เข้าสู่ระบบ“Bukan kasihan,” sahut Mayaka, matanya menatap pantulan dirinya di monitor. “Kalau aku sebar ini sekarang, di saat kami baru saja putus, aku cuma bakal kelihatan kayak mantan yang hancur, gagal move on, dan dendam. Hans bisa saja memutarbalikkan fakta dan membuatku terlihat seperti pihak yang jahat dan histeris.”
Mayaka menyandarkan punggungnya, senyum miring yang dingin kembali terkubur di wajahnya. “Aku mau keluar dari hubungan toksik ini dengan kepala tegak. Aku akan hancurkan mereka, tapi dengan cara yang elegan. Di saat mereka merasa sudah berada di puncak kemenangan, di situlah aku akan menarik karpet di bawah kaki mereka sampai jatuh terjungkal.” Hany tertegun, namun perlahan senyum kekaguman terbit di wajahnya. Ia akhirnya mengangguk paham. “Oke. Aku dukung kamu. Biarkan tikus-tikus itu menari dulu.” “Bener. Btw, thanks ya, Sis,” balas Mayaka diiringi senyum korporasi. Hany balas dengan senyum sampai sepasang matanya menyipit. Tepat setelah Hany menggeser kursinya kembali ke kubikelnya sendiri, pintu ruangan manajer terbuka dengan sentakan keras. Hans keluar dari ruangannya. Pria itu tampak rapi dengan kemeja motif garis, namun wajahnya terlihat tegang dan matanya langsung terhunus ke arah kubikel Mayaka. Langkah kaki Hans yang berat berhenti tepat di samping meja kerja Mayaka. Beberapa rekan kerja di kubikel lain mulai melirik, merasakan atmosfer yang mendadak mencekam. Tanpa memedulikan tatapan orang-orang, Hans melempar sebuah map tebal ke atas meja Mayaka hingga menimbulkan suara debukan yang keras. "Kerjakan laporan audit ini. Harus selesai sebelum jam makan siang," ucap Hans dengan nada dingin, datar, dan penuh penekanan, seolah ingin menunjukkan siapa yang memegang kendali di sini. "Dan satu lagi ... ikut aku ke atap gedung sekarang. Ada urusan pekerjaan penting yang harus kita bicarakan. Tanpa bantahan." Mayaka menatap map tebal di mejanya, lalu perlahan mengalihkan pandangannya ke arah Hans. Alih-alih takut atau menangis karena diperlakukan semena-mena oleh sang mantan yang baru saja mengkhianatinya, Mayaka justru tersenyum tipis. Sebuah senyuman yang membuat bulu kuduk Hans mendadak meremang. Dengan gerakan tenang, Mayaka berdiri dari kursinya. "Baik, Pak Hans. Mari kita bicara di atap." Angin siang di atap gedung berembus cukup kencang, menerbangkan beberapa helai rambut Mayaka saat pintu besi yang berat itu menutup dengan dentangan nyaring. Suasana di atas sini begitu sepi, hanya ada deru mesin exhaust fan raksasa dan hamparan langit kota yang terik. Hans sudah berdiri di sana, membelakangi pintu dengan kedua tangan terbenam di saku celana kainnya. Begitu mendengar suara langkah kaki Mayaka mendekat, pria itu berbalik. Wajah yang biasanya selalu tersenyum manis saat merayunya kini telah berganti menjadi dingin dan sarat akan kecemasan. “Kamu sudah hapus bukti itu, kan?” tembak Hans langsung, bahkan sebelum Mayaka sempat melangkah lebih dekat. Tidak ada lagi sapaan hangat, tidak ada lagi sisa-sisa kehangatan masa lalu. Hanya ada tuntutan egois dari seorang pria yang ketakutan kariernya hancur. Mayaka menghentikan langkahnya sekitar tiga meter di depan Hans. Ia melipat kedua tangan di dada, menatap sang mantan kekasih dengan tatapan menilai, seolah sedang melihat barang rongsokan yang tidak ada harganya. “Hapus?” Mayaka mengulang kata itu dengan nada mengejek. “Menurutmu, setelah apa yang kamu lakukan di belakangku bersama direktur kesayanganmu itu, aku akan berbaik hati menghapus jaminan kesalamatan pribadiku? Jangan naif, Hans.” Wajah Hans seketika mengeras. Ia melangkah maju dua kali, mencoba mengintimidasi Mayaka dengan postur tubuhnya yang lebih tinggi. “Mayaka, tolong dewasa sedikit! Hubungan kita itu sudah hambar. Aku bertahan denganmu juga karena rasa kasihan. Dan apa yang terjadi antara aku dan Bu Disya, itu urusan profesional yang berkembang menjadi kenyamanan. Kamu jangan kekanak-kanakan dengan membawa-bawa video itu untuk