Malam itu, Alena berdandan lebih berani dari biasanya. Dia mengenakan gaun terbaik yang sanggup dia beli, tak lupa menata rambut dengan teliti. Malam ini, dia tidak boleh terlihat seperti perempuan yang kalah. Sebelum berangkat, Alena menghubungi Kristi. “Dimana pria sewaanmu itu? Pesta sudah hampir dimulai.” “Alena, kau berangkat duluan. Dia akan menyusul.” “Dia sudah tahu tempatnya? Bagaimana dia akan mengenaliku nanti?” “Dia akan menghubungimu setelah sampai.” Kening Alena berkerut. Nada suara Kristi terdengar aneh. Cepat dan sedikit panik. “Kristi, kau dimana?" "E... sudah dulu, ya. Tunggu saja dia mencarimu." "Tapi—” Tut. Telepon terputus. Alena menatap ponselnya dengan kesal. “Astaga, anak ini kenapa? Setidaknya beritahu aku siapa namanya,” keluh Alena pada layar ponsel. Jarum jam terus berdetak. Alena tak mau membuang waktu. Dengan langkah berat, dia meninggalkan rumah peninggalan orang tuanya. Satu-satunya yang tersisa dan luput dari keserakahan keluarga Martin.
Terakhir Diperbarui : 2026-09-23 Baca selengkapnya