Share

Bab 4. Leon Mau Mama

Penulis: Andrea_Wu
last update Tanggal publikasi: 2026-09-28 21:17:18

Clair menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang kecil di flat mungil yang disewanya.

 Selama ini, dia hanya tinggal berdua dengan ibunya di sebuah flat kumuh di kawasan pinggiran Kota Dalvora.

 Sebelum dipecat dari pekerjaannya, Clair bekerja sebagai kasir di sebuah minimarket yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Dari sanalah dia mencari nafkah untuk menghidupi diri sendiri sekaligus membeli obat-obatan bagi ibunya.

 Sudah satu tahun ibunya jatuh sakit. 

 Samanta menderita kanker ovarium stadium akhir. Setiap hari, ibunya harus mengonsumsi obat-obatan dan menjalani kemoterapi sesuai jadwal yang ditentukan dokter. Semua itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

 Masalah datang silih berganti. Namun, siang tadi, isi kepalanya semakin rumit setelah bertemu Leonard, dan melihat ekspresi bocah itu yang tidak mau berpisah darinya.

 "Kasihan juga Leonard, tapi aku nggak mungkin datang ke sana, kan? Lagian, aku nggak ada hubungan apa-apa dengan mereka. Nanti malah dikira aku mendekati anak konglomerat demi meminta imbalan." Clair bergumam sambil menatap langit-langit kamarnya.

 Dia kemudian berguling hingga menghadap ke kanan ketika ponselnya berdering. Sebuah nama berkedip di layar ponselnya. Nama Caroline terpampang di sana.

 Melihat nama sahabatnya yang menelepon, Clair segera bangkit dan mengangkat panggilan itu dengan tergesa-gesa.

 "Nana, gimana? Ada lowongan pekerjaan?" tanyanya cepat, bahkan tanpa memberi kesempatan kepada Caroline untuk mengucapkan salam.

 "Kamu ini, baru juga mengangkat telepon sudah nanyain pekerjaan. Sabar dulu. Belum ada lowongan di kantor tempat aku bekerja, Clair."

 Wajah Clair yang semula sumringah seketika berubah muram. Padahal, dia sudah berharap sahabatnya itu membawa kabar baik, terutama setelah dirinya gagal dalam wawancara kerja tadi.

 "Jadi tukang bersih-bersih pun aku nggak masalah, Na. Aku mau kerja apa saja."

 Caroline menghela napas di seberang sana. "Aku tahu kamu butuh banyak uang, tapi kantor lagi nggak butuh tukang bersih-bersih. Kalau bosnya sih, butuh istri," candanya sambil terkikik geli.

 "Apaan? Jangan bercanda."

 "Ya, maaf. Habis, direktur di kantor tempat aku bekerja itu duda. Punya satu anak. Tapi sayangnya, dia gila kerja. Dia nggak pernah melirik wanita. Nggak tahu deh, mungkin dia masih cinta sama mantan istrinya."

 Mendengar kata duda, Clair langsung teringat Kael, ayah Leonard, yang begitu sibuk bekerja sampai lupa memperhatikan anaknya sendiri.

 "Sudahlah, kalau ada pekerjaan, kabari aku, ya. Aku mau mandi, terus ke rumah sakit."

 "Ya sudah, aku tutup dulu. Salam buat ibumu. Semoga cepat sembuh."

 "Makasih, Na."

 Clair akhirnya mengakhiri panggilan teleponnya, lalu bergegas mandi karena malam ini dia harus pergi ke rumah sakit untuk menemani ibunya.

 ***

 Kael turun dari mobil dengan tergesa-gesa setelah menerima laporan dari Martha bahwa putranya mogok makan dan terus mengurung diri di dalam kamar.

 "Martha!" Suaranya menggema di lorong mansion yang luas.

 Martha berlari tergopoh-gopoh dari arah dapur dengan napas tersengal. Begitu berhadapan dengan Kael, wanita itu langsung membungkuk hormat.

 "Tuan, syukurlah Anda sudah pulang."

 "Di mana Leon?" tanya Kael cepat.

 "Tuan Muda ada di kamarnya. Sejak pulang sekolah, Tuan Muda tidak mau keluar kamar. Dia juga menolak makan."

