LOGIN“Malik, akhirnya kamu pulang!” sapa Alya.Malik membeku, menatap heran ke arah Alya. Tampaknya Malik terkejut dengan keberadaan Alya di rumah ini.“Alya, kenapa kamu ada di sini?” tanya Malik. Dia melirik ke arah sofa. Bisa kutebak, pasti dia mencari Dion.Alya menyeka air matanya, ternyata dia menangis.“Tadi tidak sengaja aku bertemu Arin di cafe. Jadi … aku ikut dia ke sini. Ada yang ingin aku bicarakan sama kamu, Malik,” jawab Alya. Dia meraih tangan Malik.Dan … ya, wajah Malik tidak bisa berbohong. Lengkungan senyum terukir di wajah lelaki itu. Dia bahagia ada Alya di sini.“Apa kabar kamu sekarang?” tanya Alya, dia meneliti keadaan Malik.“Baik, aku baik-baik saja,” jawab Malik.Bahkan keberadaanku di rumah ini hanya seperti patung yang tiada artinya. Mereka hanya fokus pada diri mereka.“Ehem … Alya, suamiku baru pulang. Saya akan mengurusnya, dia pasti capek dan lapar,” timpalku.Aku mendekati Malik, kurebut tangan Malik dari tangan Alya. Kugandeng suamiku menuju ruang makan.
“Mau ngapain?” tanyaku lirih.“Aku mau minta maaf sama Malik, Rin. Bagaimana pun aku yang salah. Aku tidak mendengarkan ucapan Malik, dan … lihatlah! Sekarang semuanya terbukti, Dion tidak sebaik aku kira,” jawab Alya.Aku terdiam membeku, entah apa yang harus aku katakan pada Alya. Jujur aku tidak ingin Alya datang ke rumah Malik. Aku tidak rela, aku tidak ingin perasaan Malik kembali menggebu saat melihat Alya.“Arin, kenapa diam? Apa aku tidak boleh datang ke rumah Malik?” tanya Alya. Dia berhasil membuyarkan lamunanku.Aku menggelengkan kepala cepat. Menyunggingkan senyuman yang terpaksa.“Tidak, bukan begitu. Bo-boleh … boleh, kok!” jawabku.Walaupun aku ragu, akhirnya aku meminta pak Murad untuk segera melajukan mobilnya menuju arah pulang.Sepanjang perjalanan aku hanya diam dengan beribu lamunan yang berputar di kepalaku. Ketakutan, kekhawatiran, kegelisahan, semua bercampur baur menjadi satu.Tidak ada sepatah kata pun ucapan yang keluar dari mulutku. Aku tidak ada semangat u
“Kurang ajar!” pekik seseorang yang ada di belakangku.Penasaran, aku menoleh ke arah belakangku. Aku terhenyak, melihat seseorang berdiri dengan bahu berguncang hebat menahan amarah.“Alya,” gumamku.Alya melirik sekilas ke arahku. Tatapannya kembali lurus pada pemandangan yang sebelumnya membuatku tidak percaya.Di sana, tepat di meja seberang mejaku. Mas Dion duduk bermesraan dengan seorang wanita yang masih terlihat muda. Bukan ibunya. Namun, wanita itu terlihat asing.“Sabar, Alya!” ucapku lirih.Alya menggeleng pelan, aku paham pasti dia sakit hati melihat tunangannya bersama wanita lain. Lelaki yang ia banggakan, yang membuatnya rela meninggalkan lelaki yang mencintainya sepenuh hati, Malik. Namun, memgkhianati dengan begitu teganya.Alya berjalan cepat mendekati mereka berdua.Brak!Suasana ramai di cafe itu tiba-tiba berubah hening dan berubah menjadi suara bisikan-bisikan lembut di antara semua pengunjung. Perhatian para pengunjung seketika terarah pada Alya, mas Dion dan wa
“Apa yang kamu lakukan?” Tiba-tiba Malik membuka mata.Buru-buru aku bangkit dan menjauh dari Malik. Lelaki itu pun merubah posisinya menjadi duduk. Menatapku dengan heran.“Ah, ehem! Aku … tadi melihat ada kecoak bertengger di pipi kamu–”“Kecoak?” potongnya.Aku mengangguk dengan cepat. Berharap semoga Malik percaya padaku. Seandainya dia tahu aku mau melakukan sesuatu padanya, matilah aku. Mau ditaruh di mana mukaku?Aku bergerak salah tingkah. Bahkan aku tidak tahu wajahku seperti apa sekarang. Apakah sudah menyerupai kepiting rebus? Yang jelas aku sangat terkejut dan malu.“Kenapa bisa ada kecoak di wajahku?” tanya Malik.“Ya … mana aku tahu. Mungkin kamu belum mandi, jadi kecoak penasaran mau cium kamu,” jawabku asal.Malik mengernyitkan dahi. Mungkin merasa aneh dengan jawabanku yang asal bunyi ini. “Hei, aku tidak jorok, ya! Tapi … kenapa kamu ke sini? Tidak mungkin niat kamu ke sini hanya untuk mengusir kecoak di wajahku. Em … kenapa pakaian kamu ….” Malik tidak meneruskan u
(POV Arin)Semenjak lantai rumah ibu dibongkar, dengan cepat aku membeli penggantinya, dan … hari ini, hari kedua pemasangan telah selesai. Bahkan barang-barang ibu pun aku menggantinya dengan yang baru.“Bu, Yah, aku harus pulang. Tidak enak lama-lama ninggalin Malik,” pamitku.“Ya sudah, hati-hati di jalan. Salam sama nak Malik,” sahut ibu.“Jangan lupa, kamu harus terus berusaha untuk cepat hamil. Ayah ingin sekali menimbang cucu dari kalian,” timpal ayah.Aku hanya mengangguk, aku bingung mesti menjawab apa. Bahkan sampai saat ini, jangankan berusaha hamil, kamar kami saja masih terpisah.“Aku pamit, Bu, Yah! Jaga kesehatan kalian!”Aku pun menghampiri mobilku, di sana pak Murad sedang menunggu sambil sesekali menghisap rokok.“Jalan, Pak!” seruku.Dalam perjalanan pulang ke rumah Malik, aku terus memikirkan perkataan ayah tadi. Mereka sangat berharap akan kehadiran seorang cucu dalam pernikahan kami. Namun, sampai saat ini Malik belum bisa menerimaku sebagai istrinya.***Waktu t
Aku tertidur setelah mengumpulkan semua itu. Rencananya aku akan pergi setelah mas Raka pergi bekerja, supaya lelaki itu itu tidak menaruh curiga padaku.Keesokan paginya seperti biasa, aku melakukan pekerjaan rumah. Akting yang natural, walau sebenarnya aku sudah muak sekali melakukan hal ini.“Sialan! Ke mana barang-barang berhargaku?!”Deg!Mas Raka begitu teliti, aku telah salah menduga. Buru-buru aku menyembunyikan tasku yang aku taruh di dapur ke belakang rumah. Aku taruh tasku ini di balik tumpukan sampah yang telah berbau busuk.“Ada apa sih, pagi-pagi sudah teriak-teriak nggak jelas?” tanyaku. Aku menghampiri mas Raka di dalam kamar.Lemari pakaian mas Raka terbuka lebar. Beberapa baju telah berserakan di lantai. Bahkan lemariku terbuka lebar. Hanya saja aku menyisakan pakaian tidak layakku di dalam sana. Aku hanya mengantongi beberapa baju saja.Mas Raka membalikkan badan menghadapku. Berkacak pinggang dengan reaksi wajah memperlihatkan kemarahan.“Semua tabunganku raib tida







