Share

Bab 2 : Sakit Hati

Penulis: Chili Cemcem
last update Tanggal publikasi: 2026-06-18 16:24:26

“Bukan kasihan,” sahut Mayaka, matanya menatap pantulan dirinya di monitor. “Kalau aku sebar ini sekarang, di saat kami baru saja putus, aku cuma bakal kelihatan kayak mantan yang hancur, gagal move on, dan dendam. Hans bisa saja memutarbalikkan fakta dan membuatku terlihat seperti pihak yang jahat dan histeris.”

​Mayaka menyandarkan punggungnya, senyum miring yang dingin kembali terkubur di wajahnya. “Aku mau keluar dari hubungan toksik ini dengan kepala tegak. Aku akan hancurkan mereka, tapi dengan cara yang elegan. Di saat mereka merasa sudah berada di puncak kemenangan, di situlah aku akan menarik karpet di bawah kaki mereka sampai jatuh terjungkal.”

​Hany tertegun, namun perlahan senyum kekaguman terbit di wajahnya. Ia akhirnya mengangguk paham. “Oke. Aku dukung kamu. Biarkan tikus-tikus itu menari dulu.”

“Bener. Btw, thanks ya, Sis,” balas Mayaka diiringi senyum korporasi.

Hany balas dengan senyum sampai sepasang matanya menyipit.

​Tepat setelah Hany menggeser kursinya kembali ke kubikelnya sendiri, pintu ruangan manajer terbuka dengan sentakan keras.

​Hans keluar dari ruangannya. Pria itu tampak rapi dengan kemeja motif garis, namun wajahnya terlihat tegang dan matanya langsung terhunus ke arah kubikel Mayaka.

​Langkah kaki Hans yang berat berhenti tepat di samping meja kerja Mayaka. Beberapa rekan kerja di kubikel lain mulai melirik, merasakan atmosfer yang mendadak mencekam.

​Tanpa memedulikan tatapan orang-orang, Hans melempar sebuah map tebal ke atas meja Mayaka hingga menimbulkan suara debukan yang keras.

​"Kerjakan laporan audit ini. Harus selesai sebelum jam makan siang," ucap Hans dengan nada dingin, datar, dan penuh penekanan, seolah ingin menunjukkan siapa yang memegang kendali di sini. "Dan satu lagi ... ikut aku ke atap gedung sekarang. Ada urusan pekerjaan penting yang harus kita bicarakan. Tanpa bantahan."

​Mayaka menatap map tebal di mejanya, lalu perlahan mengalihkan pandangannya ke arah Hans. Alih-alih takut atau menangis karena diperlakukan semena-mena oleh sang mantan yang baru saja mengkhianatinya, Mayaka justru tersenyum tipis. Sebuah senyuman yang membuat bulu kuduk Hans mendadak meremang.

​Dengan gerakan tenang, Mayaka berdiri dari kursinya. "Baik, Pak Hans. Mari kita bicara di atap."

​Angin siang di atap gedung berembus cukup kencang, menerbangkan beberapa helai rambut Mayaka saat pintu besi yang berat itu menutup dengan dentangan nyaring. Suasana di atas sini begitu sepi, hanya ada deru mesin exhaust fan raksasa dan hamparan langit kota yang terik.

​Hans sudah berdiri di sana, membelakangi pintu dengan kedua tangan terbenam di saku celana kainnya. Begitu mendengar suara langkah kaki Mayaka mendekat, pria itu berbalik. Wajah yang biasanya selalu tersenyum manis saat merayunya kini telah berganti menjadi dingin dan sarat akan kecemasan.

​“Kamu sudah hapus bukti itu, kan?” tembak Hans langsung, bahkan sebelum Mayaka sempat melangkah lebih dekat. Tidak ada lagi sapaan hangat, tidak ada lagi sisa-sisa kehangatan masa lalu. Hanya ada tuntutan egois dari seorang pria yang ketakutan kariernya hancur.

