LOGIN
Mayaka duduk disalah satu anak tangga darurat, kepalanya bersandar pada tembok dinding beton yang dingin, mencoba meredam gemetar di ujung jemari. Sebab di layar ponselnya, sebuah video berdurasi dua menit baru saja selesai berputar. Video yang menghancurkan seluruh ekspektasi indahnya tentang masa depan.
Dalam rekaman samar namun cukup jelas itu, Hans, sang kekasih sekaligus manajernya di kantor ini sedang merangkul mesra pinggang seorang wanita masuk ke sebuah kamar hotel. Wanita itu adalah Bu Disya, direktur divisi mereka. Sakit? Luar biasa sakit. Namun, alih-alih menangis meratapi nasib menjadi korban pengkhianatan, dada Mayaka justru bergemuruh oleh amarah yang membakar habis sisa-sisa cintanya. Saat ponsel di tangannya mendadak bergetar menampilkan nama Hans, Mayaka langsung menggeser tombol hijau dengan gerakan tegas. “Kita putus. Itu kan yang sejak lama kamu mau. Baiklah. Aku turuti. Ingat ya, aku yang mutusin kamu. Kamu sekarang bisa bebas go public bersama Bu Disya. Dia minta dinikahi? Sana kalian nikah,” tembak Mayaka langsung, bahkan sebelum pria di seberang sana sempat mengucap salam. “Mayaka, bagaimana kamu bisa ....” Suara Hans terdengar panik, terbata-bata. “Bagaimana aku bisa tahu?” potong Mayaka cepat dengan senyum sinis terukir di bibirnya. “Tanggal 10 Januari jam delapan malam, kamu dan Bu Disya pergi ke Hotel Luxury. Kalian masuk ke kamar 231 di lantai empat. Apa yang kalian lakukan di dalam kamar itu? Aku punya rekamannya. Kamu gak percaya? Akan aku kirimkan sekarang juga kalau kamu mau. Dan itu tidak hanya sekali, Hans. Tanggal 20 Februari. Tanggal 5 Maret. Tanggal 10 Maret. Tanggal—“ “Cukup, Mayaka! Kamu psikopat!” bentak Hans, memotong kalimat Mayaka dengan napas memburu. Kepanikan pria itu kini berubah menjadi kemarahan defensif. “Dan kamu pecundang, pengkhianat, dan memang sudah sepantasnya dibuang!” balas Mayaka, tak kalah sengit. Suaranya bergema di lorong tangga darurat yang sepi. “Jaga lidahmu, Mayaka! Aku ini atasanmu! Disya juga atasanmu!” Hans mulai menggunakan kekuasaannya untuk mengancam. “Lalu? Kalian mau memecatku? Coba saja,” tantang Mayaka dengan nada meremehkan. “Kalian bukan pemilik perusahaan ini. Hanya tikus yang kebetulan punya jabatan. Dan kamu mau aku menyebarkan rekaman keintiman kalian ke grup internal kantor atau langsung ke meja owner? Akan aku lakukan sekarang juga kalau kamu menantangku.” “Percuma bicara baik-baik denganmu!” Klik. Sambungan telepon itu diputus sepihak. Hans melarikan diri, persis seperti tabiat aslinya yang penakut. Mayaka menurunkan ponsel dari telinganya. Napasnya masih memburu, menahan buncah emosi yang seolah siap meremukkan dadanya. Ia memejamkan mata sesaat, menarik napas dalam-dalam untuk mengumpulkan kembali seluruh harga dirinya yang sempat diinjak-injak. Setelah mencoba menguasai diri dan merapikan beberapa helai rambutnya yang sedikit berantakan, Mayaka mendorong pintu besi tangga darurat. Ia melangkah kembali ke area kubikel kerja dengan wajah kaku, dingin, dan tegang. Begitu Mayaka mendaratkan bokongnya di kursi, sebuah gerakan gesekan roda terdengar. Hany, rekan kerja sekaligus sahabat dekatnya yang mejanya bersebelahan, langsung menggeser kursi rodanya mendekat. “Ada apa?” tanya Hany setengah berbisik. Matanya menelisik wajah Mayaka yang tampak pias. “Muka kamu kok kayak habis lihat hantu gitu? Ada masalah?” Mayaka terdiam sesaat, jemarinya meremas ponsel erat-erat. “Bukan hantu, Han,” bisik Mayaka dengan nada sedingin es, “tapi tikus kantor yang perlu dibasmi.” Hany membelalakkan mata, mencondongkan tubuhnya lebih dekat ke kubikel Mayaka. “Maksudmu ... si Hans? Dia berulah lagi sama Bu Disya?” Mayaka hanya mengangguk kaku, sorot matanya menatap kosong ke arah layar monitor yang menyala. Melihat sahabatnya dikhianati, Hany berdecak sebal dengan wajah memerah menahan geram. “Gila ya, si Hansaplast itu! Benar-benar nggak tahu diri!” Kerutan di dahi Mayaka sedikit mengendur. Atensinya teralih. “Hansaplast?” “Iya, Hansaplast!” sahut