Masuk"Selamat datang kembali di kantor tercinta bestie." Seorang wanita segera menyambut kedatangan Anindya pagi itu di kantor yang bergerak di bidang perencanaan pembangunan rumah, design eksterior dan interior juga konsultasi tentang bangunan. Wanita itu tersenyum lebar sambil merentangkan kedua tangannya menghampiri Anindya bersiap untuk memeluknya.
"Kangen banget!" Ucapnya saat memeluk Anindya dengan erat. "Duuhh...lebay banget sih. Padahal baru minggu lalu kamu nemenin aku nyari rumah kontrakan. Terus selama beberapa bulan ini juga nemenin aku bolak balik ke pengadilan agama," kekeh Anindya yang menyambut pelukan hangat sahabatnya itu. Wanita itu ikut terkekeh sambil menutup bibirnya dengan telapak tangan. "Maksudnya aku kangen sekantor lagi sama kamu. Untungnya si bos baik dan masih mau menerima kamu di kantor ini." "Ini kan berkat kamu juga, bestie." Anindya menowel hidung mancung wanita itu. Wanita itu tertawa ringan. Ia lalu mengapit lengan Anindya dan mengajaknya masuk ke dalam ruang kerja. "Ayokk....kuantar ke meja kerjamu!" Ucapnya dengan semangat. Anindya hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah sahabatnya. Ia menurut dan mengikuti wanita itu ke meja kerjanya. "Taraa! Ini meja kerjamu." Wanita itu menunjukkan meja kosong pada Anindya. "Meja ini belum terisi Nin, sejak kamu menikah dan resign 5 tahun lalu." Anindya mengelus meja itu pelan. Ingatannya terlempar ke 5 tahun silam saat ia masih bekerja di perusahaan itu. Di yang baru lulus kuliah langsung diterima bekerja di perusahaan design dan perencanaan bangunan seperti impiannya. Ia seorang arsitek yang pandai menggambar denah, mendesign suatu bangunan agar tampak indah terutama hunian. Ia ingin suatu saat bisa mengerjakan sebuah proyek perumahan mewah lengkap dengan design interiornya. Namun, ia harus mengubur mimpinya itu dalam-dalam sebelum terwujud saat dirinya dilamar lalu menikah. Adrian sang mantan suami tak memperbolehkannya bekerja. Lelaki itu ingin agar Anindya fokus untuk mengurus rumah dan ibunya. Jadilah, dia menjadi ibu rumah tangga seutuhnya. 5 tahun ia mengabdikan seluruh hidupnya dan mengorbankan mimpinya untuk keluarga Adrian, nyatanya yang diterima Anindya adalah sebuah penghianatan. Belum lagi ibu mertua yang dari awal tak menyukainya meski ia sudah mati-matian berusaha mengambil hati sang mertua. Ibu dari mantan suaminya itu semakin membencinya karena selama pernikahan, dia belum bisa memberikan keturunan. Anindya sudah memeriksakan diri ke dokter kandungan dan semua baik-baik saja. Tak ada yang salah dengan dirinya. Begitu pun dengan mantan suami. Mungkin semua hanya menunggu waktu saja, tapi sepertinya mereka tidak sabar untuk menunggu lebih lama. "Kenapa Nin? Teringat masa lalu ya?" Kalila, sahabatnya menepuk pundak Anindya pelan. Anindya menoleh dan menyeka matanya yang sedikit basah. Ia tersenyum tipis dan berusaha baik-baik saja, walau sebenarnya hatinya masih sangat sakit jika mengingat masa lalunya. "Aku terharu Lila. Pada akhirnya aku kembali menghuni meja ini," jawab Anindya seraya tersenyum. "Sudah ya Nindy. Kamu jangan sedih-sedih lagi setelah ini. Aku tahu semua ini berat untuk dijalani. Aku mengerti jika kamu belum bisa