Mag-log inKeputusan Lusi untuk meninggalkan Rangga, memang sudah benar. Tanpa ia sadari, keputusan itu akan menjeratnya semakin dalam pada pria bernama Aron. Pria yang merupakan mantan ayah mertuanya.
Pagi-pagi sekali, Lusi terbangun di kamar luas itu. Ia membuka mata dengan kepala berat. Beberapa hari sudah ia berada di rumah Aron, dan setiap kali ia menatap langit-langit bercat putih itu, ada rasa bersalah yang menusuk ulu hatinya. Lusi hanyalah seorang perempuan berhijab yang dulunya hidup sederhana bersama suaminya, kini terjebak di sebuah mansion luas bak istana. Bukan dengan suaminya, melainkan dengan mantan ayah mertuanya sendiri. “Ya Allah, sampai kapan aku harus di sini?” bisiknya pada diri sendiri. Di rumah itu, segala kebutuhan sudah tersedia. Ada pembantu yang menyiapkan makanan, membersihkan kamar, bahkan menyetrika pakaian. Lusi tak pernah diizinkan menyentuh satu pun pekerjaan rumah. Padahal, di kontrakan kumuh dulu, tangannya tak pernah berhenti bekerja. Ia yang mencuci, memasak, bahkan menyapu dengan sapu reyot yang bulunya hampir habis. Kini, setiap kali ia mencoba membantu, para pembantu rumah tangga menolaknya halus. “Sudah, Mbak Lusi. Biarkan kami saja,” kata salah satu dari mereka, sambil tersenyum tipis yang entah benar tulus atau sekadar basa-basi. Namun Lusi tahu, di belakangnya mereka suka berbisik-bisik. “Itu siapa sebenarnya?” “Katanya mantan menantu, kok tinggal di sini?” “Jangan-jangan ada hubungan khusus…” Bisikan-bisikan itu menusuk telinga Lusi meski diucapkan pelan. Ia menunduk setiap kali melewati lorong panjang mansion itu, merasa dirinya hanya beban. Siang itu, setelah berhari-hari hanya diam, Lusi memutuskan untuk keluar mencari pekerjaan. Ia tahu dirinya bukan lagi gadis muda, dan gelar “istri tak berguna” sudah menempel di keningnya. Tapi daripada hanya duduk termenung di rumah besar yang penuh gosip itu, ia lebih baik mencari kesibukan. Sebuah papan lowongan di depan kedai kopi kecil menarik perhatiannya. Tulisannya sederhana, >Butuh pegawai wanita. Bisa belajar, disiplin, dan rajin.< Lusi masuk dengan hati berdebar. Pemilik kedai, seorang wanita paruh baya berkerudung cokelat, menatapnya dari balik meja kasir. “Ibu mau melamar kerja?” tanyanya. Lusi mengangguk, sedikit gugup. “Iya, Bu. Saya… saya butuh pekerjaan. Apa masih ada lowongan?” Wanita itu menatapnya lama. Mungkin melihat bekas lelah di wajah Lusi, atau melihat cara dia menunduk sopan. “Kamu kelihatan bukan perempuan berusia 20-24 tahun ya? Sudah pernah kerja di kafe sebelumnya?” Lusi menggeleng. “Saya 27 tahun. Saya Belum pernah kerja di cafe, Bu. Tapi saya mau belajar, dan saya bisa bersih-bersih, juga bisa melayani dengan ramah. Mohon beri saya kesempatan.” Setelah proses singkat, entah karena kasihan atau memang butuh tenaga, pemilik kedai itu menerimanya. “Baiklah. Gajinya tidak besar ya, cuma satu juta dua ratus. Kamu bersedia?” Mata Lusi berbinar. “Iya, Bu. Terima kasih banyak.” . Hari pertama bekerja di kedai kopi itu membuat tubuhnya pegal, tapi hatinya sedikit lebih ringan. Ia membersihkan meja, mengantarkan pesanan, belajar membuat minuman sederhana. Meski kaku, ia berusaha tersenyum pada setiap pelanggan. Ketika gaji harian pertamanya Lusi terima, ia segera membelikan beberapa sayuran segar di pasar. Ia tidak mau lagi hanya makan makanan mahal yang dihidangkan pembantu rumah tangga di mansion. Baginya, uang hasil jerih payah sendiri lebih nikmat. Malam itu, saat makan malam disajikan di ruang makan mewah, Lusi dengan sopan menolak. “Saya sudah makan, Pak,” ucapnya pelan saat Aron menatap heran. Ia lalu menyimpan belanjaannya di dapur belakang dan memasak seadanya untuk dirinya sendiri. Sepiring sayur bening, sedikit tempe goreng, dan nasi hangat. Lusi makan sendirian di pojok dapur, tanpa banyak suara. Aron memperhatikan dari kejauhan. Ada sesuatu di dada pria itu yang bergemuruh. Wanita itu yang seharusnya