Share

Bagian 3

Penulis: Iva puji J
last update Terakhir Diperbarui: 2025-07-05 19:56:44

Pemuda yang motornya ditabrak oleh Anindya beberapa waktu lalu itu melambaikan tangan kearah Anindya yang tengah celingukan mencari keberadaannya di dalam Mall lantai 2.

Anindya segera berjalan menghampiri dimana pemuda itu duduk. Lelaki itu menungu Anindya di depan foodcourt yang berjejer rapi.

"Maaf ya baru datang. Soalnya tadi aku ada klien dadakan," ucap Anindya seraya menggeser sebuah kursi untuknya duduk. "Udah lama nunggunya?"

Pemuda itu tak segera menjawab, tapi matanya bergerak mengarah ke dua gelas minuman yang ada diatas meja. Satu gelas sudah kosong dan satu lagi masih sisa separo isinya.

"Tuh, liat aja sendiri hampir habis 2 gelas minuman. Sampai kembung perutku."

"Maaf....maaf...." ucap Anindya dengan wajah bersalah. Ia bukanlah tipe orang yang tidak menepati janji, bahkan ia selalu tepat waktu jika sudah ada janji bertemu seseorang. Tapi, memang saat dirinya hendak pulang, si bos menyuruhnya menemui seorang klien yang ingin berkonsultasi tentang pembangunan rumah. Klien tersebut ingin dibuatkan desain denah rumah lengkap dengan interior dan eksteriornya. Si bos menyerahkan proyek ini kepada Anindya dan Kalila. Jadilah, Anindya sedikit terlambat menemui pemuda itu.

"Oh iya...maaf aku belum tahu siapa namamu..."

"Zevano Alaric Kalandra," potongnya cepat. "Panggil aja Zevan."

Anindya manggut-manggut. "Aku Anindya Prameswari. Kamu bisa memanggilku Nindy."

"Oh ya satu lagi yang ingin aku tanyakan padamu," ujar Anindya yang masih penasaran kenapa biaya perbaikan motor pemuda itu begitu mahal hingga mencapai angka belasan juta.

"Soal apa?" Tanyanya datar.

"Soal biaya perbaikan motor kamu," jawab Anindya. "Apa memang betul biayanya segitu ya?!"

"Memang kenapa?" Zevan mengernyitkan keningnya.

"Maksudku kenapa biayanya mahal sekali, padahal kan cuma lecet doang di beberapa bagian. Aku rasa nggak ada yang parah. Atau jangan-jangan kamu sengaja menaikkan biaya perbaikan hingga berkali lipat untuk memerasku? Kamu mau nipu aku?" tuduh Anindya.

Zevan tak tersinggung dengan tuduhan yang dilontarkan Anindya kepadanya. Dia malah tertawa terbahak-bahak menertawakan Anindya. "Lucu sekali! Kamu pikir motorku itu seharga motor matic seperti milik orang-orang di luaran sana?"

"Maksudnya?" Wajah Anindya nampak kebingungan.

"Motorku itu motor mahal. Limited edition. Di design secara khusus. Jadi, mau lecet sedikit kek, lecet banyak kek, tetep aja biaya perbaikannya mahal seperti yang kamu bilang. Biaya 15 juta itu termasuk murah karena memang lecetnya nggak terlalu parah," jelas Zevan panjang lebar.

Anindya hanya mendengarkan dengan tatapan tak percaya. Masa' sih? Dia bohong atau jujur? batin Anindya yang masih meragukan penjelasan dari Zevan.

"Suer! Aku bicara jujur!" Zevan mengangkat tanganya dengan dua jemari membentuk huruf V. "Kalo nggak percaya ya sudah. Emang cewek ngerti apa sih soal otomotif."

"Hm...baiklah, aku percaya!" tukas Anindya. Ia tak mau berdebat lagi soal biaya perbaikan itu. Mungkin memang dia yang kurang paham soal motor. Lagipula ia juga mengakui bahwa motor Zevan bukanlah motor murahan.

"Sepertinya emang kamu nggak percaya sama yang aku omongin kok," sungut Zevan lirih.

"Ngomong apa kamu tadi? Aku nggak denger?!"

"Ah.... Nggak ada kok." Pemuda itu terkekeh.

Dih....padahal jelas tadi dia ngomong sesuatu. Pake acara nggak ngaku segala, batin Anindya dongkol.

