Dicerai Karena Mandul, Dilamar Jenderal Berondong

Dicerai Karena Mandul, Dilamar Jenderal Berondong

last updateLast Updated : 2026-09-07
By:  Qalvielis28Updated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
Not enough ratings
12Chapters
13views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Shen Yue dicerai karena dituduh mandul di hari ulang tahun pernikahannya. Setelah tiga tahun mengabdi sebagai istri Jenderal Wei Cheng, ia diusir tanpa apa-apa di tengah hujan hanya dengan selembar surat talak. Semua orang mengira hidupnya selesai. Dua tahun kemudian, Shen Yue bangkit. Ia bukan lagi istri yang terbuang, melainkan Tabib Yue, pemilik kedai obat Seratus Ramuan yang paling dihormati di ibukota. Saat ia sudah berdamai dengan luka, mantan suaminya datang memohon rujuk karena tahu rahasia bahwa yang mandul bukan Shen Yue. Namun sudah terlambat. Di sisi Shen Yue kini ada Jenderal Muda Huo Yu, murid mantan suaminya sendiri yang lima tahun lebih muda darinya. Di medan perang dia ditakuti, tapi di depan Shen Yue dia hanya seorang brondong yang tulus dan berkata, "Kakak Yue, aku masih pantas untuk mencintaimu. Apakah kau masih pantas untuk bahagia bersamaku?" Romansa zaman kuno tentang kesempatan kedua, penyembuhan luka, dan cinta tulus seorang brondong.

View More

Chapter 1

Bab 1 : Surat Itu Bernama Talak

Shen Yue tidak pernah menyangka surat cerai akan datang di hari ia menyiapkan kejutan.

Pagi buta, ia sudah di dapur. Tangannya melepuh karena minyak panas. Di atas meja kayu, ada mangkuk kue osmanthus yang agak gosong di pinggirnya. Kue kesukaan Wei Cheng, suaminya.

Di sampingnya, terdapat jubah musim dingin yang ia jahit sebulan terakhir; benangnya sampai menusuk jarinya berkali-kali. Dan satu botol kecil berisi pil hitam, ia tumbuk sendiri dari akar ginseng langka untuk nyeri kaki suaminya yang kambuh kalau musim hujan.

Tiga tahun menjadi istri, hanya ini yang bisa ia lakukan.

"Xiao Tao, apa dapur masih berantakan?" tanya Shen Yue sambil merapikan rambutnya yang lepek karena keringat.

Pelayan cilik itu menggeleng cepat. "Sudah bersih, Nyonya. Jenderal pasti senang."

Shen Yue tersenyum. Senyum yang sudah ia latih sejak subuh. Hari ini ia akan menyampaikan kepada Wei Cheng bahwa Tabib Liu bilang rahimnya tidak rusak.

Hanya lemah. Hanya perlu obat dan waktu. Bukan mandul seperti yang ibu mertuanya tuduhkan selama ini.

Ia menunggu di aula utama dari pagi sampai matahari tegak di atas kepala. Sampai matahari condong. Sampai langit menghitam.

Hujan turun.

Barulah suara kuda terdengar di gerbang.

Shen Yue berlari, tidak peduli sandal kayunya terlepas sebelah. Ia mengangkat jubah itu tinggi-tinggi agar tidak terkena becek.

"Suamiku, kau pulang—"

Langkahnya berhenti.

Wei Cheng turun dari kuda hitamnya. Namun, ia tidak sendiri. Nyonya Besar Wei turun dengan dibantu pelayan, wajahnya masam seperti biasa.

Di belakang Wei Cheng, ada seorang perempuan yang menempel manja sambil memegang perut yang sudah besar.

Mei Rou. Selir mantan penyanyi yang dulu pernah dilihat Shen Yue sekali di sebuah pesta.

Jantung Shen Yue terasa seperti diremas. Nyonya Besar Wei tidak membuang waktu. Ia melempar sesuatu ke lantai, tepat di depan kaki Shen Yue yang basah.

Sebuah gulungan kertas kuning yang basah terkena hujan.

"Ambil. Baca," kata Nyonya Besar dengan dingin.

