LOGINMalamnya di kamar, Lusi memeluk bantalnya erat.
“Ya Allah… kenapa Pak Aron baik banget sih? Jangan sampe aku ngelunjak punya perasaan sama dia, dia masih ayah mertuaku. Bagaimanapun kami tidak diperbolehkan bersama selamanya” Ia menutup mata, tapi bayangan Aron yang makan kuenya terus menghantui pikirannya. . Di sisi lain, Aron berdiri di balkon kamarnya, menatap langit malam. Wanita itu, ia sederhana yang dulu ia kenal hanya sebagai menantu, kini hadir dengan cara berbeda. Aron tahu ia sedang bermain dengan api. Tapi semakin ia mencoba menjauh, semakin ia ingin mendekat. Ia takut jika ini sudah terlambat untuk mundur. ••• Hari itu kedai kopi ramai oleh pengunjung. Suara mesin espresso, denting sendok, dan percakapan pelanggan bercampur jadi satu. Lusi, dengan seragam hitam polos dan celemek, sibuk membersihkan meja serta mengantar pesanan. Ada rasa lega tiap kali ia bisa mengalihkan pikiran dari semua masalah rumah tangganya. Namun, siang itu suasana tenang seketika retak. Pintu kedai berderit terbuka, lalu masuklah Rangga. Penampilannya urakan, rambut berantakan, dan mata merah seperti habis begadang. Dua pria berbadan besar menyertainya, jelas bukan teman baik-baik. Aroma alkohol juga masih menempel kuat. Begitu melihat Lusi, senyum sinisnya mengembang. “Lusiii…” suaranya lantang, membuat beberapa pengunjung menoleh. “Ketemu juga kita.” Lusi berdiri kaku. Tangan yang memegang nampan bergetar, hampir saja menjatuhkan gelas kopi. Ia buru-buru mendekati rekan kerja di belakang kasir. “Mbak… tolong, saya izin sebentar. Ada urusan keluarga.” Pemilik kedai menatap dengan khawatir, tapi akhirnya mengangguk. Lusi melangkah keluar dengan hati berdebar, berusaha menarik napas panjang. Begitu ia tiba di teras kedai, Rangga langsung mencekal tangan Rindu. Tangannya kasar, menarik lengan Lusi dengan paksa sehingga terasa sakit. “Kamu ikut aku sekarang!” “Mas, tolong jangan bikin keributan, Mas. Lepaskan aku!” Lusi mencoba meronta. Namun Rangga semakin menggenggam erat, matanya menatapnya tajam seolah bola matanya akan keluar. “Kamu pikir gampang gitu aja cerai sama aku? Dasar istri durhaka! Berani-beraninya ninggalin aku?!” Orang-orang di sekitar mulai memperhatikan. Seorang pengunjung bahkan berdiri, menatap curiga. Dua pria yang bersama Rangga seolah menghadang orang lain yang ikut campur, membuat suasana semakin mencekam. Lusi hampir saja diseret ketika seorang bapak paruh baya yang kebetulan lewat menegur keras. “Mas! Jangan main kasar sama perempuan! Kalau mau ribut jangan di sini!” Kerumunan mulai terbentuk, membuat Rangga kesal. Ia melepaskan tangan Lusi dengan kasar, dan mendorongnya hingga hampir jatuh. “Lo tunggu aja, Lusi. Lo milik gue selamanya. Sampai kapanpun lo nggak akan bisa lari!” Rangga pergi bersama dua preman itu, meninggalkan tatapan peringatan seolah berkata ia akan mendatanginya lagi. Lusi berdiri terpaku, tubuhnya gemetar hebat. Ia menahan air mata, memeluk dirinya sendiri di tengah tatapan orang-orang. Pemilik kedai berlari menghampiri, wajahnya cemas sekaligus marah. “Lusi… kamu baik-baik saja?” Lusi mengangguk lemah, tapi air matanya jatuh juga. “Maafkan saya, Bu…” Wanita itu menarik napas panjang. “Saya tahu ini bukan salah kamu. Tapi… saya takut kejadian tadi bikin pelanggan nggak nyaman. Kedai ini bisa rusak namanya. Maaf, Lus, mulai besok kamu nggak usah kerja lagi.” Seperti ada batu besar menimpa dadanya. Dunia yang baru saja memberi secercah harapan, lagi-lagi menutup pintu. Ingin rasanya Lusi memohon lagi, tapi ia cukup tau diri untuk tidak merugikan orang lain. “Iya, Bu…” suara Lusi serak. Ia hanya bisa menunduk. Malam itu, Lusi berjalan pulang dengan langkah gontai. Ia sudah mencoba melamar ke beberapa tempat setelah kedai kopi menolaknya, tapi tak ada yang menerima. Sialnya, usia dan penampilannya dianggap tidak menarik untuk dunia kerja. Udara malam menusuk kulit, tapi hatinya lebih dingin. Ia tak tahu ke mana harus melangkah. Rumah kontrakan jelas bukan pilihan, karena Rangga mungkin sedang