​Mayaka menghentikan langkahnya sekitar tiga meter di depan Hans. Ia melipat kedua tangan di dada, menatap sang mantan kekasih dengan tatapan menilai, seolah sedang melihat barang rongsokan yang tidak ada harganya.

​“Hapus?” Mayaka mengulang kata itu dengan nada mengejek. “Menurutmu, setelah apa yang kamu lakukan di belakangku bersama direktur kesayanganmu itu, aku akan berbaik hati menghapus jaminan kesalamatan pribadiku? Jangan naif, Hans.”

​Wajah Hans seketika mengeras. Ia melangkah maju dua kali, mencoba mengintimidasi Mayaka dengan postur tubuhnya yang lebih tinggi. “Mayaka, tolong dewasa sedikit! Hubungan kita itu sudah hambar. Aku bertahan denganmu juga karena rasa kasihan. Dan apa yang terjadi antara aku dan Bu Disya, itu urusan profesional yang berkembang menjadi kenyamanan. Kamu jangan kekanak-kanakan dengan membawa-bawa video itu untuk mengancam karirku!”

Rasa kasihan?

​Mendengar pembelaan diri yang begitu menjijikkan, Mayaka justru terkekeh pelan. “Urusan profesional yang berkembang menjadi kenyamanan? Istilah baru yang bagus untuk sebuah perzinaan dan pengkhianatan.”

​“Mayaka!” bentak Hans, suaranya meninggi, tertelan oleh bising angin atap gedung. “Aku peringatkan kamu, ya. Bu Disya itu punya pengaruh besar di perusahaan ini. Sekali dia menjentikkan jari, kamu bisa didepak dari kantor ini dengan catatan hitam. Kamu nggak akan bisa dapat kerja di perusahaan mana pun di kota ini!”

​Mayaka tidak berkedip sedikit pun. Ancaman Hans sama sekali tidak menggetarkan nyalinya. Sebaliknya, ia melangkah maju, mendekati Hans hingga jarak mereka kini begitu dekat. Sorot mata Mayaka berkilat sedingin es.

​“Kalau begitu, suruh dia jentikkan jarinya sekarang,” bisik Mayaka dengan penekanan yang tajam.

​Hans mengernyit, dahinya berkerut dalam. “Apa kamu bilang?”

​“Kamu pikir aku takut dipecat?” Mayaka tersenyum miring, senyuman yang membuat nyali Hans mendadak ciut. “Silakan suruh selingkuhanmu itu memecatku hari ini juga. Tapi ingat ini baik-baik ... satu jam setelah surat pemecatanku keluar, video keintiman kalian di kamar hotel akan tersebar luas dengan cepat.”

Mayaka langsung membuang muka, enggan menatap netra pria di hadapannya lagi. Terlalu muak.

​Hans seketika mematung. Warna darah seolah surut dari wajahnya, menyisakan rona pias yang pucat. Ia mengepalkan tinjunya dengan erat. Napasnya memburu akibat amarah dan rasa takut yang bercampur menjadi satu. Dia sadar, Mayaka yang berdiri di depannya sekarang bukan lagi Mayaka yang penurut dan bisa ditenangkan hanya dengan sebatang cokelat atau janji manis. Wanita ini telah berubah menjadi ancaman nyata bagi masa depannya.

