersamaku. Sampai kamu benar-benar bebas dari dia.”

Lusi tak menjawab, tapi tak punya pilihan.

Mobil kembali melaju, meninggalkan rumah kontrakan itu. Di kursi penumpang, Lusi terisak, memeluk dirinya sendiri. Ia tahu jalan yang dipilihnya penuh duri, tapi setidaknya malam itu ia sudah mengambil keputusan yang benar.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Dibeli Mantan Ayah Mertua yang Hot   100. Meminta Maaf

    Usai periksa, Lusi dan Aron lolos untuk ikut program hamil. Berarti sistem reproduksi mereka memang siap untuk menyambut bayi di kehidupan mereka. Namun saat sedang bersantai di mansion, seorang bodyguard menyampaikan kalau ada tamu yang ingin bertemu. "Siapa?" tanya Aron. Ia sedang makan kacang bersama Lusi di ruang santai lantai dua. Ditemani film romantis, mereka menonton dengan santai. "Nona Gabriella." Deg! Mereka sontak menoleh ke lantai bawah dan memang di sana ana Gabriella. "Suruh dia naik," kata Aron. Lusi heran, "Kenapa gak kita yang ke sana. Dia tamu loh, Sayang." Aron tertawa kecil, lalu tetap menyuruh bodyguard tersebut menyampaikan agar Gabriella naik ke atas. "Liat aja... setelah dia bicara maksud kedatangannya, kamu pasti gak akan sungkan lagi." Lusi terheran, tapi juga menunggu Gabriella sampai ke sana. Langkah kaki anggun terdengar menaiki tangga. Aron juga meminta dua bodyguard untuk stay di sana. Hal yang tambah membuat Lusi penasara

  • Dibeli Mantan Ayah Mertua yang Hot   99. Perempuan Mandul

    "Sayang... bangun dulu." Lusi terbangun dari tidurnya. Sentuhan halus di lengannya membangunkannya dari tidur singkat. "Apa, Mas?" tanya Lusi dengan suara serak. Aron tersenyum, lalu mencium pelipis istrinya dengan sayang. "Makan malam dulu, Sayang. Nanti lanjut tidur." Lusi agak kaget karena audah jam tujuh lebih berarti. Ia pun bangun dari tidurnya. Tubuhnya agak pegal-pegal, tapi Aron sudah membersihkannya dan menggantikannya saat ia tidur. Lusi hendak mengambil gelas air putih, tapi Aron mencegahnya. "Biar aku pegangin," katanya. Lusi hanya menurut dan disuapi suaminya sampai makanan dan minum habis. Setelah itu, Lusi duduk dengan bersandar di kepala ranjang. Ia menggunakan baju tidur couple dengan suaminya. Baju tidur berwarna navy polos dengan garis-garis putuh pada tepiannya. "Masih sakit badannya?" tanya Aron. Ia memijit lengan istrinya perlahan. Sentuhannya hangat dan hati-hati. Lusi tersenyum merasakan perlakuan Aron yang begitu sederhan

  • Dibeli Mantan Ayah Mertua yang Hot   98. Love Moment 🔞

    "Boleh?" Suara itu halus, rendah, sekaligus dalam. Namun yang lebih membuat Lusi gelisah adalah sapuan napas sang suami yang terus mengganggu lehernya. Aron juga menggigit telinga sang istri, memberi sensasi yang luar biasa panas. Senyum terbit di bibir Aron ketika melihat Lusi tanpa sadar menggigit bibirnya sendiri. Sentuhan tangan Aron memang lembut, tak memaksa, tapi memberi efek mengundang. Mengundang agar gairah Lusi keluar bersamanya. "Aku udah nahan sejak semalam, kalau gak boleh... bukannya kamu tega banget ya?" Teknik membujug ala pria yang selalu berhasil menaklukkan hati wanita. Sementara Lusi masih berusaha menahan diri, tapi suaminya terus menyentuh dengan lihai. "Tapihhhh...." Suara Lusi sudah tak terkendali. Desahannya mulai membakar gairah Aron lagi dan lagi. Senyuman Aron makin lebar. "Tapi apa, Sayang?" bisiknya lagi. Tubuh Lusi merinding seketika di bawah sentuhan sang suami. Napasnya mulai memburu, ia berusaha menahan sentuhan tangan Aron di p