melupakan Adrian, tapi hidup harus terus berjalan, honey. Jangan terjebak terlalu lama pada masa lalu. Terlebih pada penghianatan yang dilakukan oleh Adrian dan si ulat gatal, Viona itu." Kalila sangat geram saat menyebut nama Viona. Ia tahu siapa Viona. Dia adalah sahabat Anindya sejak jaman kuliah dulu. Mereka berteman bajk karena tinggal dalam satu kamar kos yang sama. Bertahun-tahun menjalin persahabatan, nyatanya tak membuat hubungan mereka langgeng. Bahkan Viona secara terang-terangan iri pada hidup Anindya yang mendapat suami tampan juga kaya raya. Itu salah satu alasan kenapa dia berhianat dan merebut Adrian dari tangan Anindya. "Mereka tak pantas diratapi ataupun ditangisi, Nin. Air matamu itu lebih berharga ketimbang nangisin dua manusia yang busuk hatinya. Kamu harus kuat dan menunjukkan pada mereka kalo kamu bisa lebih bahagia setelah ini," tutur Kalila memberikan semangat pada sahabatnya itu agar tidak terus-terusan meratapi nasibnya yang malang. Anindya kembali mengulas senyum sambil manggut-manggut. "Iya Lil. Aku akan berusaha hidup lebih bahagia setelah ini. Terima kasih ya kamu selalu ada buat nyemangatin kalo aku lagi down kayak gini." "Pasti dong. Aku cuma mau lihat kamu bahagia terus, jadi jangan sedih-sedih lagi. Kita happy-happy aja," balas Kalila seraya merangkul pundak Anindya. "Sekarang aku bantuin kamu beresin meja kerja, setelah itu segera menghadap bos. Udah ditungguin tuh, dia pesen kalo kamu datang hari ini suruh langsung ke ruangannya," ujarnya lagi. Anindya menganggukkan kepalanya sekali lagi. "Makasih ya Lila." "Iya sama-sama bestie." Kalila dengan semangat membantu Anindya membereskan meja untuk tempat kerjanya di kantor itu. Hari itu ia merasa sangat bahagia karena sahabatnya kembali bekerja menjadi satu tim dengan dirinya. Dia tak sabar mengulang masa indah dulu sewaktu masih bersama bekerja di kantor itu dengan Anindya. Perasaan yang sama juga dirasakan oleh Anindya. Ia begitu bersemangat meski hatinya masih sakit. Setidaknya dengan bekerja dan bertemu dengan orang-orang baru bisa membantunya menyembuhkan luka hatinya. ***** (Habis 15 juta perbaikan motornya. Kamu jadi tranfer uang sebagai ganti rugi kan?) Sebuah pesan dari nomer tak dikenal masuk ke ponsel Anindya. Wanita itu mengangkat ponselnya setelah mendengar bunyi notifikasi pesan masuk. Ia mengernyitkan dahi membaca pesan singkat itu. "Oh...astaga." Anindya menepuk dahinya sendiri pelan. "Kok aku bisa lupa sih sama cowok itu. Padahal kan udah janji mau gantiin uang perbaikan motornya." Ia memelototkan mata melihat nominal biaya yang harus ia ganti. WHAT?? 15 juta untuk biaya perbaikan motor? Apa nggak salah tuh? Perasaan motornya kemarin cuma lecet-lecet doang. Apa dia mau menipu dan memerasku? pikir Anindya yang merasa tak masuk akal dengan nominal yang harus ia ganti. Uang tabungan miliknya yang tak seberapa sudah menipis, menyisakan saldo yang tak lebih dari 10 juta. Ia menghabiskan uang tabungannya untuk membayar pengacara agar bisa secepatnya lepas dari Adrian. Ia terpaksa membayar mahal karena Adrian dengan sengaja mempersulit proses perceraian mereka. Lelaki itu benar-benar tak ingin berpisah, tapi Anindya bersikeras. Wanita itu