LOGINShen Yue dicerai karena dituduh mandul di hari ulang tahun pernikahannya. Setelah tiga tahun mengabdi sebagai istri Jenderal Wei Cheng, ia diusir tanpa apa-apa di tengah hujan hanya dengan selembar surat talak. Semua orang mengira hidupnya selesai. Dua tahun kemudian, Shen Yue bangkit. Ia bukan lagi istri yang terbuang, melainkan Tabib Yue, pemilik kedai obat Seratus Ramuan yang paling dihormati di ibukota. Saat ia sudah berdamai dengan luka, mantan suaminya datang memohon rujuk karena tahu rahasia bahwa yang mandul bukan Shen Yue. Namun sudah terlambat. Di sisi Shen Yue kini ada Jenderal Muda Huo Yu, murid mantan suaminya sendiri yang lima tahun lebih muda darinya. Di medan perang dia ditakuti, tapi di depan Shen Yue dia hanya seorang brondong yang tulus dan berkata, "Kakak Yue, aku masih pantas untuk mencintaimu. Apakah kau masih pantas untuk bahagia bersamaku?" Romansa zaman kuno tentang kesempatan kedua, penyembuhan luka, dan cinta tulus seorang brondong.
View MoreShen Yue tidak pernah menyangka surat cerai akan datang di hari ia menyiapkan kejutan.
Pagi buta, ia sudah di dapur. Tangannya melepuh karena minyak panas. Di atas meja kayu, ada mangkuk kue osmanthus yang agak gosong di pinggirnya. Kue kesukaan Wei Cheng, suaminya.
Di sampingnya, terdapat jubah musim dingin yang ia jahit sebulan terakhir; benangnya sampai menusuk jarinya berkali-kali. Dan satu botol kecil berisi pil hitam, ia tumbuk sendiri dari akar ginseng langka untuk nyeri kaki suaminya yang kambuh kalau musim hujan.
Tiga tahun menjadi istri, hanya ini yang bisa ia lakukan.
"Xiao Tao, apa dapur masih berantakan?" tanya Shen Yue sambil merapikan rambutnya yang lepek karena keringat.
Pelayan cilik itu menggeleng cepat. "Sudah bersih, Nyonya. Jenderal pasti senang."
Shen Yue tersenyum. Senyum yang sudah ia latih sejak subuh. Hari ini ia akan menyampaikan kepada Wei Cheng bahwa Tabib Liu bilang rahimnya tidak rusak.
Hanya lemah. Hanya perlu obat dan waktu. Bukan mandul seperti yang ibu mertuanya tuduhkan selama ini.
Ia menunggu di aula utama dari pagi sampai matahari tegak di atas kepala. Sampai matahari condong. Sampai langit menghitam.
Hujan turun.
Barulah suara kuda terdengar di gerbang.
Shen Yue berlari, tidak peduli sandal kayunya terlepas sebelah. Ia mengangkat jubah itu tinggi-tinggi agar tidak terkena becek.
"Suamiku, kau pulang—"
Langkahnya berhenti.
Wei Cheng turun dari kuda hitamnya. Namun, ia tidak sendiri. Nyonya Besar Wei turun dengan dibantu pelayan, wajahnya masam seperti biasa.
Di belakang Wei Cheng, ada seorang perempuan yang menempel manja sambil memegang perut yang sudah besar.
Mei Rou. Selir mantan penyanyi yang dulu pernah dilihat Shen Yue sekali di sebuah pesta.
Jantung Shen Yue terasa seperti diremas. Nyonya Besar Wei tidak membuang waktu. Ia melempar sesuatu ke lantai, tepat di depan kaki Shen Yue yang basah.
Sebuah gulungan kertas kuning yang basah terkena hujan.
"Ambil. Baca," kata Nyonya Besar dengan dingin.
Shen Yue berlutut, memungutnya dengan tangan gemetar. Air hujan menetes dari rambutnya ke atas kertas itu, melunturkan sedikit tintanya.
Surat Talak.
Istri Shen Yue tidak berbakti, tidak bisa memberi keturunan selama tiga tahun. Mulutnya pembawa sial. Mulai hari ini, keluarga Wei memutuskan hubungan dengannya.
Dunia Shen Yue berdengung.