"Oke Zevan, sekarang tunjukkan padaku tugas apa yang sedang kamu kerjakan. Aku berharap itu sesuai dengan bidangku agar aku bisa maksimal membantumu. Karena jika tidak aku juga pasti kesulitan untuk membantumu. Tapi , meski begitu akan berusaha semaksimal mungkin untuk membantumu," ujar Anindya yang tetap berkomitmen membantu Zevan mengerjakan tugas kuliahnya demi tenggang waktu mengembalikan biaya perbaikan motor.

"Aku mengambil program kuliah study arsitektur. Mamaku menginginkan agar aku menjadi seorang arsitek. Padahal aku sama sekali tak memiliki bakat di bidang perencanaan apalagi menggambar sebuah denah," tuturnya sambil mendengus kesal.

"Jika kamu tak suka dengan jurusan tersebut, kenapa tetap mengambil dan menjalani hingga semester akhir?" Tanya Anindya yang penasaran dengan jalan pikiran pemuda yang duduk di sampingnya itu. Dia bisa saja kan mengatakan pada orang tuanya bahwa bukan dia tak menyukai jurusan yang sudah dipilih.

"Mamaku ngotot memaksaku masuk kesana, sekaligus mengancamku. Jadi, mau tak mau aku menurutinya daripada aku kehilangan fasilitas yang selama ini aku nikmati," jawab Zevan.

Anindya manggut-manggut. Ia menduga jika pemuda ini bukan anak dari kalangan biasa. Ia mungkin anak orang kaya yang harus meneruskan usaha orang tuanya.

"Lalu, apa sebenarnya minatmu? Tak mungkin kan kamu tak memiliki cita-cita atau impian di masa depan?" Tanya Anindya mulai mengulik pribadi Zevano.

"Ehm...aku ingin jadi tentara nasional. Tapi, Mama tak mengijinkanku masuk sekolah militer. Dia takut aku nanti akan di kirim untuk perang atau ke daerah konflik. Aku bisa mengerti dengan ketakutannya itu karena aku anak satu-satunya yang dia miliki. Pastinya dia tak ingin kehilanganku," jawabnya menjelaskan panjang lebar.

Anindya kembali manggut-manggut. "O...jadi begitu ya. Baiklah coba tunjukkan padaku tugas mana yang harus kamu kerjakan."

Anindya terlihat bersemangat karena itu sesuai dengan bidangnya. Ia lega sebab jurusan kuliah yang diambil oleh pemuda itu tak beda jauh dengan dirinya. Jadi, ia tak akan kesulitan membantu pemuda ini menyelesaikan tugasnya.

Zevan menyalakan laptop yang dibawanya. Jemarinya bergerak mengetik sesuatu diatas keyborad. Kemudian dia menggeser laptopnya tepat di depan Anindya. Ia menunjukkan sebuah desain gambar yang baru setengah jadi pada wanita itu.

Anindya menatap layar laptop milik Zevan dengan wajah serius. Bola matanya bergerak meneliti setiap garis dan sudut gambar dalam laptop.

"Kamu yakin bisa bantu aku ngerjain tugas ini??" Zevan melirik Anindya seakan meremehkan. Pemuda itu seperti tak yakin jika Anindya bisa membantunya mengerjakan tugas yang diberikan oleh dosen.

Anindya tersenyum tipis. Ia lalu menjentikkan jarinya dan berkata, "Tenang aja. Ini gampang kok, aku sudah mengerjakan yang beginian beberapa tahun lalu. Jadiz aku yakin seratus persen bisa membantumu menyelesaikan tugas ini sampai siap diserahkan pada dosen."

"Serius??" Mata Zevan membulat tak percaya dengan mulut yang ternganga. "Jangan bohong padaku?!"

"Serius lah, ngapain aku bohong," balas Anindya. Wanita itu merogoh tas dan mengambil sesuatu dari sana. Ia memberikan kartu nama pada Zevan.

Zevan membaca kartu tersebut berikut pekerjaan yang tertera disana. "Arsitek?"

Anindya menganggukkan kepalanya dan tersenyum lebar.

"Whuaahhh.....kebetulan sekali!" Teriaknya seraya bertepuk tangan kegirangan. "Ini sungguh diluar dugaan. Ternyata keberuntungan masih menyertaiku. Terima kasih Tuhan."

Anindya terkekeh sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Memangnya hidupmu selama ini kurang beruntung atau bagaimana?"

