Share

Bab 3

Penulis: Sidney Fellice
last update Tanggal publikasi: 2026-09-23 16:04:11

Semua orang menoleh terkejut ke arah suara asing itu.

Langkah yang jelas dan tegas membelah kerumunan hingga memunculkan sosok seorang pemuda dalam balutan stelan jas hitam yang rapi.

Semua orang kembali berdesis, terutama tamu wanita. Mereka takjub pada tampilan dan kharisma pemuda itu.

Postur ideal yang menarik, rahang yang tajam, serta senyum menawan. Aura tenangnya membuat suasana yang semula penuh ejekan mendadak berubah.

Bisikan para wanita langsung terdengar.

“Siapa dia? Ya, Tuhan, tampan sekali.”

“Dia tamu keluarga Martin? Kenapa aku tidak pernah melihatnya?”

"Dia masih sangat muda, mungkin hampir seumuran putraku."

Tatapan kekaguman itu kian meluas.

Alena menyipitkan mata. Entah kenapa, ada sesuatu yang terasa sangat dikenalnya dari pria itu. Semakin dekat, wajahnya semakin jelas. Lalu Alena mendadak terpaku.

Leon?

Jantungnya seperti berhenti sesaat. Alena mengerjapkan mata berkali-kali.

Tidak salah lagi, pemuda yang membuat ruangan itu berdecak adalah Leon Sanders. Juniornya di kampus dulu.

Sudah lima tahun lebih dia tidak pernah melihat pria itu. Kenapa dia bisa muncul di sini?

Leon berhenti tiga langkah di depan Alena. Mata mereka bertemu.

Alena masih menatapnya seperti tidak percaya. Namun Leon tidak terlihat terkejut sedikit pun. Tidak ada tatapan bingung atau ekspresi kaget. Seakan pemuda itu memang sudah tahu mereka akan bertemu malam ini. Malam di saat dia dipermalukan.

Alena tertunduk.

Sejujurnya, Leon adalah pria yang pernah menjadi bagian penting dalam hidupnya. Itu sebelum mereka berpisah tanpa pernah benar-benar menyelesaikan apa pun. Saat itu, Alena tak mencarinya, karena Leon masih terlalu muda. Jarak usia mereka terpaut lima tahun

Pada akhirnya, Alena memutuskan menikahi Ravian lewat perjodohan keluarga. Karena pria itu terus mendesaknya.

Leon mengalihkan pandangan kepada Risya yang ikut terpaku.

“Aku tidak tahu begini cara keluarga Martin memperlakukan tamunya,” sindir pemuda itu tanpa ragu.

Wajah Risya langsung berubah bingung. “Kau siapa? Apa kau diundang?”

Leon melirik sekuriti yang masih memegang tangan Alena.

“Memangnya undangan sekarang penting? Punya undangan pun harus diusir dan berurusan dengan sekuriti.”

Risya tercekat. Wajahnya mulai memerah.

“Te-tentu saja bukan begitu. Anda salah paham. Ini hanya berlaku untuk tamu yang mencurigakan.”

Leon tersenyum tipis. “Menarik," gumamnya kemudian berbalik menghadap para tamu.

“Kalau orang yang pernah tinggal seatap dengan kalian saja bisa dicurigai habis-habisan. Lalu bagaimana dengan kami yang hanya datang sebagai teman atau rekan bisnis?”

Tatapan Leon kembali jatuh kepada Risya. Beberapa tamu mulai saling pandang. Membenarkan dalam hati.

Leon melanjutkan tanpa tergesa.

“Kalau begini cara keluarga Martin memperlakukan orang yang datang ke acara mereka, menurutku mereka tidak punya penghargaan terhadap orang lain.”

Risya mengepalkan tangan.

“Jaga ucapanmu. Jangan sembarangan menuduh keluarga kami!”

“Aku hanya mengatakan apa yang kulihat.” Leon tersenyum dingin. “Keluarga Martin bukan partner yang baik.”

Suasana langsung menegang. Bisikan kembali terdengar di antara para tamu. Risya jelas tidak terima dipermalukan di depan semua orang.