Shen Yue berlutut, memungutnya dengan tangan gemetar. Air hujan menetes dari rambutnya ke atas kertas itu, melunturkan sedikit tintanya.

Surat Talak.

Istri Shen Yue tidak berbakti, tidak bisa memberi keturunan selama tiga tahun. Mulutnya pembawa sial. Mulai hari ini, keluarga Wei memutuskan hubungan dengannya.

Dunia Shen Yue berdengung.

"Mandul?" Suaranya tercekat. Ia mendongak, menatap Wei Cheng yang kakinya ia pijat setiap malam. "Suamiku, ini... ini fitnah. Aku tidak mandul. Tabib Liu berkata—"

"Cukup, Shen Yue!" Wei Cheng memotong, suaranya berat dan penuh kejijikan.

Ia bahkan tidak sudi menatap mata Shen Yue. "Rou'er sudah mengandung anakku empat bulan. Keluarga Wei butuh anak. Bukan ayam betina yang hanya bisa menghabiskan beras, tetapi tidak bisa bertelur."

Mei Rou mengelus perutnya, tersenyum menang. "Kakak Yue, jadilah pengertian. Posisi Nyonya Jenderal memang seharusnya untuk yang bisa memberi anak. Bukan untukmu."

Ayam betina yang tidak bisa bertelur. Kata-kata itu terngiang di kepala Shen Yue.

Tiga tahun. Tiga tahun ia mencuci pakaian ibu mertua yang lumpuh. Tiga tahun ia begadang meracik obat untuk prajurit Wei Cheng yang terluka di perbatasan. Ia mengira kesabaran akan berbuah cinta. Ternyata tidak.

Ia tertawa pelan. Air mata dan air hujan bercampur di pipinya.

"Jadi begitu."

Ia berdiri. Dengan sisa tenaga yang ada, ia mengambil jubah yang ia jahit itu dari lantai yang sudah kotor terinjak sepatu mereka. Ia menatap jubah itu sebentar, lalu melemparkannya ke arah kaki Wei Cheng.

"Kalau begitu kembalikan tiga tahun hidupku, Jenderal Wei."

"Jaga mulutmu!" Nyonya Besar membentak. "Pengawal! Seret perempuan pembawa sial ini keluar! Bakar semua barangnya!"

Dua pengawal maju menarik lengannya dengan kasar.

Shen Yue menepis mereka dengan keras. Ia tidak akan membiarkan dirinya diseret seperti anjing.

Ia melangkah mundur, keluar dari gerbang besar itu seorang diri.

Hujan semakin deras. Gerbang kayu besar kediaman Jenderal Wei ditutup dengan bantingan keras di belakang punggungnya. Suara itu memutus semua hubungannya dengan masa lalu.

Shen Yue berdiri sendirian di jalanan ibu kota yang becek dan sepi. Jubah tipisnya basah kuyup menempel di tubuh. Botol pil yang ia buat semalaman pecah di dalam kantung jubahnya, melukai tangannya. Darah bercampur air hujan.

Ia memeluk perutnya yang kosong. Dingin. Lapar. Hina.

Apakah aku memang tidak pantas bahagia?

Ia terhuyung, pandangannya menghitam. Lututnya lemas. Ia nyaris jatuh di tengah jalan itu.

Namun, sebelum tubuhnya menyentuh tanah yang becek, sebuah payung kertas minyak hitam menaungi kepalanya. Hujan berhenti mengguyur wajahnya.

Seseorang menahan tubuhnya dari belakang. Tubuh yang tinggi, hangat, dengan aroma kayu pinus dan besi.

Sebuah suara pemuda yang berat, tertahan amarah, berbisik di atas kepalanya.

"Kakak Yue, mereka buta jika membuangmu seperti ini."

Shen Yue memaksakan mata terbuka. Samar-samar, ia melihat wajah yang tidak asing. Wajah yang dulu sering ia lihat di arena latihan, anak muda yang selalu ia beri kue saat ia masih menjadi istri Jenderal.

Huo Yu. Murid kesayangan mantan suaminya. Anak itu. Jenderal termuda yang ditakuti semua orang.

Kenapa dia ada di sini?

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
12 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status