MasukBaru saja Emily dan Ruby siap merencanakan sesuatu, mereka mendapat kabar dari Judy bahwa mereka semua harus segera pulang secepatnya setelah rapat terhadap akuisisi hotel selesai. Pengangkatan CEO baru harus digelar lusa karena kondisi perusahaan sedang rumit. Hanya sedikit akal-akalan, Judy ingin melancarkan sedikit aksi untuk mendukung hubungan pertunangan anaknya supaya diperkuat publik.
Sementara Sky sedang lengah, ia akan mencuri kesempatan mengeratkan ikatan dengan keluarga Bussara. Saat itu Shen merajuk. Sejak Emily mengatainya kain lap, ia menjauhkan diri dari mereka, termasuk Sky. Ia bahkan semakin meradang saat Sky tak mempertanyakan gadis itu ke mana setelah makan malam. Semua berjalan seakan baik saja untuk mereka, tidak untuk Shen. Merasa ada yang salah, Sky mengajaknya bicara setelah persiapan untuk pulang. Ia mengajak Shen ke kamarnya dan bicara perlahan. “Apa kau masih marah?” Sky mencoba meraih tangan Shen, namun ditepis. “Tidak.” Jawab Shen. Tapi Sky tersenyum. Shen menghindari kontak mata tanda ia sedang tidak baik-baik saja. Sky menarik tangan Shen hingga mereka terjerembab jatuh ke atas kasur. Shen berada di atas tubuh Sky yang terasa bergetar halus. Ia pun merasakan hal yang sama, matanya seolah terpaku pada rahang indah yang dekat sekali dengan wajahnya. Irama jantung yang perlahan mulai kencang itu tak mengganggu, justru keduanya menikmati semilir angin laut yang seolah mendukung. “Kau jangan coba untuk membujukku yah , Sky! Aku sedang tidak mau bicara.” Shen berusaha bangkit, namun tubuhnya ditahan oleh tangan kokoh Sky. Sky tak fokus, ia hanya memandangi bibir seksi Shen dan berulang kali meneguk Saliva. Tangannya sedikit merambat ke bagian lain, ia berusaha menekan dirinya sekeras mungkin. Anehnya tubuh Shen sedikit bereaksi, ia memejamkan mata terlihat menikmati setiap sentuhan tangan Sky, ia bisa menggila dan lepas kendali juga. “Aku tak membujukmu. Aku hanya ingin menghabiskan waktu sebentar sebelum pulang dengan kekasihku.” Wajah Shen memerah, berusaha mengalihkan pandang ke arah balkon untuk menerima udara segar. Rasanya suite yang luas itu lebih pengap. Tiba-tiba ia merasa tersentak ketika tubuhnya sudah berada di bawah Sky. Rasanya seperti akan tenggelam, Sky meliuk dalam cerukan leher Shen yang sensitif. “Aku tahu kau mau menghabiskan waktu denganku, katakan kalau kau suka.” Bisik sky halus. Ia merengkuh pinggang Shen dengan tegas. Shen tak mampu mengeluarkan suara kecuali anggukan kecil. Apakah ia pasrah? Untuk saat itu ia akan pasrah dengan apa pun yang akan dilakukan Sky terhadap dirinya. Tubuhnya lebih ringan, seperti balon yang melayang di udara dan bertemu bianglala yang indah. “Kau suka?” bisik Sky sekali lagi, “Apa aku boleh menyentuhmu seperti ini?” Kontak mata semakin bertaut, Sky langsung melumat bibir Shen dengan lembut. Gadis itu membalas, ia tak mau kehilangan moment ini dengan tak menyambut sikap Sky. Semakin lama semakin panas, Sky tak sadar hingga melepaskan kemeja kerja yang belum sempat ia buka. Hingga beberapa waktu ia kembali tersadar. Ia sudah berbuat terlalu jauh dan membetulkan pakaian Shenina yang acak-acakan. Sky menghindar. Sementara Shen langsung bangkit dengan muka lebih padam. Antara malu dan kesal. Ia malu terlalu terbuka di hadapan Sky dan ia kesal karena