MasukMalam itu, Alena berdandan lebih berani dari biasanya.
Dia mengenakan gaun terbaik yang sanggup dia beli, tak lupa menata rambut dengan teliti. Malam ini, dia tidak boleh terlihat seperti perempuan yang kalah. Sebelum berangkat, Alena menghubungi Kristi. “Dimana pria sewaanmu itu? Pesta sudah hampir dimulai.” “Alena, kau berangkat duluan. Dia akan menyusul.” “Dia sudah tahu tempatnya? Bagaimana dia akan mengenaliku nanti?” “Dia akan menghubungimu setelah sampai.” Kening Alena berkerut. Nada suara Kristi terdengar aneh. Cepat dan sedikit panik. “Kristi, kau dimana?" "E... sudah dulu, ya. Tunggu saja dia mencarimu." "Tapi—” Tut. Telepon terputus. Alena menatap ponselnya dengan kesal. “Astaga, anak ini kenapa? Setidaknya beritahu aku siapa namanya,” keluh Alena pada layar ponsel. Jarum jam terus berdetak. Alena tak mau membuang waktu. Dengan langkah berat, dia meninggalkan rumah peninggalan orang tuanya. Satu-satunya yang tersisa dan luput dari keserakahan keluarga Martin. Jalanan malam itu sangat padat. Dari jauh, kilauan lampu gedung sudah terlihat. Sangat meriah. Alena memandangi Ballroom megah yang dulu milik keluarganya dengan wajah sedih. Kini gedung ikonik itu telah menjadi salah satu properti perusahaan keluarga Martin. Mirisnya, tempat yang pernah menjadi rumah bagi berbagai perayaan keluarganya, malam ini justru digunakan untuk merayakan pertunangan mantan suaminya. Sebelum turun dari mobil, Alena kembali menelepon Kristi. Meskipun keningnya kembali bertaut setelah tiga kali panggilan tidak diangkat. Jantungnya mulai berdebar. "Jangan-jangan pria sewaan itu tidak jadi datang?" Alena menggigit bibir sambil berpikir. Malam ini sepertinya tidak berjalan sesuai rencana. Namun, tak ada pilihan lain. Dia harus tetap masuk ke pesta itu. Tidak peduli bagaimanapun caranya. Kalau tidak, bagaimana dia bisa bertemu Arion? Mata Alena terpejam rapat. Ingatan tentang putranya langsung membawa Alena kembali ke ruang sidang. “Saudari tergugat, dalam hal ini Nyonya Alena Athala, tidak memiliki pekerjaan tetap, Yang Mulia,” kata pengacara Ravian kala itu. “Dia juga tidak memiliki aset yang cukup untuk menjamin kehidupan anak tersebut.” Alena langsung bangkit. “Jangan macam-macam. Arion putraku!” “Alena,” pengacaranya memperingatkan. Tapi Alena tetap berteriak. “Tidak ada seorang pun yang berhak mengambil anakku!” Pengacara Ravian tersenyum tipis sebelum menyerahkan sebuah dokumen pada hakim. “Kami juga memiliki catatan konsultasi psikologi saudari tergugat setelah kematian ibunya.” Alena makin meradang. “Untuk apa kalian membawa-bawa ibuku?" “Menurut catatan, setelah kehilangan ibunya, kondisi mental tergugat memburuk. Emosinya tidak terkontrol dan terus membangkang dari setiap aturan keluarga. Saudari tergugat bahkan sempat dirawat oleh psikiater atas permintaan ayahnya,” jelas pengacara Ravian panjang lebar. “Itu bohong!” “Nyonya Alena, tenang!” Pengacaranya berbisik menahan. “Bohong! Mereka memutarbalikkan semuanya!” “Kalau Anda bersikap seperti ini, hakim justru akan menganggap tuduhan mereka benar.” Alena terdiam. Namun semuanya sudah terlambat. Saksi-saksi dari kediaman keluarga Martin muncul satu per satu. Mereka memberikan kesaksian