共有

2. Menantu Pengacau

作者: Stary Dream
last update 公開日: 2026-05-17 22:40:37

"Arumi!"

Lagi-lagi nama itu diteriakkan di depan tamu yang datang. Acara khidmat ini berubah gaduh setelah Arumi membuat keributan di belakang sana.

Baskom yang berisi sop sayuran itu tumpah ruah berceceran di atas lantai. Tubuh Arumi membeku, dia meratapi apa yang dilakukannya barusan.

"Kamu!" Hardik Nurlela membalik tubuh Arumi yang terdiam. "Astaga! Lihat apa yang kamu lakukan!"

Semua orang menoleh karena suara bariton itu. Arumi mengerjap dengan mata yang memerah.

"Maaf, bu.. tadi kaki Arumi kesandung."

"Aarggh! Nggak berguna banget sih kamu ini!" Nurlela menoyor kepala Arumi. Tak perduli jika mereka berdua menjadi perhatian orang yang datang.

"Alvin! Bilang sama ibumu untuk kendalikan dirinya!" Bisik Santi kepada keponakannya. Malu sekali rasanya dua wanita itu menjadi perhatian khalayak ramai.

Alvin mendengkus. Terpaksa kaki ini dilangkahkannya menuju dapur belakang. Dia pun melerai pertengkaran wanita ini. Ah, bukan pertengkaran sebenarnya. Hanya Nurlela saja yang ribut.

"Ibu, kenapa?"

"Istrimu ini malu-maluin aja. Buat rugi hajatan. Lihat sop yang ditumpahinnya! Dasar nggak becus!"

"Maaf, mas.. aku nggak sengaja." Lirih Arumi hampir menangis.

"Udah nanti aja marah-marahnya. Nggak enak dilihat banyak tamu!" Seru Alvin yang sebenarnya ikut kesal. Pria ini lalu meminta para ibu-ibu yang lain untuk mengganti sop yang ditumpahkan oleh Arumi. "Sekali lagi, Arumi.. jangan mempermalukanku!" Alvin menatap tajam.

Alvin menyeret Nurlela untuk duduk kembali di tempatnya. Sebentar lagi akan ada prosesi sungkeman dimana Nurlela akan mengambil dalam bagian. Sedangkan, Arumi kembali ke dapur. Ikut membantu menuangkan sup dari atas panci ke baskom stenlis.

"Udah, mbak. Kami aja.. mbak bersihkan aja dulu kebayanya." Ucap salah satu ibu mencegah.

Arumi tersentak. Gara-gara kena marah tadi, Arumi lupa jika kebaya yang dipakainya juga terkena tumpahan sup. Wanita ini lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan nodanya.

Ya, ampun.. Sebab kebaya yang dipakainya ini berwarna cerah, noda ini jadi terlihat jelas. Arumi pun terus menyekanya menggunakan tissue.

"Mana istrimu? Udah dia ngerjain tugasnya?" Nurlela masih kesal setengah mati. Dia baru saja menyelesaikan tugas di prosesi sungkeman.

"Nggak tahu." Sahut Alvin datar. Fokusnya teralihkan pada wanita dengan kebaya pink yang duduk disebrang sana.

"Makanya Alvin, ibu udah bilang kalau cari istri itu yang pinteran dikit. Buktinya istrimu itu! Udah nggak kerja, cuma ibu rumah tangga, pendidikan rendah pula!" Nurlela berdecak. "Guma gara-gara dia cantik kamu jadi nekat menikahinya. Ibu menyesal kalau begini akhirnya.."

"Bu.." tegur Alvin tak suka karena arah pembicaraan jadi kemana-mana.

"Ibu benar, kan? Kamu lihat sendiri kakak-kakak iparmu. Si Rinda itu memag tamatan SMA, tapi dia pedagang. Jualannya laku keras. Terus iparmu yang lain itu pegawai negeri. Nah itu sepupumu yang baru nikah. Dia sarjana walaupun belum bekerja. Setidaknya cari istri yang seperti itu, Vin. Sedangkan, Arumi bisanya cuma menadahkan tangan aja. Enak kalau dia cepat menghasilkan anak. Ini sudah enam bulan kalian menikah tapi belum hamil juga. Kalau misalkan sampai setahun pernikahan kalian masih belum hamil juga, lebih baik kamu ceraikan dia. Perempuan itu pasti mandul!" Seloroh Nurlela tanpa henti.