mengancam karirku!” Rasa kasihan? Mendengar pembelaan diri yang begitu menjijikkan, Mayaka justru terkekeh pelan. “Urusan profesional yang berkembang menjadi kenyamanan? Istilah baru yang bagus untuk sebuah perzinaan dan pengkhianatan.” “Mayaka!” bentak Hans, suaranya meninggi, tertelan oleh bising angin atap gedung. “Aku peringatkan kamu, ya. Bu Disya itu punya pengaruh besar di perusahaan ini. Sekali dia menjentikkan jari, kamu bisa didepak dari kantor ini dengan catatan hitam. Kamu nggak akan bisa dapat kerja di perusahaan mana pun di kota ini!” Mayaka tidak berkedip sedikit pun. Ancaman Hans sama sekali tidak menggetarkan nyalinya. Sebaliknya, ia melangkah maju, mendekati Hans hingga jarak mereka kini begitu dekat. Sorot mata Mayaka berkilat sedingin es. “Kalau begitu, suruh dia jentikkan jarinya sekarang,” bisik Mayaka dengan penekanan yang tajam. Hans mengernyit, dahinya berkerut dalam. “Apa kamu bilang?” “Kamu pikir aku takut dipecat?” Mayaka tersenyum miring, senyuman yang membuat nyali Hans mendadak ciut. “Silakan suruh selingkuhanmu itu memecatku hari ini juga. Tapi ingat ini baik-baik ... satu jam setelah surat pemecatanku keluar, video keintiman kalian di kamar hotel akan tersebar luas dengan cepat.” Mayaka langsung membuang muka, enggan menatap netra pria di hadapannya lagi. Terlalu muak. Hans seketika mematung. Warna darah seolah surut dari wajahnya, menyisakan rona pias yang pucat. Ia mengepalkan tinjunya dengan erat. Napasnya memburu akibat amarah dan rasa takut yang bercampur menjadi satu. Dia sadar, Mayaka yang berdiri di depannya sekarang bukan lagi Mayaka yang penurut dan bisa ditenangkan hanya dengan sebatang cokelat atau janji manis. Wanita ini telah berubah menjadi ancaman nyata bagi masa depannya. “Apa yang kamu mau?” tanya Hans akhirnya, suaranya merendah, terdengar pasrah sekaligus frustrasi. “Uang? Kamu mau aku bayar berapa supaya video itu dihapus?”Hans berjalan perlahan di samping istrinya, menyambut tepuk tangan dan senyuman para tamu yang berdiri di sepanjang jalan menuju pelaminan. Senyum ramah terus menghiasi wajahnya. Sesekali, ia mengangguk atau membalas sapaan kenalan yang hadir di acara pernikahannya.Dari luar, Hans tampak seperti pengantin pria yang bahagia.Namun, di tengah langkahnya, pikirannya tiba-tiba teringat pada sesuatu yang sempat dibacanya beberapa jam sebelum acara dimulai.Daftar tamu undangan.Sore tadi, ketika memastikan susunan tempat duduk para tamu penting, Hans sempat memeriksa daftar perwakilan perusahaan yang hadir. Sebagai pengantin pria yang juga memiliki sejumlah relasi bisnis, ia ingin memastikan setiap tamu mendapatkan tempat yang sesuai.Semuanya berjalan biasa saja sampai matanya berhenti pada satu nama.Mayaka.Nama yang sudah bertahun-tahun tidak lagi memiliki tempat dalam kehidupannya, tetapi tetap tersimpan di sudut ingatannya.Mantan kekasihnya.Perempuan yang pernah menemaninya selama
Siska memperhatikan kalung yang berada di tangan Raka. Alih-alih menunjukkan kekaguman, perempuan itu justru menyipitkan mata, kemudian tersenyum miring.“Wah, kalungnya cantik juga,” komentarnya. “Tapi, kalau boleh jujur, model seperti ini sekarang banyak dijual di toko perhiasan biasa. Bahkan, di toko aksesori dekat rumah saya juga ada yang mirip.”Mayaka mengernyit tipis.Ia tidak menyangka Siska akan mengomentari perhiasan itu dengan nada meremehkan, padahal perempuan tersebut bahkan belum melihatnya dari dekat.Siska menyilangkan tangan di depan dada, kemudian melirik Raka dari ujung kepala hingga ujung kaki.“Maaf, ya, saya bukan bermaksud merendahkan. Hanya saja, melihat penampilan Anda, saya rasa kalung itu tidak mungkin asli.”Senyum di bibirnya semakin lebar.“Jangan-jangan, Anda sengaja membeli perhiasan imitasi supaya terlihat seperti pria kaya di depan mantan kekasih Bu Mayaka. Apalagi ini acara pernikahan mantannya. Saya bisa memahami kalau Anda ingin membuat seseorang t
