แชร์

7. Cinta Terlarang

ผู้เขียน: Blue Rose
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-10-14 14:35:05

Lusi menjalani kegiatan hariannya dengan baik. Ia sudah mulai sembuh dari trauma yang ia alami.

Ia memang tak secantik para artis, tapi ia cukup cantik memang. Andai ia menerima perawatan sedikit saja, kecantikannya pasti terpancar. Tubuhnya juga seksi, kalau saja tidak ditutup pakaiannya yang rapat, ia akan menjadi primadona.

Di mansion yang megah itu, Lusi tetap mencoba membantu pekerjaan kecil meski para pembantu menolak. Sementara itu saat tidak ada yang bisa ia lakukan, ia lebih banyak melamun, menenangkan diri, sesekali membaca buku atau membantu di dapur.

Aron, meski sibuk dengan bisnisnya, selalu menyempatkan waktu untuk menemaninya makan malam atau sekadar berbincang saat di mansion.

Meski semua seolah tampak baik-baik saja, hidup Lusi tetap tidak mudah. Ia masih berusaha mencari pekerjaan baru yang bisa memberinya penghasilan. meski sedikit. Beberapa lowongan ia datangi, tapi hasilnya selalu sama, ditolak.

Seminggu berlalu, Lusi semakin bingung. Hingga akhirnya ia kembali memberanikan diri berbicara pada Aron.

“Pak… saya mohon maaf. Saya belum juga dapat pekerjaan yang gajinya lumayan. Saya sudah bekerja. paruh waktu sih di malam hari, tapi mungkin belum cukup untuk cari kontrakan. Kalau boleh, izinkan saya tinggal di apartemen lagi?"

Ia menatap Aron dengan takut, meski ia tau Aron tak akan memarahinya. Namun aura Aron sangat kuat, membuatnya selalu merasa ciut saat berhadapan dengannya.

Aron yang tengah duduk di ruang kerja mengangkat kepalanya. Senyum tipis muncul di wajahnya. Namun ia masih diam, membuat pikiran buruk Lusi makin liar.

"Em... sampai saya benar-benar mendapat tempat," jelasnya lagi. "Saya janji akan lebih hati-hati membersihkan apartemen. Akan saya buat seolah apartemen itu gak ada yang menempati, benarhbenar bersih!" tekadnya meyakinkan Aron.

Aron hanya menghela napas. Ia bingung harus menjelaskan bagaimana. Rindu sangat bertekad, sementara ia masih takut perempuan itu akan diganggu lagi di luar sana.

"Bukan begitu, Rindu. Sejak awal saya memang mempersilahkan kamu tinggal di apartemen sendiri. Tapi bukan kebersihan atau apapun itu yang bikin saya tak mengizinkanmu lagi. Saya ingin memastikan kamu aman, jadi saya minta kamu tinggal di sini. Agar saya bisa melindungimu dan memantau kamu secara langsung."

Lusi tak menyangka kalau Aron akan menjaganya sebaik itu. Selama ini orang-orang yang menolongnya pasti akan mencari manfaat padanya.

“Lusi, kamu tidak perlu meminta maaf. Selama kamu butuh, kamu boleh tinggal di sini. Rumah ini terlalu besar untuk saya sendiri.”

Lusi tertegun. “Tapi… saya tidak mau merepotkan. Segidaknya saya harus bermanfaat sedikit saja untuk Anda”

“Tidak ada yang merasa direpotkan Lusi,” Aron menatapnya lekat. “Justru kehadiranmu… membuat rumah ini terasa hidup.”

Lusi menunduk cepat, pipinya memanas. Ada getaran aneh di dadanya yang berusaha ia redam.

"Dan... kalaupun saya ingin mengambil manfaat darimu, saya akan minta kalau saya butuh. Tapi selama saya gak bilang apa-apa ke kamu, tolong jangan merasa kalau kamu gak berguna. Santai saja di sini. Lagian saya sering bepergian."

"Tapi gosip itu?"

Aron baru ingat, waktu itu ia menceritakan pada Lusi soal gosip di luar sana.

"Tenang saja, itu hanya gosip liar. Sekarang juga sudah surut. Itu biar saya yang atasi, kamu gak perlu khawatir soal itu."

"Baik, Pak. Terimakasih."

•••

Hari-hari berikutnya berjalan dengan ritme baru. Aron sering bepergian untuk urusan bisnis, meninggalkan mansion dalam kesunyian. Setiap kali ia kembali, Lusi menyambut dengan senyum canggung, sementara Aron mencoba bersikap biasa.

Namun di balik wajah tenang itu, Aron menyimpan pergolakan batin. Ia tahu perasaannya pada Lusi kian dalam. Ia ingin merengkuhnya, dan memilikinya sepenuhnya. Tapi ia juga tahu luka Lusi masih segar. Memaksakan cinta padanya hanya akan menambah penderitaan perempuan itu.

