LOGIN“Ayah, ibu … aku pulang.”
Suara ceria menggema di seluruh ruangan. Ketegangan yang Evelyn rasakan sebelumnya mencair saat sosok perempuan datang menghampiri. Evelyn masih tidak bergerak. Dia terlalu kalut hanya untuk menyambut adik angkatnya yang selalu mendapat senyum hangat orang tuanya. Seperti yang terjadi sekarang. Tiara berdiri dari sofa. Kekesalan di wajahnya saat menghadapi Evelyn langsung sirna, digantikan senyum yang terkembang sempurna. Tiara meraih tangan Sira saat dia bertanya dengan khawatir, “Ke mana saja kamu? Jangan terlalu sering keluar. Perusahaan sedang ada masalah, ibu takut itu akan mempengaruhimu.” “Ibumu benar, Sira,” kata Jason ikut menimpali. “Perusahaan sedang dalam perbaikan, tidak baik keluar terlalu sering.” “Tenang saja ayah, ibu. Toh, bukan aku yang salah. Aku bisa menjaga diri dengan baik,” balas Sira dengan senyum manisnya. “Kamu memang bisa diandalkan. Berbeda dengan seseorang yang tidak bisa menjaga diri, tapi tidak mau mengakui,” sindir Tiara seraya melirik Evelyn yang terpaku di tempatnya, membuat Sira akhirnya melihat ada kakaknya di sana. Sira menoleh ke arah Evelyn dan berpura-pura terkejut. Tatapannya yang terlihat murni dipenuhi rasa bersalah ketika bertemu pandang dengan Evelyn. “Kakak, maaf. Aku tidak bermaksud begitu,” kata Sira dengan pelan. Evelyn hanya diam. Menatap kosong pada wajah cerah Sira. Berbeda dengan dirinya yang kuyu karena menghadapi masalah yang menimpa dirinya. Rasanya Evelyn ingin tertawa. Betapa berbeda perlakuan yang dia terima. Saat Evelyn duduk diam dan memperhatikannya sekarang, dia baru menyadari bahwa kehadirannya tampak tak sesuai dengan keluarga ini. “Lihat, kamu bahkan tidak mau menyapa Sira yang lebih dulu mengajakmu bicara,” kata Tiara jengkel dengan respon Evelyn. “Persis seperti ciri-ciri pengguna, linglung!” Belum sempat Evelyn membalas, sebuah suara yang dikenal Evelyn membuat dia mendongak. “Apakah kamu tidak sadar diri sampai belum juga pergi dari sini?” Evelyn mendadak berdiri. Seorang pria dengan balutan jas abu-abu berdiri di belakang Sira. Matanya dingin saat menatap Evelyn, seolah dia melihat orang asing yang tidak dia sukai. “Kevin, aku–” “Tidak perlu bicara. Kamu pasti sudah dengar dari orang tuamu,” kata Kevin memotong ucapan Evelyn. “Kita akan membatalkan pertunangan. Jangan salahkan siapapun. Ini adalah keputusanku sendiri.” Penjelasan Kevin langsung mencekik Evelyn hingga lidahnya kelu. Mata Evelyn yang semula sembab kini kembali meneteskan air mata. “Pertunangan sudah berjalan tiga tahun dan kita berencana menikah dalam waktu dekat. Bagaimana bisa kamu membatalkannya?” “Aku tidak membatalkannya secara sah,” kata Kevin membuat Evelyn terkejut. Namun, kalimat selanjutnya meruntuhkan harapan yang baru saja terbentuk. “Pertunangan tetap dilanjutkan demi nama baik keluarga, jadi Sira yang akan menggantikanmu.” Pandangan Evelyn nyaris menghitam sepenuhnya. Namun, dia dengan keras kepala menatap Kevin yang dulu tunangan sekarang memandang dingin ke arahnya. “Kenapa?” tanya Evelyn lirih. “Rumor burukmu telah menyebar di kalangan atas. Aku takut itu akan mempengaruhi karirku,” jelas Kevin dengan malas. Dia memandang jijik pada Evelyn, “Sira jelas lebih baik darimu karena bisa menjaga diri.” “Maaf Kakak. Aku tidak enak saat tahu Kak Kevin akan kena masalah jika lanjut bertunangan denganmu. Jadi aku setuju saat dia memintaku untuk menggantikanmu.” Sira melirik takut-takut sembari bersembunyi di belakang Tiara. Sikapnya yang rendah hati meluluhkan hati semua orang. Namun, kata-katanya yang meminta maaf seolah Evelyn akan marah padanya. “Tidak perlu meminta maaf. Aku lah yang memintamu. Jadi, kamu jangan khawatirkan apapun,” kata Kevin menenangkan Sira dengan suaranya yang melembut. Kevin kemudian menoleh pada Evelyn yang terdiam di tempatnya berdiri. “Aku harap