 Kael mengangguk. Dia menduga putranya kesal karena dirinya lupa menjemput bocah itu dari sekolah.

 Setelah berbicara dengan Martha, Kael langsung melangkah menuju kamar putranya di lantai dua.

 Ketika berdiri di depan pintu kamar Leonard, Kael sempat menghela napas sebelum membukanya perlahan.

 Derit pintu mengiringi langkah Kael saat memasuki kamar yang luas itu. Suara sepatu pantofelnya beradu dengan lantai marmer, memecah keheningan di dalam ruangan.

 Ketika tiba di sisi ranjang putranya, Kael mendapati Leonard sedang meringkuk menghadap ke samping, dengan tubuh terbungkus selimut hingga sebatas dada.

 Kael duduk di tepi ranjang. Tangannya sempat terangkat, berniat mengusap kepala putranya, tetapi dia mengurungkan niatnya karena takut Leonard akan menolak sentuhannya. Bagaimanapun, dia merasa bersalah atas kejadian tadi siang.

 Tangan yang semula menggantung di udara itu akhirnya diturunkan kembali.

 "Leon, kamu sudah tidur?" tanyanya.

 Leonard tidak bereaksi. Tangannya sibuk mencengkeram selimut. Bocah itu baru saja selesai menangis, tetapi dia takut jika ayahnya mengetahui hal tersebut. Kael bisa saja marah karena ayahnya selalu mengatakan bahwa anak laki-laki tidak boleh cengeng.

 "Sini, lihat Papa. Kamu kenapa? Marah karena Papa lupa jemput?"

 Leonard masih terdiam. Namun, anggukan kecilnya menjadi jawaban tanpa perlu membuatnya menoleh.

 "Maafkan Papa. Tadi di kantor, Papa banyak kerjaan. Ayo, bangun, lalu makan. Bibi Martha bilang kamu nggak mau makan."

 "Leon nggak lapar."

 "Kenapa? Masih marah sama Papa?"

 Leonard kembali diam. Beberapa detik kemudian, dia mengusap air matanya.

 "Papa, padahal Papa sudah janji mau beli es krim, tapi Papa bohong."

 Kael menghela napas pelan. Dia tidak tahu bagaimana cara membujuk anak kecil. Sejak remaja, hidupnya hanya berkutat pada belajar dan bekerja. Sebagai seorang pewaris, dia tumbuh menjadi laki-laki yang dingin dan kaku.

Lagipula, bekerja pun demi menghidupi keluarga. Soal anak, dia menyerahkan urusannya pada pengasuh. Selama fasilitas dan kebutuhan terpenuhi, Leonard tidak akan pernah merasa kekurangan.

Dia memang bukan tipe pria yang romantis, sebagaimana yang pernah dikatakan mendiang istrinya dahulu.

 "Papa kan sudah bilang, Papa sibuk. Lain kali pasti Papa tepati. Ayo, makan. Nggak usah manja."

 Leonard meremas ujung selimutnya. Dia ingin menangis lagi. Andai saja mamanya ada di sini, pasti wanita itu akan datang dan memeluknya.

 "Leon nggak lapar."

 "Jangan keras kepala. Kalau kamu sakit, siapa yang repot? Kamu nggak mau, kan, jatuh sakit, terus nggak bisa ke sekolah?"

 Leon makin merengut. Papanya selalu saja begitu. Tidak pernah mengerti apa yang sebenarnya dia inginkan.

 "Pa, kapan Mama bangun? Leon rindu Mama."

 Kael terdiam, terpaku di tempatnya.

 Bangun? Bagaimana mungkin? Clara sudah tiada. Selama ini, dia hanya berbohong agar Leonard tidak terus bertanya mengapa ibunya tidak pernah pulang.

 "Nanti, nanti Mama bangun," jawab Kael lirih.

 "Tapi kapan? Leon rindu Mama. Di sekolah, teman-teman Leon punya Mama. Tapi Leon ... Leon nggak punya."

 Kael memalingkan wajah, ada rasa sesak yang tiba-tiba muncul di dadanya saat mendengar ucapan itu.