​“Apa yang kamu mau?” tanya Hans akhirnya, suaranya merendah, terdengar pasrah sekaligus frustrasi. “Uang? Kamu mau aku bayar berapa supaya video itu dihapus?”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dibuang Perintis Dinikahi Pewaris   Bab 6 : Misi Berdua

    Suara sirene darurat pabrik meraung panjang. Bukan suara mesin tujuh yang tadi, tapi mesin utama di blok A. Mesin pemintal tertua yang menjadi jantung produksi."Mesin tua itu lagi," desis Mayaka sambil berlari menuju ruang kontrol.Di sana, para operator tampak pucat. Supervisor mondar-mandir dengan wajah berkeringat. Raka sudah ada di depan panel, dahinya berkerut dalam."Bisa?" tanya Supervisor pendek.Raka menggeleng. "Skemanya beda. Ini mesin manual tahun 80-an. Semua jalur kabelnya dimodifikasi sendiri. Saya tidak punya datanya.""Hanya Pak Subrata yang tahu seluk-beluk mesin ini, Pak. Tapi beliau baru pensiun bulan lalu," sahut salah satu operator. "Beliau tinggal di desa lereng gunung, tidak ada sinyal telepon di sana."Supervisor menatap Mayaka dan Raka bergantian. "Kalian berdua, ambil mobil operasional. Jemput Pak Subrata. Sekarang! Kalau mesin ini mati lebih dari dua puluh empat jam, kita semua kehilangan bonus tahunan!"“Baik, Pak,” jawab keduanya setengah hati.Perjala

  • Dibuang Perintis Dinikahi Pewaris   Bab 5 : Pertemuan Pertama Dengan si Dia

    Misi penyamaran Arkadia di Rajawali Jaya Group dimulai hari ini. Ia tidak datang sebagai pewaris, melainkan sebagai Raka, teknisi mesin baru. Namun, takdir rupanya tidak membiarkan masa orientasinya berjalan mulus di minggu pertama bekerja. Ia langsung berhadapan dengan "sang algojo" QC yang terkenal paling disiplin di seluruh lantai produksi.Mayaka Kamari. Jodoh pilihan orang tua Arka. Yang kini berdiri dihadapannya.​"Nama?" tanya Mayaka ketika melihat wajah yang baru ia kenal.​"Raka."​"Bagian?"​"Teknik."​Mayaka tidak mengangkat wajah dari clipboard-nya. Jemarinya sibuk menandai daftar periksa. "Datang telat tujuh menit,” ujarnya santai.​Arka yang kini memakai nama Raka, melirik jam dinding besar di atas area produksi. "Shift belum mulai, kan?" sahutnya datar, menahan rasa jengah.​"Di bagian Quality Control, hitungannya bukan jam kerja, tapi siklus mesin. Begitu mesin hidup, standar kualitas harus sudah siap." Mayaka akhirnya mendongak. Tatapannya tajam, mengunci mata pria d

  • Dibuang Perintis Dinikahi Pewaris   Bab 4 : Dua Tahun Kemudian

    “Silakan dicoba, Bu,” tantang Mayaka. Kemudian ia mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, berbisik tepat di dekat telinga Bu Disya. “Tapi sebelum Ibu menandatangani surat pemecatan saya, pastikan suami dari pemilik pemasok utama bahan baku kita tidak melihat video mesra Ibu dan Hans di Hotel Luxury terlebih dahulu. Saya penasaran, apa Ibu masih bisa mempertahankan jabatan mentereng ini kalau bahan baku andalan perusahaan mendadak ditarik?”Bu Disya tersentak mundur. Matanya membelalak sempurna, bibirnya bergetar tanpa mampu mengeluarkan kata-kata. Rahasia terbesar yang dia simpan rapat-rapat kini berada di tangan seorang staf kubikel yang selama ini dia remehkan.“Ting.”Pintu lift di belakang mereka terbuka. Mayaka memberikan senyuman formal yang sangat sopan, lalu melangkah masuk ke dalam lift, meninggalkan Bu Disya yang mendadak kehilangan seluruh keangkuhannya di koridor sepi itu.Wanita paruh baya itu mengepalkan tangannya kuat-kuat. Otaknya langsung berputar cepat. Dia tahu, ke

