แชร์

4. Dipecat

ผู้เขียน: Blue Rose
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-10-01 14:04:43

Malamnya di kamar, Lusi memeluk bantalnya erat.

“Ya Allah… kenapa Pak Aron baik banget sih? Jangan sampe aku ngelunjak punya perasaan sama dia, dia masih ayah mertuaku. Bagaimanapun kami tidak diperbolehkan bersama selamanya”

Ia menutup mata, tapi bayangan Aron yang makan kuenya terus menghantui pikirannya.

.

Di sisi lain, Aron berdiri di balkon kamarnya, menatap langit malam.

Wanita itu, ia sederhana yang dulu ia kenal hanya sebagai menantu, kini hadir dengan cara berbeda. Aron tahu ia sedang bermain dengan api. Tapi semakin ia mencoba menjauh, semakin ia ingin mendekat.

Ia takut jika ini sudah terlambat untuk mundur.

•••

Hari itu kedai kopi ramai oleh pengunjung. Suara mesin espresso, denting sendok, dan percakapan pelanggan bercampur jadi satu. Lusi, dengan seragam hitam polos dan celemek, sibuk membersihkan meja serta mengantar pesanan.

Ada rasa lega tiap kali ia bisa mengalihkan pikiran dari semua masalah rumah tangganya. Namun, siang itu suasana tenang seketika retak.

Pintu kedai berderit terbuka, lalu masuklah Rangga. Penampilannya urakan, rambut berantakan, dan mata merah seperti habis begadang. Dua pria berbadan besar menyertainya, jelas bukan teman baik-baik. Aroma alkohol juga masih menempel kuat.

Begitu melihat Lusi, senyum sinisnya mengembang.

“Lusiii…” suaranya lantang, membuat beberapa pengunjung menoleh. “Ketemu juga kita.”

Lusi berdiri kaku. Tangan yang memegang nampan bergetar, hampir saja menjatuhkan gelas kopi. Ia buru-buru mendekati rekan kerja di belakang kasir.

“Mbak… tolong, saya izin sebentar. Ada urusan keluarga.”

Pemilik kedai menatap dengan khawatir, tapi akhirnya mengangguk.

Lusi melangkah keluar dengan hati berdebar, berusaha menarik napas panjang. Begitu ia tiba di teras kedai, Rangga langsung mencekal tangan Rindu. Tangannya kasar, menarik lengan Lusi dengan paksa sehingga terasa sakit.

“Kamu ikut aku sekarang!”

“Mas, tolong jangan bikin keributan, Mas. Lepaskan aku!” Lusi mencoba meronta.

Namun Rangga semakin menggenggam erat, matanya menatapnya tajam seolah bola matanya akan keluar.

“Kamu pikir gampang gitu aja cerai sama aku? Dasar istri durhaka! Berani-beraninya ninggalin aku?!”

Orang-orang di sekitar mulai memperhatikan. Seorang pengunjung bahkan berdiri, menatap curiga. Dua pria yang bersama Rangga seolah menghadang orang lain yang ikut campur, membuat suasana semakin mencekam.

Lusi hampir saja diseret ketika seorang bapak paruh baya yang kebetulan lewat menegur keras.

“Mas! Jangan main kasar sama perempuan! Kalau mau ribut jangan di sini!”

Kerumunan mulai terbentuk, membuat Rangga kesal. Ia melepaskan tangan Lusi dengan kasar, dan mendorongnya hingga hampir jatuh.

“Lo tunggu aja, Lusi. Lo milik gue selamanya. Sampai kapanpun lo nggak akan bisa lari!”

Rangga pergi bersama dua preman itu, meninggalkan tatapan peringatan seolah berkata ia akan mendatanginya lagi.

Lusi berdiri terpaku, tubuhnya gemetar hebat. Ia menahan air mata, memeluk dirinya sendiri di tengah tatapan orang-orang.

Pemilik kedai berlari menghampiri, wajahnya cemas sekaligus marah.