 "Kenapa kamu sekarang jadi manja? Sudah, Papa baru pulang bekerja. Kamu jangan manja. Ayo, makan. Papa tunggu."

 Kael bergegas keluar dari kamar Leonard, meninggalkan bocah itu yang kembali menangis.

 "Mama, apa Mama sudah bangun? Apa Tante Clair itu Mama? Kalau Tante Clair benar-benar Mama, Leon mau Tante Clair pulang dan kembali jadi Mama Leon," gumamnya di sela isak tangis.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dicari! Mama Untuk Putra CEO   Bab 8. Perjanjian

    "Kenapa wajahmu sangat mirip dengan Clara?" Ucapan itu ternyata masih terngiang di telinga Clair. Meskipun belum pernah melihat wajah Clara karena Kael tidak pernah memperlihatkan foto mendiang istrinya, Clair tetap merasa heran. Namun, bukankah di dunia ini ada kemungkinan seseorang memiliki tujuh kembaran? "Sudahlah, kenapa aku memikirkan hal yang tidak penting begitu? Mungkin hanya kebetulan." Clair merebahkan tubuhnya di atas kasur kecil di dalam flat sederhana yang ditinggalinya. Matanya menatap langit-langit kamar, membayangkan bagaimana kehidupannya bisa berubah begitu drastis hanya dalam waktu singkat. Awalnya, dia hanya berniat menolong Leonard, tetapi sekarang justru harus berakhir menjadi istri kontrak Kael Dimitri, seorang CEO dari perusahaan raksasa di negara ini. "Menikah? Apa keputusanku ini benar-benar masuk akal?" gumamnya. "Sudahlah, lebih baik tidur. Besok aku harus ke sana lagi untuk membahas kontrak." Clair mencoba memejamkan kedua matanya. Sejak dulu, dia

  • Dicari! Mama Untuk Putra CEO   Bab 7. Apa Mama Sudah Bangun?

    "Mama!" teriak Leonard begitu mengetahui Clair datang. Wanita itu langsung berjalan masuk ke kamar Leon, diikuti Marta dan Kael yang berjalan di belakang. Leonard yang masih demam menyambut Clair dengan penuh semangat. Dia segera menyingkap selimutnya, lalu merentangkan kedua tangan untuk memeluk wanita yang sebelumnya dia panggil tante itu. "Halo, Boy. Katanya kamu mogok makan. Kenapa?" Leonard mendongak. Matanya yang sayu menatap Clair, lalu kembali menunduk dan menyembunyikan wajahnya di perut wanita itu. Dia menghirup aroma lembut dari tubuh wanita yang sekarang dipanggilnya Mama. Dia sangat menyukai aroma tubuh Clair. Baunya begitu enak dan membuatnya merasa nyaman. "Leon rindu Mama. Kenapa Mama tidur lama banget? Apa Mama sudah bangun? Mama nggak akan tidur lagi, kan?" Clair terdiam beberapa saat. Dia mengusap kepala bocah itu. Hatinya ikut sakit ketika menyadari bahwa anak sekecil ini harus kehilangan ibunya. Dan sekarang, dia harus menggantikan peran ibu bagi Leonard de

  • Dicari! Mama Untuk Putra CEO   Bab 6. Kesepakatan Gila

    Mobil yang dikemudikan Jovan memasuki gerbang utama mansion megah yang berdiri di kawasan elite Dalvora. Di balik pagar besi berwarna hitam keemasan itu, halaman luas terbentang dengan taman yang tertata sempurna, sementara air mancur di tengahnya memantulkan cahaya matahari pagi. Clair merapatkan mantel tipis yang dikenakannya, lalu melirik Jovan yang duduk di belakang kemudi. "Kamu tidak perlu gugup," ujar Jovan ketika mobil berhenti di depan tangga mansion. Ia mematikan mesin, lalu menoleh kepada Clair. "Tuan Dimitri hanya ingin bicara denganmu." Clair mengangguk kecil, lalu kembali menatap Jovan. "Apa Leonard baik-baik saja?" tanyanya kemudian. "Tuan Muda masih demam. Dokter sudah memeriksanya dan memberikan obat, tetapi sejak semalam dia terus memanggil namamu." Ada rasa khawatir yang perlahan memenuhi dada Clair. Ia tidak menyangka anak sekecil Leonard akan begitu terikat kepadanya hanya karena pertemuan singkat mereka. "Kalau begitu, ayo kita masuk," ucap Clair, membuka

