MasukSenyum Leon semakin lebar.
“Bukan. Aku pria sewaanmu. Kristi hanya perantara," ralatnya dengan santai. Alena langsung mundur menjauh. Tanpa membuang waktu dia berbalik, mengambil ponsel dan menelepon Kristi. “Aku butuh penjelasan soal pria yang kau sewa,” tuntutnya begitu panggilannya diangkat. Di seberang sana, Kristi terdengar gugup. “Alena, dengarkan aku dulu. Aku benar-benar tidak punya pilihan lain.” “Tidak punya pilihan lain?” Alena melirik Leon yang masih berdiri santai tak jauh darinya. “Dari semua pria di kota ini, kenapa kau memilih dia?” “Semua pria di kota ini tahu kalau kau mantan istri Ravian. Tidak ada yang berani menyinggung keluarga Martin hanya demi bayaran yang tidak seberapa. Aku sudah menghubungi hampir semua pria yang bisa kutemukan.” Kristi buru-buru melanjutkan sebelum Alena menyela. “Begitu mereka tahu siapa yang akan mereka dampingi, semuanya menolak. Bahkan ada yang langsung mematikan telepon.” Alena menarik napas panjang. “Harusnya kau bilang lebih awal.” “Tidak ada waktu. Kalau kubilang, kau pasti menolak. Tapi kalau kau datang sendirian, mereka akan menganggapmu datang untuk memohon kembali pada Ravian. Aku tidak mau mereka punya kesempatan mempermalukanmu.” Alena terdiam. Kristi segera membujuknya. “Dia kan cuma teman kencan bayaran untuk malam ini. Kau tidak perlu menyukainya. Tidak perlu bersikap manis. Kau hanya perlu membuat mereka tak punya alasan untuk mempermalukanmu." Alena menekan keningnya. Suara Kristi terdengar seperti benar-benar memohon. “Alena, tolong. Bekerja samalah dengannya malam ini. Kalau kau membatalkannya sekarang, kau akan masuk sendirian dan mereka akan langsung menyerangmu. Jangan beri mereka kesempatan.” Alena belum menjawab ketika Kristi buru-buru berkata lagi. “Aku benar-benar minta maaf. Akan kujelaskan semuanya setelah pesta selesai.” Klik. Sambungan terputus. Alena menatap layar ponselnya dengan kening berkerut. “Bagaimana? Sudah jelas?” Suara Leon membuat Alena mendongak. Pemuda itu sudah kembali berdiri di depannya. “Uang muka sudah kuterima. Tidak bisa dikembalikan meski kau membatalkan orderannya.” Leon mengulurkan tangannya dengan percaya diri. “Lagipula, kau tidak punya pilihan lain selain aku.” Alena menatap tangan itu lama. Dia masih ingat bagaimana Leon meninggalkannya begitu saja sebelumnya. Pemuda itu sudah membuatnya kehilangan kepercayaaan. Namun sekarang, dia justru harus menggantungkan seluruh harapan malam ini padanya. Alena kemudian melirik ke dalam ballroom. Keraguan itu perlahan tergantikan oleh kenyataan bahwa di dalam sana ada keluarga Martin. Ada ratusan tamu yang akan ikut menertawakannya. Mereka akan menggunjingnya sebagai wanita yang sudah kehilangan semuanya hingga mengemis kembali. Akhirnya dengan helaan napas yang nyaris putus asa, Alena meraih tangan Leon. Pemuda itu tersenyum puas. “Pilihan yang bijaksana, Senior.” Alena meliriknya tajam. “Jangan membuatku menyesal.” Leon mengangguk mantap, kemudian menuntunnya masuk. Begitu mereka melewati pintu ballroom, puluhan pasang mata langsung tertuju kepada mereka. Alena mengenali hampir semuanya. Mereka adalah orang-orang yang selama lima tahun terakhir selalu hadir dalam pesta keluarga Martin. Para pengusaha, keluarga bangsawan kota, rekan bisnis, serta orang-orang yang dulu tersenyum hormat kepadanya karena dia adalah istri Ravian. Kini senyum itu menghilang. Sebagian bahkan tidak repot menyembunyikan senyum mengejek. Leon membungkuk mendekatkan wajahnya pada alena. “Aku tidak tahu kau sangat mencintai pria itu sampai menyerahkan ballroom keluargamu padanya.” Alena langsung berdecak. “Diam dan lakukan saja tugasmu, atau kau bisa pergi.” “Kau yakin bisa menghadapi semua ini sendiri kalau aku pergi?” “Tidak perlu bersikap seolah kau peduli.” “Aku hanya merasa kau tidak mungkin menyewa pria bayaran kalau tidak benar-benar membutuhkannya. Atau aku salah?” Langkah Alena berhenti. Dia menatap Leon dengan tajam. “Setelah ini selesai, aku akan menuliskan keluhan dan rating paling rendah untukmu,” ancamnya menarik tangan dari genggaman Leon, lalu berjalan meninggalkan pemuda itu. Leon