Sedangkan tangan Alvin mengepal dengan kuat. Dia jadi terpengaruh akan ucapan ibunya. Toh, apa yang dikatakan memang benar. Arumi selama ini hanya bisa menadahkan tangan saja. Berbeda dengan iparnya yang lain bisa membantu suaminya bekerja.

"Eh.. itu bukannya Raisa, mantanmu dulu?"

Alvin berdeham. "Iya."

"Ya, Tuhan.. makin cantik ya dia.." Nurlela main berangkat saja dan mendekati Raisa yang sedang duduk manis. Keduanya lalu mengobrol hingga membuat Alvin memalingkan wajah.

Sekitar 10 menit kemudian, nama keluarga besar Nurlela dipanggil. Mereka harus melakukan proses foto bersama di atas pelaminan.

"Ayo, bu.. mas, mbak.." seru Alvin memanggil ibu dan saudaranya yang lain.

Satu per satu anggota keluarga naik ke atas panggung. Begitu juga Arumi yang tergopoh-gopoh naik ke atas panggung dan masuk ke barisan.

Nurlela langsung melotot. "Bajumu itu kenapa, Arumi???"

"Oh.." Arumi langsung tersenyum tak enak. "Kena kuah sop tadi, bu."

"Turun kamu!" Bentak Nurlela.

"Tapi, bu.."

"Turun! Jangan mengacaukan foto keluarga kami dengan baju kotormu itu!"

Arumi langsung menatap suaminya yang berdiri di sebelah sana. Begitu memelas seperti meminta pertolongan. Namun yang ditatap malah memalingkan wajah. Alvin seperti patung yang tetap menatap lurus ke depan.

"Cepat!" Suara nyaring itu terdengar hingga kembali membuat kedua mempelai berdegup tak enak.

Menahan rasa malunya, Arumi turun dari pelaminan sambil menundukkan wajahnya. Ia lalu pergi ke arah belakang dan bersembunyi.

"Nah.. begini kan pas!" Nurlela tersenyum puas saat Arumi keluar dari formasinya.

Dari jauh, Arumi menyaksikan foto keluarga itu. Tampak sempurna tak ada dirinya disana. Ya, sekarang Arumi paham posisinya. Dia hanya menantu yang tak dianggap.

Wanita ini menekuk wajahnya dengan dalam. Ada perasaan sedih merayap di hati kecilnya. Dia dipermalukan oleh mertuanya sendiri tanpa mendapatkan pembelaan dari suaminya. Tak terasa Arumi meremas jarinya yang tertaut, menahan agar air mata ini tak tumpah.

"Arumi, ya?"

"Hmm??" Arumi mendongak ketika namanya dipanggil oleh seorang pria. Dia lalu menoleh ke samping ketika merasa ada yang memperhatikannya.

"Iya.." jawab Arumi tersendat ketika melihat pria bertubuh tegap berdiri di sampingnya.

"Benar ternyata.. kamu masih ingat siapa aku?"

Arumi memicing memandang pria tersebut sembari mengingat-ingat. Wajahnya tampak familiar. Mereka rasanya pernah bertemu. Tapi, dimana?

"Siapa, ya?"

"Paris. Kakak tingkat SMAmu.."

"Astaga.." Arumi sampai terperangah. "Mas Paris?"

Paris tersenyum lebar ketika wanita ini berhasil mengenalinya.

"Akhirnya kamu inget juga. Apa kabarmu?"

"Baik, mas. Mas sendiri? Oh.. mas juga datang di acara ini?"

"Iya. Kebetulan mempelai pria itu sepupuku.."

"Begitu rupanya.. dan kebetulan mempelai wanitanya juga sepupu dari suamiku."