“Siapa kau sebenarnya? Berani sekali menghina keluargaku!”

"Kenapa? Kau juga mau mengusirku?"

"Kau-" Ponsel Risya tiba-tiba berdering nyaring. Dia terpaksa menghentikan ucapannya untuk mengangkat panggilan.

“Ya?”

Seseorang berbicara dari seberang. Risya melirik ke arah pintu ballroom. “Tunggu. Aku segera masuk.”

Dia menutup telepon dengan wajah tidak senang lalu memberi isyarat pada sekuriti untuk melepaskan Alena.

Sebelum pergi, Risya menunjuk Alena. “Urusan kita belum selesai.”

Alena tidak menjawab apapun. Hanya diam meremas pergelangan tangannya sambil mengamati Risya berbalik.

Gadis sombong itu pergi bersama teman-temannya. Kerumunan pun bubar perlahan.

Alena kembali menatap Leon. Dia tidak tahu apa yang lebih mengejutkan. Kemunculan pria itu atau kenyataan bahwa Leon datang membelanya.

Leon mendekat dan membuat Alena membeku.

Lima tahun berlalu. Wajah itu masih sama, hanya sedikit lebih dewasa. Alena tiba-tiba merasa lebih gugup daripada saat menghadapi seluruh hinaan tadi.

“Leon…” suara alena menguap.

Pria itu tersenyum tipis. “Lama tidak bertemu, Senior.”

"K-kau... sudah kembali?" bibir Alena bergetar pelan.

"Terkejut?" tanya Leon menyeringai. Di mata Alena, pemuda itu tak tampak senang dengan pertemuan ini. Ada sorot aneh dalam caranya mengamati Alena. Penuh selidik.

"Selama lima tahun ini, kupikir kau sudah hidup bahagia dengan keluarga kecilmu," ucap Leon tersenyum kecut. "Tak kusangka aku akan menemukanmu seperti ini... dibuang dan direndahkan. Sebenarnya apa yang terjadi?"

Alena menelan ludah yang mendadak terasa pahit.

“Bukan urusanmu,” katanya dingin. “Untuk apa kau ke sini? Apa kau kenal keluarga Martin?”

“Hanya urusan pekerjaan.”

Alena terdiam berpikir. 'Jadi benar, dia juga diundang.'

Alena tidak tahu kalau Leon dan keluarga Martin cukup dekat. Berarti dia harus menjauh darinya. Ravian dan keluarganya sudah cukup menjadi masalah. Alena tidak ingin menambah satu masalah baru lagi.

“Terima kasih sudah membantuku. Aku harus pergi.”

Leon tidak sempat menjawab.

Alena berbalik cepat, lalu berjongkok mengambil ponselnya yang masih tergeletak di antara ceceran sampah. Beberapa orang menatapnya dengan jijik, tetapi Alena tidak peduli dan segera berlari menuju toilet.

Dia tak menolah lagi.

Tidak ada suara yang memanggilnya. Tidak ada permintaan agar dia tetap tinggal. Mereka berpisah begitu saja. Sama seperti lima tahun lalu. Saat Leon menghilang dari hidupnya tanpa penjelasan, tanpa kabar, tanpa satu pesan pun.

Seakan lima bulan hubungan mereka itu tidak pernah berarti apa-apa. Hanya sebuah petualangan seru.

Alena masuk ke toilet dan menarik napas panjang.

“Ini bagus,” gumamnya pada diri sendiri. “Memang seharusnya begini. Kami tidak perlu kembali berhubungan.”

Setelah membersihkan ponselnya dengan tisu basah, dia lanjut mencuci gaunnya yang terkena sampah.

Sial. Noda di ujung gaun itu tak bisa sepenuhnya hilang. Bahu Alena terkulai. Dia menatap pantulan dirinya di cermin.

“Aku datang ke sini untuk Arion. Apapun masalahnya tak penting sekarang.”

Alena mengusap genangan air yang muncul di sudut matanya.