Hany berapi-api, meski suaranya tetap dijaga agar tidak terdengar sampai ke kubikel seberang. “Kerjaan aslinya kan cuma jadi penutup luka pas lagi susah. Dulu pas dia belum jadi apa-apa, kamu yang bantu dia, kan? Giliran sekarang udah ngerasa nempel di tempat yang lebih ‘basah’ dan tinggi kayak Bu Disya, dia langsung lupa daratan. Dasar perban murahan!” Mayaka hampir saja mendengus geli kalau saja hatinya tidak sedang sesakit ini. Namun, logika di otaknya langsung menyala. “Pelanin suaramu, Han. Biar bagaimanapun, si Hansaplast itu sekarang manajer kita. Bu Disya di atasnya lagi. Kalau ada yang dengar, kita bisa habis.” Hany langsung celingukan, melirik ke arah pintu ruangan manajer yang untungnya masih tertutup rapat. Dia buru-buru menarik kursinya lebih dekat lagi sampai lutut mereka hampir bersentuhan, lalu berbisik dengan keberanian yang mendadak meluap. “Ya ... kalau di depan mukanya langsung, aku jelas masih sayang nyawa dan jabatan, May. Tapi kalau di belakang begini? Tolong ya, jangankan menjuluki dia perban luka, mengutuk dia jadi keset sekalian juga aku berani!” Hany mendengus, lalu menyenggol lengan Mayaka. “Lagian, kamu pegang kartu as mereka, kan? Jangan takut. Mau dia manajer, mau Bu Disya itu direktur sekalipun, kalau bukti perselingkuhan itu bocor ke owner, mereka berdua cuma bakal jadi sampah di perusahaan ini. Sebarin sekarang aja, May! Biar kapok!” Kata-kata Hany menjadi bahan bakar yang dibutuhkan Mayaka. Rasa sedih yang tadinya mendominasi, perlahan mulai berganti menjadi kilatan amarah yang tenang namun mematikan. Mayaka menatap ponselnya. Layar itu menampilkan lampiran video dan foto-foto perselingkuhan Hans dan Bu Disya. Ibu jarinya sudah menggantung di atas tombol send, siap dikirimkan ke email komite etik perusahaan dan sang pemilik vendor utama. Cukup satu ketukan, dan karier kedua orang itu akan hancur seketika. Namun, tepat sebelum jarinya menyentuh layar, gerakan Mayaka terhenti. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menurunkan ponselnya ke atas meja. “Nggak, Han. Nggak sekarang,” bisik Mayaka lambat. Hany terbelalak kecewa. “Kenapa? Kamu masih kasihan sama cowok bajingan itu?”Steve, asisten kepercayaan Raka, meneleponnya menjelang malam. Ada pesan dari Areta, ibu Raka, yang memintanya pulang untuk makan malam bersama di rumah.Awalnya, Raka berniat menolak. Namun, ia tahu betul ibunya bukan tipe orang yang mudah menyerah hanya karena satu kali penolakan. Pada akhirnya, ia tetap pulang, meski tak tahu agenda apa lagi yang sudah disiapkan perempuan itu untuknya.Begitu tiba di rumah dan duduk di meja makan, Raka baru menyadari bahwa makan malam kali ini sepertinya tidak akan berlangsung dengan tenang.Areta meletakkan sendoknya, lalu menatap putranya dengan mata berbinar. Senyum di bibirnya terlihat terlalu lebar untuk sekadar menyambut kepulangan anak sendiri.“Arka, kamu menyamar jadi teknisi supaya bisa dekat dengan calon menantu Mama, ya?”Raka yang baru saja hendak menyuapkan makanan langsung menghentikan gerakannya.“Apaan, sih, Ma?”“Ah, so sweet!” Areta merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada. “Ah, so sweet! That’s so romantic, son! I love i
Jam istirahat akhirnya tiba. Begitu bel berbunyi, aktivitas di area produksi perlahan mereda. Para karyawan mulai meninggalkan meja dan mesin masing-masing, menuju kantin atau ruang makan. Raka justru mengambil arah berbeda. Sejak percakapannya dengan Mayaka pagi tadi, dan juga kejadian di rumah Pak Subrata, ada satu hal yang terus mengganggu pikirannya. Mantan yang pernah disebut Pak Subrata. Siapa laki-laki itu? Kenapa hubungan mereka berakhir? Dan yang paling membuat Raka penasaran, kenapa Pak Subrata sampai pernah menyinggungnya ketika berbicara tentang Mayaka? Raka ingin tahu. Sayangnya, bertanya langsung kepada Mayaka bukan pilihan. Ia pasti akan curiga. Karena itu, Raka memilih cara lain. Ia masuk ke ruang makan yang biasa digunakan kelompok cleaning service. Kenapa Cleaning Service? Karena disana segala informasi, bahkan info paling gelap sekalipun bisa ditemukan. Beberapa orang yang sedang menikmati makan siang langsung menoleh ketika Raka datang. “Lho, Mas Raka