Malam-malam panjang sering Aron habiskan di balkon, menatap langit, dan memikirkan sesuatu yang bisa membantunya menahan diri.

“Kenapa harus kamu, Lusi…” bisiknya pelan.

Sementara di kamarnya, Lusi juga gelisah. Ia tahu ada sesuatu yang berubah antara dirinya dan Aron. Perhatian pria itu, tatapan matanya, cara ia memperlakukannya begitu berbeda.

Namun Lusi takut. Ia baru saja lepas dari neraka rumah tangga. Apakah pantas baginya untuk terjatuh lagi, dan kali ini pada pria yang dulunya adalah ayah mertuanya sendiri?

Itu tidak boleh, dalam aturan agama pun tidak boleh bagi mantan menantu dan mantan mertua bersama. Hatinya terus goyah, dan pertanyaan itu terus menghantui, tanpa jawaban.

Tanpa keduanya sadari, perlahan-lahan, benih perasaan yang seharusnya tidak pernah tumbuh, mulai berakar semakin dalam. Membuat interaksi mereka setiap saat, menjadi semakin indah tapi juga terasa berat.

"Mungkinlah tidak apa-apa memiliki perasaan seperti ini?" gumam Lusi.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
ความคิดเห็น (4)
goodnovel comment avatar
Blue Rose
hehe maaf kak iya salah itu namanya
goodnovel comment avatar
Blue Rose
sorry... sorry, baru nyelesein novel sebelah masih kebawa
goodnovel comment avatar
YAMOTO
lusi berganti nama jadi Rindu.........
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Dibeli Mantan Ayah Mertua yang Hot   100. Meminta Maaf

    Usai periksa, Lusi dan Aron lolos untuk ikut program hamil. Berarti sistem reproduksi mereka memang siap untuk menyambut bayi di kehidupan mereka. Namun saat sedang bersantai di mansion, seorang bodyguard menyampaikan kalau ada tamu yang ingin bertemu. "Siapa?" tanya Aron. Ia sedang makan kacang bersama Lusi di ruang santai lantai dua. Ditemani film romantis, mereka menonton dengan santai. "Nona Gabriella." Deg! Mereka sontak menoleh ke lantai bawah dan memang di sana ana Gabriella. "Suruh dia naik," kata Aron. Lusi heran, "Kenapa gak kita yang ke sana. Dia tamu loh, Sayang." Aron tertawa kecil, lalu tetap menyuruh bodyguard tersebut menyampaikan agar Gabriella naik ke atas. "Liat aja... setelah dia bicara maksud kedatangannya, kamu pasti gak akan sungkan lagi." Lusi terheran, tapi juga menunggu Gabriella sampai ke sana. Langkah kaki anggun terdengar menaiki tangga. Aron juga meminta dua bodyguard untuk stay di sana. Hal yang tambah membuat Lusi penasara

  • Dibeli Mantan Ayah Mertua yang Hot   99. Perempuan Mandul

    "Sayang... bangun dulu." Lusi terbangun dari tidurnya. Sentuhan halus di lengannya membangunkannya dari tidur singkat. "Apa, Mas?" tanya Lusi dengan suara serak. Aron tersenyum, lalu mencium pelipis istrinya dengan sayang. "Makan malam dulu, Sayang. Nanti lanjut tidur." Lusi agak kaget karena audah jam tujuh lebih berarti. Ia pun bangun dari tidurnya. Tubuhnya agak pegal-pegal, tapi Aron sudah membersihkannya dan menggantikannya saat ia tidur. Lusi hendak mengambil gelas air putih, tapi Aron mencegahnya. "Biar aku pegangin," katanya. Lusi hanya menurut dan disuapi suaminya sampai makanan dan minum habis. Setelah itu, Lusi duduk dengan bersandar di kepala ranjang. Ia menggunakan baju tidur couple dengan suaminya. Baju tidur berwarna navy polos dengan garis-garis putuh pada tepiannya. "Masih sakit badannya?" tanya Aron. Ia memijit lengan istrinya perlahan. Sentuhannya hangat dan hati-hati. Lusi tersenyum merasakan perlakuan Aron yang begitu sederhan