Siska berhenti tepat di hadapan Mayaka. Senyum ramah menghiasi wajahnya ketika ia mengulurkan tangan.“Bagaimana kabarmu, Mayaka? Sudah lama sekali kita tidak bertemu.”Mayaka menyambut uluran tangan itu dengan sopan. “Baik, Bu Siska. Bagaimana dengan Ibu?”“Baik juga.” Siska melepaskan genggamannya, lalu mengamati wajah Mayaka dengan tatapan penuh selidik. “Oh, ya, aku dengar kamu masih bekerja di Rajawali Jaya Group. Sekarang sudah naik jabatan, bukan?”Mayaka mengangguk tipis. “Iya, saya sudah menjadi QC senior.”“Wah, hebat sekali!” seru Siska. Namun, nada suaranya terdengar lebih seperti basa-basi daripada pujian tulus. “Dulu, waktu aku masih menjadi atasanmu, kamu memang rajin. Sayang sekali, setelah aku dipindahkan ke divisi luar kota, kita jadi jarang bertemu.”Mayaka hanya membalasnya dengan senyum tipis.Dahulu, Siska merupakan salah satu atasannya yang cukup mengenal kehidupan pribadi Mayaka, termasuk kisah cintanya dengan Hans. Ketika masih bekerja di divisi yang sama, Sis
Raka memasukkan kotak hitam itu ke saku bagian dalam jasnya. Ia melirik Mayaka yang masih berdiri di sampingnya, mengamati suasana gedung pernikahan dengan ekspresi yang sulit ditebak. “Sudah siap?” tanyanya. Mayaka menoleh. “Untuk apa?” “Masuk ke dalam.” Raka mengangkat sebelah alis. “Atau Anda berencana berdiri di sini sampai pengantin selesai mengucapkan janji?” Mayaka mendengus pelan. “Saya hanya sedang memastikan tempatnya.” “Tempatnya tidak akan berubah hanya karena Anda pandangi lebih lama.” “Pak Raka, kalau tidak bisa membantu, setidaknya jangan mengganggu.” Raka menahan senyum. Entah mengapa, melihat Mayaka mulai menunjukkan sikap ketusnya yang biasa justru membuat suasana terasa lebih menyenangkan. “Baiklah. Silakan memimpin, Bu Mayaka.” Mayaka segera berbalik dan melangkah menuju pintu masuk. Ia tidak ingin memberi pria itu kesempatan untuk melontarkan komentar lain. Namun, baru beberapa langkah, suara Raka kembali terdengar dari belakang. “Mayaka.”
Satu jam sebelum Mayaka dan Raka tiba di gedung pernikahan.Tepat ketika hendak membuka pintu kamar hotel, ponsel Mayaka berdering.Nama Hany muncul di layar.Mayaka segera mengangkat panggilan itu. “Halo?”“May, kamu benar-benar yakin mau menghadiri pernikahan si Hansaplast itu?”Mayaka tersenyum tipis mendengar julukan yang diberikan sahabatnya kepada mantan kekasihnya tersebut.“Memangnya kenapa?”“Kok aku malah nggak yakin, ya?”Mayaka mengangkat sebelah alis, meskipun Hany tentu tidak bisa melihatnya. “Nggak yakin soal apa?”“Kamu yakin kuat ketemu dia lagi? Setelah semua yang terjadi, aku takut kamu malah kepikiran macam-macam. Apalagi kalau dia sampai bersikap seolah-olah nggak pernah melakukan kesalahan.”Mayaka menyandarkan punggungnya ke dinding di dekat pintu.“Han, masalah hidupku sekarang jauh lebih berat daripada sekadar bertemu Hans. Ibuku mengusirku dari rumah. Sekarang aku tinggal di hotel dan masih harus mencari kos-kosan.”“Hah?! Apa?” Suara Hany langsung meninggi.
Mayaka menggantung kembali pakaian yang tidak jadi dikenakannya, lalu merapikan isi tas kecil di atas ranjang.Ia memeriksa ponsel, memastikan undangan pernikahan tersimpan dengan aman, kemudian menatap pantulan dirinya di cermin sekali lagi.Blus biru tua itu memang bukan pakaian terbaik yang pernah dimilikinya. Namun, untuk menghadiri acara yang bahkan tidak ingin ia datangi, pakaian tersebut sudah lebih dari cukup.Toh, ia tidak perlu membuat siapa pun terkesan.Terutama Hans.Mayaka mengambil tasnya dan berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, ia sempat melirik kamar hotel yang sudah beberapa hari menjadi tempat tinggal sementaranya.Pikirannya kembali tertuju pada pencarian kos yang belum membuahkan hasil. Setelah acara pernikahan ini selesai, ia harus kembali mencari tempat tinggal yang sesuai dengan anggaran. Ia tidak mungkin terus-menerus membayar hotel.Namun, memikirkan hal itu sekarang hanya akan membuat kepalanya semakin pening.Satu masalah dalam satu waktu.Ia mengunci pin