hancur karena diperlakukan keji oleh suaminya, masih bisa menjaga harga diri, dan menolak hidup enak dengan bergantung padanya. “Kenapa kamu harus menyiksa dirimu begitu?” gumam Aron lirih dari balik pintu, tak ingin Lusi mendengar. . Hari berikutnya, Lusi membawa sesuatu untuk Aron. Sebuah kue sederhana buatan tangannya sendiri, dengan bahan yang ia beli dari uang gajinya. Ia mengetuk pintu ruang kerja Aron dengan ragu. “Pak… saya boleh masuk?” Aron menoleh dari balik meja penuh berkas. Wajahnya letih, kemeja putihnya sedikit kusut. Tapi tatapannya langsung melunak saat melihat Lusi berdiri dengan nampan kecil. “Ada apa?” tanyanya. “Saya… buatkan ini. Hanya kue sederhana, untuk mengucapkan terima kasih karena sudah menolong saya.” Aron menatap kue itu. Tidak mewah, hanya bolu cokelat kukus dengan taburan keju. Tapi ia bisa membayangkan Lusi membuatnya dengan sepenuh hati. Namun saat Aron hendak menyuap, salah satu pembantu rumah tangga buru-buru menegur. “Pak, jangan! Kalorinya terlalu tinggi, itu tidak sesuai standar menu Bapak. Lebih baik Lusi makan sendiri saja.” Lusi pun tersenyum kaku, hendak menarik kembali nampan itu. “Iya, Pak. Maaf, saya yang tidak tahu aturan. Saya simpan saja untuk saya.” Namun Aron tiba-tiba mengambil sepotong, menatap para pegawainya dengan dingin. “Tidak apa-apa. Saya makan ini.” Semua terdiam. Mereka tahu betul Aron adalah pria disiplin, menjaga pola makan, dan sangat rewel soal kalori. Tidak ada yang berani melawannya selama ini. Lusi menahan napas saat Aron memakan kue buatannya. Dan ketika ia tersenyum tipis, Lusi merasa dadanya sesak oleh perasaan yang tak bisa ia pahami. “Enak,” ucap Aron singkat. “Terima kasih, Lusi.” Pembantu-pembantu rumah tangga saling pandang, terkejut. Mereka belum pernah melihat Aron begitu lunak hanya karena sebuah kue sederhana. Sementara Lusi, wajahnya memanas. Ada sesuatu yang mulai tumbuh.Usai periksa, Lusi dan Aron lolos untuk ikut program hamil. Berarti sistem reproduksi mereka memang siap untuk menyambut bayi di kehidupan mereka. Namun saat sedang bersantai di mansion, seorang bodyguard menyampaikan kalau ada tamu yang ingin bertemu. "Siapa?" tanya Aron. Ia sedang makan kacang bersama Lusi di ruang santai lantai dua. Ditemani film romantis, mereka menonton dengan santai. "Nona Gabriella." Deg! Mereka sontak menoleh ke lantai bawah dan memang di sana ana Gabriella. "Suruh dia naik," kata Aron. Lusi heran, "Kenapa gak kita yang ke sana. Dia tamu loh, Sayang." Aron tertawa kecil, lalu tetap menyuruh bodyguard tersebut menyampaikan agar Gabriella naik ke atas. "Liat aja... setelah dia bicara maksud kedatangannya, kamu pasti gak akan sungkan lagi." Lusi terheran, tapi juga menunggu Gabriella sampai ke sana. Langkah kaki anggun terdengar menaiki tangga. Aron juga meminta dua bodyguard untuk stay di sana. Hal yang tambah membuat Lusi penasara
"Sayang... bangun dulu." Lusi terbangun dari tidurnya. Sentuhan halus di lengannya membangunkannya dari tidur singkat. "Apa, Mas?" tanya Lusi dengan suara serak. Aron tersenyum, lalu mencium pelipis istrinya dengan sayang. "Makan malam dulu, Sayang. Nanti lanjut tidur." Lusi agak kaget karena audah jam tujuh lebih berarti. Ia pun bangun dari tidurnya. Tubuhnya agak pegal-pegal, tapi Aron sudah membersihkannya dan menggantikannya saat ia tidur. Lusi hendak mengambil gelas air putih, tapi Aron mencegahnya. "Biar aku pegangin," katanya. Lusi hanya menurut dan disuapi suaminya sampai makanan dan minum habis. Setelah itu, Lusi duduk dengan bersandar di kepala ranjang. Ia menggunakan baju tidur couple dengan suaminya. Baju tidur berwarna navy polos dengan garis-garis putuh pada tepiannya. "Masih sakit badannya?" tanya Aron. Ia memijit lengan istrinya perlahan. Sentuhannya hangat dan hati-hati. Lusi tersenyum merasakan perlakuan Aron yang begitu sederhan
