Share

5. Aron Menghajar Anaknya

Penulis: Blue Rose
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-01 14:13:33

Lusi keluar dari kamar setelah bersih-bersih. Ia langsung menghampiri Aron yang duduk menunggunya sambil membaca buku di ruang tamu.

"Maaf, Pak. Membuat Anda menunggu lama."

Aron melepas kacamata bacanya, lalu menatap Lusi dengan tatapan santai.

"Sudah merasa lebih baik?" tanyanya.

Lusi mengangguk sambil tersenyum canggung. "Iya, Pak."

Aron diam sejenak mengamati Lusi yang terlihat gelisah. Entah apa yang dipikirkannya sehingga ia terlihat ingin lari dari sana.

"Jujur saja Lusi, saya gak bisa membiarkan kamu tinggal lama di sini."

Lusi sudah menduganya, pasti Aron akan mengusirnya dari sana. Ia hanya diam tanpa menanggapi apa-apa. Namun wajahnya sudah memberikan respon, ia terlihat sedih.

"Namun saya juga tidak bisa membiarkan kamu keluar dalam keadaan tak memiliki persiapan apapun."

Wajah Lusi sudah terlihat ingin menangis. Itu membuat Aron merasa sangat kasihan, tapi juga tak bisa mengabaikan pandangan masyarakat.

"Saya tidak tau kalau gosip tentangmu akhirnya keluar. Berita saya membawa seorang wanita tak bisa dihindari, Lusi. Saya minta maaf."

Lusi langsung menggeleng. Ia panik dan langsung berkata.

"Enggak, Pak. Saya yang harusnya minta maaf karena sudah merepotkan Anda selama ini. Saya... saya akan segera keluar dari sini. Saya--"

"Tenang dulu Lusi. Saya gak bermaksud mengusir kamu. Hanya saja, saya akan meminjamkan kamu sebuah apartemen yang sudah lama tidak saya tempati. Orang yang menyewa juga sudah pergi dua bulan lalu. Sebenarnya akan saya sewakan lagi, tapi karena belum ada dan kamu butuh, saya akan pinjamkan."

Lusi terkejut. Ia kira, Aron akan mengusirnya dengan tegas, sewajarnya orang asing yang direpotkan. Namun Lusi ragu, apartemen itu jelas menghasilkan jika disewakan, tapi kini dipinjamkan padanya. Itu akan menjadi kerugian bagi Aron.

"Kalau begitu... bagaimana kalau saya membayar sewanya, Pak?"

Aron terlihat menaikkan sebelah alisnya. "Tidak, Lusi. Kamu tidak perlu. Kamu hanya cukup menempatinya sampai kamu bisa mencari tempat tinggal yang lain."

"Mungkin saya boleh tau berapa biaya sewanya, Pak?" tanya Lusi lagi.

"Lima juta perbulan."

Lusi terdiam, tapi Aron justru terkekeh dan meyakinkannya kalau ia tak mengharapkan Lusi membayarnya. Ia tulus ingin membantu.

"Kamu bisa tinggal selama dua hari lagi di sini."

Lusi mengangguk dan berterimakasih pada Aron. Ia sudah sangat baik padanya.

•••

Keesokan harinya ketika matahari sore meredup, suasana di mansion Aron mendadak mencekam. Seorang penjaga melapor dengan tergesa. Untung saja saat itu, Aron di rumah karena jadwal operasinya malam.

Lusi sedang mengupaskan buah untuk Aron, ketika tiba-tiba seseorang datang mengatakan hal penting pada Aron.

“Pak… ada tamu yang memaksa masuk. Dia bilang namanya Rangga.”

Wajah Lusi langsung pucat, dan tangannya gemetar hebat. “Ya Allah…” bisiknya lirih.

Aron, yang baru selesai mandi pun, berdiri dengan tatapan dingin. Ia sudah menduga ini akan terjadi cepat atau lambat. Meski awalnya ia ingin menghindari konfrontasi, kali ini ia tahu tak ada pilihan lagi.

