LOGIN“Apa yang kamu katakan?”Alex bertanya dengan wajah penuh ketidakpercayaan. Bahkan mulutnya tanpa sengaja terbuka lebar saking kagetnya.Evelyn tidak menyangka respon semua orang tampak tercengang. Bahkan dia bisa menggambarkan reaksi Ernest lewat lirikan mata yang terdiam dengan tinta pena yang menetes di atas kertas.“Apakah itu terlalu mendadak?”“Tidak–” Alex menggelengkan kepalanya dengan keras. Pertanyaannya sangat menuntut. “Bukan itu maksudku. Aku bertanya … apa yang sedang kamu katakan tadi?”Evelyn entah kenapa justru merasa bersalah. Namun, dia tetap menjawab agar Alex sedikit tenang.“Saya berkata … saat kesehatan Tuan Ernest membaik, saya berniat untuk mengundurkan diri.”Dokter Ziya mendadak memegang tangan Evelyn hingga membuat gadis itu nyaris terperanjat.“Evelyn, apakah ada sesuatu yang terjadi padamu? Berdasarkan kepribadianmu, kamu tidak mungkin bersikap implusif seperti ini.”Dokter Roby yang pendiam pun ikut berkata, “Evelyn, jika kamu merasa tidak nyaman dengan
Evelyn menghela napas dengan lelah. Dipandanginya wajah kalut miliknya yang terpantul di kaca lift. Evelyn hanya bisa berdecak melihatnya. "Seharusnya aku tidak menjadi seperti ini," bisiknya di dalam lift yang kosong. Sebelum dia berada di lift untuk mengantarkan makan siang Ernest, Evelyn sudah lebih dulu berbicara dengan pria itu lewat ponsel. Ernest mempertanyakan keberadaannya. Mungkin Lidya tahu bahwa percakapan mereka terlalu lama dan gak sia-sia, sang nyonya rumah akhirnya membebaskan Evelyn. Tapi tetap saja, Lidya memperingatkan Evelyn agar segera keluar dari pekerjaan ini.“Lagi pula kamu tidak akan rugi jika keluar dari sini. Setidaknya kamu bisa fokus pada bisnis dan karirmu, kan? Aku juga sudah menyiapkan kompensasi untukmu.”Itulah kalimat terakhir Lidya sebelum Evelyn meninggalkan taman kaca, yang sayangnya, terlalu menggoda untuk dia abaikan.Setelah lift berhenti, Evelyn tersadar dari lamunan dan langsung menuju ke ruangan tempat Ernest berada.Evelyn mengetuk p
Pernyataan Lidya tanpa sadar membuat Evelyn tersentak. Untungnya dia sudah terbiasa menjaga tingkah lakunya dengan baik. Meski begitu, tetap saja perasaan yang dikeluarkan Evelyn sangat kentara di mata Lidya. “Aku tidak akan bertele-tele lagi,” ujar Lidya dengan wajah datar. “Dalam waktu dekat, berhentilah menjadi chef pribadi Ernest.” Evelyn yang berusaha menyembunyikan gemetar di tangannya, kini membeku dan menatap Lidya dengan mata terbuka lebar. Evelyn terbata-bata, “Apa–apa maksudmu, Nyonya?” “Kenapa kamu terlihat bodoh sekarang?” Lidya mengerutkan kening dengan tidak senang. “Meskipun kamu bekerja untuk Ernest, aku adalah orang yang pertama kali merekomendasikanmu. Aku juga yang mengizinkanmu tinggal di sini.” “Dengan fakta itu saja, cukup bagiku untuk memiliki alasan mengeluarkanmu dari rumah ini.” Evelyn memandang dengan kerutan kening yang dalam. Sekarang Evelyn merasa Lidya benar-benar menjadikannya musuh. “Nyonya Lidya, bahkan meskipun Anda menebak dengan benar hubun
Evelyn hanya menghela napas lelah. Dua hari terakhir benar-benar melelahkan. Sekarang pun dia tidak bisa mengistirahatkan dirinya dengan secangkir teh sejenak. Ketika Evelyn datang memenuhi panggilan Lidya, sang nyonya besar itu tengah duduk di dalam rumah kaca miliknya. Mata wanita itu terpejam saat dia duduk menunggu di depan meja besi putih dilengkapi dengan teko teh beserta buah-buahan. Di sampingnya berdiri seorang pelayan yang siap untuk menerima instruksi apapun. Termasuk mengganti teh dingin di meja. Evelyn diam-diam mengagumi sosok Lidya yang tenang seperti ini. “Selamat siang, Nyonya,” sapa Evelyn setelah sampai. Sikapnya tenang dan sopan. Tangan di depan perut dan pandangan menunduk tanpa melirik ke sana kemari. Perilakunya menunjukkan bahwa dia hanyalah seorang pelayan yang dibayar oleh Lidya. Tangan di depan perut dan pandangan menunduk tanpa melirik ke sana kemari. Pemandangan itulah yang dilihat oleh Lidya saat dia membuka matanya. Setelah merasa puas memperhatik