"Mandul?" Suaranya tercekat. Ia mendongak, menatap Wei Cheng yang kakinya ia pijat setiap malam. "Suamiku, ini... ini fitnah. Aku tidak mandul. Tabib Liu berkata—"
"Cukup, Shen Yue!" Wei Cheng memotong, suaranya berat dan penuh kejijikan.
Ia bahkan tidak sudi menatap mata Shen Yue. "Rou'er sudah mengandung anakku empat bulan. Keluarga Wei butuh anak. Bukan ayam betina yang hanya bisa menghabiskan beras, tetapi tidak bisa bertelur."
Mei Rou mengelus perutnya, tersenyum menang. "Kakak Yue, jadilah pengertian. Posisi Nyonya Jenderal memang seharusnya untuk yang bisa memberi anak. Bukan untukmu."
Ayam betina yang tidak bisa bertelur. Kata-kata itu terngiang di kepala Shen Yue.
Tiga tahun. Tiga tahun ia mencuci pakaian ibu mertua yang lumpuh. Tiga tahun ia begadang meracik obat untuk prajurit Wei Cheng yang terluka di perbatasan. Ia mengira kesabaran akan berbuah cinta. Ternyata tidak.
Ia tertawa pelan. Air mata dan air hujan bercampur di pipinya.
"Jadi begitu."
Ia berdiri. Dengan sisa tenaga yang ada, ia mengambil jubah yang ia jahit itu dari lantai yang sudah kotor terinjak sepatu mereka. Ia menatap jubah itu sebentar, lalu melemparkannya ke arah kaki Wei Cheng.
"Kalau begitu kembalikan tiga tahun hidupku, Jenderal Wei."
"Jaga mulutmu!" Nyonya Besar membentak. "Pengawal! Seret perempuan pembawa sial ini keluar! Bakar semua barangnya!"
Dua pengawal maju menarik lengannya dengan kasar.
Shen Yue menepis mereka dengan keras. Ia tidak akan membiarkan dirinya diseret seperti anjing.
Ia melangkah mundur, keluar dari gerbang besar itu seorang diri.
Hujan semakin deras. Gerbang kayu besar kediaman Jenderal Wei ditutup dengan bantingan keras di belakang punggungnya. Suara itu memutus semua hubungannya dengan masa lalu.
Shen Yue berdiri sendirian di jalanan ibu kota yang becek dan sepi. Jubah tipisnya basah kuyup menempel di tubuh. Botol pil yang ia buat semalaman pecah di dalam kantung jubahnya, melukai tangannya. Darah bercampur air hujan.
Ia memeluk perutnya yang kosong. Dingin. Lapar. Hina.
Apakah aku memang tidak pantas bahagia?
Ia terhuyung, pandangannya menghitam. Lututnya lemas. Ia nyaris jatuh di tengah jalan itu.
Namun, sebelum tubuhnya menyentuh tanah yang becek, sebuah payung kertas minyak hitam menaungi kepalanya. Hujan berhenti mengguyur wajahnya.
Seseorang menahan tubuhnya dari belakang. Tubuh yang tinggi, hangat, dengan aroma kayu pinus dan besi.
Sebuah suara pemuda yang berat, tertahan amarah, berbisik di atas kepalanya.
"Kakak Yue, mereka buta jika membuangmu seperti ini."
Shen Yue memaksakan mata terbuka. Samar-samar, ia melihat wajah yang tidak asing. Wajah yang dulu sering ia lihat di arena latihan, anak muda yang selalu ia beri kue saat ia masih menjadi istri Jenderal.
Huo Yu. Murid kesayangan mantan suaminya. Anak itu. Jenderal termuda yang ditakuti semua orang.
Kenapa dia ada di sini?
