LOGINKael baru saja menyelesaikan beberapa dokumen di ruang kerjanya, lalu menatap foto mendiang istrinya yang selalu berada di atas meja.
Dia memandang foto itu cukup lama, lalu meraup kasar wajahnya. Dia tidak harus terus terpuruk seperti ini. Meskipun tidak ada cinta di hati Kael untuk Clara, tapi dia selalu menyesal ketika dia gagal melindungi wanita yang sudah memberinya putra untuknya. "Maafkan aku, Clara. Tadi Leon marah padaku. Aku lupa menjemputnya. Apa aku ayah yang jahat? Aku sudah berusaha membuatnya senang. Semua fasilitas terbaik, tapi aku belum bisa jadi ayah yang baik untuknya." Tepat ketika dia mengalihkan pandangan. Martha datang dengan wajah cemas. "Tuan, Tuan Muda sepertinya kurang sehat." Kael langsung menutup berkas di tangannya. Berdiri, lalu menghampiri Martha yang mematung di depan pintu. "Leon kenapa?" Martha tampak gugup saat berbicara. "Sejak sore tadi, Tuan Muda tidak mau makan, dan sekarang tubuhnya demam." "Belum mau makan juga?" Kael mendesah pelan. "Aku segera ke sana." Kael segera menuju kamar Leonard mengekor Martha yang berjalan lebih dulu. Begitu sampai di sana, dia melihat putranya terbaring di atas ranjang sambil meracau dalam tidurnya. Saat Kael menempelkan tangan ke dahi putranya, ekspresi wajahnya langsung berubah. Suhu tubuh putranya sangat tinggi. "Hubungi Dokter Louis sekarang!" "Baik, Tuan." Setelah Martha pergi, Kael duduk di sisi ranjang dan menggenggam tangan kecil putranya. "Leonard, Papa di sini. Kamu dengar, kan?" Leonard hanya menggeliat gelisah. Matanya tetap terpejam, tetapi bibirnya bergerak pelan. "Mama." Kael terdiam. Dia hanya menatap putranya dengan wajah cemas. "Mama Clair ... Leon mau Mama Clair.” Bocah itu menggeleng ke kanan dan ke kiri, lalu air mata mengalir dari sudut matanya sembari merapal nama Clair Valencia. "Mama, jangan pergi. Leon janji akan jadi anak baik. Leon akan nggak nakal lagi ... Mama, ayo peluk Leon." Mendengar ucapan putranya, Kael merasakan dadanya sakit seperti ditusuk ribuan jarum. Melihat Leonard menangis bahkan dalam keadaan demam membuatnya menyadari bahwa keinginan anak itu bukan sekadar rengekan sesaat. Dia butuh sosok ibu. Tapi, Kael tidak pernah mau menikah lagi. Dia tidak hanya terlalu sibuk, tapi dia juga tidak ingin sembarangan memasukkan orang asing yang tidak bisa dipercaya ke dalam keluarga mereka. "Leonard, buka mata. Ini Papa." Sayangnya, Leonard tidak menjawab. Dia justru kembali memanggil nama perempuan yang baru dikenalnya beberapa jam lalu. Kael mengusap wajahnya dengan kasar. Martha sudah mengatakan jika wanita bernama Clair itu tadi yang mengantar Leonard pulang dari sekolah. Kael tidak mengenal siapa itu Clair, tetapi wanita itu sudah mampu mengambil hati anaknya. "Mama Clair…" Leonard bergumam sekali lagi, membuat pikiran Kael semakin kalut. Tanpa menunggu lama, Kael segera menelepon asistennya, Jovan. Begitu teleponnya diangkat oleh Jovan, Kael buru-buru bicara. "Cari Clair Valencia sekarang, selidiki latar belakangnya, dan suruh wanita itu datang ke sini." "Untuk apa, Tuan?" tanya Jovan dari seberang sana. Kael menatap putranya yang masih terbaring lemah. Rahangnya mengeras sebelum akhirnya dia menjawab dengan suara mantap. "Aku ada urusan dengannya." *** Clair duduk di depan ruang rawat ibunya. Wanita itu belum menunjukkan tanda-tanda membaik. Justru kondisinya semakin kritis. Ibunya bisa saja dipindahkan ke rumah sakit besar di kota, tetapi sekali lagi, biaya menjadi