"Ternyata kamu sudah punya suami, ya.." Paris tersenyum pahit.

"Iya.. mas Paris sudah menikah?" Tanya Arumi.

Baru saja Arumi membuka mulutnya, seseorang sudah memanggil Arumi dengan lantang.

"Arumi! Ayo siap-siap, bentar lagi tamu mau makan. Jaga meja sana!" Giliran Santi memberikan perintah.

"Baik, tante." Jawab Arumi jadi tak enak hati karena Santi main menyuruhnya dengan nada marah. "Maaf, mas. Aku harus ke belakang dulu.."

Paris mengangguk mengerti. "Iya, nggak masalah."

Pria ini hanya menatap punggung Arumi yang terlihat menjauh. Ia lalu menggeleng sedih.

"Sekian lama kucari malah rupanya sudah menjadi istri orang lain.." gumam Paris dengan nada kecewa.

Di sisi lain, Nurlela gencar mendekati Raisa lagi.

"Jadi kamu sekarang sudah bekerja di perusahaan asing?"

"Iya, tante. Di bagian marketingnya." Raisa tersenyum manis.

"Aduh.. kamu hebat sekali, nak. Udah cantik, pinter dan sukses. Orang tuamu pasti bangga padamu!"

"Ibu bisa aja!" Raisa jadi tersipu malu.

"Kalau suami udah punya?"

"Eh.." Raisa lalu tertawa. "Belum, bu."

"Sayang sekali.." Nurlela menyayangkan, namun wajahnya menyimpulkan senyum penuh arti. "Kalau Alvin sudah menikah, tapi sayang.. istrinya cuma ibu rumah tangga biasa. Nggak berpendidikan dam cuma di rumah."

"Oh..." Raisa terkejut karena Nurlela main menjelekkan menantunya begitu saja.

"Andai saja kalian nggak putus. Pasti kalian berdua sudah menikah sekarang."

Alvin yang sejak tadi mencuri dengar langsung menoleh. "Ibu ini bicara apa?"

Nurlela tertawa tak enak. "Kalian ngobrol dulu, gih. Ibu mau lihat meja makan sebentar."

Raisa hanya mengangguk sementara Alvin jadi salah tingkah. Duh, tiba-tiba dia jadi berdebar gara-gara Raisa memandangnya begitu.

Nurlela sendiri sudah berdiri di dekat meja makan. Mengawasi tamu yang mengambil makan dan memainkan telunjuk saktinya. Apa saja pekerjaan dilimpahkannya pada Arumi.

Ada saja yang membuat Arumi bolak balik. Tubuh Arumi jadi kelelahan karena sejak tadi pagi memang belum makan. Belum lagi perintah nyonya yang harus dituruti.

"Ambil ayam goreng lagi ke dapur!" Nurlela memberikan perintah.

Arumi menyeka keringatnya yang bercucuran. Penat mulai menguasai dirinya. Dengan langkah terbatas karena rok terusan ini, Arumi mengambil ayam goreng yang ada di dapur.

Namun, matanya menangkap dua insan yang sedang bercengkrama dengan akrab. Ya.. Alvin dengan seorang wanita cantik yang ada disana.. seketika Arumi jadi sakit hati.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
コメント (1)
goodnovel comment avatar
Yani Suryani
kalau aku walau gak berpendidikan tapi ditindas sedemikian mungkin gak sudi
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • Diceraikan Usai Hajatan   51. Hadiah Terindah (Ending)

    "Ini.. namanya test pack, kan?" Tanya Paris setelah kesadarannya kembali. Arumi mengangguk. "Garis dua itu.. artinya hamil?" Kali ini, Arumi mengedikkan bahu. Dia pura-pura tak tahu saja untuk melihat ekspresi suaminya. Dahi Paris mengkerut. Ia memang orang awam tapi pernah mendengar makna garis dua yang tertulis di atas benda pipih ini. Dan untuk memastikannya, Paris harus melakukan sesuatu. "Ganti bajumu!" Paris beranjak dari duduknya. Ia menarik tangan Arumi dan mengajaknya berjalan ke lemari. "Mau kemana, mas?" Tanya Arumi keheranan. "Periksa ke tante Winda. Aku ingin memastikannya." Yang membuat sebal adalah tanggapan Paris saat ini. Suaminya Arumi ini tak berjingkrak senang atau memeluk istrinya. Membuat Arumi jadi curiga kalau sebenarnya Paris terbebani dengan kehamilan ini.