menunggu. Satu-satunya tempat yang bisa ia tuju hanyalah mansion Aron. Saat sampai di gerbang, jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Ia berjalan masuk pelan, berusaha tidak menarik perhatian. Tapi ternyata Aron sudah menunggunya di ruang tamu, duduk dengan tangan terlipat. Wajahnya serius, dan tatapannya tajam menembus mata Lusi. Seperti panah yang tepat menembus kesadarannya. Hal itu membuat Lusi langsung berpikir macam-macam. Bagaimana kalau Aron benar-benar mengusirnya. “Kenapa pulang malam?” suaranya berat, tenang, tapi penuh tekanan. Lusi terdiam dan menunduk. Tanpa sadar tangannya meremas ujung kerudungnya. Ia takut, sungguh. Aron berdiri, berjalan mendekat. Ia tau Lusi sedang ketakutan, dan ia tak seharusnya menambah beban psikologis bagi Lusi yang selama ini dihujani serangan pikiran. “Rangga… dia nggak nyulik kamu, kan?” Nada suaranya terdengar lebih lembut sekarang, meski masih penuh khawatir. Air mata Lusi yang sejak tadi ditahan akhirnya tumpah. “Hampir… hampir saja dia menyeret saya, Pak. Untung ada orang-orang yang melihat. Kalau tidak… entah apa yang terjadi pada saya.” Aron mengepalkan tangan, rahangnya mengeras. Ada bara api amarah yang menyala di matanya. “Brengsek!” gumamnya. “Dia sudah benar-benar keterlaluan.” Lusi menutup wajah dengan kedua tangan. “Saya bahkan dipecat dari pekerjaan karena kejadian itu. Saya sudah coba cari kerja lagi, tapi nggak ada yang mau menerima. Itu kenapa saya pulang terlambat. Maafkan saya karena bersikap seenaknya di rumah Anda, Pak. Rasanya… saya benar-benar tidak berguna, sekarang.” Aron menarik napas panjang, lalu menepuk bahu Lusi dengan hati-hati. “Bersihkan diri dulu, cuci muka, dan istirahat sebentar, setelah itu kita bicara. Jangan pernah merasa kamu nggak berguna, Lusi. Kamu cuma salah memilih orang sebagai suami.” Lusi menatapnya, matanya merah dan bengkak. Ada kehangatan di balik kata-kata itu, meski datang dari pria yang seharusnya asing baginya. Lusi merasa ada seseorang yang benar-benar berdiri di pihaknya. Setelah semua rasa sakit yang ia terima. Ia harus menjadi orang berguna, agar kebaikan Aron tidak sia-sia.Malam semakin larut, tapi lampu di ruang kerja Aron masih menyala. Mansion yang biasanya terasa megah dan lengang, malam itu dipenuhi ketegangan yang tak kasat mata. Lusi sudah tertidur di kamar, kelelahan emosional membuatnya terlelap lebih cepat dari biasanya. Aron sengaja tidak membangunkannya. Ia ingin istrinya mendapatkan tidur yang nyenyak, sesuatu yang akhir-akhir ini terlalu mahal untuk dimiliki. Aron berdiri di depan jendela besar ruang kerjanya, menatap taman yang gelap. Tangannya menyentuh gelas kopi yang sudah dingin. Pikirannya bekerja jauh lebih aktif dibanding tubuhnya. Rangga, nama itu kembali berputar di kepalanya, bukan dengan kemarahan membabi buta, melainkan dengan kalkulasi yang dingin. Aron tahu satu hal dengan pasti, Rangga bukan orang bodoh. Ia impulsif, emosional, dan manipulatif. Orang seperti itu tidak bisa dihadapi dengan ledakan emosi atau ancaman saja. Ia harus digertak dengan sesuatu yang membuatnya ragu, membuatnya berhenti meneruskan teror ini k
“Dia bilang, wanita sepertiku gak menghasilkan dan cuma jadi beban laki-laki. Aku gak ngerti waktu itu dan hanya diam. Aku kira… dia ngomong kayak gitu becanda. Tapi ternyata itu serius.” Aron menghela napas pelan. Jujur saja, di titik itu, Lusi memang terlalu polos atau terlalu bodoh untuk membaca realita. Tapi Aron tak mungkin mengatakan itu dengan jujur, setidaknya untuk saat ini. “Ya… bahkan kalau dalam keadaan bercanda pun, itu tetap salah,” kata Aron akhirnya. Lusi semakin masuk ke pelukan suaminya, mencari kehangatan, seolah tubuh Aron adalah satu-satunya tempat aman yang tersisa. Aron menyadari Lusi sudah selesai bercerita. Kini giliran dirinya membuka suara. “Aku juga pernah ada di posisi itu,” ucapnya akhirnya. Lusi mendongak. “Di posisiku?” Aron menghela napas panjang, seakan harus mengumpulkan keberanian lebih dulu. “Aku pernah ada di situasi yang sama kayak kamu. Aku pernah dikendalikan secara psikologis oleh ibu Rangga,” katanya perlahan. “Dia memang pandai bers