“Lusi… kamu baik-baik saja?”

Lusi mengangguk lemah, tapi air matanya jatuh juga.

“Maafkan saya, Bu…”

Wanita itu menarik napas panjang. “Saya tahu ini bukan salah kamu. Tapi… saya takut kejadian tadi bikin pelanggan nggak nyaman. Kedai ini bisa rusak namanya. Maaf, Lus, mulai besok kamu nggak usah kerja lagi.”

Seperti ada batu besar menimpa dadanya. Dunia yang baru saja memberi secercah harapan, lagi-lagi menutup pintu.

Ingin rasanya Lusi memohon lagi, tapi ia cukup tau diri untuk tidak merugikan orang lain.

“Iya, Bu…” suara Lusi serak. Ia hanya bisa menunduk.

Malam itu, Lusi berjalan pulang dengan langkah gontai. Ia sudah mencoba melamar ke beberapa tempat setelah kedai kopi menolaknya, tapi tak ada yang menerima. Sialnya, usia dan penampilannya dianggap tidak menarik untuk dunia kerja.

Udara malam menusuk kulit, tapi hatinya lebih dingin. Ia tak tahu ke mana harus melangkah. Rumah kontrakan jelas bukan pilihan, karena Rangga mungkin sedang menunggu. Satu-satunya tempat yang bisa ia tuju hanyalah mansion Aron.

Saat sampai di gerbang, jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Ia berjalan masuk pelan, berusaha tidak menarik perhatian. Tapi ternyata Aron sudah menunggunya di ruang tamu, duduk dengan tangan terlipat.

Wajahnya serius, dan tatapannya tajam menembus mata Lusi. Seperti panah yang tepat menembus kesadarannya. Hal itu membuat Lusi langsung berpikir macam-macam. Bagaimana kalau Aron benar-benar mengusirnya.

“Kenapa pulang malam?” suaranya berat, tenang, tapi penuh tekanan.

Lusi terdiam dan menunduk. Tanpa sadar tangannya meremas ujung kerudungnya. Ia takut, sungguh.

Aron berdiri, berjalan mendekat. Ia tau Lusi sedang ketakutan, dan ia tak seharusnya menambah beban psikologis bagi Lusi yang selama ini dihujani serangan pikiran.

“Rangga… dia nggak nyulik kamu, kan?”

Nada suaranya terdengar lebih lembut sekarang, meski masih penuh khawatir.

Air mata Lusi yang sejak tadi ditahan akhirnya tumpah. “Hampir… hampir saja dia menyeret saya, Pak. Untung ada orang-orang yang melihat. Kalau tidak… entah apa yang terjadi pada saya.”

Aron mengepalkan tangan, rahangnya mengeras. Ada bara api amarah yang menyala di matanya.

“Brengsek!” gumamnya. “Dia sudah benar-benar keterlaluan.”

Lusi menutup wajah dengan kedua tangan. “Saya bahkan dipecat dari pekerjaan karena kejadian itu. Saya sudah coba cari kerja lagi, tapi nggak ada yang mau menerima. Itu kenapa saya pulang terlambat. Maafkan saya karena bersikap seenaknya di rumah Anda, Pak. Rasanya… saya benar-benar tidak berguna, sekarang.”

Aron menarik napas panjang, lalu menepuk bahu Lusi dengan hati-hati. “Bersihkan diri dulu, cuci muka, dan istirahat sebentar, setelah itu kita bicara. Jangan pernah merasa kamu nggak berguna, Lusi. Kamu cuma salah memilih orang sebagai suami.”

Lusi menatapnya, matanya merah dan bengkak. Ada kehangatan di balik kata-kata itu, meski datang dari pria yang seharusnya asing baginya.

