Share

6. Hampir Diperkosa

Author: Blue Rose
last update Last Updated: 2025-10-01 14:20:45

Kini, Lusi merasakan kelegaan yang sudah lama tak ia miliki. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia tidak lagi terikat pada pria yang selalu menyakitinya.

“Alhamdulillah…” ucapnya pelan ketika sidang memutuskan perceraiannya sah.

Air matanya jatuh, bukan karena sedih, melainkan karena lega.

Setelah hampir dua bulan tinggal di mansion milik Aron, Lusi akhirnya memutuskan untuk keluar seperti yang direncanakan. Pindah ke apartemen Aron yang dipinjamkan untuknya.

Ia merasa tidak pantas terus-menerus bergantung pada pria itu. Aron sudah terlalu banyak memberikannya bantuan. Proses perceraian dengan Rangga pun selesai berkat campur tangan Aron.

Ia tidak mungkin lagi pulang ke kontrakan lama, apalagi setelah tahu Rangga masih sering berkeliaran di sana.

Syukurlah ia dapat pekerjaan lagi di sebuah toko baju di pusat kota. Mereka membuka lowongan sebagai penjaga sekaligus host untuk siaran live di platform jual-beli online.

“Meski gajinya tidak besar, tapi sudah termasuk uang makan. Lumayan lah, Bu, daripada nganggur,” ujar pemilik toko itu waktu menerima Lusi.

Lusi mengangguk sopan. “Saya tidak masalah dengan gaji, Pak. Yang penting halal, saya bisa bekerja dengan sungguh-sungguh.”

Bulan pertama di toko itu terasa padat. Ia harus menjaga etalase, melayani pembeli, mengatur stok barang, sekaligus belajar berbicara di depan kamera untuk siaran live. Awalnya canggung, tapi Lusi punya semangat tinggi. Ia tersenyum ramah, menunjukkan produk, menjawab pertanyaan pembeli online dengan sabar.

Tak jarang, ia merasa grogi saat harus mengenakan beberapa pakaian untuk dicoba di depan kamera. Namun para pelanggan justru menyukai gaya Lusi yang natural dan apa adanya.

Toko itu jadi makin ramai, terutama ketika Lusi yang membawakan siaran. Pemilik toko senang dengan hasilnya. Namun di balik tatapan puasnya, tersimpan niat yang berbeda.

.

Di sisi lain, Aron tetap memantau Lusi dari kejauhan. Ia sengaja tidak banyak menghubungi, hanya sesekali menanyakan kabar lewat pesan singkat. Aron tahu, terlalu sering muncul bisa membuat Lusi salah paham, seolah dirinya ingin memenjarakan perempuan itu. Ia tidak ingin mengulang kesalahan Rangga yang membuat Lusi tersiksa.

Namun, dalam hatinya, ia tetap khawatir. Setiap malam, ia masih teringat wajah Lusi, senyumnya yang lembut, juga tatapan matanya yang penuh luka. Ia ingin sekali memeluk perempuan itu, mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja, bahwa ia bisa bahagia tanpa harus menggenggam luka masa lalunya. Tapi ia menahan diri.

“Aku hanya akan jadi tempat pulang untuknya,” gumam Aron pada dirinya sendiri.

Sayangnya, ketenangan itu tak berlangsung lama.

Suatu malam, toko sudah sepi. Hanya ada Lusi dan pemilik toko yang membereskan barang. Lusi sedang menutup rak ketika pria itu mendekat terlalu dekat.

“Kerja kamu bagus sekali, Lusi,” ucapnya dengan suara rendah. “Sejak kamu masuk, penjualan meningkat. Aku senang sekali punya pegawai seperti kamu.”

Lusi tersenyum kaku. “Terima kasih, Pak. Itu memang tugas saya.”

Namun, bukannya mundur, pria itu malah semakin dekat. Tangannya mencoba menyentuh pundak dan mengelus sampai ke lengan Lusi.

"Kamu cantik, Lus. Apa kamu gak kesepian tinggal di kontrakan sendirian? Kalau butuh teman, aku selalu ada…”

Deg.