yang seolah mendukung tuduhan gangguan mental Alena. Bukti yang telah dipersiapkan Ravian menghantamnya tanpa ampun. Alena kalah. Dia harus menelan kenyataan pahit saat hak asuh Arion dinyatakan jatuh ke tangan Ravian. Hari itu Alena tersadar, Ravian bukan sekadar pria manipulatif tapi juga licik. Dia memanfaatkan Arion untuk kepentingannya sekaligus untuk membalas Alena yang membangkang darinya. Tetapi Alena tak mau menyerah. Sejak keluar dari ruang sidang, Alena telah bersumpah. Dia akan menjadi lebih kuat dan membawa putranya kembali. Mata Alena terbuka perlahan. Merah dan berkaca-kaca. “Sayang, ibu pasti akan membawamu pulang. Bersabarlah.” Dengan sigap, dia turun dari mobil dan melangkah memasuki ballroom. Ujung gaun merah maroonnya sedikit menyapu lantai seperti aliran darah. Puluhan kepala langsung menoleh begitu dia melewati pintu. “Itu Alena, bukan?” “Kenapa dia datang?” “Berani sekali dia muncul di pesta pertunangan mantan suaminya. Apa dia sudah gila?” “Katanya dia memang tidak stabil secara mental. Karena itu hak asuh anaknya dicabut.” Bisikan menyebar dengan cepat. Beberapa reporter gosip segera mengarahkan kamera kepadanya. “Nyonya Alena! Apa tujuan Anda menghadiri pesta pertunangan Tuan Ravian?" “Apa benar Anda masih belum menerima perceraian kalian?” “Apa pihak keluarga Martin tahu Anda akan datang?” Alena terus berjalan. Mengabaikan pertanyaan dan suara-suara sumbang yang mengiringi langkahnya. “Lihat. Dia masih berani memakai gaun semahal itu setelah kehilangan semuanya.” “Dulu dia pewaris keluarga kaya, kan?” “Sekarang cuma perempuan tanpa suami, tanpa pekerjaan, bahkan tanpa anak.” Setiap kata yang disertai tawa dan cibiran itu menusuk telinga. Alena menelan semuanya tanpa bantahan. Rupanya, Ravian dan keluarga Martin bekerja keras menghancurkan reputasinya. "Alena! Itu kau?" Risya muncul dari luar kerumunan bersama beberapa temannya. Begitu melihat Alena berdiri di tengah ballroom, senyum licik langsung menghiasi wajahnya. “Wah, kau datang?” Risya menghampiri dengan ekspresi pura-pura terkejut. Alena menatapnya datar sebelum menjawab. “Kalian yang mengundangku.” Dia mengeluarkan undangan dari tas lalu mengangkatnya di depan Risya. “Aku hanya menghadiri undangan seperti seharusnya. Kau belum pikun, kan?” Senyum Risya sempat menghilang. “Kau…” Namun salah seorang temannya segera menyela. “Undangan itu cuma formalitas. Masa kau tidak tahu diri?” Alena melirik perempuan itu. “Kalau hanya formalitas, seharusnya jangan dikirim.” Wajah teman Risya berkerut. “Bilang saja kau masih berharap pada kak Ravian.” Beberapa orang di sekitar mereka tertawa kecil. “Kasihan sekali. Sudah diceraikan masih mengejar.” Alena tidak menjawab. Dia berbalik dan berjalan menuju meja resepsionis. Teriakan Risya terdengar. “Hei! Mau ke mana kau?” Teman Risya mendengus dan berseru keras. “Mantan istri datang ke pesta pertunangan mantan suami. Biasanya ada niat buruk.” “Benar. Siapa tahu dia sengaja datang untuk mengacaukan pesta,” tambah yang lain. Risya menoleh pada sekuriti. “Tunggu apa kalian? Cepat tahan dia.” Dua orang sekuriti segera menghadang Alena. “Silakan ikut kami, Nyonya.” Alena menatap mereka tajam. “Minggir. Jangan