“Suruh masuk,” perintah Aron dengan suara berat.

Rangga menerobos masuk dengan wajah penuh amarah. Rambutnya berantakan, matanya merah, dan aroma alkohol menusuk dari tubuhnya. Begitu matanya menangkap sosok Lusi yang berdiri di sudut ruangan, ia langsung melangkah maju.

“Lusi!” teriaknya. “Dasar perempuan tak tahu diri! Sembunyi di sini sama om-om kaya? Apa kamu kira aku bakal tinggal diam?”

Lusi mundur beberapa langkah, tubuhnya gemetar. Ia menangis ketakutan. Rangga bisa memukulnya kalau sedang marah atau mabuk.

Melihat itu, Aron segera maju di depan, menghadang Rangga.

“Cukup, Rangga.” Suara Aron tegas, berwibawa, tapi tetap tenang. “Dia sudah bukan milikmu lagi. Kamu sudah kehilangan hak untuk menyentuhnya.”

Rangga tertawa sinis, meludah ke lantai. “Jangan sok jadi pahlawan, Aron! Kamu pikir karena kamu punya uang dan rumah gede, kamu bisa ambil istri orang?!”

Aron mengepalkan tangan, wajahnya menegang. Sebenarnya ia tidak ingin menyakiti Rangga. Bagaimanapun, dulu ia pernah melihat anak itu tumbuh di masa kecilnya, meski bukan darah dagingnya sendiri. Tapi saat melihat ketakutan di wajah Lusi, semua pertimbangan hancur.

Ia melangkah maju, menatap mata Rangga dalam-dalam.

“Awalnya aku tidak ingin menggunakan kekerasan, Rangga. Tapi setelah ini, semuanya berubah. Kamu bukan manusia lagi.”

Rangga terdiam sejenak, kaget mendengar nada suara Aron yang dingin seperti baja.

“Bukan cinta namanya kalau membuat orang yang dicintai tersiksa,” Aron melanjutkan. “Kalau kamu masih nekat, aku bisa melakukan hal yang gak pernah kamu bayangkan. Aku sendiri yang akan melepaskan nyawa dari tubuhmu.”

Kalimat itu seperti petir yang menyambar. Rangga mencoba melawan, mendorong dada Aron. Namun Aron yang berpostur lebih besar, tinggi, dan jauh lebih tenang, langsung meninju wajahnya dengan pukulan keras.

"Aaa!"

Rangga terhuyung, darah mengalir dari bibirnya.

Lusi yang masih berdiri di pojokkan menutup mulutnya tak menyangka. Aron yang biasanya tenang dan lembut itu, tiba-tina bersikap agresif.

Suasana mansion geger. Beberapa penjaga sudah bersiap melerai, tapi Aron mengangkat tangannya, memberi isyarat untuk mundur.

“Ini urusan saya,” ucapnya dingin.

Rangga bangkit lagi, mencoba menyerang, tapi Aron lebih gesit. Sekali lagi tinjunya mendarat di perut Rangga, membuat pria itu terjatuh terengah.

“Pergi dari sini, Rangga,” suara Aron bergetar menahan amarah. “Kalau sekali lagi kamu mengganggu Lusi, jangan salahkan aku jika kamu menghilang dari dunia ini. Aku tak perduli lagi kamu siapa."

Melihat tatapan Aron yang begitu dingin, Rangga akhirnya gentar. Meski mulutnya masih mengumpat, tubuhnya gemetar saat dipapah keluar oleh dua penjaga.

Lusi merasa sangat bersalah karena Aron harus melakukan semua ini untuknya.

Namun kabar baiknya, setelah kejadian itu, proses perceraian Lusi berjalan lebih lancar. Aron memanggil pengacaranya, mengurus semua berkas, dan bahkan memberikan perlindungan hukum agar Rangga tidak bisa mengusiknya lagi.