Lusi mundur dengan panik. “Pak, jangan. Tolong jaga sikap.”

Tapi pria itu tidak peduli. Dalam sekejap, ia mendorong Lusi ke dinding, berusaha menciumnya dan menjamah tubuhnya.

“Pak! Lepaskan saya! Tolong—” Lusi menjerit sambil menepis, namun tenaganya kalah jauh.

Tangannya gemetar, napasnya sesak, ingatan pahit tentang Rangga kembali menyeruak. Ia merasa dunia berputar.

Di tengah kepanikan itu, ia hanya bisa berpikir satu nama, Aron. Dengan sisa tenaga, ia meraih ponsel di saku rok, menekan nomor yang selalu tersimpan di daftar cepat, dan menjerit.

“Pak Aron… tolong!”

Tak sampai lima belas menit, Aron datang dengan mobil hitamnya. Wajahnya murka, dan matanya merah, rahangnya mengeras begitu melihat tubuh Lusi tergeletak di lantai dengan pakaian kusut dan air mata membasahi pipinya.

Hijab Lusi sudah terlepas, hampur setengah dari payuara Lusi terekspos. Roknya sudah diangkat dan tangan pria mesum itu entah sudah meraba apa saja.

Aron pun langsung meledak. Ia langsung menarik pria mesum. itu, dan menghajar tanpa ampun. Satu pukulan keras menghantam rahang pria itu, membuatnya terjungkal.

Amarahnya yang sudah menindihnya, menghantamkan tinju berkali-kali sampai darah bercucuran.

“Berani kau menyentuhnya?!” Aron meraung. “Kau pikir perempuan bisa kau perlakukan seenaknya?!”

Lusi menjerit ketakutan. “Pak, jangan! Cukup! Saya takut kalau Bapak sampai dipenjara!”

Mendengar suara Lusi, Aron berhenti. Napasnya memburu, tangannya bergetar. Ia menoleh, melihat Lusi yang berjongkok di sudut, memeluk dirinya sendiri sambil menangis.

Orang-orang sudah berdatangan dan melihat kejadian itu, ada yang sudah merekamnya juga.

Aron segera menghampirinya, mengabaikan tubuh pemilik toko yang mengerang kesakitan. Ia meraih bahu Lusi dengan hati-hati. “Lusi… kamu gak apa-apa? Ada yang sakit? Di mana yang sakit?”

Lusi menggeleng, air matanya masih jatuh. “Saya… saya hampir… Pak, saya takut sekali.”

Dengan lembut, Aron mengusap rambutnya. “Tenang, Lusi. Aku di sini sekarang. Kamu aman. Selama aku ada, tak seorang pun akan menyakitimu lagi.”

Malam itu, Aron membawa Lusi kembali ke mansion. Ia sendiri yang membersihkan luka di lengan Lusi, mengoleskan salep, dan menyiapkan air hangat untuknya. Lusi hanya bisa terdiam, matanya kosong. Tentu ada trauma yang begitu nyata di wajahnya.

“Mulai sekarang, kamu tinggal di sini saja,” ujar Aron tegas. “Aku tidak akan biarkan kamu bekerja di tempat yang membuatmu menderita lagi.”

“Tapi, Pak… saya—”

“Tidak ada tapi, Lusi.” Aron menatapnya dalam-dalam. “Kamu sudah terlalu sering terluka. Aku tak akan membiarkan itu terulang lagi. Kalau kamu ingin bekerja, aku akan bantu carikan. Tapi kamu tetap tinggal di sini. Aku ingin menjamin kalau kamu aman.”

Air mata Lusi pecah lagi. Ia ingin menolak, tapi hatinya terlalu lelah. Ini kali pertamanya ia merasa benar-benar dilindungi. Tanpa sadar, ia pun mengangguk.

