Share

Bab 23. Aku akan pelan

Penulis: Ralonya
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-02 22:00:32

“Kenapa tidak menahanku malam ini?”

Malam kian larut, tapi ucapan Davin masih terngiang di kepala Dina. Seusai membersihkan diri, ia duduk di kursi dekat jendela menatap gemerlap kota di luar. Ia sadar, meski sudah menikah, ia nyaris tak pernah merasakan sentuhan suaminya. Terakhir kali ia disentuh dengan cara yang kotor, membuatnya semakin jijik mengingatnya.

Ponselnya bergetar di meja. Dina segera mengambilnya, melihat layar, dan wajahnya langsung memanas.

[Bisakah kita bertemu malam ini? Aku ingin melanjutkan apa yang tertunda tadi.]

Hatinya berdebar. Pesan dari Davin membuat dadanya hangat sekaligus cemas. Ia melirik Arka yang sudah terlelap, lalu membalas pesan itu.

[Baik, Mas. Aku akan datang.]

Ia segera bangkit dan berganti pakaian, bergerak hati-hati agar Arka tidak terbangun dan memergokinya. Setelah itu, ia keluar kamar dan berjalan di lorong menuju kamar Davin.

Matanya berhenti pada nomor kamar Davin yang diingatnya sejak sore. Ia menarik napas, mencoba menenangkan diri,
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Dibenci Suami, Dicintai Sahabatnya   Bab 83. Dimana Dina

    Setelah memastikan Dina terlelap, Davin segera beranjak meninggalkan Apartemen setelah memastikan keadaan aman bagi Dina. Ia akan menemui Arka dan memberi perhitungan setelah apa yang telah pria itu lakukan pada kekasihnya itu. Ia memacu mobilnya membelah jalanan kota. Tangannya mencengkeram kemudi dengan begitu kuat. Berdasarkan laporan singkat yang masuk ke ponselnya, Arka sedang berada di kantornya. Mungkin sedang merayakan keberhasilan rencananya. ​Davin tidak menambah kecepatan secara ugal-ugalan. Ia berkendara dengan kecepatan sedang yang penuh perhitungan. Menghitung setiap detik untuk mengumpulkan semua amarahnya. ​"Kau sudah menggali kuburanmu sendiri, Arka," desisnya rendah. Sorot matanya terpaku pada gedung pencakar langit yang mulai terlihat di cakrawala.–​Di ruang kerjanya yang mewah, Arka menuangkan wiski ke dalam gelas kristal. Senyum puas menghiasi wajahnya. Ia melihat lagi kontrak kerja sama dengan Moretti yang sudah ditandatangani. Kertas berharga itu adalah seb

  • Dibenci Suami, Dicintai Sahabatnya   Bab 82. Cara balas dendam

    Dina menarik sabuk pengaman di kursi pesawat pribadi itu hingga terdengar bunyi klik. Ia menyandarkan kepala dan memejamkan mata sejenak saat deru mesin mulai menggetarkan kabin. Malam itu juga Davin langsung membawanya terbang meninggalkan semua ketakutan di kediaman Moretti. Rasa lega yang ia rasakan terganti dengan amarah yang hampir meluap. Bayangan Arka muncul. Senyum licik dan sikap tak acuhnya itu membuatnya meradang. Tidak disangka kalau ia akan diserahkan oleh suaminya sendiri pada orang asing seperti barang dagangan yang menguntungkan. Dina mencengkram erat sandaran tangan kursi. Ia tak ingin menangis lagi. Kali ini rasa sakit itu menjelma menjadi keinginan untuk berdiri di depan Arka dan menuntut pertanggungjawaban atas pengkhianatan yang tak termaafkan ini. Ia tersentak saat Davin mengulurkan tangan menyentuh bahunya. “Kamu baik-baik saja?” tanya pria itu. Ia menatap wajah pucat Dina dan tangan yang mencengkram erat sandaran tangan kursi dengan khawatir. Dina memaksak