"Dipaksa masuk ke jurusan yang nggak aku suka itu sudah termasuk ketidakberuntunganku," cetusnya asal. Wajahnya melengos begitu saja.

"Begitukah??"

Zevan menganggukkan kepala. "Ya begitulah."

"Tapi, kamu harus lebih bersyukur masih bisa kuliah dibiayai oleh orang tuamu. Di luar sana banyak anak-anak seusiamu yang terpaksa mengubur mimpinya tak bisa duduk di bangku kuliah karena keterbatasan biaya. Kamu salah satu orang yang lebih beruntung di banding mereka. Kamu harus bersyukur dengan hal itu," tutur Anindya menasehati sambil mengerjakan tugas itu. Jemari lentiknya dengan gesit menari-nari diatas keyboard.

Zevan terdiam tak menangggapi, namun dalam hatinya ia membenarkan perkataan wanita itu. Mungkin selama ini dia kurang mensyukuri apa yang dia dapatkan dan miliki dengan mudah. Ia kurang peka bisa jadi karena dirinya terbiasa hidup serba berkecukupan.

*****

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dibuang suami, dikejar berondong manis    Bagian 45 End

    Matahari mulai menyembul di pagi itu. Semburat sinarnya yang keemasan mulai masuk ke celah-celah jendela di setiap kamar. Anindya sudah terbangun dari tidurnya. Ia membuka jendela kamar dan membiarkan sinar matahari hangat masuk ke dalamnya. Langit tampak begitu cerah pagi ini walau semalam hujan deras turun tak berhenti, menyisakan tetesan embun yang membuat balkon kamar dan jendela sedikit basah. "Sayang, ayo bangun!" Anindya menarik lengan Zevan mencoba membangunkan lelaki itu. "Katanya mau ajak Zio jalan-jalan pagi ini. Kan kebetulan hari minggu.""Jam berapa sekarang?" Tanya Zevan sambil menngucek matanya dan menggeliat sebentar. "Udah jam 5 tuh," jawab Anindya. "Buruan bangun, trus bersih-bersih lalu sholat. Aku mau mandiin Zio dulu pake air hangat.""Sepagi ini mandiin bocah?" Mata Zevan membelalak.Anindya menangangguk. "Lha emang kenapa? Lha dianya aja udah bangun dari jam 4 subuh tadi sayang."Zevan langsung bergerak dan beranjak dari tempat tidurnya. Ia mendekati ranjang

  • Dibuang suami, dikejar berondong manis    Bagian 44

    "Apa kamu curiga kalo sebenarnya yang mandul itu mantan kamu?" Tanya Zevan ketika mereka sudah pulang dari berbelanja dan sekarang berada di dalam kamar. Anindya terdiam tak langsung menjawab pertanyaan dari Zevan. Ia menatap lekat lelaki yang duduk di sampingnya. "Entahlah, aku juga nggak bisa memastikan soal itu, karena memang dari dulu dia nggak mau ikut periksa ke dokter," jawab Anindya akhirnya. "Hanya saja saat ini aku hamil...." "Dan kamu baru sadar bahwa sebenarnya kesalahan itu bukan ada padamu?" Potong Zevan cepat. Anindya menganggukkan kepalanya pelan. "Bolehkan bila dikatakan seperti itu? Nyatanya aku langsung hamil satu bulan setelah menikah denganmu." "Bisa jadi memang mantan suamimu yang mandul, tapi dia nggak mau ngaku aja," tukas Zevan manggut-manggut. "Eng....ada sesuatu yang mau aku tunjukkan sama kamu." Anindya mengambil ponsel yang berada di dalam tas. "Apa itu?" Zevan mulai penasaran. "Coba kamu lihat ini." Anindya menyodorkan ponsel dan memp

  • Dibuang suami, dikejar berondong manis    Bagian 43

    Sore itu Zevan mengajak Anindya berbelanja kebutuhan bayi dan juga persiapan lahiran nanti. Sebelum ia di wisuda minggu depan, sengaja Zevan mengajak istrinya berbelanja sekaligus refreshing. "Bagaimana kerjaan di kantor?" Tanya Anindya saat mereka jalan-jalan sambil bergandengan tangan di dalam Mall. "Hem....lumayan sih. Kata Kak Mahen, aku cepat belajarnya," jawab Zevan sambil tersenyum. "Pokoknya demi kamu, demi calon anak kita, aku akan berusaha semaksimal mungkin." Anindya tersenyum sekaligus manggut-manggut. "Iya...iya percaya deh." "Aku juga maunya kamu di rumah aja sih, ngurus anak-anak kita dan aku. Kasihan juga kalo nantinya kita punya banyak anak, terus ditinggal orang tuanya kerja. Di rumah cuma sama baby sitter aja," ujar Zevan. "Kamu maunya aku jadi ibu rumah tangga begitu?" Tanya Anindya. "Sebenernya sih iya, tapi kan sekarang kamu jadi pemimpin di perusahaan punya Mama juga. Kamu diberi tanggungjawab besar untuk mengelola dan membesarkan perusahaan itu. J