  • Dibeli Mantan Ayah Mertua yang Hot   97. Kepulangan Suami & Kejutan

    "Sayang!" sapa Aron dari luar kamar. Ia awalnya ingin memberi surprise pada istrinya, berharap hubungan mereka tidak dibangun dengan kecemburuan lagi seperti sebelumnya. Namun ketika ia menunggu sang istri sampai 30 menit, Lusi bahkan tak mau keluar. Aron jadi khawatir apakah istrinya benar-benar marah padanya karena tak mau menjawab telpon dan pesannya? Ia mengetuk pintu lagi. “Sayang? Kamu di dalam?” Tetap tidak ada jawaban dari dalam membuat Aron semakin khawatir. Alis Aron berkerut, kekhawatiran kecil menyusup, bercampur dengan rasa bersalah yang sejak tadi ia pendam. Ia sadar, keputusannya mendiamkan tanpa banyak penjelasan, mematikan ponsel, dan pergi begitu saja, bukan hal yang mudah diterima Lusi. Mungkin ia marah, kecewa atau mungkin ia lelah. Aron menarik napas dalam-dalam, lalu memutar kenop pintu. Begitu pintu terbuka, aroma lembut langsung menyambutnya. Bukan aroma biasa. Ada wangi essential oil yang hangat, sedikit manis, dengan sentuhan floral yang tidak t

  • Dibeli Mantan Ayah Mertua yang Hot   96. Saran yang Cukup Membantu?

    Lusi jadi kepikiran soal saran Ayu tadi saat di kantor, sepertinya ia harus pakai saran itu. Ia tak punya sarana lain untuk membujug suaminya. Terlebih Aron tak mau diajak bicara, bahkan pesannya tak dibalas atau setidaknya angkat telponnya. Kata Ayu, ia harus berdandan cantik pada malam Aron pulang. Aron pulang dua hari lagi, ia jadi gugup bagimana caranya mengimplementasikan saran dari Ayu. Itu sedikit menggelikan untuknya yang selama ini memiliki citra kalem yang bersahaja. Ia pun kemudian meminta Ayu untuk menemaninya memilih baju di mansion, dan memintanya memberi saran gaya yang cocok untuknya. Kata Ayu, ia biasanya menggunakan 'gaya pemikat suami'. Lusi menyadari kalau ia harus belajar menjadi istri yang aktif juga. Karena selama ini Aronlah yang erus aktif saat bersamanya. Aron yang membangun kepercayaan dirinya, mengatakan hal-hal baik yang romantis, dan masih banyak lagi. Maka hari Sabtu, libur dan kebetulan Ayu tidak ada jadwal dengan keluarganya. Tapi ia memb

  • Dibeli Mantan Ayah Mertua yang Hot   95. Ngambeknya Suami

    Aron tersenyum tipis. “Bagus.” Namun di balik senyum itu, ada cemburu, dan ia baru menyadari sesuatu. Bahwa cinta bukan hanya soal melindungi atau memiliki. Kadang, cinta juga berarti berani merasa tidak paling penting dan tetap menemani pasangan dalam keadaan apa pun. Ia merefleksi dirinya sendiri, tentang malam itu dan gosip yang beredar. Ternyata benar, ia melukai Lusi tanpa disadari. Dan lihatlah bagaimana Lusi merespon semua itu. Ia tenang dan tetap pada pendiriannya. Kalau Aron bersama perempuan lain, mungkin kebanyakan orang akan tantrum, cemberut, atau benar-benar mendiamkannya selama beberapa hari. Namun Lusi tidak. Ia selalu berusaha mengerti, meski dirinya sendiri terluka. Mungkin hanya Lusi yang bisa seperti itu dalam hidup Aron. Bahkan Evelyn, ibunya sendiri, sering mendiamkannya hanya karena perbedaan pendapat. Kadang Evelyn juga marah-marah padanya tanpa alasan yang jelas. Tapi Lusi tidak. Kalau dilihat dari usianya, memang Lusi sudah cukup dewasa, tiga puluhan. N

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status