Mungkin untuk saat ini, ia hanya bisa mengikuti perintah Aron. Tqk bisa dipungkiri, Aron adalah satu-satunya sandaran baginya sekarang.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dibeli Mantan Ayah Mertua yang Hot   81. Gertakan

    Malam semakin larut, tapi lampu di ruang kerja Aron masih menyala. Mansion yang biasanya terasa megah dan lengang, malam itu dipenuhi ketegangan yang tak kasat mata. Lusi sudah tertidur di kamar, kelelahan emosional membuatnya terlelap lebih cepat dari biasanya. Aron sengaja tidak membangunkannya. Ia ingin istrinya mendapatkan tidur yang nyenyak, sesuatu yang akhir-akhir ini terlalu mahal untuk dimiliki. Aron berdiri di depan jendela besar ruang kerjanya, menatap taman yang gelap. Tangannya menyentuh gelas kopi yang sudah dingin. Pikirannya bekerja jauh lebih aktif dibanding tubuhnya. Rangga, nama itu kembali berputar di kepalanya, bukan dengan kemarahan membabi buta, melainkan dengan kalkulasi yang dingin. Aron tahu satu hal dengan pasti, Rangga bukan orang bodoh. Ia impulsif, emosional, dan manipulatif. Orang seperti itu tidak bisa dihadapi dengan ledakan emosi atau ancaman saja. Ia harus digertak dengan sesuatu yang membuatnya ragu, membuatnya berhenti meneruskan teror ini k

  • Dibeli Mantan Ayah Mertua yang Hot   80. Sesama Korban

    “Dia bilang, wanita sepertiku gak menghasilkan dan cuma jadi beban laki-laki. Aku gak ngerti waktu itu dan hanya diam. Aku kira… dia ngomong kayak gitu becanda. Tapi ternyata itu serius.” Aron menghela napas pelan. Jujur saja, di titik itu, Lusi memang terlalu polos atau terlalu bodoh untuk membaca realita. Tapi Aron tak mungkin mengatakan itu dengan jujur, setidaknya untuk saat ini. “Ya… bahkan kalau dalam keadaan bercanda pun, itu tetap salah,” kata Aron akhirnya. Lusi semakin masuk ke pelukan suaminya, mencari kehangatan, seolah tubuh Aron adalah satu-satunya tempat aman yang tersisa. Aron menyadari Lusi sudah selesai bercerita. Kini giliran dirinya membuka suara. “Aku juga pernah ada di posisi itu,” ucapnya akhirnya. Lusi mendongak. “Di posisiku?” Aron menghela napas panjang, seakan harus mengumpulkan keberanian lebih dulu. “Aku pernah ada di situasi yang sama kayak kamu. Aku pernah dikendalikan secara psikologis oleh ibu Rangga,” katanya perlahan. “Dia memang pandai bers

  • Dibeli Mantan Ayah Mertua yang Hot   79. Dalam Pelukannya

    Aron sebenarnya sudah bersiap untuk lembur malam itu. Laptopnya masih terbuka di meja kerja, jasnya belum dilepas, dan agenda operasi esok hari sudah berjejer rapi di layar tabletnya. Semua tampak berjalan seperti rutinitas yang sudah ia hafal di luar kepala, sampai nama Lusi muncul di layar ponselnya, disertai getaran singkat yang entah kenapa langsung membuat dadanya mengencang. Ia mengangkat panggilan itu tanpa ragu. “Mas…” suara Lusi terdengar pelan. Padahl biasanya istrinya cerewet meski sedang lelah. Aron langsung berdiri. “Ada apa?” Ada jeda beberapa detik. Nafas Lusi terdengar di seberang, berat dan membuat Aron jadi tegang. “Aku… tadi ketemu Rangga.” Mendengar itu, Aron langsung mematikan laptopnya, meraih kunci mobil, dan melangkah keluar ruangan. “Aku pulang sekarang,” katanya singkat tapi tegas. “Kamu di Mansion kan?” “Iya.” “Tunggu aku. Jangan ke mana-mana.” Telepon terputus. Aron bahkan tidak menoleh lagi ke meja kerjanya. Semua prioritas malam i