"Boleh?" Suara itu halus, rendah, sekaligus dalam. Namun yang lebih membuat Lusi gelisah adalah sapuan napas sang suami yang terus mengganggu lehernya. Aron juga menggigit telinga sang istri, memberi sensasi yang luar biasa panas. Senyum terbit di bibir Aron ketika melihat Lusi tanpa sadar menggigit bibirnya sendiri. Sentuhan tangan Aron memang lembut, tak memaksa, tapi memberi efek mengundang. Mengundang agar gairah Lusi keluar bersamanya. "Aku udah nahan sejak semalam, kalau gak boleh... bukannya kamu tega banget ya?" Teknik membujug ala pria yang selalu berhasil menaklukkan hati wanita. Sementara Lusi masih berusaha menahan diri, tapi suaminya terus menyentuh dengan lihai. "Tapihhhh...." Suara Lusi sudah tak terkendali. Desahannya mulai membakar gairah Aron lagi dan lagi. Senyuman Aron makin lebar. "Tapi apa, Sayang?" bisiknya lagi. Tubuh Lusi merinding seketika di bawah sentuhan sang suami. Napasnya mulai memburu, ia berusaha menahan sentuhan tangan Aron di p
"Sayang!" sapa Aron dari luar kamar. Ia awalnya ingin memberi surprise pada istrinya, berharap hubungan mereka tidak dibangun dengan kecemburuan lagi seperti sebelumnya. Namun ketika ia menunggu sang istri sampai 30 menit, Lusi bahkan tak mau keluar. Aron jadi khawatir apakah istrinya benar-benar marah padanya karena tak mau menjawab telpon dan pesannya? Ia mengetuk pintu lagi. “Sayang? Kamu di dalam?” Tetap tidak ada jawaban dari dalam membuat Aron semakin khawatir. Alis Aron berkerut, kekhawatiran kecil menyusup, bercampur dengan rasa bersalah yang sejak tadi ia pendam. Ia sadar, keputusannya mendiamkan tanpa banyak penjelasan, mematikan ponsel, dan pergi begitu saja, bukan hal yang mudah diterima Lusi. Mungkin ia marah, kecewa atau mungkin ia lelah. Aron menarik napas dalam-dalam, lalu memutar kenop pintu. Begitu pintu terbuka, aroma lembut langsung menyambutnya. Bukan aroma biasa. Ada wangi essential oil yang hangat, sedikit manis, dengan sentuhan floral yang tidak t
Lusi jadi kepikiran soal saran Ayu tadi saat di kantor, sepertinya ia harus pakai saran itu. Ia tak punya sarana lain untuk membujug suaminya. Terlebih Aron tak mau diajak bicara, bahkan pesannya tak dibalas atau setidaknya angkat telponnya. Kata Ayu, ia harus berdandan cantik pada malam Aron pulang. Aron pulang dua hari lagi, ia jadi gugup bagimana caranya mengimplementasikan saran dari Ayu. Itu sedikit menggelikan untuknya yang selama ini memiliki citra kalem yang bersahaja. Ia pun kemudian meminta Ayu untuk menemaninya memilih baju di mansion, dan memintanya memberi saran gaya yang cocok untuknya. Kata Ayu, ia biasanya menggunakan 'gaya pemikat suami'. Lusi menyadari kalau ia harus belajar menjadi istri yang aktif juga. Karena selama ini Aronlah yang erus aktif saat bersamanya. Aron yang membangun kepercayaan dirinya, mengatakan hal-hal baik yang romantis, dan masih banyak lagi. Maka hari Sabtu, libur dan kebetulan Ayu tidak ada jadwal dengan keluarganya. Tapi ia memb
Aron tersenyum tipis. “Bagus.” Namun di balik senyum itu, ada cemburu, dan ia baru menyadari sesuatu. Bahwa cinta bukan hanya soal melindungi atau memiliki. Kadang, cinta juga berarti berani merasa tidak paling penting dan tetap menemani pasangan dalam keadaan apa pun. Ia merefleksi dirinya sendiri, tentang malam itu dan gosip yang beredar. Ternyata benar, ia melukai Lusi tanpa disadari. Dan lihatlah bagaimana Lusi merespon semua itu. Ia tenang dan tetap pada pendiriannya. Kalau Aron bersama perempuan lain, mungkin kebanyakan orang akan tantrum, cemberut, atau benar-benar mendiamkannya selama beberapa hari. Namun Lusi tidak. Ia selalu berusaha mengerti, meski dirinya sendiri terluka. Mungkin hanya Lusi yang bisa seperti itu dalam hidup Aron. Bahkan Evelyn, ibunya sendiri, sering mendiamkannya hanya karena perbedaan pendapat. Kadang Evelyn juga marah-marah padanya tanpa alasan yang jelas. Tapi Lusi tidak. Kalau dilihat dari usianya, memang Lusi sudah cukup dewasa, tiga puluhan. N