  • Dibenci Suami, Dicintai Sahabatnya   Bab 81. Membawanya pulang

    Dina menangkap kegelisahan yang mendadak menyerang Moretti. Pria itu berdecih kasar, lalu menyahut dengan nada tinggi yang dipenuhi amarah.“Baiklah! Aku akan memerintahkan asistenku untuk menjemputmu!” teriaknya ke arah ponsel.​Tanpa mempedulikan Dina, Moretti merutuk panjang dalam bahasa yang tak ia pahami. Pria itu berbalik cepat, melangkah tergesa meninggalkan kamar dengan langkah kaki yang berdentum di atas lantai marmer. Klik. Suara kunci pintu yang diputar dari luar kembali bergema, mengurung Dina dalam keheningan yang mendadak.​Dina meluruhkan bahunya, membuang napas panjang yang sejak tadi tertahan di kerongkongan. Jantungnya masih berpacu, namun ada rasa lega yang merayap di dadanya. Sesuatu mungkin sedang mengusik sang tuan rumah. Dina menyambar ponselnya dengan jari bergetar, segera mengetikkan pesan untuk Davin.​[Mas, Moretti baru saja keluar. Apa yang harus aku lakukan? Apa aku perlu memanjat turun lewat balkon?]​Hanya butuh beberapa detik sampai layar ponselnya

  • Dibenci Suami, Dicintai Sahabatnya   Bab 80. Buka pintunya

    Davin tahu taruhannya adalah nyawa saat memutuskan menyelinap ke kediaman Moretti yang dijaga ketat. Namun, ia tidak bisa berdiam diri saat wanita yang ia cintai sedang dalam bahaya. Untuk itu, apa pun resikonya akan ia hadapi asal Dina bisa ia bawa kembali ke rumah. ​"Pak, jangan gegabah!” Asistennya bernama Jefri menahan lengan Davin, matanya menatap tajam dari balik kacamata. Ia menunjuk layar tablet yang menampilkan denah keamanan. "CCTV infra merah terpasang di setiap sudut, bahkan di ujung jalan ini. Semuanya terhubung langsung ke pusat komando Moretti."Davin tetap diam, namun gurat rahangnya menonjol tajam. Di bawah cahaya remang kabin mobil, dahi pria itu berkerut dalam, menciptakan parit-parit kecemasan yang tampak jelas saat ia menatap kosong ke luar jendela.Ujung jarinya mengetuk-ngetuk pinggiran tablet dengan ritme cepat dan tak beraturan, sebuah tanda bahwa otaknya sedang bekerja keras menimbang setiap risiko. Ia tidak sedang hanya mencari jalan masuk, melainkan mencar

  • Dibenci Suami, Dicintai Sahabatnya   Bab 79. Membeli dengan harga mahal

    Hingga akhirnya, ikon kecil itu berubah menjadi biru. Jantungnya mencelos saat melihat tulisan ‘sedang mengetik...’ di baris atas layar.​Dina mendekap ponselnya dengan kedua tangan yang gemetar hebat. Telapak tangannya sudah basah oleh keringat dingin, membuat permukaan layar terasa licin dan sulit digenggam. Debaran di dadanya kian liar, terasa seperti dentuman godam yang menghantam rusuknya tanpa ampun.​Sepercik harapan menyeruak, menyakitkan sekaligus melegakan di saat yang bersamaan. Ia ingin menangis, ingin berteriak memanggil nama pria itu, namun suaranya hanya tertahan menjadi isakan kecil yang ia redam dengan gigitan pada bibir bawahnya. Setiap detik yang berlalu terasa mencekik, sampai akhirnya sebuah getaran halus di tangannya menandakan pesan balasan dari Davin.​[Dina, tetap tenang dan jangan lakukan hal gegabah. Aku sudah di Italia dan segera menjemputmu. Bertahanlah sebentar lagi.]Air mata Dina luruh seketika, jatuh membasahi layar ponsel yang masih menyala. Davin sud

  • Dibenci Suami, Dicintai Sahabatnya   Bab 78. Syarat tambahan

    Meja panjang itu sudah tersedia hidangan mewah yang menggugah selera. Namun, bagi Dina, aroma makanan dan rempah-remah mahal dihadapannya tercium seperti bau bangkai. Dina menatap piringnya, kilau saus kental dan potongan daging di sana tampak menjijikan. Ia mencengkeram garpunya hingga buku jarinya memutih. Ada gumpalan pahit yang menyangkut di pangkal kerongkongannya membuatnya sulit menelan apa pun.​Moretti duduk tepat di sampingnya. Pria itu menyesap anggur merahnya perlahan, tapi matanya terus memandang wajah pucat Dina.​"Istrimu jauh lebih cantik saat dilihat dari dekat seperti ini, Arka," gumam Moretti. Ia meletakkan gelasnya, lalu tanpa ragu menjangkau tangan Dina yang berada di atas meja.​Dina tersentak, mencoba menarik tangannya, namun jemari Moretti yang kasar dan berkerut mencengkeram jemarinya dengan kuat. Kulit pria itu terasa panas dan lembap, membuatnya ingin muntah.​"Jangan takut," bisik Moretti dengan senyum miring. Ia mengusap punggung tangan Dina menggunakan i

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status