lebih baik hidup menjanda daripada harus hidup berdampingan dengan pelakor tak tahu diri. Bisa-bisa si pelakor itu menindasnya terus. Anindya tak mau hal itu terjadi. Selain itu, ia juga membayar penuh rumah kontrakan selama 1 tahun. Maka yang tersisa di tabungannya hanyalah uang untuk hidup sehari-hari sebelum ia menerima gaji bulan depan. Ia pikir biaya perbaikan motor itu hanya berkisar ratusan ribu saja, jadi waktu itu Anindya tanpa pikir panjang menawarkan mengganti biaya perbaikan sebagai bentuk tanggung jawabnya karena telah menabrak pemuda itu. Tapi, siapa yang bakal menyangka jika biaya perbaikan motor tersebut ternyata sangat mahal melebihi perkiraannya. (Iya aku akan ganti rugi kok. Tapi kalo misal ganti ruginya nunggu aku gajian bulan depan bisa nggak kira-kira?) Anindya mengetik balasan untuk si pemuda itu sambil berharap-harap cemas. Ia berharap pemuda itu akan setuju memberinya tenggang waktu untuk mengganti biaya perbaikan motor milik pemuda itu. (Gini aja deh, sebagai kopensasi karena kamu minta tenggang waktu, gimana kalo kamu bantuin aku ngerjain tugas kuliah? Kalo kamu bersedia, aku juga bakal sabar nunggu sampai kamu gajian) Anindya membaca balasan dari pemuda itu. (Oke, aku setuju) (Deal ya?) (Deal) (Oke. Kalo gitu nanti sore kamu temuin aku di resto cepat saji yang ada di Mall. Nanti aku kirimi kamu alamatnya. Kebetulan hari ini lagi ada tugas dari dosen) (Oke. Siap. Setelah pulang kerja) (Yup. Aku tunggu) Anindya tak membalas lagi. Ia menghela napas panjang. Sudah lama ia tak berkutat pada tugas-tugas kuliah, mana dia juga belum tahu si pemuda itu kuliah jurusan apa. Bagaimana jika pemuda itu mahasiswa kedokteran atau bidang ilmiah tertentu, dia mana paham kalau soal itu. Sedangkan dirinya sendiri lulusan arsitektur. "Ehm...nggak pa-pa lah lihat saja nanti dia kuliah jurusan apa, asal dia nggak nagih untuk bayar sekarang aja," gumam Anindya yang mengingat sisa uang tabungannya hanya cukup untuk kebutuhan hidup sebulan dan membeli bahan bakar mobilnya. "Nin!" Kalila menepuk bahunya membuat wanita itu terlonjak kaget. Anindya segera menoleh ke belakang. "Astaga Lila! Ngagetin aja sih," cetusnya seraya mengelus dada karena kaget. Kalila hanya cengengesan melihat reaksi temannya itu. "Sorry...sorry Nin. Aku nggak niat buat ngagetin kamu kok." "Iya nggak pa-pa Lil. Santai aja. Ehm ...ada apa?" "Nanti sore jangan langsung pulang dulu ya, kita jalan kemana gitu, nongki-nongki syantik. Kan kangen juga hang out sama kamu," ajak Kalila. "Sorry ya kalo untuk sore ini aku nggak bisa. Udah ada janji soalnya," jawab Anindya dengan wajah nggak enak hati. Sebenarnya ia juga kangen jalan bareng Kalila. Hal yang jarang dilakukannya dulu karena Kalila sibuk dengan pekerjaannya, meski ia memiliki banyak waktu saat masih menjadi seorang istri. "Maaf ya. Ehm...gimana kalo besok aja?" "Hayo lho ada janji sama siapa??" Goda Kalila membuat kedua pipi Anidya sedikit memerah. "Jangan-jangan janjian sama cowok baru?! Ciee...cieee..." Anindya tersipu. "Apaan sih?! Nggak kok. Bukan kayak gitu. Emang aku masih ada urusan yang mesti aku selesain." Kalila tergelak melihat sahabatnya salah tingkah. "Iya...iya...nongkinya besok aja. Aku yang