登入Semua orang menahan napas dengan perseteruan itu. Bahkan orang yang menjadi sumber perseteruan itu juga mendadak kaku dan bingung.Ernest membeku dan tidak menyangka dia akan mengatakan hal demikian. Apakah karena dia tidak senang dengan Evelyn yang terlalu sopan dan menjaga jarak darinya?Evelyn juga begitu. Dia sampai menatap langsung Ernest tanpa berkedip untuk beberapa saat. Ini adalah pertama kalinya Evelyn mendapat perlakuan seperti ini dari Ernest.Meski begitu, Evelyn tetap menjawab dengan suara yang lebih kecil dari sebelumnya.“Aku hanya menjelaskan kondisiku saja.”Ernest akhirnya menghela napas dan memijat keningnya dengan pelan. Bukan itu yang ingin dia katakan. Namun, dia tidak bisa menarik kata-kata yang sudah keluar sebelumnya.“Kau bisa pergi tanpa menungguku,” ujar Ernest pada akhirnya. Evelyn awalnya ingin mengatakan tidak masalah jika harus menunggunya di sini. Namun, dia takut reaksi Ernest akan lebih parah dari sebelumnya.Meski Evelyn tidak tahu kenapa Ernest b
Evelyn terdiam sejenak, sebelum kemudian menjawab, “Tidak ada yang terjadi.”Evelyn menjawab pertanyaan itu dengan senyum tulus seperti biasanya. Namun, suasana yang berbeda di sekelilingnya pun bahkan tidak bisa mengelabui Ernest.Bahkan tiga orang yang lain pun juga saling berpandangan karena merasa ada sesuatu yang ditutupi oleh Evelyn.“Kalau tidak apa-apa, mari duduk denganku di sini,” ajak dokter Ziya sambil menepuk sofa tepat di sampingnya duduk. “Kita sudah lama tidak bertemu. Aku juga penasaran dengan perkembangan Tuan Ernest dari sudut pandanganmu.”Ucapan dokter Ziya segera disambut oleh anggukan yang lainnya.Alex pun ikut berkomentar dengan pernyataan nakal, “Aku juga penasaran dengan sesuatu sekarang. Aku rasa kau bisa memberitahuku.”“Masih ada banyak waktu, Nona Evelyn,” ucap dokter Roby ikut bergabung ke dalam percakapan. “Selagi Tuan Ernest memakan cemilannya, kita bisa berbincang leluasa sambil menunggunya.”Ernest tidak mengatakan apa-apa. Namun, keterdiamannya men
Evelyn membeku di tempatnya duduk untuk sementara waktu. Pikirannya tampak kosong sesaat, seolah-olah orang dengan nomor tanpa nama itu adalah seseorang yang tidak dia kenal. Namun, di sudut terdalam pikirannya, Evelyn masih bisa mencerna kata ayah yang tertulis pada pesannya.Pada akhirnya, Evelyn tidak membalas pesan itu. Dia hanya meletakkan ponselnya di meja, lalu pergi ke kasur untuk berbaring dan bersiap untuk tidur siang. Evelyn bahkan tidak sadar apa yang tengah dia lakukan sekarang. Pikirannya masih kosong dan matanya hanya terfokus memandangi langit-langit kamarnya yang berwarna putih.Evelyn bergumam di kesunyian kamarnya, “Kenapa semuanya terjadi dalam satu hari ini?”Perasaan lelah yang tidak tahu penyebabnya itu menghantamnya dengan keras. Matanya yang terfokus pada langit-langit kamar itu juga mulai buram. Evelyn baru menyadari bahwa dia sedang menangis ketika air matanya meluncur ke pipinya dalam diam.Meski begitu, Evelyn hanya berbaring miring sambil menahan isak t
Ernest tahu bahwa ibunya hanya ingin yang terbaik untuknya. Sebab itulah ketika dia mulai terlihat tertarik pada Evelyn, ibunya mulai memberinya pandangan lebih.Di sisi lain, Lidya merasa tertampar mendengar Ernest berkata bahwa sikapnya kekanakkan. Dia memang merasa bukan dirinya yang saat ini mengambil alih, tetapi seorang ibu yang belum siap anaknya pergi bersama orang lain. Padahal dia lah yang paling ingin agar Ernest mendapat pendamping.“Untuk saat ini tenang lah ibu,” kata Ernest dengan suara pelan. “Ibu tahu bahwa aku tidak akan berpikir berlebihan, kan?”“Ibu … aku sudah dewasa sekarang.”Ketika Ernest selesai bicara, hati Lidya sudah tenang dan rasionalitasnya pun sudah kembali. Dia tidak lagi bersikeras merasa benar seperti tadi. Sikap keras yang ditunjukkan pada Evelyn sebelumnya hanyalah agar Evelyn takut padanya.Lidya menghela napas lelah dengan kerut di kening yang masih terlihat, “Jika kamu sudah merasa dewasa, seharusnya kamu tahu bahwa kalian tidak sepantasnya ber