tersenyum gemas. “Setidaknya beri aku kesempatan memperbaiki rating itu.” Alena pura-pura tidak mendengar. Namun beberapa langkah kemudian, matanya menemukan sosok yang selalu menghindarinya. Ravian Martin. Mantan suaminya itu sedang sibuk menyambut para tamu. Di sampingnya ada Sera. Si wanita selingkuhan dengan gaun champagne yang memeluk ketat tubuh moleknya. Wanita itu langsung menyadari kehadiran Alena. Gesturnya seketika berubah waspada. Sementara Ravian justru terdiam. Matanya menyapu Alena dari ujung kepala sampai kaki. Selama lima tahun, dia terbiasa melihat Alena mengenakan pakaian sederhana dan berdiri di sampingnya sebagai istri yang selalu menjaga citra keluarga Martin. Malam ini berbeda. Alena tidak lagi terlihat seperti wanita yang hidup di bawah bayang-bayangnya. Dia terlihat dewasa, berani dan jauh lebih menarik daripada yang Ravian ingat. Dia sungguh berubah dalam beberapa bulan. Sudut bibir Ravian tertarik naik, tak lagi berusaha menghindar. Dia justru hendak melangkah mendekat. Namun seorang pemuda muncul dari belakang Alena dan langsung merangkul pinggangnya. Niat Ravian pupus. Senyumnya juga lenyap. “Siapa pemuda itu?” gumamnya heran. Sebelum dia mendapat jawaban, Risya sudah menunjuk ke arah Alena. “Bu, wanita itu tadi membuat keributan di lobi.” Alena langsung menoleh ke arahnya. “Aku datang dengan damai. Justru kau dan teman-temanmu yang mencari ribut.” Risya hendak membalas, tetapi Nyonya Rosa segera menahannya. Dia kemudian memasang senyum sopan yang lembut. “Alena... sudah lama tidak bertemu. Kami sungguh senang kau datang malam ini.” Tatapannya bergeser sebentar ke Leon. Malam ini mereka berniat mempermalukan Alena dengan status jandanya. Tapi sepertinya itu semua tak akan terwujud lagi. “Ternyata kau juga membawa teman.” Nyonya Rosa sengaja berhenti sejenak sebelum menunjuk Sera. “Ini Sera. Tunangan Ravian.” Sera tersenyum tipis. Dia memang tak pernah bertemu langsung dengan Alena. Tapi dia sudah banyak mendengar tentang wanita itu. Terutama kejatuhannya. “Sera ini masih muda tapi punya karier cemerlang. Dia banyak membantu Ravian di perusahaan. Dia sangat berbeda denganmu yang selama ini hanya menjadi ibu rumah tangga.” Alena tersenyum. “Kami memang beda kelas.” Dagu Sera langsung terangkat angkuh. “Aku tidak berpikiran bebas seperti Nona Sera. Jadi, aku tidak akan pernah sudi menerima bekas milik orang lain,” lanjut Alena membuat senyum Sera membeku. Ravian ikut mengeraskan rahang. Tapi Alena tidak memberinya kesempatan untuk berbicara. “Bagaimanapun, selamat untuk pertunangan kalian,” ucap Alena tersenyum tulus. “Oh, ya... Aku tidak membawa kado. Tapi kurasa restuku untuk kalian berdua jauh lebih berharga daripada barang apa pun yang bisa kubeli.” Beberapa tamu di dekat mereka mulai menahan senyum. Sedangkan keluarga Martin justru terlihat semakin kesal. Risya yang tidak tahan langsung membalas, “Bilang saja kau tidak punya uang untuk membeli kado. Sekarang kau cuma gembel. Jangan sok bertingkah!” Leon langsung menyahut, “Setidaknya ballroom ini dulu pernah menjadi miliknya sebelum kalian ambil.” Suasana mendadak hening. Wajah Nyonya Rosa memerah karena marah. Sayangnya dia tidak bisa membalas di depan tamu-tamu penting. Ravian yang akhirnya maju. Dia berdehem, berusaha mengembalikan suasana. “Terima kasih sudah datang, Alena.” Namun matanya terus tertuju pada Leon. Ravian jelas ingin bertanya. Siapa pria itu? Mengapa Alena datang bersamanya? Dan sejak kapan Alena memiliki pria lain? Seingatnya, Alena tak pernah dekat dengan pria mana pun setelah mereka menikah. Tetapi Alena lebih dulu bertanya. “Di mana Arion?” Tatapan Ravian refleks beralih padanya. Risya langsung menjawab dengan kesal. “Untuk apa mencari Arion?” Alena mengepalkan tangan. “Aku mau menemuinya. Sebentar saja.” “Dia tidak di sini,” jawab Ravian datar. “Kalau begitu di mana?” “Alena.” Nyonya Rosa menyela. “Kalau kau sudah selesai, silakan menikmati jamuan lalu pergi. Kami sudah melihatmu.” “Kalau Arion ada di rumah, aku akan ke sana menjenguknya,” lanjut Alena. Sera langsung maju. “Untuk apa kau ke sana? Kau bukan