Pedang patah itu dingin.Shen Yue memegangnya dengan kedua tangan yang gemetar. Darah hitam yang sudah mengering dua bulan di bilah pedang itu tidak bisa hilang, bahkan saat ia gosok dengan kain bersih.Ini darah Huo Yu. Ia kenal baunya, bau besi dan salju."Ibu, kenapa Ibu nangis?" Huo Chen yang berumur dua tahun menarik-narik baju Shen Yue dengan tangan kecilnya. Ia tidak mengerti kenapa semua pasien di kedainya tiba-tiba diam dan menatap pedang jelek di lantai.Shen Yue tidak menjawab. Ia memeluk Huo Chen erat-erat, seolah kalau ia lepas, anak itu juga akan menjadi pedang patah dan hilang.Prajurit buntung yang membawa pedang itu masih berlutut di lantai Kedai Obat Merdeka, menangis tersedu-sedu dengan satu kakinya yang tersisa."Maafkan hamba, Tabib Yue... hamba tidak bisa melindungi Jenderal... hamba satu-satunya yang selamat dari Lembah Angin Hitam setelah Jenderal jatuh ke jurang..."Belum sempat Shen Yue bertanya lagi tentang jurang, suara kuda dan genderang istana berhenti te
Darah. Banyak sekali darah di lantai istana malam itu. Semua tabib mengira Shen Yue akan keguguran. Bahkan Kasim Li sudah menyiapkan kain kafan kecil untuk janin yang belum jadi. Tapi Shen Yue tidak keguguran. Anak itu bertahan. Mungkin karena pil penawar yang ia minum, mungkin karena dendamnya pada keluarga Wei yang membuatnya kuat, atau mungkin karena liontin serigala hitam yang masih hangat di lehernya malam itu. Anak itu bertahan. Dua tahun kemudian. Ibukota sudah tidak sama lagi. Jika dua tahun lalu orang-orang membicarakan perceraian memalukan Tabib Yue yang mandul di depan gerbang keluarga Wei, sekarang semua orang membicarakan satu nama dengan hormat dan takut. Kedai Obat Merdeka. Kedai obat terbesar di jalan utama ibukota, dengan plang kayu besar bertuliskan empat huruf emas yang ditulis langsung oleh Kaisar sendiri: MILIK SHEN YUE. Bukan milik ayah. Bukan milik suami. Milik perempuan itu sendiri. Di dalam kedai yang ramai oleh antrian pasien dari pagi sampai malam
"Huo Yu."Satu nama itu menggema di kamar Kaisar yang penuh darah danbau obat.Semua napas tertahan.Semua tabib istana yang berlutut langsung menunduk lebihdalam. Takut. Mereka tahu, setiap kali Kaisar memanggil nama itu dengan suarasekarat seperti itu, artinya ada perang besar yang tidak bisa dihindari lagi.Huo Yu berdiri tegak di samping ranjang naga. Ia sudahmengerti sebelum Kaisar melanjutkan kalimatnya.Selama sepuluh tahun ia menjadi pedang kerajaan, ia sudahhafal tatapan Kaisar. Tatapan berat, penuh rasa bersalah, tetapi terpaksa.Shen Yue yang masih berlutut di lantai, yang masih memelukSurat Merdeka yang baru ia dapatkan dan masih hangat karena stempel naga,mencengkeram ujung jubah perang Huo Yu dengan panik. Tangan gemetarnya menahanerat hingga kuku-kukunya memutih.Jangan. Jangan pergi.Tetapi ia tidak bisa mengatakannya. Ia baru saja menolakdinikahkan di depan semua orang. Ia baru saja meminta merdeka. Ia tidak mau terlihat seperti perempuan lemah yang barume
"Hamba tidak meminta dinikahkan, Yang Mulia."Satu kalimat itu membuat seluruh kamar Kaisar yang tadinyaharu langsung membeku.Kasim Li sampai tersedak. Puluhan tabib istana salingpandang, menganggap Shen Yue gila.Menolak dinikahkan dengan Huo Yu? Jenderal termuda, palingtampan, paling kaya di ibu kota yang semua perempuan memimpikannya?Wei Cheng yang berdiri di ambang pintu, yang tadinya sudahjatuh terduduk karena takut Shen Yue dinikahi Huo Yu, kini malah mendongakdengan senyum menghina."Hah! Lihat! Perempuan ini memang tidak tahu diri!Jenderal Huo, kau lihat, kan? Janda seperti dia!""Diam!"Yang membentak bukan Shen Yue, melainkan Huo Yu.Huo Yu masih berlutut di samping Shen Yue. Wajahnya yangtadi membeku karena kaget ditolak, kini perlahan-lahan berubah.Ia menatap Shen Yue yang berlutut di sampingnya. Pucat,basah, hamil dua bulan, tetapi punggungnya tegak. Tidak seperti perempuan yangbaru saja ia peluk dan menangis di penginapan.Shen Yue yang ini berbeda.Huo Yu ti












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.