menganggap Sky mempermainkan dirinya. Namun bayangan kejadian itu lebih membekas daripada yang ia duga. Ia segera berlari keluar kamar Sky dan terduduk di atas kasur hotelnya sendiri. Tubuhnya tenggelam dalam ranjang yang empuk dan berkhayal seolah ia tengah memeluk Sky. Apa yang ia pikirkan barusan? Apakah ia menyukai perbuatan Sky? Sejujurnya ia sangat mendamba hal itu. Di mana hanya ada ia di pelukan Sky, menyelami cinta dan berbagi kasih sepanjang waktu. Ia hanya menunggu waktu yang tepat, waktu yang menyatukan dirinya dengan Sky dalam ikatan sakral, dan Sky miliknya selamanya. “Apa kau tidur nyenyak, nyonya Sky?” goda Sky ketika ia membukakan pintu mobil untuk Shen. Mereka akan berangkat ke bandara dengan formasi yang berbeda. Kali ini, Shen duduk di depan bersama Sky. Ruby yang mengetahui bangkunya telah direbut, memilih untuk ikut di mobil kedua bersama Emily dan Orlando. Jangan kira bahwa ia akan tenang, ia justru menyimpan kemarahan yang sangat besar dan bersiap menyatakan perang terhadap Shen ketika pulang nanti. Ia tak terima, Sky mengabaikannya bahkan saat ia berbicara. Ia selalu menatap Shen dan mengutamakan gadis itu dalam segala hal. Membuatnya murka dan sangat ingin menampar mulut Shen yang licik. “Kau tak takut orang lain melihatmu denganku?” Shen bertanya karena penasaran. “Karena Ruby tunanganku?” Sky menyetir dan berusaha fokus. “Ya, kau kan selalu bilang reputasi nomor satu.” Sindir Shen. “Sekarang buatku kamu yang nomor satu.” “Sky jangan bercanda!” Meskipun Shen senang, tapi ia sedikit ragu. “Memang kuakui reputasi nomor satu untuk keluarga Andromeda. Aku tidak merajuk lagi, sekarang aku paham maksudmu.” “Apa yang nyonya Sky pahami?” “Maksudku memang kau terlahir untuk mengutamakan itu semua. Kalau kau mengutamakan aku, justru itu ... Maksudku istimewa.” “Kau memang sangat istimewa untukku.” Sky tersenyum seraya mengelus rambut Shen gemas. “Setelah sampai di rumah, aku akan menemui keluarga Bussara dan minta maaf.” Mata Shen melotot sempurna. Ia tak menyangka Sky akan membuat keputusan yang cepat hanya dengan sekali rajukan darinya. Ia yakin Sky akan melakukannya, kesungguhan dari ucapannya benar-benar membuat Shen yakin. “Aku akan membatalkan pertunangan kami dalam jumpa pers Minggu depan dan mengatakan kalau aku sudah punya kekasih.” Lanjut Sky. “Kau akan membukanya ke seluruh publik?” Shen terkejut. “Aku tak mau menunggu lama kalau itu akan menyakiti hatimu, Shen. Selama ini memang aku yang terlalu bodoh dan mengikuti kemauan mereka.” “Aku senang kau mengambil keputusan itu.” Lusa kemudian acara pengangkatan Sky sebagai CEO resmi dari Andromeda Group dilaksanakan. Hal yang sama terjadi, orang-orang terpandang, relasi keluarga yang sama besar dan kemeriahan pesta yang tak kalah megah dari pertunangan Sky sebelumnya . Seolah semua telah dirancang bak pesta pernikahan yang membuat orang akan berpikir bahwa tak lama lagi memang akan ada pesta lebih besar yang terjadi. Semua orang bersulang dan menyatakan selamat kepada Sky secara langsung. Ruby turut hadir menggandeng tangan Sky meski beberapa kali ditepis walaupun di depan tamu. Sky mulai terbiasa cuek, ia tak mengharapkan kehadiran Ruby dan mengalihkan setiap pandangannya ke beberapa tempat. Ia mencari keberadaan kekasihnya. Beberapa saat kemudian ia mendapatinya