menghalangiku.” “Kami hanya menjalankan perintah.” “Aku punya undangan resmi.” Alena meletakkan undangan itu di depan resepsionis. “Maaf, tapi kami harus memastikan Anda tidak membuat keributan.” Alena tertawa dingin. "Beraninya kalian bicara begitu padaku." Salah satu sekuriti menjawab tanpa ekspresi. “Nyonya, Anda bukan lagi pemilik ballroom ini. Anda harus mengikuti aturan tuan rumah baru.” Beberapa tamu kembali tertawa. “Waduh... dulu pemilik, sekarang diusir.” Alena mengepalkan tangan. Teman Risya menunjuk pintu. “Sampah yang sudah dibuang keluarga Martin tidak perlu tampak lagi di sini.” Tatapan Alena berubah tajam. “Sampah?” Dia baru hendak maju ketika ponselnya berdering. Alena langsung meraih ponselnya. Panggilan dari nomor tak dikenal. Namun belum sempat dia mengangkat telepon itu, Risya sudah lebih dulu menyambar ponselnya. "Risya!" Alena kaget saat ponselnya mendadak berpindah tangan. "Kembalikan!" “Jangan-jangan kau memanggil bantuan?” Risya melihat layar ponsel, lalu terkekeh. “Kau pikir ada yang akan datang menolongmu? Semua orang mendukung keluarga kami.” “Risya, kuperingatkan kau,” ancam Alena kesal. Mantan adik iparnya itu memang selalu kurang ajar. Dering berhenti. Risya tersenyum sinis dan tanpa diduga melempar ponsel Alena ke tempat sampah. Duk! Suara benda jatuh itu membuat Alena terpaku sesaat dengan mata membulat. “Kau gila?” bentaknya pada Risya lalu berjalan ke tempat sampah. Dia baru mengulurkan tangan saat teman Risya yang lain datang menendang tempat sampah itu. DUK! PRANG! Suara kelontang mengejutkan semua orang di lobi. Isi tempat sampah berhamburan di lantai dan mengenai ujung gaun Alena yang panjang. Suara desisan terdengar serentak. Tamu-tamu menutup mulut dan hidung. Tapi Risya dan teman-temannya justru tertawa puas. Tangan Alena mengepal kuat. Risya berjalan mendekat dengan pongah lalu berbisik, “sampah memang cocok mengais sampah.” Alena refleks mengangkat tangannya. Untuk sesaat, dia benar-benar ingin menampar wajah perempuan itu. Namun tangannya berhenti di udara saat wajah Arion berkelebat di benaknya. Dia datang ke sini untuk putranya. Kalau dia membuat keributan, semuanya akan sia-sia. Perlahan Alena mengepalkan jari. Tetapi sekuriti yang waspada langsung menangkap pergelangannya. Dia dikunci. “Nyonya, Anda tidak boleh menyerang siapapun di sini. Terutama keluarga Martin!” “Lepaskan aku!” Alena meronta sekuat tenaga. Kerumunan kembali berbisik. “Dia benar-benar bermasalah. Wanita menakutkan. Dia mungkin masih terobsesi pada mantan suaminya.” “Sayangnya calon istri Tuan Ravian jauh lebih muda. Dia pasti tidak akan melirik perempuan sepertinya lagi.” Risya memamerkan senyum kemenangan. “Lihat dirimu, Alena.” Alena menatapnya tanpa gentar. “Urat malumu sepertinya sudah putus sampai betul-betul berani datang ke pesta ini.” Risya mundur sedikit. “Lihat. Tidak ada yang menyambutmu. Tidak ada yang membelamu.” Dia menunjuk sekeliling. Lalu suaranya meninggi hingga cukup jelas untuk didengar semua orang. “Tanpa keluarga Martin, kau bukan apa-apa. Kau sendirian sekarang... dan akan sendirian selamanya.” Tawa beberapa tamu kembali pecah. Risya tersenyum lebar sambil bersedekap. Alena menggeretakkan gigi. Kebenciannya