Setelah memastikan penampilannya cukup rapi, dia segera keluar. Pesta hampir dimulai. Namun langkahnya mendadak berhenti ketika melihat seseorang di lorong.

"Leon?" Alena mendekat dengan ragu.

Pria itu bersandar pada dinding dengan kedua tangan terlipat, seolah memang sengaja menunggunya.

Alena mengerutkan kening. “Kau belum pergi?”

Leon mendorong tubuhnya dari dinding dan berjalan mendekat. “Sudah selesai?”

Alena mengagguk singkat.

Pemuda itu mengamatinya dari atas ke bawah. “Masih ada yang harus kau perbaiki.”

“Apa lagi?” Alena ikut mengamati tubuhnya.

Leon tidak menjawab. Dia justru membungkuk, meraih ujung gaun Alena, lalu menariknya dengan sekali hentakan.

Srak!

Alena nyaris menjerit.

“Leon!”

Robekan kedua menyusul. Hampir separuh bagian bawah gaunnya terlepas dan jatuh tepat ke tempat sampah di belakang Leon.

Alena mundur sambil menatap gaunnya dengan ekspresi syok. “Apa-apaan kau ini? Kau tahu berapa harga gaun ini?”

Leon berdiri santai. “Gaunmu kotor. Sekarang tampilanmu lebih bagus tanpa ujung gaun yang penuh noda.”

“Lebih bagus?” ulang Alena tak percaya.

Pemuda itu mengendikkan bahu. "Lebih... menarik juga secara visual."

Alena menggeram menahan emosi. Dia menunduk lagi melihat gaunnya.

Tapi Leon memang benar. Dengan bagian bawah yang kotor, dia pasti akan menjadi bahan tertawaan begitu masuk ke ballroom.

Tetapi tetap saja! Demi membeli gaun mahal itu, dia harus menguras tabungannya.

“Kau seharusnya meminta izin dulu,” tudingnya kesal.

Leon hanya mengangkat tangan.

Alena mendengus lalu berbalik. Dia berjalan pergi sambil bersungut-sungut, sementara Leon mengikutinya dengan senyum tipis.

Alena mempercepat langkah saat menyadari Leon tetap mengikutinya.

“Kau tidak perlu mengantarku,” ucapnya menoleh sedikit.

“Aku tahu.”

“Lalu kenapa kau masih mengikutiku?”

“Karena kita menuju tempat yang sama.”

Alena tidak bisa membalas.

Sampai di depan pintu ballroom, dia akhirnya berhenti. Mengatur napas yang tiba-tiba memburu. Ini akan jadi momen pertama kalinya bertatap muka langsung dengan sang mantan suami.

“Kenapa berhenti?" bisikan Leon membuyarkan pikiran Alena.

"Kau masuk saja dulu.”

Tapi Leon justru berdiri di depannya. Pemuda itu mendekat dan meraih tangan Alena.

Alena tersentak dan langsung mundur. “Jaga sikapmu!”

Leon malah tersenyum.

“Aku hanya melakukan tugasku.”

Kening Alena makin terlipat.

Apa sekarang pemuda ini mau bernostalgia dengannya?

Leon memang baru saja menyelamatkannya. Namun itu tak berarti kekecewaan Alena padanya lima tahun lalu, seketika ikut lenyap.

"Aku tak butuh bantuanmu lagi. Menjauh saja dariku," ucap Alena tegas.

"Kau yakin?" Senyum pemuda itu makin lebar. Seperti mengejek. Itu sungguh membuat Alena makin kesal dan hampir meninggalkannya.

"Tunggu!" Leon mengambil ponselnya dan mengangkat layar di depan Alena.

Sebuah pesan terbuka berisi alamat ballroom, tanggal dan waktu pesta pertunangan malam ini.

Alena membaca sampai ke bagian bawah.

Ada nama pelanggan: Alena Athala.

Seketika, matanya langsung membulat lebar. Dia kembali membaca pesan itu untuk memastikan.

Benar.

Tidak salah lagi.