Revano menghentikan langkahnya sesuai keinginan Sira. Namun, kerutan di kening dan juga tatapan tajam yang tidak ramah membuat Sira menahan napas. “Bukankah ayah sudah mengatakannya barusan? Apa kamu tidak mendengarnya?” Pertanyaan Revano cukup tajam. Sira tahu dia orang yang netral, bahkan ketika dulu dia bertengkar dengan Evelyn. Tidak disangka sikapnya saat ini lebih tajam dan menyakitkan. Mata Sira mulai berkaca-kaca, “Tapi bagaimana aku bisa hidup di bawah tatapan orang-orang dari keluarga Durant? Sudah pasti mereka tidak senang dengan–” “Sira, apakah kamu selalu bertingkah seperti ini bahkan setelah menikah?” potong Revano cepat. Dia mulai sakit kepala karena menghadapi tangisan yang tidak ada habisnya hari ini. “Kamu bukan anak kecil lagi. Setidaknya uruslah dirimu sendiri.” Setelah mengatakan itu, Revano jadi teringat Evelyn. Adiknya yang satu itu kini telah mandiri. Saking mandirinya, dia bahkan baik-baik saja meski tidak menyandang gelar sebagai putri sulung keluarga Ro
Perasaan orang-orang yang ada di ruang keluarga itu campur aduk setelah melihat kedatangan Jason. Terutama Tiara, dia bingung bagaimana berbicara dengan suaminya saat ini.Setelah kebenaran terungkap kemarin, sikap Jason menjadi dingin. Kemarahan dan murka di depan umum adalah emosi terakhir yang ditinggalkan oleh suaminya.Ketika mereka membubarkan pesta lebih awal, suaminya menjauh dan tidak pulang ke rumah sama sekali.Kini, Jason malah datang sambil mengatakan kalimat pertanyaan itu, membuat Tiara ketakutan.“Apa yang kamu maksud?!” balas Tiara defensif. Dia tidak mau mengakui bahwa dia memang sengaja mengusir Evelyn. “Anak itu keluar dari rumah ini karena kesalahannya. Tidak ada hubungannya dengan kami!”Jason tersenyum sinis, “Oh, bukan karena kamu ingin Sira menjadi anak perempuanku satu-satunya, sehingga kamu mengusir Evelyn?”Tiara tergagap tanpa berani menatap mata Jason, “A-aku, mana mungkin aku tega pada anakku sendiri! Kamu tahu berapa banyak masalah yang telah dibuat Eve
“Apa maksudmu?” tanya Sira setelah terkejut sesaat.Sang asisten yang baru saja datang dari luar memberikan ponselnya kepada Sira. Layarnya menunjukkan berita populer dengan latar belakang foto Sira sebagai seorang model iklan bulan lalu.Sira membaca berita itu dengan mata yang membulat. Di berita
“Jika kamu ingin menuntut lebih jauh dan ingin melihat dalang yang sebenarnya, kamu bisa menyewa seorang Hacker.”Evelyn yang tengah membaca berita viral di ponselnya berhenti sejenak. Namun, dia tetap menjawab positif meski dia tidak ingin melakukannya.“Tidak perlu terlalu jauh,” jawab Evelyn den
“Mana? Coba sini kulihat!”Sira merebut ponsel temannya dan memandangi berita dengan nama Evelyn terpampang sebagai judul besar. Foto berita itu juga menampilkan Evelyn yang tersenyum cerah setelah mendapat kemenangan dengan piala di tangannya.“Itu benar kakakmu, kan?” Tanya teman Sira dengan sedi
“Baiklah, ini adalah babak terakhir untuk peserta. Para juri saat ini sedang berdiskusi untuk memilih siapa pemenangnya!”Suara pembawa acara terdengar di seluruh penjuru ruangan. Evelyn mengatur napas dengan tenang. Perasaan gugup dan harapan kecil dia iringi dengan doa.Evelyn telah melewati bebe