kamu tidak menyalahkan Sira. Dia lebih layak untuk berada di sampingku.” “Lebih layak?” Tiba-tiba Evelyn tertawa. Tawanya mengandung rasa sakit dan kecewa yang tak bisa disembunyikan. Evelyn memandang Sira. Sejak adiknya itu datang ke rumah ini, seluruh perhatian nyaris diberikan pada Sira seluruhnya. Lalu apa yang dia dapatkan? Tidak ada. Keceriaannya perlahan memudar. Sebab setiap Sira menangis, dia lah yang dituduh lebih dulu. Setiap memiliki sesuatu, Evelyn harus berbagi dengan Sira. Kali ini pun sama. Kevin adalah miliknya, tapi Sira mengambilnya. Persis seperti dulu, Sira selalu mengambil apa yang dia punya. “Aku baru menyadarinya sekarang Sira. Kamu selalu mengambil apa yang aku punya,” tuduh Evelyn dengan suara pelan. “Berani sekali kamu menuduh adikmu sendiri! Keluar sekarang juga!” bentak Jason. Tidak menyangka Evelyn menyalahkan Sira. Tiara juga merasa geram. “Dasar tidak tahu terima kasih! Pantaslah Kevin memutuskan pertunangan denganmu!” “Pengawal, bawa Nona Evelyn keluar,” kata Kevin di ponselnya. Pengawal datang dengan cepat dan menyeret Evelyn pergi. Mereka melemparkan koper kecil ke arah Evelyn yang tidak lagi menangis. Evelyn hanya menarik koper dan menyeretnya pergi dengan tatapan hampa. Evelyn tidak tahu sejauh mana dia berjalan. Dia baru berhenti saat angin malam membelai tubuhnya hingga nyaris menggigil. Ketika tersadar, dia sudah berada di tepi jembatan penghubung kota. Ponsel Evelyn bergetar lama tanda panggilan masuk saat dia mendekati pagar jembatan. Dia mengangkat panggilan itu. “Eve, di mana kamu?! Aku jemput ya. Jangan bertindak gegabah!” Evelyn kembali menangis seraya menatap bagian bawah jembatan yang gelap, “Apakah aku layak untuk dijemput?”"Lebih penting dari itu." Sira tidak menyangka kata-katanya dibalas seperti itu oleh Revano. Dia tahu bahwa Revano sosok yang netral di antara dia dan Evelyn. Namun, dia tidak menyangka Revano tetap membubarkan pesta yang dia impikan ini hanya karena sesuatu yang diberikan oleh Evelyn. "Baiklah kalau begitu. Aku akan mengalah kali ini, walaupun ini tidak seperti yang aku bayangkan," kata Sira masih berusaha untuk tidak membiarkan pesta ini selesai begitu saja. Sira melirik Evelyn penuh kebencian, 'Bagaimana bisa orang sepertinya membuat pestaku selesai dengan cepat?!' "Kak, apakah kamu tidak bisa menundanya untuk nanti?" Kali ini Kevin ikut bicara. Sifatnya yang suka menjadi pahlawan di mata wanita itu membara, dia ingin dilihat sebagai pria yang penyayang dihadapan orang lain. "Sira sudah mengatur semua ini dari lama. Jika diselesaikan dengan cepat, apa yang akan dikatakan oleh orang nantinya. Ini juga termasuk menjaga reputasiku. Apakah Kak Revano akan tega melihatku dibica
Napas Tiara tercekat di tenggorokannya. Dia seakan sudah menebak dengan tepat foto apa yang ada di sana. Tangan Evelyn dengan sabar menunggu tanpa tergesa-gesa. Namun, itu malah menjadi seperti ejekan di mata Tiara. Seakan mengatakan bahwa menolak hal itu tidak akan mengubah apapun. Tiara meraih tumpukan foto itu dengan ragu. Saat gambar yang tertera di foto itu terlihat olehnya, perasaan sesak oleh sebab ketakutan itu semakin mencekiknya. Tidak seperti Sira yang masih ragu untuk melihat barang itu, Revano segera memperhatikannya sejak benda itu jatuh ke tangannya. Setelah beberapa waktu yang terasa sangat lama, raut wajah Revano berubah menjadi buruk. Matanya yang penuh keterkejutan itu memandang ibunya dengan raut tidak percaya. Beberapa kali dia mencoba memastikan, sampai kebingungan itu berubah menjadi kemarahan. "Ibu, apa maksud semua ini?!" Ekspresinya tidak luput dari Jason yang mendapat kertas dari Evelyn. Dia belum membukanya karena merasa tidak beres dengan peri