penghalang. Apalagi sekarang Clair tidak bekerja dan hanya mengandalkan tabungan yang jumlahnya semakin hari semakin menipis. Clair mendesah pasrah. Harus dengan cara apa lagi dia mencari uang? Masa dia harus menjual diri? Ah, tidak! Dia masih memiliki harga diri untuk tidak melakukan hal bodoh seperti yang terlintas di kepalanya. “Ya Tuhan, harus ke mana lagi aku nyari uang? Mencari kerja juga susah. Seandainya saja aku ini orang kaya, pasti nasibku nggak sesial ini. Mama bisa dirawat di rumah sakit besar dan mendapatkan perawatan yang lebih baik.” Tepat setelah selesai meratapi hidupnya yang menderita, seorang dokter datang menghampirinya. Dokter Ares Ludwig, spesialis penyakit dalam yang menangani ibunya. "Nona Valencia," sapanya. Clair segera mendongak. Begitu melihat sosok rupawan Dokter Ares, dia buru-buru berdiri. "Dokter Ludwig? Kenapa Anda mencari saya? Apa yang terjadi dengan Mama saya?" Ares Ludwig hanya bisa menatapnya dengan raut pilu. Desahan pelan keluar dari bibirnya, seolah menjadi pertanda bahwa kondisi ibu Clair tidak baik-baik saja. "Nona, penyakit ibu Anda harus segera mendapatkan penanganan yang tepat. Operasi di rumah sakit besar adalah satu-satunya jalan. Kankernya sudah memasuki stadium lanjut. Pengangkatan rahim merupakan tindakan yang diperlukan untuk menyelamatkan nyawanya. Namun, rumah sakit ini tidak memiliki fasilitas yang memadai untuk melakukannya." "Operasi, Dokter?" ulang Clair. Dokter Ares mengangguk. Meskipun mengetahui kondisi Clair yang kesulitan secara finansial, dia tetap harus menyampaikan kenyataan yang ada. Operasi merupakan satu-satunya jalan yang bisa ditempuh setelah berbagai kemoterapi yang dijalani Raihana Sterling—ibu Clair—tidak menunjukkan hasil yang lebih baik. "Berapa biaya operasinya, Dokter?" Akhirnya Clair memberanikan diri untuk bertanya. Dokter Ares tidak langsung menjawab. Dia menatap wanita muda itu dengan raut bimbang. Setelah menarik napas panjang, dia kembali memandang Clair dengan tatapan sendu. "Lebih dari lima ribu dolar. Itu baru perkiraan biaya operasinya saja. Saya juga belum menghitung biaya rawat inap dan obat-obatan." Clair langsung jatuh terduduk kembali di atas kursi besi yang beberapa saat lalu didudukinya. Uang sebanyak itu harus dia dapatkan dari mana? "Saya tahu Anda sedang kesulitan, tetapi hanya dengan cara itulah ibu Anda memiliki kesempatan untuk diselamatkan. Jika Anda setuju, segera hubungi saya. Saya akan membuat surat rujukan agar ibu Anda bisa dipindahkan ke rumah sakit besar." Clair tak bisa berkata-kata. Pikirannya sibuk menghitung nominal besar yang baru saja disebutkan dokter. Dia bahkan sudah tidak memiliki rumah karena semuanya terpaksa dijual setelah ayahnya membawa kabur sisa harta keluarga. "Akan saya pikirkan dulu, Dokter." *** Jovan akhirnya tiba di Rumah Sakit Saint Montana setelah mencari informasi tentang Clair Valencia atas perintah Kael Dimitri. Semua data latar belakang wanita itu sudah dia kirimkan pada Kael lewat email. Pria itu berjalan menyusuri lorong rumah sakit yang sepi. Hujan masih mengguyur di luar, menambah kesan muram pada rumah sakit kecil di pinggiran Kota Dalvora malam itu. Setelah mencari informasi lengkap, Jovan mengetahui bahwa ibu dari Clair Valencia dirawat di lantai dua, di sebuah kamar biasa yang jauh dari kesan mewah. Setelah menaiki tangga, dia akhirnya menemukan kamar Samantha Sterling. Di sana, dia juga melihat sosok Clair yang duduk seorang diri dengan