Perlahan bola mata Alena bergulir menatap Leon, kemudian menatap layar ponsel itu lagi.

“Kau…”

Leon menunggu dengan ekspresi penuh kepuasan.

“Kau pria sewaan Kristi itu?”

**

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dibuang Suami Dikejar Berondong    Bab 6

    “Aku baru bertemu anakku, tolong beri kami waktu lagi.” Alena memasang wajah memelas. Tapi pelayan itu tetap bereaksi datar. “Izin anda dari Tuan Ravian hanya sebentar.” Leon segera maju. “Sebentar atau lebih lama, apa bedanya? Mereka hanya bertemu. Kenapa kalian suka sekali mempersulit sesuatu?" Pelayan itu tersentak dan menunduk ragu. “Saya cuma—” “Kalau begitu tunjukkan perintah yang mengatakan berapa menit dia boleh memeluk anaknya.” Pelayan itu tidak bisa menjawab. Pengasuh Arion juga ikut bungkam. Leon menunjuk kursi di dekat mereka. “Biarkan mereka duduk. Tak ada yang mau membawanya kabur.” Kalimat tegas Leon mau tak mau membuat pelayan itu harus mundur. Alena menatap Leon dengan mata berkaca-kaca. “Terima kasih.” “Jangan berterima kasih dulu. Aku masih perlu dibayar untuk pekerjaan ini,” bisik Leon membantu Alena duduk memangku putranya. “Sayang, ini teman Mama. Namanya Paman Leon.” Arion langsung memandang Leon dari ujung kepala hingga kaki dengan pandangan curi

  • Dibuang Suami Dikejar Berondong    Bab 5

    "Apa maksudmu?"Nyonya Rosa segera tersenyum, berusaha meredam suasana sebelum perhatian para tamu semakin tertuju kepada Alena.“Anak muda, sepertinya kau salah memahami keadaan.”Nada suaranya terdengar lembut, tetapi sorot matanya memperingatkan.“Arion sedang bersama pengasuhnya. Anak kecil tentu tidak seharusnya dibawa ke tengah urusan orang dewasa. Lagipula, acara pertunangan Ravian dan Sera sebentar lagi dimulai. Kami tidak ingin masalah keluarga mengganggu kebahagiaan mereka.”Beberapa tamu mengangguk kecil. Nyonya Rosa tersenyum kepada mereka seolah semuanya baik-baik saja.“Silakan semua kembali menikmati jamuan. Acara utama akan segera dimulai,” seru wanita tua itu sebelum mendekati Ravian dan berbisik, “biarkan mereka bertemu.”Ravian langsung menoleh. “Tidak, Bu.”“Kau mau kita semua menjadi bahan pembicaraan?”Rahang Ravian mengeras. Nyonya Rosa menghela napas.“Ini bukan lagi soal kau dan Alena. Ini soal keluarga kita. Lihat sekelilingmu. Semua orang memperhatikan.”Ra

  • Dibuang Suami Dikejar Berondong    Bab 4

    Senyum Leon semakin lebar.“Bukan. Aku pria sewaanmu. Kristi hanya perantara," ralatnya dengan santai.Alena langsung mundur menjauh. Tanpa membuang waktu dia berbalik, mengambil ponsel dan menelepon Kristi. “Aku butuh penjelasan soal pria yang kau sewa,” tuntutnya begitu panggilannya diangkat. Di seberang sana, Kristi terdengar gugup.“Alena, dengarkan aku dulu. Aku benar-benar tidak punya pilihan lain.”“Tidak punya pilihan lain?” Alena melirik Leon yang masih berdiri santai tak jauh darinya. “Dari semua pria di kota ini, kenapa kau memilih dia?”“Semua pria di kota ini tahu kalau kau mantan istri Ravian. Tidak ada yang berani menyinggung keluarga Martin hanya demi bayaran yang tidak seberapa. Aku sudah menghubungi hampir semua pria yang bisa kutemukan.”Kristi buru-buru melanjutkan sebelum Alena menyela.“Begitu mereka tahu siapa yang akan mereka dampingi, semuanya menolak. Bahkan ada yang langsung mematikan telepon.”Alena menarik napas panjang. “Harusnya kau bilang lebih awal.”