lagi menantu keluarga Martin.” Alena menatapnya datar. “Aku hanya mau bertemu putraku. Kau tidak perlu takut aku kembali ke keluarga ini.” “Ini pesta pertunangan, Alena.” Nyonya Rosa mendesis. “Kenapa kau malah meributkan soal anak?” “Aku hanya mau bertemu Arion.” Suara Alena mulai bergetar. Dia maju selangkah. “Aku sudah kehilangan rumah ini. Aku sudah kehilangan hakku sebagai istri. Aku bahkan tidak meminta apa pun dari kalian malam ini.” Tatapannya berpindah kepada Ravian. “Aku hanya mau melihat anakku.” Ravian tetap diam. Alena semakin tidak percaya ketika tak seorang pun memberikan jawaban. “Ravian... Arion anakku.” “Bu, suruh saja sekuriti mengusir mereka keluar,” bisik Risya. Meski bisikan itu cukup keras untuk didengar orang lain. Leon tiba-tiba tertawa kecil. Kemudian suaranya meninggi. “Astaga, keluarga Martin memang sangat aneh.” Semua kepala sontak menoleh padanya. Leon menatap satu per satu anggota keluarga Martin. “Bukan hanya menghalangi tamu masuk pesta, mereka juga menghalangi seorang ibu bertemu anaknya.” Bisikan langsung menyebar di seluruh ballroom. Wajah keluarga Martin berubah panik. **“Aku baru bertemu anakku, tolong beri kami waktu lagi.” Alena memasang wajah memelas. Tapi pelayan itu tetap bereaksi datar. “Izin anda dari Tuan Ravian hanya sebentar.” Leon segera maju. “Sebentar atau lebih lama, apa bedanya? Mereka hanya bertemu. Kenapa kalian suka sekali mempersulit sesuatu?" Pelayan itu tersentak dan menunduk ragu. “Saya cuma—” “Kalau begitu tunjukkan perintah yang mengatakan berapa menit dia boleh memeluk anaknya.” Pelayan itu tidak bisa menjawab. Pengasuh Arion juga ikut bungkam. Leon menunjuk kursi di dekat mereka. “Biarkan mereka duduk. Tak ada yang mau membawanya kabur.” Kalimat tegas Leon mau tak mau membuat pelayan itu harus mundur. Alena menatap Leon dengan mata berkaca-kaca. “Terima kasih.” “Jangan berterima kasih dulu. Aku masih perlu dibayar untuk pekerjaan ini,” bisik Leon membantu Alena duduk memangku putranya. “Sayang, ini teman Mama. Namanya Paman Leon.” Arion langsung memandang Leon dari ujung kepala hingga kaki dengan pandangan curi
"Apa maksudmu?"Nyonya Rosa segera tersenyum, berusaha meredam suasana sebelum perhatian para tamu semakin tertuju kepada Alena.“Anak muda, sepertinya kau salah memahami keadaan.”Nada suaranya terdengar lembut, tetapi sorot matanya memperingatkan.“Arion sedang bersama pengasuhnya. Anak kecil tentu tidak seharusnya dibawa ke tengah urusan orang dewasa. Lagipula, acara pertunangan Ravian dan Sera sebentar lagi dimulai. Kami tidak ingin masalah keluarga mengganggu kebahagiaan mereka.”Beberapa tamu mengangguk kecil. Nyonya Rosa tersenyum kepada mereka seolah semuanya baik-baik saja.“Silakan semua kembali menikmati jamuan. Acara utama akan segera dimulai,” seru wanita tua itu sebelum mendekati Ravian dan berbisik, “biarkan mereka bertemu.”Ravian langsung menoleh. “Tidak, Bu.”“Kau mau kita semua menjadi bahan pembicaraan?”Rahang Ravian mengeras. Nyonya Rosa menghela napas.“Ini bukan lagi soal kau dan Alena. Ini soal keluarga kita. Lihat sekelilingmu. Semua orang memperhatikan.”Ra
Senyum Leon semakin lebar.“Bukan. Aku pria sewaanmu. Kristi hanya perantara," ralatnya dengan santai.Alena langsung mundur menjauh. Tanpa membuang waktu dia berbalik, mengambil ponsel dan menelepon Kristi. “Aku butuh penjelasan soal pria yang kau sewa,” tuntutnya begitu panggilannya diangkat. Di seberang sana, Kristi terdengar gugup.“Alena, dengarkan aku dulu. Aku benar-benar tidak punya pilihan lain.”“Tidak punya pilihan lain?” Alena melirik Leon yang masih berdiri santai tak jauh darinya. “Dari semua pria di kota ini, kenapa kau memilih dia?”“Semua pria di kota ini tahu kalau kau mantan istri Ravian. Tidak ada yang berani menyinggung keluarga Martin hanya demi bayaran yang tidak seberapa. Aku sudah menghubungi hampir semua pria yang bisa kutemukan.”Kristi buru-buru melanjutkan sebelum Alena menyela.“Begitu mereka tahu siapa yang akan mereka dampingi, semuanya menolak. Bahkan ada yang langsung mematikan telepon.”Alena menarik napas panjang. “Harusnya kau bilang lebih awal.”