  • Diceraikan Usai Hajatan   50. Garis Dua

    Tidak ada yang kekal. Semua akan kembali ke Sang Pencipta di saat yang telah ditentukan. Inilah akhir kisah Nurlela. Tak lama kepergian dari Arumi, wanita itu menghembuskan nafasnya yang terakhir. Wanita yang dulu sombong namun segera memikul penyakit untuk menebus dosa-dosanya di masa lalu. Di akhir hayatnya, diri ini terkunci karena kesalahan yang belum sempat diutarakannya. Hingga keikhlasan keluar dari mulut wanita yang disakitinya, Nurlela akhirnya bisa melepas beban yang menjeratnya selama ini. Berita duka ini sampai kepada pengantin baru. Padahal keduanya baru sampai ke rumah, Arumi baru saja bermain dengan Hannan. Tapi kabar kesedihan ini didapatkannya dari Alvin. Oleh karena sudah melihat tadi di rumah sakit, Paris dan Arumi akan pergi ke rumah duka saja. Kebetulan almarhumah juga akan dimakamkan besok pagi. Tak hanya pasangan suami istri ini, Lesti

  • Diceraikan Usai Hajatan   49. Bahagianya Pengantin Baru

    Malam pertama dan kedua selesai. Waktunya Paris kembali ke rumah bersama istrinya. Kali ini dia tinggal di rumah warisan neneknya, ibu dari Lesti. "Kalian nggak mau bulan madu?" Tanya Lesti saat mengantar Paris pindahan. "Mau sih. Tapi aku cuma cuti seminggu." "Pergi saja bulan madu kemana kek. Kasihan istrimu masak dikurung terus dirumah." Arumi jadi tersenyum. "Nggak apa-apa kok, ma. Kasihan mas Paris capek juga." "Apa karena Hannan?" Lesti menebak. "Nggak usah risau. Ada papa dan mama yang menjaganya." Paris menatap ibunya lekat, terutama ayahnya. "Beneran nggak apa-apa kami titipkan Hannan?" "Nggak masalah. Ya kan, pa?" Wirawan mengangguk. "Bersenang-senanglah. Jangan kerja terus yang kamu pikirkan!" Senyuman Paris mengembang. Sekarang tinggal membujuk Arumi untuk berbulan madu saja. Ya, dia

  • Diceraikan Usai Hajatan   48. Pernikahan

    Tujuh hari kemudian.. Sebuah acara pernikahan akan dilaksanakan di sebuah hotel berbintang lima dengan pengawalan yang ketat. Maklum saja. Yang akan menikah adalah anak dari seorang jenderal, Wirawan. Apalagi Paris merupakan seorang manajer perusahaan asing yang terkenal karena prestasinya. Masih muda namun bisa duduk di jabatan eksekutif. Ayat dari kitab suci mulai disenandungkan, sebagai tanda bahwa mulainya acara ijab qabul sebentar lagi akan dilaksanakan. Hingga akhirnya qabul terdengar dan dinyatakan SAH! Arumi keluar dari tempat persembunyiannya. Menemui sang pangeran yang kini sudah resmi menjadi suaminya. Paris tersenyum penuh haru ketika istrinya muncul ditemani dayang-dayangnya. Arumi menerima uluran tangan Paris dan menciuminya dengan takzim. Begitu juga dengan Paris yang langsung memberikan do'a di pucuk kepala istrinya. Paris dan Arumi saling melempar senyuman. Merek