  • Dibeli Mantan Ayah Mertua yang Hot   98. Love Moment 🔞

    "Boleh?" Suara itu halus, rendah, sekaligus dalam. Namun yang lebih membuat Lusi gelisah adalah sapuan napas sang suami yang terus mengganggu lehernya. Aron juga menggigit telinga sang istri, memberi sensasi yang luar biasa panas. Senyum terbit di bibir Aron ketika melihat Lusi tanpa sadar menggigit bibirnya sendiri. Sentuhan tangan Aron memang lembut, tak memaksa, tapi memberi efek mengundang. Mengundang agar gairah Lusi keluar bersamanya. "Aku udah nahan sejak semalam, kalau gak boleh... bukannya kamu tega banget ya?" Teknik membujug ala pria yang selalu berhasil menaklukkan hati wanita. Sementara Lusi masih berusaha menahan diri, tapi suaminya terus menyentuh dengan lihai. "Tapihhhh...." Suara Lusi sudah tak terkendali. Desahannya mulai membakar gairah Aron lagi dan lagi. Senyuman Aron makin lebar. "Tapi apa, Sayang?" bisiknya lagi. Tubuh Lusi merinding seketika di bawah sentuhan sang suami. Napasnya mulai memburu, ia berusaha menahan sentuhan tangan Aron di p

  • Dibeli Mantan Ayah Mertua yang Hot   97. Kepulangan Suami & Kejutan

    "Sayang!" sapa Aron dari luar kamar. Ia awalnya ingin memberi surprise pada istrinya, berharap hubungan mereka tidak dibangun dengan kecemburuan lagi seperti sebelumnya. Namun ketika ia menunggu sang istri sampai 30 menit, Lusi bahkan tak mau keluar. Aron jadi khawatir apakah istrinya benar-benar marah padanya karena tak mau menjawab telpon dan pesannya? Ia mengetuk pintu lagi. “Sayang? Kamu di dalam?” Tetap tidak ada jawaban dari dalam membuat Aron semakin khawatir. Alis Aron berkerut, kekhawatiran kecil menyusup, bercampur dengan rasa bersalah yang sejak tadi ia pendam. Ia sadar, keputusannya mendiamkan tanpa banyak penjelasan, mematikan ponsel, dan pergi begitu saja, bukan hal yang mudah diterima Lusi. Mungkin ia marah, kecewa atau mungkin ia lelah. Aron menarik napas dalam-dalam, lalu memutar kenop pintu. Begitu pintu terbuka, aroma lembut langsung menyambutnya. Bukan aroma biasa. Ada wangi essential oil yang hangat, sedikit manis, dengan sentuhan floral yang tidak t

  • Dibeli Mantan Ayah Mertua yang Hot   96. Saran yang Cukup Membantu?

    Lusi jadi kepikiran soal saran Ayu tadi saat di kantor, sepertinya ia harus pakai saran itu. Ia tak punya sarana lain untuk membujug suaminya. Terlebih Aron tak mau diajak bicara, bahkan pesannya tak dibalas atau setidaknya angkat telponnya. Kata Ayu, ia harus berdandan cantik pada malam Aron pulang. Aron pulang dua hari lagi, ia jadi gugup bagimana caranya mengimplementasikan saran dari Ayu. Itu sedikit menggelikan untuknya yang selama ini memiliki citra kalem yang bersahaja. Ia pun kemudian meminta Ayu untuk menemaninya memilih baju di mansion, dan memintanya memberi saran gaya yang cocok untuknya. Kata Ayu, ia biasanya menggunakan 'gaya pemikat suami'. Lusi menyadari kalau ia harus belajar menjadi istri yang aktif juga. Karena selama ini Aronlah yang erus aktif saat bersamanya. Aron yang membangun kepercayaan dirinya, mengatakan hal-hal baik yang romantis, dan masih banyak lagi. Maka hari Sabtu, libur dan kebetulan Ayu tidak ada jadwal dengan keluarganya. Tapi ia memb

  • Dibeli Mantan Ayah Mertua yang Hot   95. Ngambeknya Suami

    Aron tersenyum tipis. “Bagus.” Namun di balik senyum itu, ada cemburu, dan ia baru menyadari sesuatu. Bahwa cinta bukan hanya soal melindungi atau memiliki. Kadang, cinta juga berarti berani merasa tidak paling penting dan tetap menemani pasangan dalam keadaan apa pun. Ia merefleksi dirinya sendiri, tentang malam itu dan gosip yang beredar. Ternyata benar, ia melukai Lusi tanpa disadari. Dan lihatlah bagaimana Lusi merespon semua itu. Ia tenang dan tetap pada pendiriannya. Kalau Aron bersama perempuan lain, mungkin kebanyakan orang akan tantrum, cemberut, atau benar-benar mendiamkannya selama beberapa hari. Namun Lusi tidak. Ia selalu berusaha mengerti, meski dirinya sendiri terluka. Mungkin hanya Lusi yang bisa seperti itu dalam hidup Aron. Bahkan Evelyn, ibunya sendiri, sering mendiamkannya hanya karena perbedaan pendapat. Kadang Evelyn juga marah-marah padanya tanpa alasan yang jelas. Tapi Lusi tidak. Kalau dilihat dari usianya, memang Lusi sudah cukup dewasa, tiga puluhan. N

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status