membuncah tapi tak bisa membalas. Sekuriti terus menahannya dengan kuat. Namun sebelum Risya sempat melanjutkan hinaannya lagi, sebuah suara lain tiba-tiba terdengar nyaring dari belakang. “Siapa bilang dia sendirian?” **“Aku baru bertemu anakku, tolong beri kami waktu lagi.” Alena memasang wajah memelas. Tapi pelayan itu tetap bereaksi datar. “Izin anda dari Tuan Ravian hanya sebentar.” Leon segera maju. “Sebentar atau lebih lama, apa bedanya? Mereka hanya bertemu. Kenapa kalian suka sekali mempersulit sesuatu?" Pelayan itu tersentak dan menunduk ragu. “Saya cuma—” “Kalau begitu tunjukkan perintah yang mengatakan berapa menit dia boleh memeluk anaknya.” Pelayan itu tidak bisa menjawab. Pengasuh Arion juga ikut bungkam. Leon menunjuk kursi di dekat mereka. “Biarkan mereka duduk. Tak ada yang mau membawanya kabur.” Kalimat tegas Leon mau tak mau membuat pelayan itu harus mundur. Alena menatap Leon dengan mata berkaca-kaca. “Terima kasih.” “Jangan berterima kasih dulu. Aku masih perlu dibayar untuk pekerjaan ini,” bisik Leon membantu Alena duduk memangku putranya. “Sayang, ini teman Mama. Namanya Paman Leon.” Arion langsung memandang Leon dari ujung kepala hingga kaki dengan pandangan curi
"Apa maksudmu?"Nyonya Rosa segera tersenyum, berusaha meredam suasana sebelum perhatian para tamu semakin tertuju kepada Alena.“Anak muda, sepertinya kau salah memahami keadaan.”Nada suaranya terdengar lembut, tetapi sorot matanya memperingatkan.“Arion sedang bersama pengasuhnya. Anak kecil tentu tidak seharusnya dibawa ke tengah urusan orang dewasa. Lagipula, acara pertunangan Ravian dan Sera sebentar lagi dimulai. Kami tidak ingin masalah keluarga mengganggu kebahagiaan mereka.”Beberapa tamu mengangguk kecil. Nyonya Rosa tersenyum kepada mereka seolah semuanya baik-baik saja.“Silakan semua kembali menikmati jamuan. Acara utama akan segera dimulai,” seru wanita tua itu sebelum mendekati Ravian dan berbisik, “biarkan mereka bertemu.”Ravian langsung menoleh. “Tidak, Bu.”“Kau mau kita semua menjadi bahan pembicaraan?”Rahang Ravian mengeras. Nyonya Rosa menghela napas.“Ini bukan lagi soal kau dan Alena. Ini soal keluarga kita. Lihat sekelilingmu. Semua orang memperhatikan.”Ra
Senyum Leon semakin lebar.“Bukan. Aku pria sewaanmu. Kristi hanya perantara," ralatnya dengan santai.Alena langsung mundur menjauh. Tanpa membuang waktu dia berbalik, mengambil ponsel dan menelepon Kristi. “Aku butuh penjelasan soal pria yang kau sewa,” tuntutnya begitu panggilannya diangkat. Di seberang sana, Kristi terdengar gugup.“Alena, dengarkan aku dulu. Aku benar-benar tidak punya pilihan lain.”“Tidak punya pilihan lain?” Alena melirik Leon yang masih berdiri santai tak jauh darinya. “Dari semua pria di kota ini, kenapa kau memilih dia?”“Semua pria di kota ini tahu kalau kau mantan istri Ravian. Tidak ada yang berani menyinggung keluarga Martin hanya demi bayaran yang tidak seberapa. Aku sudah menghubungi hampir semua pria yang bisa kutemukan.”Kristi buru-buru melanjutkan sebelum Alena menyela.“Begitu mereka tahu siapa yang akan mereka dampingi, semuanya menolak. Bahkan ada yang langsung mematikan telepon.”Alena menarik napas panjang. “Harusnya kau bilang lebih awal.”