Blue Rose

Kalau suka, boleh kasih bintang 5 di awal buku ini ya...

| 3
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dibeli Mantan Ayah Mertua yang Hot   81. Gertakan

    Malam semakin larut, tapi lampu di ruang kerja Aron masih menyala. Mansion yang biasanya terasa megah dan lengang, malam itu dipenuhi ketegangan yang tak kasat mata. Lusi sudah tertidur di kamar, kelelahan emosional membuatnya terlelap lebih cepat dari biasanya. Aron sengaja tidak membangunkannya. Ia ingin istrinya mendapatkan tidur yang nyenyak, sesuatu yang akhir-akhir ini terlalu mahal untuk dimiliki. Aron berdiri di depan jendela besar ruang kerjanya, menatap taman yang gelap. Tangannya menyentuh gelas kopi yang sudah dingin. Pikirannya bekerja jauh lebih aktif dibanding tubuhnya. Rangga, nama itu kembali berputar di kepalanya, bukan dengan kemarahan membabi buta, melainkan dengan kalkulasi yang dingin. Aron tahu satu hal dengan pasti, Rangga bukan orang bodoh. Ia impulsif, emosional, dan manipulatif. Orang seperti itu tidak bisa dihadapi dengan ledakan emosi atau ancaman saja. Ia harus digertak dengan sesuatu yang membuatnya ragu, membuatnya berhenti meneruskan teror ini k

  • Dibeli Mantan Ayah Mertua yang Hot   80. Sesama Korban

    “Dia bilang, wanita sepertiku gak menghasilkan dan cuma jadi beban laki-laki. Aku gak ngerti waktu itu dan hanya diam. Aku kira… dia ngomong kayak gitu becanda. Tapi ternyata itu serius.” Aron menghela napas pelan. Jujur saja, di titik itu, Lusi memang terlalu polos atau terlalu bodoh untuk membaca realita. Tapi Aron tak mungkin mengatakan itu dengan jujur, setidaknya untuk saat ini. “Ya… bahkan kalau dalam keadaan bercanda pun, itu tetap salah,” kata Aron akhirnya. Lusi semakin masuk ke pelukan suaminya, mencari kehangatan, seolah tubuh Aron adalah satu-satunya tempat aman yang tersisa. Aron menyadari Lusi sudah selesai bercerita. Kini giliran dirinya membuka suara. “Aku juga pernah ada di posisi itu,” ucapnya akhirnya. Lusi mendongak. “Di posisiku?” Aron menghela napas panjang, seakan harus mengumpulkan keberanian lebih dulu. “Aku pernah ada di situasi yang sama kayak kamu. Aku pernah dikendalikan secara psikologis oleh ibu Rangga,” katanya perlahan. “Dia memang pandai bers

  • Dibeli Mantan Ayah Mertua yang Hot   79. Dalam Pelukannya

    Aron sebenarnya sudah bersiap untuk lembur malam itu. Laptopnya masih terbuka di meja kerja, jasnya belum dilepas, dan agenda operasi esok hari sudah berjejer rapi di layar tabletnya. Semua tampak berjalan seperti rutinitas yang sudah ia hafal di luar kepala, sampai nama Lusi muncul di layar ponselnya, disertai getaran singkat yang entah kenapa langsung membuat dadanya mengencang. Ia mengangkat panggilan itu tanpa ragu. “Mas…” suara Lusi terdengar pelan. Padahl biasanya istrinya cerewet meski sedang lelah. Aron langsung berdiri. “Ada apa?” Ada jeda beberapa detik. Nafas Lusi terdengar di seberang, berat dan membuat Aron jadi tegang. “Aku… tadi ketemu Rangga.” Mendengar itu, Aron langsung mematikan laptopnya, meraih kunci mobil, dan melangkah keluar ruangan. “Aku pulang sekarang,” katanya singkat tapi tegas. “Kamu di Mansion kan?” “Iya.” “Tunggu aku. Jangan ke mana-mana.” Telepon terputus. Aron bahkan tidak menoleh lagi ke meja kerjanya. Semua prioritas malam i