Lusi merasa ada seseorang yang benar-benar berdiri di pihaknya. Setelah semua rasa sakit yang ia terima. Ia harus menjadi orang berguna, agar kebaikan Aron tidak sia-sia.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Dibeli Mantan Ayah Mertua yang Hot   100. Meminta Maaf

    Usai periksa, Lusi dan Aron lolos untuk ikut program hamil. Berarti sistem reproduksi mereka memang siap untuk menyambut bayi di kehidupan mereka. Namun saat sedang bersantai di mansion, seorang bodyguard menyampaikan kalau ada tamu yang ingin bertemu. "Siapa?" tanya Aron. Ia sedang makan kacang bersama Lusi di ruang santai lantai dua. Ditemani film romantis, mereka menonton dengan santai. "Nona Gabriella." Deg! Mereka sontak menoleh ke lantai bawah dan memang di sana ana Gabriella. "Suruh dia naik," kata Aron. Lusi heran, "Kenapa gak kita yang ke sana. Dia tamu loh, Sayang." Aron tertawa kecil, lalu tetap menyuruh bodyguard tersebut menyampaikan agar Gabriella naik ke atas. "Liat aja... setelah dia bicara maksud kedatangannya, kamu pasti gak akan sungkan lagi." Lusi terheran, tapi juga menunggu Gabriella sampai ke sana. Langkah kaki anggun terdengar menaiki tangga. Aron juga meminta dua bodyguard untuk stay di sana. Hal yang tambah membuat Lusi penasara

  • Dibeli Mantan Ayah Mertua yang Hot   99. Perempuan Mandul

    "Sayang... bangun dulu." Lusi terbangun dari tidurnya. Sentuhan halus di lengannya membangunkannya dari tidur singkat. "Apa, Mas?" tanya Lusi dengan suara serak. Aron tersenyum, lalu mencium pelipis istrinya dengan sayang. "Makan malam dulu, Sayang. Nanti lanjut tidur." Lusi agak kaget karena audah jam tujuh lebih berarti. Ia pun bangun dari tidurnya. Tubuhnya agak pegal-pegal, tapi Aron sudah membersihkannya dan menggantikannya saat ia tidur. Lusi hendak mengambil gelas air putih, tapi Aron mencegahnya. "Biar aku pegangin," katanya. Lusi hanya menurut dan disuapi suaminya sampai makanan dan minum habis. Setelah itu, Lusi duduk dengan bersandar di kepala ranjang. Ia menggunakan baju tidur couple dengan suaminya. Baju tidur berwarna navy polos dengan garis-garis putuh pada tepiannya. "Masih sakit badannya?" tanya Aron. Ia memijit lengan istrinya perlahan. Sentuhannya hangat dan hati-hati. Lusi tersenyum merasakan perlakuan Aron yang begitu sederhan

  • Dibeli Mantan Ayah Mertua yang Hot   98. Love Moment 🔞

    "Boleh?" Suara itu halus, rendah, sekaligus dalam. Namun yang lebih membuat Lusi gelisah adalah sapuan napas sang suami yang terus mengganggu lehernya. Aron juga menggigit telinga sang istri, memberi sensasi yang luar biasa panas. Senyum terbit di bibir Aron ketika melihat Lusi tanpa sadar menggigit bibirnya sendiri. Sentuhan tangan Aron memang lembut, tak memaksa, tapi memberi efek mengundang. Mengundang agar gairah Lusi keluar bersamanya. "Aku udah nahan sejak semalam, kalau gak boleh... bukannya kamu tega banget ya?" Teknik membujug ala pria yang selalu berhasil menaklukkan hati wanita. Sementara Lusi masih berusaha menahan diri, tapi suaminya terus menyentuh dengan lihai. "Tapihhhh...." Suara Lusi sudah tak terkendali. Desahannya mulai membakar gairah Aron lagi dan lagi. Senyuman Aron makin lebar. "Tapi apa, Sayang?" bisiknya lagi. Tubuh Lusi merinding seketika di bawah sentuhan sang suami. Napasnya mulai memburu, ia berusaha menahan sentuhan tangan Aron di p