Semua orang menoleh terkejut ke arah suara asing itu. Langkah yang jelas dan tegas membelah kerumunan hingga memunculkan sosok seorang pemuda dalam balutan stelan jas hitam yang rapi. Semua orang kembali berdesis, terutama tamu wanita. Mereka takjub pada tampilan dan kharisma pemuda itu. Postur ideal yang menarik, rahang yang tajam, serta senyum menawan. Aura tenangnya membuat suasana yang semula penuh ejekan mendadak berubah. Bisikan para wanita langsung terdengar. “Siapa dia? Ya, Tuhan, tampan sekali.” “Dia tamu keluarga Martin? Kenapa aku tidak pernah melihatnya?” "Dia masih sangat muda, mungkin hampir seumuran putraku." Tatapan kekaguman itu kian meluas. Alena menyipitkan mata. Entah kenapa, ada sesuatu yang terasa sangat dikenalnya dari pria itu. Semakin dekat, wajahnya semakin jelas. Lalu Alena mendadak terpaku. Leon? Jantungnya seperti berhenti sesaat. Alena mengerjapkan mata berkali-kali. Tidak salah lagi, pemuda yang membuat ruangan itu berdecak adalah Leon San
Malam itu, Alena berdandan lebih berani dari biasanya. Dia mengenakan gaun terbaik yang sanggup dia beli, tak lupa menata rambut dengan teliti. Malam ini, dia tidak boleh terlihat seperti perempuan yang kalah. Sebelum berangkat, Alena menghubungi Kristi. “Dimana pria sewaanmu itu? Pesta sudah hampir dimulai.” “Alena, kau berangkat duluan. Dia akan menyusul.” “Dia sudah tahu tempatnya? Bagaimana dia akan mengenaliku nanti?” “Dia akan menghubungimu setelah sampai.” Kening Alena berkerut. Nada suara Kristi terdengar aneh. Cepat dan sedikit panik. “Kristi, kau dimana?" "E... sudah dulu, ya. Tunggu saja dia mencarimu." "Tapi—” Tut. Telepon terputus. Alena menatap ponselnya dengan kesal. “Astaga, anak ini kenapa? Setidaknya beritahu aku siapa namanya,” keluh Alena pada layar ponsel. Jarum jam terus berdetak. Alena tak mau membuang waktu. Dengan langkah berat, dia meninggalkan rumah peninggalan orang tuanya. Satu-satunya yang tersisa dan luput dari keserakahan keluarga Martin.
"Izinkan suamimu menikah lagi, maka kau tak perlu diceraikan." Kalimat frontal ibu mertuanya membuat darah Alena berdesir. Semua mata di ruang keluarga itu serta merta tertancap padanya, menunggu keputusan. Alena Athala, wanita 29 tahun yang lima tahun lalu resmi menyandang status Nyonya Ravian Martin, kini hanya berdiri kaku di tengah ruangan, tanpa pembelaan dari siapapun. Mereka semua telah sepakat dan hanya menunggu jawaban Alena."Kenapa diam saja? Ibu mertuamu sedang bertanya," desak salah satu tente mewakili yang lain. "Diam saja seperti patung, tidak sopan!" seorang paman ikut menimpali dengan nada jengkel. “Ravian mau meresmikan hubungan dengan selingkuhannya, kenapa aku yang diminta berkorban?” tanya Alena tak mengerti.“Alena, jangan bersikap seolah kau dikorbankan.” Sang tante menyela dengan wajah dingin. "Betul. Ravian masih bersedia mempertahankanmu. Itu sudah bagus.” timpal sepupu Ravian. “Tidak semua wanita seberuntungmu. Padahal kau hanya ibu rumah tangga biasa







