Se connecterAron tersenyum tipis. “Bagus.” Namun di balik senyum itu, ada cemburu, dan ia baru menyadari sesuatu. Bahwa cinta bukan hanya soal melindungi atau memiliki. Kadang, cinta juga berarti berani merasa tidak paling penting dan tetap menemani pasangan dalam keadaan apa pun. Ia merefleksi dirinya sendiri, tentang malam itu dan gosip yang beredar. Ternyata benar, ia melukai Lusi tanpa disadari. Dan lihatlah bagaimana Lusi merespon semua itu. Ia tenang dan tetap pada pendiriannya. Kalau Aron bersama perempuan lain, mungkin kebanyakan orang akan tantrum, cemberut, atau benar-benar mendiamkannya selama beberapa hari. Namun Lusi tidak. Ia selalu berusaha mengerti, meski dirinya sendiri terluka. Mungkin hanya Lusi yang bisa seperti itu dalam hidup Aron. Bahkan Evelyn, ibunya sendiri, sering mendiamkannya hanya karena perbedaan pendapat. Kadang Evelyn juga marah-marah padanya tanpa alasan yang jelas. Tapi Lusi tidak. Kalau dilihat dari usianya, memang Lusi sudah cukup dewasa, tiga puluhan. N
Berita gosip berganti lagi menjadi Aron dan Gabriella sebagai topik utamanya. Mereka yang Awalnya hanya satu artikel kecil di portal gosip bisnis. Judulnya tidak frontal, tapi cukup menggiring. “Kedekatan Aron dan Gabriella Kembali Terlihat di Acara Amal Internasional.” Lusi tidak membacanya dari awal. Ia hanya melihat potongan tangkapan layar yang beredar di grup kantor, lalu menyebar ke mana-mana. Foto itu memperlihatkan Aron dan Gabriella berdiri berdampingan. Tidak terlalu dekat, tapi terlihat sangat serasi dan akrab. Mere terlihat pasangan baagia yang lagi hangat-hangatnya. Cara mereka berdiri, bahasa tubuh mereka, semuanya tampak alami. Seolah dunia itu memang tempat mereka berdua. Komentarnya lebih kejam dari judulnya yang menggiring opini. Lusi yang baru saja keluar dari masalah dengan manan suaminya, kini kembali menjadi topik di dunia nyata. “Kalau istrinya gak bisa ngimbangin, ya wajar suaminya kelihatan cocok sama yang lain.” “Bukan nyalahin siapa-siapa,
Hari pertama Lusi kembali ke kantor tidak terasa seperti kembali ke medan perang. Ia sempat mengira akan ada tatapan aneh, bisik-bisik tertahan, atau sikap canggung yang dibuat-buat. Namun yang ia temui justru sebaliknya, orang-orang bersikap lebih hati-hati, lebih sopan, bahkan sebagian tampak kasihan. Beberapa rekan kerja menyapanya seperti biasa. “Pagi, Lu.” “Udah lama gak kelihatan.” Tidak ada nada menghakimi. Tidak ada sindiran. Ada juga yang hanya tersenyum kecil, seolah ingin mengatakan kami tahu, dan kami mengerti, tanpa perlu kata-kata. Lusi duduk di mejanya, menyalakan komputer, lalu berhenti sejenak. Dadanya terasa ringan. Bukan karena semuanya sempurna, tapi karena ia tidak lagi merasa harus menjelaskan hidupnya pada siapa pun. Di sela-sela pekerjaan, ia sempat membuka ponsel. Bukan untuk membaca komentar, tapi untuk melihat pesan dari Aron. “Semoga hari pertamamu lancar.” Lusi tersenyum kecil dan membalas singkat. “Aku baik-baik saja.” Kalimat itu benar-benar m
Setelah badai besar berlalu, tidak ada euforia kemenangan. Yang tersisa justru ruang kosong, hening yang aneh, seperti setelah rumah porak-poranda, lalu semua orang pulang, meninggalkan debu dan sisa-sisa emosi yang belum sepenuhnya reda. Lusi merasakannya sejak pagi. Ia bangun tanpa degup cemas yang biasanya menghantam dadanya begitu mata terbuka. Tidak ada refleks meraih ponsel, atau dorongan memeriksa notifikasi, dan rasa takut akan headline baru yang memutarbalikkan kisahnya. Dunianya yang damai mulai kembali lagi. Ia duduk di tepi ranjang beberapa saat, membiarkan perasaan itu hadir. Bukan bahagia berlebihan. Lebih seperti tenang yang hati-hati. Tenang yang belum sepenuhnya berdamai dengan keadaan, tak menyangka kalau semuanya benar-benar selesai. Di luar jendela, cahaya pagi jatuh lembut ke halaman Mansion. Burung-burung beterbangan tanpa peduli siapa yang kemarin dicaci publik dan siapa yang hari ini dibela. Hidup berjalan tanpa perlu validasi siapa pun. Lusi menghe
Kepercayaan publik pada Erika dan Rangga pun kian menipis, apalagi karena terlalu banyak potongan kecil bukti yang saling menguatkan. Orang-orang yang mengenal masa lalu Aron dan Erika tidak lagi hanya bebrapa yang speak up, tapi makin banyak dan jadi gosip lintas negara. Mereka bicara sebagai saksi nyata, dan memutar ulang memori mereka tentang kejadian yang bisa diverifikasi. Mereka berbondong-bodnong menyertakan bukti foto masa lalu, dan membuat bukti itu dipercaya. Erika dan Rangga sesekali membalas komentar, katanya foto-foto mereka AI. Padahl teman Aron yang speak up ada yang memang jadi influencer. Maka wajahnya bisa diverifikasi dengan jelas pada postingannya sebelumnya. Itu cukup mengejutkan bagi Aron. Padahal Aron bahkan tak meminta mereka membelanya, tapi mereka d3ngan suka rela membelanya. Mereka sebenarnya bukan orang yang biasa ikut campur urusan orang, tapi bagi mereka Erika dan Rangga sudah keterlaluan. “Erika memang seperti itu manipulatif.” “Tapi setiap konf
Dukungan memang itu tidak datang sekaligus pada Lusi dan Aron, masih banyak yang menuding mereka sebagai penjahatnya. Namun dukungan muncul perlahan, satu per satu seperti retakan kecil di tembok yang selama ini menopang citra Erika. Tentu seperti kata pepatah, kebenatan akan menemui jalannya. Awalnya hanya satu komentar panjang di bawah unggahan Aron. “Saya kenal Aron sejak di Berlin. Apa yang dia tulis itu konsisten dengan apa yang kami lihat bertahun-tahun lalu.” Komentar itu tidak viral, tapi dibalas oleh orang lain dengan persepsi yang sama. “Saya juga kenal Erika. Dan jujur, hubungan mereka dulu… gak sesederhana versi yang sekarang dia ceritakan.” Dari situ, banyak opini yang bergerak berbalik. Awalnya fokus pada penikahan tidak sah Aron dan Lusi, kemudian dibantah oleh Evelyn, dan kini pembahasannya mulai bergulir pada pernikahan Aron dan Erika di masa lalu. Di X, thread panjang mulai bermunculan. Bukan dari akun buzzer. Bukan akun anonim yang biasanya dibayar