  • Dibeli Mantan Ayah Mertua yang Hot   97. Kepulangan Suami & Kejutan

    "Sayang!" sapa Aron dari luar kamar. Ia awalnya ingin memberi surprise pada istrinya, berharap hubungan mereka tidak dibangun dengan kecemburuan lagi seperti sebelumnya. Namun ketika ia menunggu sang istri sampai 30 menit, Lusi bahkan tak mau keluar. Aron jadi khawatir apakah istrinya benar-benar marah padanya karena tak mau menjawab telpon dan pesannya? Ia mengetuk pintu lagi. “Sayang? Kamu di dalam?” Tetap tidak ada jawaban dari dalam membuat Aron semakin khawatir. Alis Aron berkerut, kekhawatiran kecil menyusup, bercampur dengan rasa bersalah yang sejak tadi ia pendam. Ia sadar, keputusannya mendiamkan tanpa banyak penjelasan, mematikan ponsel, dan pergi begitu saja, bukan hal yang mudah diterima Lusi. Mungkin ia marah, kecewa atau mungkin ia lelah. Aron menarik napas dalam-dalam, lalu memutar kenop pintu. Begitu pintu terbuka, aroma lembut langsung menyambutnya. Bukan aroma biasa. Ada wangi essential oil yang hangat, sedikit manis, dengan sentuhan floral yang tidak t

  • Dibeli Mantan Ayah Mertua yang Hot   96. Saran yang Cukup Membantu?

    Lusi jadi kepikiran soal saran Ayu tadi saat di kantor, sepertinya ia harus pakai saran itu. Ia tak punya sarana lain untuk membujug suaminya. Terlebih Aron tak mau diajak bicara, bahkan pesannya tak dibalas atau setidaknya angkat telponnya. Kata Ayu, ia harus berdandan cantik pada malam Aron pulang. Aron pulang dua hari lagi, ia jadi gugup bagimana caranya mengimplementasikan saran dari Ayu. Itu sedikit menggelikan untuknya yang selama ini memiliki citra kalem yang bersahaja. Ia pun kemudian meminta Ayu untuk menemaninya memilih baju di mansion, dan memintanya memberi saran gaya yang cocok untuknya. Kata Ayu, ia biasanya menggunakan 'gaya pemikat suami'. Lusi menyadari kalau ia harus belajar menjadi istri yang aktif juga. Karena selama ini Aronlah yang erus aktif saat bersamanya. Aron yang membangun kepercayaan dirinya, mengatakan hal-hal baik yang romantis, dan masih banyak lagi. Maka hari Sabtu, libur dan kebetulan Ayu tidak ada jadwal dengan keluarganya. Tapi ia memb

  • Dibeli Mantan Ayah Mertua yang Hot   95. Ngambeknya Suami

    Aron tersenyum tipis. “Bagus.” Namun di balik senyum itu, ada cemburu, dan ia baru menyadari sesuatu. Bahwa cinta bukan hanya soal melindungi atau memiliki. Kadang, cinta juga berarti berani merasa tidak paling penting dan tetap menemani pasangan dalam keadaan apa pun. Ia merefleksi dirinya sendiri, tentang malam itu dan gosip yang beredar. Ternyata benar, ia melukai Lusi tanpa disadari. Dan lihatlah bagaimana Lusi merespon semua itu. Ia tenang dan tetap pada pendiriannya. Kalau Aron bersama perempuan lain, mungkin kebanyakan orang akan tantrum, cemberut, atau benar-benar mendiamkannya selama beberapa hari. Namun Lusi tidak. Ia selalu berusaha mengerti, meski dirinya sendiri terluka. Mungkin hanya Lusi yang bisa seperti itu dalam hidup Aron. Bahkan Evelyn, ibunya sendiri, sering mendiamkannya hanya karena perbedaan pendapat. Kadang Evelyn juga marah-marah padanya tanpa alasan yang jelas. Tapi Lusi tidak. Kalau dilihat dari usianya, memang Lusi sudah cukup dewasa, tiga puluhan. N

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status