  • Dicari! Mama Untuk Putra CEO   Bab 5. Tawaran

    Kael baru saja menyelesaikan beberapa dokumen di ruang kerjanya, lalu menatap foto mendiang istrinya yang selalu berada di atas meja. Dia memandang foto itu cukup lama, lalu meraup kasar wajahnya. Dia tidak harus terus terpuruk seperti ini. Meskipun tidak ada cinta di hati Kael untuk Clara, tapi dia selalu menyesal ketika dia gagal melindungi wanita yang sudah memberinya putra untuknya. "Maafkan aku, Clara. Tadi Leon marah padaku. Aku lupa menjemputnya. Apa aku ayah yang jahat? Aku sudah berusaha membuatnya senang. Semua fasilitas terbaik, tapi aku belum bisa jadi ayah yang baik untuknya." Tepat ketika dia mengalihkan pandangan. Martha datang dengan wajah cemas. "Tuan, Tuan Muda sepertinya kurang sehat." Kael langsung menutup berkas di tangannya. Berdiri, lalu menghampiri Martha yang mematung di depan pintu. "Leon kenapa?" Martha tampak gugup saat berbicara. "Sejak sore tadi, Tuan Muda tidak mau makan, dan sekarang tubuhnya demam." "Belum mau makan juga?" Kael mendesah pe

  • Dicari! Mama Untuk Putra CEO   Bab 4. Leon Mau Mama

    Clair menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang kecil di flat mungil yang disewanya. Selama ini, dia hanya tinggal berdua dengan ibunya di sebuah flat kumuh di kawasan pinggiran Kota Dalvora. Sebelum dipecat dari pekerjaannya, Clair bekerja sebagai kasir di sebuah minimarket yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Dari sanalah dia mencari nafkah untuk menghidupi diri sendiri sekaligus membeli obat-obatan bagi ibunya. Sudah satu tahun ibunya jatuh sakit. Samanta menderita kanker ovarium stadium akhir. Setiap hari, ibunya harus mengonsumsi obat-obatan dan menjalani kemoterapi sesuai jadwal yang ditentukan dokter. Semua itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Masalah datang silih berganti. Namun, siang tadi, isi kepalanya semakin rumit setelah bertemu Leonard, dan melihat ekspresi bocah itu yang tidak mau berpisah darinya. "Kasihan juga Leonard, tapi aku nggak mungkin datang ke sana, kan? Lagian, aku nggak ada hubungan apa-apa dengan mereka. Nanti malah dikira aku mendekati anak ko

  • Dicari! Mama Untuk Putra CEO   Bab 3. Apa Mama Sudah Bangun?

    Sepanjang perjalanan, Clair sering menunduk menatap Leonard yang tertidur dalam pelukannya. Dia menghela napas pelan, lalu kembali menatap ke luar jendela. Hari ini seharusnya dia menjalani wawancara kerja di sebuah perusahaan besar setelah menjenguk ibunya di rumah sakit. Dia melamar sebagai cleaning service untuk membayar biaya pengobatan sang ibu yang terus membengkak. Sayangnya, karena tidak tega meninggalkan Leonard sendirian di depan sekolah, dia justru menghabiskan waktu mengantar bocah itu pulang. Ketika mencoba menghubungi pihak perusahaan, Clair baru mengetahui bahwa sesi wawancara telah berakhir. Kesempatan yang sudah dinantikannya selama berhari-hari pun lenyap begitu saja. Clair menyandarkan kepala pada jok. Sejak kecil, hidupnya memang tidak mudah. Ayahnya meninggalkan dirinya dan sang ibu demi wanita lain ketika dia masih kecil. Sejak saat itu, ibunya harus berjuang seorang diri untuk membesarkannya hingga dewasa. Beberapa saat kemudian, taksi yang ditumpangi

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status