traktir deh." Kalila manggut-manggut sambil terus senyum-senyum. "Makasih atas pengertiannya Kalila. Makin sayang aja sama sahabatku satu ini." Anindya mencubit pipi Kalila gemas. "Tapi, kalo kamu udah punya kenalan cowok baru, jangan lupa kenalin ke aku ya." Bisik Kalila seraya tertawa. "Lila!!" Anindya cemberut sampai bibirnya mengerucut. Sementara itu, Kalila tertawa terbahak-bahak berhasil menggoda sahabat baiknya itu. *****Matahari mulai menyembul di pagi itu. Semburat sinarnya yang keemasan mulai masuk ke celah-celah jendela di setiap kamar. Anindya sudah terbangun dari tidurnya. Ia membuka jendela kamar dan membiarkan sinar matahari hangat masuk ke dalamnya. Langit tampak begitu cerah pagi ini walau semalam hujan deras turun tak berhenti, menyisakan tetesan embun yang membuat balkon kamar dan jendela sedikit basah. "Sayang, ayo bangun!" Anindya menarik lengan Zevan mencoba membangunkan lelaki itu. "Katanya mau ajak Zio jalan-jalan pagi ini. Kan kebetulan hari minggu.""Jam berapa sekarang?" Tanya Zevan sambil menngucek matanya dan menggeliat sebentar. "Udah jam 5 tuh," jawab Anindya. "Buruan bangun, trus bersih-bersih lalu sholat. Aku mau mandiin Zio dulu pake air hangat.""Sepagi ini mandiin bocah?" Mata Zevan membelalak.Anindya menangangguk. "Lha emang kenapa? Lha dianya aja udah bangun dari jam 4 subuh tadi sayang."Zevan langsung bergerak dan beranjak dari tempat tidurnya. Ia mendekati ranjang
"Apa kamu curiga kalo sebenarnya yang mandul itu mantan kamu?" Tanya Zevan ketika mereka sudah pulang dari berbelanja dan sekarang berada di dalam kamar. Anindya terdiam tak langsung menjawab pertanyaan dari Zevan. Ia menatap lekat lelaki yang duduk di sampingnya. "Entahlah, aku juga nggak bisa memastikan soal itu, karena memang dari dulu dia nggak mau ikut periksa ke dokter," jawab Anindya akhirnya. "Hanya saja saat ini aku hamil...." "Dan kamu baru sadar bahwa sebenarnya kesalahan itu bukan ada padamu?" Potong Zevan cepat. Anindya menganggukkan kepalanya pelan. "Bolehkan bila dikatakan seperti itu? Nyatanya aku langsung hamil satu bulan setelah menikah denganmu." "Bisa jadi memang mantan suamimu yang mandul, tapi dia nggak mau ngaku aja," tukas Zevan manggut-manggut. "Eng....ada sesuatu yang mau aku tunjukkan sama kamu." Anindya mengambil ponsel yang berada di dalam tas. "Apa itu?" Zevan mulai penasaran. "Coba kamu lihat ini." Anindya menyodorkan ponsel dan memp
Sore itu Zevan mengajak Anindya berbelanja kebutuhan bayi dan juga persiapan lahiran nanti. Sebelum ia di wisuda minggu depan, sengaja Zevan mengajak istrinya berbelanja sekaligus refreshing. "Bagaimana kerjaan di kantor?" Tanya Anindya saat mereka jalan-jalan sambil bergandengan tangan di dalam Mall. "Hem....lumayan sih. Kata Kak Mahen, aku cepat belajarnya," jawab Zevan sambil tersenyum. "Pokoknya demi kamu, demi calon anak kita, aku akan berusaha semaksimal mungkin." Anindya tersenyum sekaligus manggut-manggut. "Iya...iya percaya deh." "Aku juga maunya kamu di rumah aja sih, ngurus anak-anak kita dan aku. Kasihan juga kalo nantinya kita punya banyak anak, terus ditinggal orang tuanya kerja. Di rumah cuma sama baby sitter aja," ujar Zevan. "Kamu maunya aku jadi ibu rumah tangga begitu?" Tanya Anindya. "Sebenernya sih iya, tapi kan sekarang kamu jadi pemimpin di perusahaan punya Mama juga. Kamu diberi tanggungjawab besar untuk mengelola dan membesarkan perusahaan itu. J