sedang berdiri dengan pose menggoda dekat kolam renang. Ia mengenakan gaun hitam yang elegan pemberiannya dulu. Gaun yang paling ia sukai karena mengekspos semua sudut kecantikan Shenina. Ia mengambil ponsel dan melihat gadis itu melakukan hal yang sama. “Kau mau keluar?” ucap Sky. “Tentu. Kalau tuan Sky yang terhormat mau menghabiskan waktu denganku, apa boleh buat.” Balas Shen centil. “Hei!” Sky sudah berada di dekat Shen dan mengulurkan tangan. Sky meraihnya dan mencium dengan khidmat. Beberapa tamu yang berada di dekat mereka sangat heran, kenapa seperti ada pasangan yang tertukar di sana. Beberapa mulai bergunjing, Sky tak peduli, ia menarik Shen berlalu. “Aku menyiapkan hadiah spesial untukmu ...”Tok! Tok!“Masuk!”“Hi! Apa kau sibuk?” “ ... Ya?”Emily langsung masuk tanpa kecanggungan. Ia duduk di depan Shen seolah akrab, membuat Shen sedikit kebingungan.“Makan malam tim, kau ikut kan?”Shen menggeleng, “Aku harus pulang ke Seapearls.”“Oh ayolah!” Emily menampakkan wajah kecewa, “Semua orang ingin kau hadir. Bukannya tidak sopan menolak keinginan rekan-rekan kerjamu?”Apa lagi kali ini? Apa yang dia katakan memang benar, tapi ... Seperti kepalsuan.Shen memandang penuh selidik secara terang-terangan. Ia tidak mau kecolongan lagi setelah menderita sekian lama. Emily berubah dalam satu malam? Cinderella saja berubah di jam 12 malam dan kembali ke kehidupan lamanya.EhMana mungkin ia percaya?“Aku tidak mengerti kenapa kau mengajakku kali ini, “ Shen menjawab, “Ada rencana baru lagi?”Wajah Emily langsung pucat. Ia tak menduga Shen bisa waspada atas ajakannya yang memang normal. Jangan sampai ia menolak, Ruby bisa kecewa dan rencana mereka berantakan.“Aku hanya
“Kapan kau suruh datang?”“Sebentar lagi, katanya ke kantor sebentar.”Ruby terdiam. Rasanya sudah tak sabar akan melanjutkan rencana yang sudah mereka susun bersama Emily. Seseorang yang ditunggu itu pun mulai menampakkan batang hidungnya. Ia berjalan tenang, seolah sedang menikmati dunia yang indah, di mana karpet merah sudah tersedia untuk dia injak.Wajahnya tersenyum, tapi penuh kelicikan.Ia melihat Ruby dan Emily tengah gelisah, membuat ia semakin percaya diri, tanpa dirinya, usaha semua orang akan sia-sia, terutama dalam berbuat onar.“Kalian sangat tidak sabaran!” ucapnya kemudian sambil duduk di hadapan dua wanita itu.Yang satu menghela nafas, satu lagi terlihat antusias.Ruby senang dengan kehadiran Anton di sana.“Cara kecil tidak mempan lagi. Kita harus pakai cara kasar!”“Apa yang coba kau pikirkan?” Ruby berusaha tenang dengan menyeruput teh-nya. Ia tak mau kelihatan buru-buru karena terdesak.“Pabrik Ranjaya.” Seketika itu mata Ruby melotot sempurna. Ia ta
“Bagaimana kabarmu?”“Siapa yang bilang kalau aku di sini?”Wajah yang tadinya cemas kini berubah tersenyum.“Kakakmu. Maaf aku tidak tahu soal kejadian ini! Kemarin aku menjemput istriku pulang dari rumah sakit.”“Seharusnya kau terus menemaninya, pak.” Jawab wanita itu lesu. Berharap apa dia soal pria yang sudah beristri? “Aku juga mengkhawatirkan rekanku. Apalagi itu karena salah satu anggota keluargaku yang melakukannya.”“Aku baik-baik saja. Pergilah pak!”“Kau mengusirku? Aku juga menemui Anggika kalau terjadi sesuatu padanya.”Shen tak bisa berkilah lagi. Jika dia terus mendorongnya untuk pergi, tidak sopan apalagi dia adalah atasannya sendiri. Shen hanya bisa mempersilahkannya duduk.Hansandy entah ke mana setelah ditinggal pergi sebentar ‘katanya’. Kalau ia memberitahu Sky untuk datang, kenapa ia malah pergi?“Bagaimana kejadiannya? Aku harus dengar cerita darimu sebelum memperkarakan Anton.”“Bapak yakin?”Bukan ia tidak percaya Sky, tapi selama ini mati-matian