  • Dibeli Mantan Ayah Mertua yang Hot   78. Gara-gara Batagor

    Ketika Lusi tegang, Rangga malah memperlihatkan ekspresi santai dengan mengangkat bahu. “Kalau ketemu di tempat umum gini dibilang ngikutin juga?” Lusi melirik sekeliling. Ramai memang, banyak orang. Tapi entah kenapa, rasa aman itu tidak sepenuhnya hadir. Rangga berdiri terlalu dekat, auranya terlalu menekan. “Kita gak ada urusan,” ucap Lusi dingin. “Jangan dekati aku lagi.” Rangga tersenyum lebih lebar, tapi matanya kosong. “Masih galak aja. Padahal sekarang hidup kamu enak, kan? Jadi nyonya besar.” Lusi menggertakkan gigi. “Jangan bawa-bawa statusku. Itu bukan urusanmu.” “Oh, tapi itu urusanku,” balas Rangga cepat. “Karena hidup kamu berubah bags, tapi hidup aku berantakan.” Kalimat itu membuat bulu kuduk Lusi berdiri. Ia mundur setengah langkah, menjaga jarak. “Pilihan kamu sendiri,” katanya. “Aku gak pernah maksa kamu untuk menjadi pria brengsek!” Rangga mencondongkan badan sedikit, suaranya diturunkan. “Tapi kamu ninggalin aku tanpa penjelasan. Tiba-tiba jadi is

  • Dibeli Mantan Ayah Mertua yang Hot   77. Tidak Tahu Apa-apa

    Rasa penasaran Lusi kemudian tersampaikan pada suaminya. Saat pulang bersama di dalam mobil, Lusi bersandar di pundak Aron yang sibuk mengetik di laptopnya. "Mas, kenapa ya akhir-akhir ini gak liat Kak Gabriella?" tanya Lusi. Aron menghentikan ketikannya dan menoleh ke arah istrinya. "Kenapa tiba-tiba tanya gitu?" Lusi menggeleng. "Hanya tadi Ayu tanya, aku jadi ikut penasaran." "Balik ke Berlin, mungkin." Mendengar jawaban cuek dari suaminya, membuat Lusi agak heran. Apakah hubungan mereka tak sejauh itu, seperti gosip yang beredar? "Jadi hubungan kamu sama dia seperti apa?" tanya Lusi. "Maksudmu gimana, hubunganku sama dia selamanya hanya rekan bisnis dan teman bisnis. Artinya tidak ada yang akan berubah dari kami." "Jadi kamu bener-bener gak tau apa-apa tentang dia?" Aron agak heran dengan pertanyaan istrinya yang seperti cemburu. "Kamu cemburu?" Lusi langsung terkejut. Ia bangun dari senderan di pundak Aron, dan menatap suaminya dengan tajam. "Jelas aku cembu

  • Dibeli Mantan Ayah Mertua yang Hot   76. Pergi

    Rangga ||| "Mau sampe kapan kamu nutupin dosa itu?" Lusi menatap layar lama. Inilah inti dari semuanya, Rangga tak tau kalau Aron bukan ayah kandungnya. Sehingga ia terus menganggap bahwa pernikahan mereka adalah dosa. Lagipula, mengapa pula Rangga mengurusi urusan rumah tangganya dan Aron. Bukannya ia sudah bersama selingkuhannya. Mengapa pria itu masih mengganggunya, padahal mereka harusnya sudah sama-sama berjalan di jalan masing-masing. Ia berdiri, berjalan ke jendela besar yang menghadap taman. Langit begitu gelap, awan bergerak pelan. Dunia tetap berjalan, meski kepalanya terasa penuh. Pintu depan terbuka pelan, dan itu adalah Aron yang baru pulang. Lusi langsung menoleh, langkahnya cepat menghampiri suaminya tanpa berkata apa-apa, hanya menyodorkan ponsel. Aron membaca, kali ini lebih lama dari biasanya. “Akhirnya,” katanya pelan. Lusi menatapnya cemas. “Akhirnya apa?” “Dia masuk ke wilayah yang gak bisa dia kendalikan,” jawab Aron. “Dan dia pikir dia puny

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status