"Kalian sungguh ingin aku bicara di sini?" Pertanyaan Evelyn semakin membuat yang lain penasaran. Hal apa yang bisa membuatnya berkata demikian? Seolah pembicaraan yang hendak dia katakan itu suatu berita yang seharusnya tidak didengar orang banyak. Jason pun mulai meragukan pilihannya untuk menyuruhnya membuka pembicaraan di sini. Bahkan Tiara semakin gelisah saja, tapi tidak tahu bagaimana cara mencegah Evelyn. "Kakak, apakah itu tentangku?" Sira mengalihkan fokus semua orang ke arahnya. Wajahnya yang manis dan polos telah dinodai air mata yang sempat turun sebelumnya, menambah kesan rasa kasihan yang membuat orang tidak tega mengabaikannya. Evelyn memandangi Sira yang tampil menyedihkan di depannya dan tersenyum biasa, seolah-olah apa yang dia lakukan tidak akan pernah mempengaruhinya. "Sebagian besar memang tentangmu," ujar Evelyn mengejutkan Sira. Sira pikir Evelyn akan menyangkal. Dia tidak menyangka bahwa itu memang tentangnya. Raut wajahnya pun dia ubah sede
Evelyn mengerutkan keningnya dengan begitu buruk, "Omong kosong apa itu!" Evelyn memang pernah memakai Kevin sebagai orang narsis hanya untuk melampiaskan kekesalannya karena kesalahpahaman pria itu atas tindakannya. Namun, baru kali ini dia benar-benar menyadari bahwa dia memang orang narsis! Melihat ekspresi Evelyn, justru Kevin malah merasa tebakannya benar lalu berkata sombong, "Jangan mengelak Evelyn. Siapa yang tidak tahu betapa kamu dulu selalu menginginkanku. Dari tindakanmu sekarang pun, kamu lebih seperti orang yang ingin pesta ini usai agar kamu bisa melampiaskan kemarahanmu." "Aku tidak menyangka kamu begitu narsis. Seolah-olah semua halini terjadi karena kamu saja," sinis Evelyn. Nada suaranya bahkan terdengar jijik. "Jika bukan karena itu, lalu bagaimana kamu menjelaskan tentang kelakuanmu ini?! Sangat tidak tahu malu!" balas Kevin masih dengan tebakannya yang menyimpang. Evelyn merasa muak, "Terserah kamu mau mengatakan apa. Yang jelas ini bukan--" "Kakak,
Teriakan tiba-tiba mengalihkan fokus semua orang. Tiara yang menyebabkan hal itu terjadi menelan ludah dengan gugup. Tatapannya kemudian beralih ke arah Evelyn yang tengah berdiri dengan senyum yang terasa seperti mengejeknya. Rasa malu yang entah datang darimana membuat wajah Tiara memerah sesaat. Namun, itu hanya sebentar sebelum kemudian digantikan oleh harga dirinya yang tergores saat Evelyn tidak menatapnya penuh dambaan cinta di matanya, seperti di masa lalu. "Sudah cukup kamu membuat masalah di rumah, apakah kamu mencoba untuk menghancurkan hari bahagia adikmu sendiri?!" teriak Tiara yang entah kenapa terasa seperti menutupi rasa takutnya sendiri. Tiara kemudian menunjuk gaun yang dikenakan oleh Evelyn, "Memakai gaun hitam di pernikahan adikmu, apakah kamu berniat mengutuknya?!" "Benar sekali, kenapa seorang kakak datang ke pernikahan adiknya malah memakai gaun hitam?" "Siapa yang tau, mungkin dia masih menyimpan dendam karena tunangannya lebih memilih adiknya yang ba
Evelyn menoleh ke arah asal suara. Dari sudut pandangnya, seorang wanita bergaya glamor berdiri angkuh tak jauh dari tempatnya duduk. Meski begitu, hanya dalam sekilas pandang dan kata-kata sebelumnya, Evelyn langsung mengetahui identitas orang itu. “Benar sekali,” balas Evelyn mengejutkan semua orang. “Jika aku menjadi menantumu, mungkin aku tidak akan pernah bisa berpendapat sama sekali.” “Aku hanya mengatakan kalimat fakta, tapi malah dituduh memojokkan ibu sendiri. Apakah menurut Nyonya Tiara aku seperti itu?” Saat pertanyaan itu diucapkan, kepala Evelyn sengaja menoleh ke arah Tiara dan menatap mata ibunya itu secara langsung. Tiara tertegun melihat mata Evelyn yang terasa seperti mengejeknya. Namun, dia tidak bisa bereaksi terlalu banyak saat Vena–ibu mertua Sira yang membalas perkataan Evelyn. “Memangnya fakta apa yang benar jika itu melewati mulutmu! Seharusnya ketika ditegur, kamu meminta maaf! Bukan malah menuduhku membungkam pendapat!” Vena kemudian berjalan ke