Aron sebenarnya sudah bersiap untuk lembur malam itu. Laptopnya masih terbuka di meja kerja, jasnya belum dilepas, dan agenda operasi esok hari sudah berjejer rapi di layar tabletnya. Semua tampak berjalan seperti rutinitas yang sudah ia hafal di luar kepala, sampai nama Lusi muncul di layar ponselnya, disertai getaran singkat yang entah kenapa langsung membuat dadanya mengencang. Ia mengangkat panggilan itu tanpa ragu. “Mas…” suara Lusi terdengar pelan. Padahl biasanya istrinya cerewet meski sedang lelah. Aron langsung berdiri. “Ada apa?” Ada jeda beberapa detik. Nafas Lusi terdengar di seberang, berat dan membuat Aron jadi tegang. “Aku… tadi ketemu Rangga.” Mendengar itu, Aron langsung mematikan laptopnya, meraih kunci mobil, dan melangkah keluar ruangan. “Aku pulang sekarang,” katanya singkat tapi tegas. “Kamu di Mansion kan?” “Iya.” “Tunggu aku. Jangan ke mana-mana.” Telepon terputus. Aron bahkan tidak menoleh lagi ke meja kerjanya. Semua prioritas malam i
Ketika Lusi tegang, Rangga malah memperlihatkan ekspresi santai dengan mengangkat bahu. “Kalau ketemu di tempat umum gini dibilang ngikutin juga?” Lusi melirik sekeliling. Ramai memang, banyak orang. Tapi entah kenapa, rasa aman itu tidak sepenuhnya hadir. Rangga berdiri terlalu dekat, auranya terlalu menekan. “Kita gak ada urusan,” ucap Lusi dingin. “Jangan dekati aku lagi.” Rangga tersenyum lebih lebar, tapi matanya kosong. “Masih galak aja. Padahal sekarang hidup kamu enak, kan? Jadi nyonya besar.” Lusi menggertakkan gigi. “Jangan bawa-bawa statusku. Itu bukan urusanmu.” “Oh, tapi itu urusanku,” balas Rangga cepat. “Karena hidup kamu berubah bags, tapi hidup aku berantakan.” Kalimat itu membuat bulu kuduk Lusi berdiri. Ia mundur setengah langkah, menjaga jarak. “Pilihan kamu sendiri,” katanya. “Aku gak pernah maksa kamu untuk menjadi pria brengsek!” Rangga mencondongkan badan sedikit, suaranya diturunkan. “Tapi kamu ninggalin aku tanpa penjelasan. Tiba-tiba jadi is
Rasa penasaran Lusi kemudian tersampaikan pada suaminya. Saat pulang bersama di dalam mobil, Lusi bersandar di pundak Aron yang sibuk mengetik di laptopnya. "Mas, kenapa ya akhir-akhir ini gak liat Kak Gabriella?" tanya Lusi. Aron menghentikan ketikannya dan menoleh ke arah istrinya. "Kenapa tiba-tiba tanya gitu?" Lusi menggeleng. "Hanya tadi Ayu tanya, aku jadi ikut penasaran." "Balik ke Berlin, mungkin." Mendengar jawaban cuek dari suaminya, membuat Lusi agak heran. Apakah hubungan mereka tak sejauh itu, seperti gosip yang beredar? "Jadi hubungan kamu sama dia seperti apa?" tanya Lusi. "Maksudmu gimana, hubunganku sama dia selamanya hanya rekan bisnis dan teman bisnis. Artinya tidak ada yang akan berubah dari kami." "Jadi kamu bener-bener gak tau apa-apa tentang dia?" Aron agak heran dengan pertanyaan istrinya yang seperti cemburu. "Kamu cemburu?" Lusi langsung terkejut. Ia bangun dari senderan di pundak Aron, dan menatap suaminya dengan tajam. "Jelas aku cembu
Rangga ||| "Mau sampe kapan kamu nutupin dosa itu?" Lusi menatap layar lama. Inilah inti dari semuanya, Rangga tak tau kalau Aron bukan ayah kandungnya. Sehingga ia terus menganggap bahwa pernikahan mereka adalah dosa. Lagipula, mengapa pula Rangga mengurusi urusan rumah tangganya dan Aron. Bukannya ia sudah bersama selingkuhannya. Mengapa pria itu masih mengganggunya, padahal mereka harusnya sudah sama-sama berjalan di jalan masing-masing. Ia berdiri, berjalan ke jendela besar yang menghadap taman. Langit begitu gelap, awan bergerak pelan. Dunia tetap berjalan, meski kepalanya terasa penuh. Pintu depan terbuka pelan, dan itu adalah Aron yang baru pulang. Lusi langsung menoleh, langkahnya cepat menghampiri suaminya tanpa berkata apa-apa, hanya menyodorkan ponsel. Aron membaca, kali ini lebih lama dari biasanya. “Akhirnya,” katanya pelan. Lusi menatapnya cemas. “Akhirnya apa?” “Dia masuk ke wilayah yang gak bisa dia kendalikan,” jawab Aron. “Dan dia pikir dia puny