  • Diceraikan Usai Hajatan   47. Lamaran

    "Mas Paris.."Aduh.. wajah ini sudah memerah. Mata ini mulai menjalar hangat hingga menumpuk cairan. Apa-apaan ini Paris? Pria ini memberi kejutan untuknya.Percuma mencari Paris di dalam kerumunan sana, dia rupanya muncul dari panggung belakang sambil mengulum senyum.Di layar sana sudah ada kata-kata romantis bertuliskan bahasa inggris. Yang pasti ada nama Arumi disana hingga membuatnya tersipu malu.Arumi ingin bersembunyi saja. Jika ada lubang semut dia ingin kesana. Menyembunyikan wajah yang mulai gerah karena kejutan dari pria ini.Paris berjalan dari arah belakang. Mengenakan kaos polo itu dia nampak gagah. Sebuah mic diberikan kepadanya.Pria ini mendekat bahkan berdiri di samping Arumi.Astaga... Arumi mau pingsan saja! Terlebih detak jantungnya sudah mengajaknya berlari."Arumi.." ucapnya.Arumi menutup mulutnya menahan malu, sementara semua mata penonton sekarang tertuju padanya. Belum lagi r

  • Diceraikan Usai Hajatan   46. Kejutan Paris

    Di sisi lain, Paris sejak tadi mengulum senyumnya. Alvin sudah tahu rencana pernikahan mereka. Itu artinya pasti tadi Arumi sudah cerita.Rapat itu hanya bualan. Paris sengaja berbohong tak bisa menemani Arumi dan Hannan bertemu dengan Alvin. Dia ingin memberi waktu pada Arumi menyelesaikan masa lalunya. Percakapan mereka juga sudah Paris dengar. Syukurlah, hati Arumi tak goyah atas rayuan mantan suaminya."Mas masih marah padaku?" Tanya Arumi ketika Paris hanya diam di perjalanan."Untuk apa aku marah padamu?""Abisnya aku tahu kalau kamu marah soal kemarin. Sikapmu berubah, mas.." lirih Arumi. "Padahal maksudku nggak ingin merepotkanmu aja.. aku takut menjadi beban untukmu padahal kamu bisa mendapatkan wanita baik selain aku.""Kamu mulai lagi.." gumam Paris menggelengkan kepalanya. Daripada meladeni Arumi lebih baik dia diam saja.Sesampainya di rumah, Arumi dan Hannan turun lebih dulu dan Paris menyusul."M

  • Diceraikan Usai Hajatan   24. Kunjungan Paris

    Ah, sudah berapa lama ini. Mungkin dua bulan semenjak Arumi pergi tanpa kabar. Sudah kemana-mana Paris mencarinya, bahkan meminta bantuan ayahnya, Wirawan. Tapi batang hidung Arumi masih tak kelihatan. Sial! Paris jadi menyesal. Harusnya Paris m

  • Diceraikan Usai Hajatan   14. Penasaran atau Khawatir?

    "Kamu mencari pak Paris? Mau apa? Ah.. kamu pasti ingin melamar pekerjaan disini, kan? Kebetulan sekali kalau kami memang membutuhkan cleaning service. Kamu bisa melamar disini." Mata Arumi memerah karena mendengar ucapan Raisa barusan. Bukan karena perkataannya tapi lebih pada tat

  • Diceraikan Usai Hajatan   7. Gelisah

    Arumi dilewati begitu saja oleh rombongan yang akan menghantarkan Alvin ke kehidupan barunya. Sebelum Alvin mencapai pintu mobil, pria ini menoleh sekilas dan menatap Arumi.Kedua mata itu saling bertemu, Arumi yang begitu berharap seakan ingin mengatakan sesuatu membuat langkah Alvin berhenti."Bi

  • Diceraikan Usai Hajatan   6. Tenda Biru

    Dua bulan kemudian...Tangan Arumi membuka kran washtafel dan menyeka mulutnya dengan air secara perlahan. Mual ini begitu menyiksa. Ingin muntah, tapi tak ada satupun yang bisa ia keluarkan. Membuat perutnya sakit saja.Nafsu makan ini menurun drastis, begitu juga dengan berat badannya yang ikut t

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status