wajah tertunduk. "Nona Valencia," panggil Jovan. Begitu mendengar namanya dipanggil, Clair langsung mendongak. Melihat Jovan berjalan ke arahnya, Clair memutuskan untuk berdiri. "Anda siapa?" tanyanya karena dia belum pernah melihat laki-laki ini. "Saya Jovan. Saya datang ke sini atas perintah Tuan Kael Dimitri, Nona.” Clair masih berusaha mencerna ucapan Jovan. Bukankah itu nama dari ayah bocah yang dia antar pulang sebelumnya? Untuk apa orang kaya itu mencarinya? "Atas perintah Tuan Kael? Untuk apa?" Jovan menatapnya sekali lagi sebelum menjawab, "Tuan Muda Leonard sedang sakit dan terus memanggil Anda. Karena itu, Tuan Dimitri menyuruh saya membawa Anda ke mansion." Clair tertegun mendengarnya. "Saya bukan dokter. Kenapa tidak memanggil dokter saja?" Jovan terdiam sesaat sebelum akhirnya menyampaikan maksud kedatangannya. "Tuan Dimitri ingin membuat kesepakatan dengan Anda.""Kenapa wajahmu sangat mirip dengan Clara?" Ucapan itu ternyata masih terngiang di telinga Clair. Meskipun belum pernah melihat wajah Clara karena Kael tidak pernah memperlihatkan foto mendiang istrinya, Clair tetap merasa heran. Namun, bukankah di dunia ini ada kemungkinan seseorang memiliki tujuh kembaran? "Sudahlah, kenapa aku memikirkan hal yang tidak penting begitu? Mungkin hanya kebetulan." Clair merebahkan tubuhnya di atas kasur kecil di dalam flat sederhana yang ditinggalinya. Matanya menatap langit-langit kamar, membayangkan bagaimana kehidupannya bisa berubah begitu drastis hanya dalam waktu singkat. Awalnya, dia hanya berniat menolong Leonard, tetapi sekarang justru harus berakhir menjadi istri kontrak Kael Dimitri, seorang CEO dari perusahaan raksasa di negara ini. "Menikah? Apa keputusanku ini benar-benar masuk akal?" gumamnya. "Sudahlah, lebih baik tidur. Besok aku harus ke sana lagi untuk membahas kontrak." Clair mencoba memejamkan kedua matanya. Sejak dulu, dia
"Mama!" teriak Leonard begitu mengetahui Clair datang. Wanita itu langsung berjalan masuk ke kamar Leon, diikuti Marta dan Kael yang berjalan di belakang. Leonard yang masih demam menyambut Clair dengan penuh semangat. Dia segera menyingkap selimutnya, lalu merentangkan kedua tangan untuk memeluk wanita yang sebelumnya dia panggil tante itu. "Halo, Boy. Katanya kamu mogok makan. Kenapa?" Leonard mendongak. Matanya yang sayu menatap Clair, lalu kembali menunduk dan menyembunyikan wajahnya di perut wanita itu. Dia menghirup aroma lembut dari tubuh wanita yang sekarang dipanggilnya Mama. Dia sangat menyukai aroma tubuh Clair. Baunya begitu enak dan membuatnya merasa nyaman. "Leon rindu Mama. Kenapa Mama tidur lama banget? Apa Mama sudah bangun? Mama nggak akan tidur lagi, kan?" Clair terdiam beberapa saat. Dia mengusap kepala bocah itu. Hatinya ikut sakit ketika menyadari bahwa anak sekecil ini harus kehilangan ibunya. Dan sekarang, dia harus menggantikan peran ibu bagi Leonard de
Mobil yang dikemudikan Jovan memasuki gerbang utama mansion megah yang berdiri di kawasan elite Dalvora. Di balik pagar besi berwarna hitam keemasan itu, halaman luas terbentang dengan taman yang tertata sempurna, sementara air mancur di tengahnya memantulkan cahaya matahari pagi. Clair merapatkan mantel tipis yang dikenakannya, lalu melirik Jovan yang duduk di belakang kemudi. "Kamu tidak perlu gugup," ujar Jovan ketika mobil berhenti di depan tangga mansion. Ia mematikan mesin, lalu menoleh kepada Clair. "Tuan Dimitri hanya ingin bicara denganmu." Clair mengangguk kecil, lalu kembali menatap Jovan. "Apa Leonard baik-baik saja?" tanyanya kemudian. "Tuan Muda masih demam. Dokter sudah memeriksanya dan memberikan obat, tetapi sejak semalam dia terus memanggil namamu." Ada rasa khawatir yang perlahan memenuhi dada Clair. Ia tidak menyangka anak sekecil Leonard akan begitu terikat kepadanya hanya karena pertemuan singkat mereka. "Kalau begitu, ayo kita masuk," ucap Clair, membuka