  • Dibuang suami, dikejar berondong manis    Bagian 42

    Selama berbulan-bulan, Anindya masih menyimpan video rekaman itu. Semula ia tak peduli karena tak ingin ikut campur dalam hidup Adrian lagi. Jika benar bayi laki-laki yang dilahirkan oleh Viona beberapa bulan lalu bukan anak dari Adrian, melainkan hasil hubungan gelap Viona dengan lelaki lain, maka kesuburan Adrian perlu dipertanyakan. Selama lima tahun pernikahan bersama dengan Adrian, dia selalu dipojokkan dan disalahkan karena tidak kunjung hamil, padahal dokter sudah menyatakan bahwa rahimnya baik-baik saja tak ada masalah. Justru, disaat seperti itu Adrian selalu menolak jika Anindya mengajaknya periksa ke dokter kandungan dengan berbagai macam alasan hingga membuat Anindya jengah. Hari ini ia dipertemukan kembali dengan pemuda yang beberapa bulan lalu tak sengaja bertemu di sebuah resto di Mall. Pemuda yang ia duga sebagai selingkuhan Viona. Lelaki ini datang ke kantornya dengan maksud berkonsultasi dan meminta gambar desain untuk rumah yang rencananya akan ia bangun. Ia da

  • Dibuang suami, dikejar berondong manis    Bagian 41

    "Nggak mungkin. Ini nggak mungkin. Bagaimana bisa dia hamil? Dia kan mandul." Bu Sarita terlihat senewen setelah mengetahui jika Anindya baru saja periksa kehamilan. Ia merasa semuanya aneh dan tak masuk akal. Bagaimana bisa wanita yang sudah pernah menjadi menantu di rumahnya selama 5 tahun, yang tak pernah menunjukkan tanda-tanda kehamilan, begitu bercerai dan menjadi istri pria lain, tiba-tiba saja hamil. Ini sungguh diluar nalarnya. "Paling mereka lagi bersandiwara sengaja mau manasin kita. Mereka pasti malu karena ternyata mantan istrimu itu betulan mandul dan tak bisa memiliki keturunan. Iya, pasti seperti itu," terka Bu Sarita masih berlanjut. Adrian hanya menghela napas panjang seraya mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. Terlihat dari wajahnya seperti tak percaya jika Anindya benar-benar bisa hamil. Dulu ia hampir putus asa karena Anindya tak kunjung, lalu sekarang baru juga mereka sebulan menikah, Anindya langsung hamil. "Adrian! Adrian! Heh, diajakin ngomong

  • Dibuang suami, dikejar berondong manis    Bagian 40

    Dengan tangan gemetar, Anindya menerima hasil tes dari dokter kandungan. Setelah disarankan oleh dokter umum untuk pindah poli dan meminta untuk melakukan pemeriksaan kembali, Anindya kini dibuat ternganga oleh hasil tes yang baru saja dilakukannya tersebut. "Jadi, ini artinya saya beneran hamil dok?" Tanya Anindya setengah tak percaya setelah dokter memberitahunya soal hasil tes kehamilah yang dilakukannya. Dokter kandungan itu mengangguk sambil tersenyum lebar. "Iya betul. Anda hamil Bu Anindya. Selamat ya." "Tapi dok, sepertinya nggak mungkin saya hamil," ujar Anindya masih tak percaya dengan kertas hasil pemeriksaan itu. "Kenapa Bu? Apakah yang menyebabkan Anda tidak percaya dengan hasil testnya? Apakah sebelumnya ada masalah dengan alat reproduksi atau rahim Anda?" Selidik dokter kandungan itu. "Saya kurang yakin dok," ucap Anindya seraya melirik Zevan yang duduk di sampingnya juga ke arah Nyonya Martha yang hanya diam mendengarkan keterangan dokter kandungan. "Dulu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status