  • Dibuang Perintis Dinikahi Pewaris   Bab 3 : Permohonan Mantan

    Mayaka menatap Hans dengan pandangan jijik. “Uangmu tidak cukup untuk membeli harga diriku yang sudah kamu injak-injak, Hans. Aku tidak butuh sepeser pun uangmu. Apa dulu aku pernah meminta uangmu? Tidak kan. Apalagi sekarang. Najis.”​“Lalu apa? Apa yang kamu minta, May!” tuntut Hans setengah mengerang.​Mayaka membalikkan badan, bersiap untuk meninggalkan atap gedung. Namun sebelum melangkah, ia menoleh, “Aku mau kamu dan Bu Disya tetap berada di kursi kalian sekarang. Nikmati jabatan kalian, nikmati hubungan kalian. Bersikaplah seolah kalian sudah menang dan aku adalah pihak yang kalah,” ucap Mayaka lambat-lambat.​Hans tertegun, tidak mengerti arah pembicaraan mantan kekasihnya itu. “Maksudmu ... kamu nggak akan menyebarkannya?”​“Tergantung dengan sikap kalian. Untuk saat ini, aku simpan bukti itu. Buat jaga-jaga kalau suatu hari nanti aku tiba-tiba dipecat dari perusahaan ini, berarti salah satu dari kalian adalah pelakunya. Dan yang paling penting ... biar kamu tidak akan perna

  • Dibuang Perintis Dinikahi Pewaris   Bab 2 : Sakit Hati

    “Bukan kasihan,” sahut Mayaka, matanya menatap pantulan dirinya di monitor. “Kalau aku sebar ini sekarang, di saat kami baru saja putus, aku cuma bakal kelihatan kayak mantan yang hancur, gagal move on, dan dendam. Hans bisa saja memutarbalikkan fakta dan membuatku terlihat seperti pihak yang jahat dan histeris.” ​Mayaka menyandarkan punggungnya, senyum miring yang dingin kembali terkubur di wajahnya. “Aku mau keluar dari hubungan toksik ini dengan kepala tegak. Aku akan hancurkan mereka, tapi dengan cara yang elegan. Di saat mereka merasa sudah berada di puncak kemenangan, di situlah aku akan menarik karpet di bawah kaki mereka sampai jatuh terjungkal.” ​Hany tertegun, namun perlahan senyum kekaguman terbit di wajahnya. Ia akhirnya mengangguk paham. “Oke. Aku dukung kamu. Biarkan tikus-tikus itu menari dulu.” “Bener. Btw, thanks ya, Sis,” balas Mayaka diiringi senyum korporasi.Hany balas dengan senyum sampai sepasang matanya menyipit. ​Tepat setelah Hany menggeser kursinya kemba

  • Dibuang Perintis Dinikahi Pewaris   Bab 1 : Putus!

    Mayaka duduk disalah satu anak tangga darurat, kepalanya bersandar pada tembok dinding beton yang dingin, mencoba meredam gemetar di ujung jemari. Sebab di layar ponselnya, sebuah video berdurasi dua menit baru saja selesai berputar. Video yang menghancurkan seluruh ekspektasi indahnya tentang masa depan.​Dalam rekaman samar namun cukup jelas itu, Hans, sang kekasih sekaligus manajernya di kantor ini sedang merangkul mesra pinggang seorang wanita masuk ke sebuah kamar hotel. Wanita itu adalah Bu Disya, direktur divisi mereka.​Sakit? Luar biasa sakit. Namun, alih-alih menangis meratapi nasib menjadi korban pengkhianatan, dada Mayaka justru bergemuruh oleh amarah yang membakar habis sisa-sisa cintanya. Saat ponsel di tangannya mendadak bergetar menampilkan nama Hans, Mayaka langsung menggeser tombol hijau dengan gerakan tegas.​“Kita putus. Itu kan yang sejak lama kamu mau. Baiklah. Aku turuti. Ingat ya, aku yang mutusin kamu. Kamu sekarang bisa bebas go public bersama Bu Disya. Dia

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status