“Mungkin Anda sudah lupa, tapi saya bukan lagi bagian dari keluarga Rowan.”Setelah mengatakan itu, baik Evelyn maupun Lidya saling berpandangan. Itu adalah Lidya yang lebih dulu mencibir sambil mengerutkan kening.“Sekarang aku tahu sifatmu yang sebenarnya. Setelah tumbuh baik dan besar di keluarga Rowan, kamu justru tidak mengakuinya ketika mereka jatuh memalukan seperti ini?”“Ibu, berhentilah memprovokasi. Ini bukan rahang kita,” tegur Ernest.“Bukankah aku bilang kamu tidak boleh menyela?!” balas Lidya sengit. Jejak ketidaksukaan Lidya saat memandang ke arah Evelyn semakin pekat. Dia jelas tahu bahwa putranya kini benar-benar memiliki kedekatan setelah bermalam bersama di villa kemarin. Padahal hanya satu hari, tapi perubahannya sebesar ini.Perasaan takut mulai merayapi Lidya. Padahal dia hanya menggertak ketika menyebut tentang cucu, sekarang dia merasa tuduhan yang dia layangkan justru terlalu berlebihan. Dia takut itu menjadi kenyataan.Di sisi lain, Evelyn tidak tahu apa ya
Bukan tanpa alasan Evelyn bersikap demikian. Pemandangan di depannya ini benar-benar tidak bisa lagi dia pikirkan semalam. Entah apa yang ada di kepala Ernest sampai berbuat sejauh ini.Tadi pagi, Evelyn bangun seperti biasa dengan tugas memasak seperti biasanya juga. Namun, Ernest memanggilnya dan menyuruhnya untuk pergi ke kolam terlebih dahulu.Sekarang dia sudah ada di tepi kolam tebing itu, sambil tercengang melihat meja panjang dengan berbagai macam bahan masakan serta peralatan memasak yang ada di atasnya.“Kemarilah,” ajak Ernest. Tangannya terulur ke arah Evelyn.Evelyn terdiam di tempatnya berdiri. Kakinya kaku ketika lagi-lagi penampilan kasual Ernest tampak mengacaukan konsentrasinya.Untungnya Evelyn sadar tepat waktu, sebelum kemudian pergi ke arah Ernest, tapi dengan jarak tertentu. Tidak jauh, tetapi juga tidak dekat.Ernest mengerutkan keningnya, “Apakah kamu menghindari ku sekarang?”“Saya tidak menghindar, hanya menjaga jarak saja,” jawab Evelyn dengan senyuman.Er
Evelyn tertegun mendengar penuturan Ernest. Yang dikatakannya memang benar, tetapi kenapa rasanya dia salah karena masih berniat bekerja sama dengan Gerald?“Aku hanya merasa nyaman jika ada orang yang dikenal bekerja sama denganku. Itu juga agar aku tidak melangkah sendirian,” kata Evelyn menjelas
Sira menyembunyikan senyum licik di wajahnya atas respon jason pada foto yang dia ambil saat melihat Evelyn bersama pria lain. Isi obrolan Evelyn itu tidak penting. Reputasinya yang buruk sudah cukup untuk membuat Jason berpikir jauh tanpa dia merangkai kata untuk membalikkan fakta. Sira sekarang
Evelyn melemparkan pisaunya dengan refleks. Ernest yang tidak jauh dari tempatnya memotong buah pun ikut terkejut.Evelyn hanya bisa menahan sakitnya tangan yang teriris. Meski itu hanya luka kecil, rasa perih dan panas itu benar-benar menjalar. Darah merah segar pun terlihat saat Evelyn membuka ta
Pada akhirnya masalah itu selesai dalam diam. Meski Raya menangis dengan keras dan sedih serta mengungkapkan betapa dia mengagumi Ernest, wajah dingin lelaki yang semula dia kagumi itu sudah mengatakannya dengan jelas. Tidak ada pengampunan untuknya.Jangan bertanya tentang Hana atau Hilda. Mereka