Semua orang menoleh terkejut ke arah suara asing itu. Langkah yang jelas dan tegas membelah kerumunan hingga memunculkan sosok seorang pemuda dalam balutan stelan jas hitam yang rapi. Semua orang kembali berdesis, terutama tamu wanita. Mereka takjub pada tampilan dan kharisma pemuda itu. Postur ideal yang menarik, rahang yang tajam, serta senyum menawan. Aura tenangnya membuat suasana yang semula penuh ejekan mendadak berubah. Bisikan para wanita langsung terdengar. “Siapa dia? Ya, Tuhan, tampan sekali.” “Dia tamu keluarga Martin? Kenapa aku tidak pernah melihatnya?” "Dia masih sangat muda, mungkin hampir seumuran putraku." Tatapan kekaguman itu kian meluas. Alena menyipitkan mata. Entah kenapa, ada sesuatu yang terasa sangat dikenalnya dari pria itu. Semakin dekat, wajahnya semakin jelas. Lalu Alena mendadak terpaku. Leon? Jantungnya seperti berhenti sesaat. Alena mengerjapkan mata berkali-kali. Tidak salah lagi, pemuda yang membuat ruangan itu berdecak adalah Leon San
Malam itu, Alena berdandan lebih berani dari biasanya. Dia mengenakan gaun terbaik yang sanggup dia beli, tak lupa menata rambut dengan teliti. Malam ini, dia tidak boleh terlihat seperti perempuan yang kalah. Sebelum berangkat, Alena menghubungi Kristi. “Dimana pria sewaanmu itu? Pesta sudah hampir dimulai.” “Alena, kau berangkat duluan. Dia akan menyusul.” “Dia sudah tahu tempatnya? Bagaimana dia akan mengenaliku nanti?” “Dia akan menghubungimu setelah sampai.” Kening Alena berkerut. Nada suara Kristi terdengar aneh. Cepat dan sedikit panik. “Kristi, kau dimana?" "E... sudah dulu, ya. Tunggu saja dia mencarimu." "Tapi—” Tut. Telepon terputus. Alena menatap ponselnya dengan kesal. “Astaga, anak ini kenapa? Setidaknya beritahu aku siapa namanya,” keluh Alena pada layar ponsel. Jarum jam terus berdetak. Alena tak mau membuang waktu. Dengan langkah berat, dia meninggalkan rumah peninggalan orang tuanya. Satu-satunya yang tersisa dan luput dari keserakahan keluarga Martin.
"Izinkan suamimu menikah lagi, maka kau tak perlu diceraikan." Kalimat frontal ibu mertuanya membuat darah Alena berdesir. Semua mata di ruang keluarga itu serta merta tertancap padanya, menunggu keputusan. Alena Athala, wanita 29 tahun yang lima tahun lalu resmi menyandang status Nyonya Ravian Martin, kini hanya berdiri kaku di tengah ruangan, tanpa pembelaan dari siapapun. Mereka semua telah sepakat dan hanya menunggu jawaban Alena."Kenapa diam saja? Ibu mertuamu sedang bertanya," desak salah satu tente mewakili yang lain. "Diam saja seperti patung, tidak sopan!" seorang paman ikut menimpali dengan nada jengkel. “Ravian mau meresmikan hubungan dengan selingkuhannya, kenapa aku yang diminta berkorban?” tanya Alena tak mengerti.“Alena, jangan bersikap seolah kau dikorbankan.” Sang tante menyela dengan wajah dingin. "Betul. Ravian masih bersedia mempertahankanmu. Itu sudah bagus.” timpal sepupu Ravian. “Tidak semua wanita seberuntungmu. Padahal kau hanya ibu rumah tangga biasa