Selama berbulan-bulan, Anindya masih menyimpan video rekaman itu. Semula ia tak peduli karena tak ingin ikut campur dalam hidup Adrian lagi. Jika benar bayi laki-laki yang dilahirkan oleh Viona beberapa bulan lalu bukan anak dari Adrian, melainkan hasil hubungan gelap Viona dengan lelaki lain, maka kesuburan Adrian perlu dipertanyakan. Selama lima tahun pernikahan bersama dengan Adrian, dia selalu dipojokkan dan disalahkan karena tidak kunjung hamil, padahal dokter sudah menyatakan bahwa rahimnya baik-baik saja tak ada masalah. Justru, disaat seperti itu Adrian selalu menolak jika Anindya mengajaknya periksa ke dokter kandungan dengan berbagai macam alasan hingga membuat Anindya jengah. Hari ini ia dipertemukan kembali dengan pemuda yang beberapa bulan lalu tak sengaja bertemu di sebuah resto di Mall. Pemuda yang ia duga sebagai selingkuhan Viona. Lelaki ini datang ke kantornya dengan maksud berkonsultasi dan meminta gambar desain untuk rumah yang rencananya akan ia bangun. Ia da
"Nggak mungkin. Ini nggak mungkin. Bagaimana bisa dia hamil? Dia kan mandul." Bu Sarita terlihat senewen setelah mengetahui jika Anindya baru saja periksa kehamilan. Ia merasa semuanya aneh dan tak masuk akal. Bagaimana bisa wanita yang sudah pernah menjadi menantu di rumahnya selama 5 tahun, yang tak pernah menunjukkan tanda-tanda kehamilan, begitu bercerai dan menjadi istri pria lain, tiba-tiba saja hamil. Ini sungguh diluar nalarnya. "Paling mereka lagi bersandiwara sengaja mau manasin kita. Mereka pasti malu karena ternyata mantan istrimu itu betulan mandul dan tak bisa memiliki keturunan. Iya, pasti seperti itu," terka Bu Sarita masih berlanjut. Adrian hanya menghela napas panjang seraya mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. Terlihat dari wajahnya seperti tak percaya jika Anindya benar-benar bisa hamil. Dulu ia hampir putus asa karena Anindya tak kunjung, lalu sekarang baru juga mereka sebulan menikah, Anindya langsung hamil. "Adrian! Adrian! Heh, diajakin ngomong
Dengan tangan gemetar, Anindya menerima hasil tes dari dokter kandungan. Setelah disarankan oleh dokter umum untuk pindah poli dan meminta untuk melakukan pemeriksaan kembali, Anindya kini dibuat ternganga oleh hasil tes yang baru saja dilakukannya tersebut. "Jadi, ini artinya saya beneran hamil dok?" Tanya Anindya setengah tak percaya setelah dokter memberitahunya soal hasil tes kehamilah yang dilakukannya. Dokter kandungan itu mengangguk sambil tersenyum lebar. "Iya betul. Anda hamil Bu Anindya. Selamat ya." "Tapi dok, sepertinya nggak mungkin saya hamil," ujar Anindya masih tak percaya dengan kertas hasil pemeriksaan itu. "Kenapa Bu? Apakah yang menyebabkan Anda tidak percaya dengan hasil testnya? Apakah sebelumnya ada masalah dengan alat reproduksi atau rahim Anda?" Selidik dokter kandungan itu. "Saya kurang yakin dok," ucap Anindya seraya melirik Zevan yang duduk di sampingnya juga ke arah Nyonya Martha yang hanya diam mendengarkan keterangan dokter kandungan. "Dulu