Ponsel Raka berdering ketika ia baru saja keluar dari kamar mandi. Melihat nama yang muncul di layar, langkahnya terhenti. Mama Areta. Raka mengembuskan napas pendek sebelum mengangkatnya. “Ya, Ma?” “Arka, perutmu sudah membaik?” Raka mengernyit. “Darimana Mama tahu?” “Steve yang memberitahu. Waktu kemarin Mama ke perusahaan, Mama tanya kamu di mana. Dia bilang kamu sakit perut.” Raka langsung menyeringai. “Oh, iya.” Ia menyandarkan tubuhnya pada meja, lalu berkata dengan nada santai. “Steve membelikan makanan basi, Ma.” Di seberang sana, Areta terdiam. “Hah?” “Sepertinya begitu. Saya makan makanan yang dia belikan, beberapa jam kemudian perut saya langsung bermasalah.” Raka sengaja memasang wajah serius, meskipun sudut bibirnya sudah naik. Berani-beraninya kamu mengadu kepada Mama. Kemarin Steve memang membantunya mencari obat pencahar dengan alasan yang sangat mendesak. Namun pagi ini, rupanya sekretarisnya itu justru menjelaskan kep
Mayaka terdiam. Garpu plastik yang sudah berada di tangannya menggantung beberapa sentimeter di atas mie gelas. Benar juga. Raka membalas pertanyaannya dengan pertanyaan. Ia melirik jam di ponselnya. Sudah hampir tengah malam. Seorang perempuan sendirian makan mie di minimarket pada jam seperti ini jelas bukan pemandangan yang biasa. “Kenapa diam?” tanya Raka. Mayaka mendengus kecil. “Kenapa kamu balik tanya?” “Karena saya penasaran.” “Saya juga.” Raka mengangkat alis. “Penasaran apa?” “Kenapa teknisi pabrik bisa berkeliaran tengah malam dengan saudara-saudaranya.” Raka terdiam. Dua pria di belakangnya kembali saling pandang. Mayaka sama sekali tidak menyadari bahwa kedua orang itu sebenarnya sedang menahan diri agar tidak tertawa. Raka menghela napas. “Urusan keluarga.” “Begitu?” “Iya.” Mayaka mengangguk. “Kalau begitu, urusan saya juga urusan pribadi.” Raka menatapnya. Ada sesuatu dalam tatapan Mayaka yang mem
Mayaka akhirnya sampai di hotel yang ditemukannya melalui aplikasi.Hotel itu tidak besar.Bangunannya sederhana, tetapi cukup bersih dan terlihat nyaman."Ya ... lumayan."Mayaka menarik koper kecilnya, yang sebenarnya lebih sering ia gunakan untuk membawa perlengkapan kerja melewati lobi.Namun langkahnya mendadak melambat.Beberapa orang baru saja masuk.Ada yang datang berdua.Ada pula pasangan yang berjalan berdampingan sambil berbicara pelan.Mayaka mengerutkan kening.Itu pasangan suami istri?Ia memperhatikan sekilas.Rasanya bukan.Tapi ia segera mengangkat bahu.Masa bodoh.Malam ini ia tidak punya tenaga untuk memikirkan kehidupan orang lain.Ia hanya ingin kamar.Tempat tidur.Dan tidur.Mayaka mendekati meja resepsionis."Mas, masih ada kamar?""Masih, Mbak.""Satu malam.""Atas nama?""Mayaka."Setelah proses administrasi selesai, Mayaka menerima kartu kamar.Ia naik ke lantai yang ditunjukkan resepsionis.Begitu pintu kamar terbuka, ia langsun
Mayaka berjalan mengikuti alamat yang tertera di layar ponselnya.Jaraknya tidak terlalu jauh dari warung.Sekitar lima belas menit kemudian, ia sampai di sebuah gang yang cukup tenang. Beberapa rumah berdiri rapat di kiri-kanan jalan. Lampu teras menyala kekuningan, sementara suara televisi terdengar samar dari balik beberapa pintu.Mayaka mencocokkan nomor rumah dengan alamat di ponselnya.“Ini.”Di depannya berdiri sebuah rumah dua lantai dengan papan nama sederhana:KOS PUTRI MELATIDi bawah papan nama itu terdapat tulisan:TERSEDIA 1 KAMAR KOSONGMata Mayaka langsung berbinar.“Syukurlah.”Ia mempercepat langkah.Baru saja tangannya hendak meraih pagar, seorang perempuan paruh baya keluar dari dalam rumah sambil membawa papan kecil.Mayaka tersenyum.“Bu, saya mau tanya kamar kos yang kosong—“Belum selesai kalimatnya, perempuan itu justru mengangkat papan bertuliskan TERSEDIA 1 KAMAR KOSONG, lalu menurunkannya.Sebagai gantinya, ia memasang papan lain.KAMAR PENUH.Mayaka terdia