  • Dibuang Suami Dikejar Berondong    Bab 3

    Semua orang menoleh terkejut ke arah suara asing itu. Langkah yang jelas dan tegas membelah kerumunan hingga memunculkan sosok seorang pemuda dalam balutan stelan jas hitam yang rapi. Semua orang kembali berdesis, terutama tamu wanita. Mereka takjub pada tampilan dan kharisma pemuda itu. Postur ideal yang menarik, rahang yang tajam, serta senyum menawan. Aura tenangnya membuat suasana yang semula penuh ejekan mendadak berubah. Bisikan para wanita langsung terdengar. “Siapa dia? Ya, Tuhan, tampan sekali.” “Dia tamu keluarga Martin? Kenapa aku tidak pernah melihatnya?” "Dia masih sangat muda, mungkin hampir seumuran putraku." Tatapan kekaguman itu kian meluas. Alena menyipitkan mata. Entah kenapa, ada sesuatu yang terasa sangat dikenalnya dari pria itu. Semakin dekat, wajahnya semakin jelas. Lalu Alena mendadak terpaku. Leon? Jantungnya seperti berhenti sesaat. Alena mengerjapkan mata berkali-kali. Tidak salah lagi, pemuda yang membuat ruangan itu berdecak adalah Leon San

  • Dibuang Suami Dikejar Berondong    Bab 2

    Malam itu, Alena berdandan lebih berani dari biasanya. Dia mengenakan gaun terbaik yang sanggup dia beli, tak lupa menata rambut dengan teliti. Malam ini, dia tidak boleh terlihat seperti perempuan yang kalah. Sebelum berangkat, Alena menghubungi Kristi. “Dimana pria sewaanmu itu? Pesta sudah hampir dimulai.” “Alena, kau berangkat duluan. Dia akan menyusul.” “Dia sudah tahu tempatnya? Bagaimana dia akan mengenaliku nanti?” “Dia akan menghubungimu setelah sampai.” Kening Alena berkerut. Nada suara Kristi terdengar aneh. Cepat dan sedikit panik. “Kristi, kau dimana?" "E... sudah dulu, ya. Tunggu saja dia mencarimu." "Tapi—” Tut. Telepon terputus. Alena menatap ponselnya dengan kesal. “Astaga, anak ini kenapa? Setidaknya beritahu aku siapa namanya,” keluh Alena pada layar ponsel. Jarum jam terus berdetak. Alena tak mau membuang waktu. Dengan langkah berat, dia meninggalkan rumah peninggalan orang tuanya. Satu-satunya yang tersisa dan luput dari keserakahan keluarga Martin.

  • Dibuang Suami Dikejar Berondong    Bab 1

    "Izinkan suamimu menikah lagi, maka kau tak perlu diceraikan." Kalimat frontal ibu mertuanya membuat darah Alena berdesir. Semua mata di ruang keluarga itu serta merta tertancap padanya, menunggu keputusan. Alena Athala, wanita 29 tahun yang lima tahun lalu resmi menyandang status Nyonya Ravian Martin, kini hanya berdiri kaku di tengah ruangan, tanpa pembelaan dari siapapun. Mereka semua telah sepakat dan hanya menunggu jawaban Alena."Kenapa diam saja? Ibu mertuamu sedang bertanya," desak salah satu tente mewakili yang lain. "Diam saja seperti patung, tidak sopan!" seorang paman ikut menimpali dengan nada jengkel. “Ravian mau meresmikan hubungan dengan selingkuhannya, kenapa aku yang diminta berkorban?” tanya Alena tak mengerti.“Alena, jangan bersikap seolah kau dikorbankan.” Sang tante menyela dengan wajah dingin. "Betul. Ravian masih bersedia mempertahankanmu. Itu sudah bagus.” timpal sepupu Ravian. “Tidak semua wanita seberuntungmu. Padahal kau hanya ibu rumah tangga biasa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status