Kael baru saja menyelesaikan beberapa dokumen di ruang kerjanya, lalu menatap foto mendiang istrinya yang selalu berada di atas meja. Dia memandang foto itu cukup lama, lalu meraup kasar wajahnya. Dia tidak harus terus terpuruk seperti ini. Meskipun tidak ada cinta di hati Kael untuk Clara, tapi dia selalu menyesal ketika dia gagal melindungi wanita yang sudah memberinya putra untuknya. "Maafkan aku, Clara. Tadi Leon marah padaku. Aku lupa menjemputnya. Apa aku ayah yang jahat? Aku sudah berusaha membuatnya senang. Semua fasilitas terbaik, tapi aku belum bisa jadi ayah yang baik untuknya." Tepat ketika dia mengalihkan pandangan. Martha datang dengan wajah cemas. "Tuan, Tuan Muda sepertinya kurang sehat." Kael langsung menutup berkas di tangannya. Berdiri, lalu menghampiri Martha yang mematung di depan pintu. "Leon kenapa?" Martha tampak gugup saat berbicara. "Sejak sore tadi, Tuan Muda tidak mau makan, dan sekarang tubuhnya demam." "Belum mau makan juga?" Kael mendesah pe
Clair menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang kecil di flat mungil yang disewanya. Selama ini, dia hanya tinggal berdua dengan ibunya di sebuah flat kumuh di kawasan pinggiran Kota Dalvora. Sebelum dipecat dari pekerjaannya, Clair bekerja sebagai kasir di sebuah minimarket yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Dari sanalah dia mencari nafkah untuk menghidupi diri sendiri sekaligus membeli obat-obatan bagi ibunya. Sudah satu tahun ibunya jatuh sakit. Samanta menderita kanker ovarium stadium akhir. Setiap hari, ibunya harus mengonsumsi obat-obatan dan menjalani kemoterapi sesuai jadwal yang ditentukan dokter. Semua itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Masalah datang silih berganti. Namun, siang tadi, isi kepalanya semakin rumit setelah bertemu Leonard, dan melihat ekspresi bocah itu yang tidak mau berpisah darinya. "Kasihan juga Leonard, tapi aku nggak mungkin datang ke sana, kan? Lagian, aku nggak ada hubungan apa-apa dengan mereka. Nanti malah dikira aku mendekati anak ko
Sepanjang perjalanan, Clair sering menunduk menatap Leonard yang tertidur dalam pelukannya. Dia menghela napas pelan, lalu kembali menatap ke luar jendela. Hari ini seharusnya dia menjalani wawancara kerja di sebuah perusahaan besar setelah menjenguk ibunya di rumah sakit. Dia melamar sebagai cleaning service untuk membayar biaya pengobatan sang ibu yang terus membengkak. Sayangnya, karena tidak tega meninggalkan Leonard sendirian di depan sekolah, dia justru menghabiskan waktu mengantar bocah itu pulang. Ketika mencoba menghubungi pihak perusahaan, Clair baru mengetahui bahwa sesi wawancara telah berakhir. Kesempatan yang sudah dinantikannya selama berhari-hari pun lenyap begitu saja. Clair menyandarkan kepala pada jok. Sejak kecil, hidupnya memang tidak mudah. Ayahnya meninggalkan dirinya dan sang ibu demi wanita lain ketika dia masih kecil. Sejak saat itu, ibunya harus berjuang seorang diri untuk membesarkannya hingga dewasa. Beberapa saat kemudian, taksi yang ditumpangi