  • Dibeli Mantan Ayah Mertua yang Hot   78. Gara-gara Batagor

    Ketika Lusi tegang, Rangga malah memperlihatkan ekspresi santai dengan mengangkat bahu. “Kalau ketemu di tempat umum gini dibilang ngikutin juga?” Lusi melirik sekeliling. Ramai memang, banyak orang. Tapi entah kenapa, rasa aman itu tidak sepenuhnya hadir. Rangga berdiri terlalu dekat, auranya terlalu menekan. “Kita gak ada urusan,” ucap Lusi dingin. “Jangan dekati aku lagi.” Rangga tersenyum lebih lebar, tapi matanya kosong. “Masih galak aja. Padahal sekarang hidup kamu enak, kan? Jadi nyonya besar.” Lusi menggertakkan gigi. “Jangan bawa-bawa statusku. Itu bukan urusanmu.” “Oh, tapi itu urusanku,” balas Rangga cepat. “Karena hidup kamu berubah bags, tapi hidup aku berantakan.” Kalimat itu membuat bulu kuduk Lusi berdiri. Ia mundur setengah langkah, menjaga jarak. “Pilihan kamu sendiri,” katanya. “Aku gak pernah maksa kamu untuk menjadi pria brengsek!” Rangga mencondongkan badan sedikit, suaranya diturunkan. “Tapi kamu ninggalin aku tanpa penjelasan. Tiba-tiba jadi is

  • Dibeli Mantan Ayah Mertua yang Hot   77. Tidak Tahu Apa-apa

    Rasa penasaran Lusi kemudian tersampaikan pada suaminya. Saat pulang bersama di dalam mobil, Lusi bersandar di pundak Aron yang sibuk mengetik di laptopnya. "Mas, kenapa ya akhir-akhir ini gak liat Kak Gabriella?" tanya Lusi. Aron menghentikan ketikannya dan menoleh ke arah istrinya. "Kenapa tiba-tiba tanya gitu?" Lusi menggeleng. "Hanya tadi Ayu tanya, aku jadi ikut penasaran." "Balik ke Berlin, mungkin." Mendengar jawaban cuek dari suaminya, membuat Lusi agak heran. Apakah hubungan mereka tak sejauh itu, seperti gosip yang beredar? "Jadi hubungan kamu sama dia seperti apa?" tanya Lusi. "Maksudmu gimana, hubunganku sama dia selamanya hanya rekan bisnis dan teman bisnis. Artinya tidak ada yang akan berubah dari kami." "Jadi kamu bener-bener gak tau apa-apa tentang dia?" Aron agak heran dengan pertanyaan istrinya yang seperti cemburu. "Kamu cemburu?" Lusi langsung terkejut. Ia bangun dari senderan di pundak Aron, dan menatap suaminya dengan tajam. "Jelas aku cembu

  • Dibeli Mantan Ayah Mertua yang Hot   76. Pergi

    Rangga ||| "Mau sampe kapan kamu nutupin dosa itu?" Lusi menatap layar lama. Inilah inti dari semuanya, Rangga tak tau kalau Aron bukan ayah kandungnya. Sehingga ia terus menganggap bahwa pernikahan mereka adalah dosa. Lagipula, mengapa pula Rangga mengurusi urusan rumah tangganya dan Aron. Bukannya ia sudah bersama selingkuhannya. Mengapa pria itu masih mengganggunya, padahal mereka harusnya sudah sama-sama berjalan di jalan masing-masing. Ia berdiri, berjalan ke jendela besar yang menghadap taman. Langit begitu gelap, awan bergerak pelan. Dunia tetap berjalan, meski kepalanya terasa penuh. Pintu depan terbuka pelan, dan itu adalah Aron yang baru pulang. Lusi langsung menoleh, langkahnya cepat menghampiri suaminya tanpa berkata apa-apa, hanya menyodorkan ponsel. Aron membaca, kali ini lebih lama dari biasanya. “Akhirnya,” katanya pelan. Lusi menatapnya cemas. “Akhirnya apa?” “Dia masuk ke wilayah yang gak bisa dia kendalikan,” jawab Aron. “Dan dia pikir dia puny

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status