Gubrakkkkk!!“Hei! Ada apa? Kau bisa membukanya pelan, kan?”Han langsung masuk. Tak peduli lagi setidak-sopan apa orang menganggapnya, ia hanya perlu bicara dengan Sky saat itu juga. Han berdiri di depan Sky dengan wajah marah. Ketidak-tahuan Sky membuat otaknya berpikir lebih kalut. Kenapa semua orang di kantor tenang-tenang saja sementara adiknya tengah merana di rumah sakit!“Sia-sia papa mengeluarkan semua uangnya di perusahaanmu! Kau tahu apa yang membuatnya yakin? Shen ingin melakukannya. Sebagai balas budi karena ia ditampung di sana dengan baik, meski semua orang juga tahu perlakuan buruk keluargamu kepadanya!”Sky berdiri. Tak mengerti dengan permasalahan yang diucapkan Han tiba-tiba. Tapi ia jelas tahu, ada yang salah.“Kau bisa bicara baik-baik? Aku tak pernah mengizinkan keluargaku menyakitinya.”“Baik, aku akan coba bicara baik-baik.” Han duduk di hadapan meja kerja Sky dengan sedikit senyum paksaan. “Apa kau tahu Shen tak masuk kerja?”Sky sama sekali tak tahu
“Ehem!”Tanpa sengaja Shen menoleh kepada lelaki yang sedang berdiam di balkon, karena ia berjalan agak jauh, wajahnya belum jelas. Sampai beberapa langkah ia baru sadar, lelaki itu adalah Anton yang memandanginya dengan sorot aneh.“Kau semakin cantik saja!”Tadinya Shen akan berlalu, tapi tangan Anton menahannya untuk tetap di sana.“Sombong sekali, apa kau lupa kalau kita hampir menikah?”Shen masih diam saja, tapi dari kepalan tangannya yang masih dipegang Anton, ia terlihat menahan hati. Mimpi apa dia semalam, sampai bisa dihadang manusia aneh macam dia.“Jangan sok jual mahal, dulu kau murah saja aku tak mau!” Anton semakin mencengkeram tangannya dengan kuat.Ingin melepas pun Shen tak kuat, perbandingan tenaganya dan Anton benar-benar berbeda.“Lepas, tidak?!!”“Akhirnya kau mau buka mulut juga!” Anton menatapi wajah Shen dengan pandangan menjijikkan. Seolah Shen tahu apa yang ada di pikirannya.“Kalau kau tidak mau lepas, aku akan ...”“Mengadukanku pada Sky?” She
“Kau tidak menginap?” melirik dengan ekspresi dingin kepada istrinya. Ia baru mengantarkan Ruby pulang ke rumah Bussara setelah dinyatakan baik-baik saja oleh dokter. Ia tahu, istrinya itu berusaha mendapatkan perhatiannya, namun entah kenapa rasanya hatinya menolak.Ia hanya memandangi Ruby dengan tatapan kasihan. Tak lepas ia menyalahkan diri sendiri karena bagaimana pun semua dipicu oleh kedekatannya dengan Shen kembali. Sebelum Shen muncul saja, Ruby tetap uring-uringan, apalagi ia melihatnya langsung di depan mata.Ruby berusaha meraih tangan suaminya, ia memandang penuh harap agar Sky mau tinggal sebentar.“Apa kau tidak khawatir padaku?” ucapnya memelas.“Aku punya rapat penting besok. Pagi-pagi sekali ...”“Aku akan membangunkanmu dan menyiapkan sarapan. Kumohon, ya?”Hatinya membenarkan, seharusnya pun, Ruby adalah istri sahnya. Kalau ia mengabaikan, bukankah ia menelantarkannya?Akhirnya Sky membuka jasnya dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Wani







