Masuk"Arumi!"
Lagi-lagi nama itu diteriakkan di depan tamu yang datang. Acara khidmat ini berubah gaduh setelah Arumi membuat keributan di belakang sana. Baskom yang berisi sop sayuran itu tumpah ruah berceceran di atas lantai. Tubuh Arumi membeku, dia meratapi apa yang dilakukannya barusan. "Kamu!" Hardik Nurlela membalik tubuh Arumi yang terdiam. "Astaga! Lihat apa yang kamu lakukan!" Semua orang menoleh karena suara bariton itu. Arumi mengerjap dengan mata yang memerah. "Maaf, bu.. tadi kaki Arumi kesandung." "Aarggh! Nggak berguna banget sih kamu ini!" Nurlela menoyor kepala Arumi. Tak perduli jika mereka berdua menjadi perhatian orang yang datang. "Alvin! Bilang sama ibumu untuk kendalikan dirinya!" Bisik Santi kepada keponakannya. Malu sekali rasanya dua wanita itu menjadi perhatian khalayak ramai. Alvin mendengkus. Terpaksa kaki ini dilangkahkannya menuju dapur belakang. Dia pun melerai pertengkaran wanita ini. Ah, bukan pertengkaran sebenarnya. Hanya Nurlela saja yang ribut. "Ibu, kenapa?" "Istrimu ini malu-maluin aja. Buat rugi hajatan. Lihat sop yang ditumpahinnya! Dasar nggak becus!" "Maaf, mas.. aku nggak sengaja." Lirih Arumi hampir menangis. "Udah nanti aja marah-marahnya. Nggak enak dilihat banyak tamu!" Seru Alvin yang sebenarnya ikut kesal. Pria ini lalu meminta para ibu-ibu yang lain untuk mengganti sop yang ditumpahkan oleh Arumi. "Sekali lagi, Arumi.. jangan mempermalukanku!" Alvin menatap tajam. Alvin menyeret Nurlela untuk duduk kembali di tempatnya. Sebentar lagi akan ada prosesi sungkeman dimana Nurlela akan mengambil dalam bagian. Sedangkan, Arumi kembali ke dapur. Ikut membantu menuangkan sup dari atas panci ke baskom stenlis. "Udah, mbak. Kami aja.. mbak bersihkan aja dulu kebayanya." Ucap salah satu ibu mencegah. Arumi tersentak. Gara-gara kena marah tadi, Arumi lupa jika kebaya yang dipakainya juga terkena tumpahan sup. Wanita ini lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan nodanya. Ya, ampun.. Sebab kebaya yang dipakainya ini berwarna cerah, noda ini jadi terlihat jelas. Arumi pun terus menyekanya menggunakan tissue. "Mana istrimu? Udah dia ngerjain tugasnya?" Nurlela masih kesal setengah mati. Dia baru saja menyelesaikan tugas di prosesi sungkeman. "Nggak tahu." Sahut Alvin datar. Fokusnya teralihkan pada wanita dengan kebaya pink yang duduk disebrang sana. "Makanya Alvin, ibu udah bilang kalau cari istri itu yang pinteran dikit. Buktinya istrimu itu! Udah nggak kerja, cuma ibu rumah tangga, pendidikan rendah pula!" Nurlela berdecak. "Guma gara-gara dia cantik kamu jadi nekat menikahinya. Ibu menyesal kalau begini akhirnya.." "Bu.." tegur Alvin tak suka karena arah pembicaraan jadi kemana-mana. "Ibu benar, kan? Kamu lihat sendiri kakak-kakak iparmu. Si Rinda itu memag tamatan SMA, tapi dia pedagang. Jualannya laku keras. Terus iparmu yang lain itu pegawai negeri. Nah itu sepupumu yang baru nikah. Dia sarjana walaupun belum bekerja. Setidaknya cari istri yang seperti itu, Vin. Sedangkan, Arumi bisanya cuma menadahkan tangan aja. Enak kalau dia cepat menghasilkan anak. Ini sudah enam bulan kalian menikah tapi belum hamil juga. Kalau misalkan sampai setahun pernikahan kalian masih belum hamil juga, lebih baik kamu ceraikan dia. Perempuan itu pasti mandul!" Seloroh Nurlela tanpa henti. Sedangkan tangan Alvin mengepal dengan kuat. Dia jadi terpengaruh akan ucapan ibunya. Toh, apa yang dikatakan memang benar. Arumi selama ini hanya bisa menadahkan tangan saja. Berbeda dengan iparnya yang lain bisa membantu suaminya bekerja. "Eh.. itu bukannya Raisa, mantanmu dulu?" Alvin berdeham. "Iya." "Ya, Tuhan.. makin cantik ya dia.." Nurlela main berangkat saja dan mendekati Raisa yang sedang duduk manis. Keduanya lalu mengobrol hingga membuat Alvin memalingkan wajah. Sekitar 10 menit kemudian, nama keluarga besar Nurlela dipanggil. Mereka harus melakukan proses foto bersama di atas pelaminan. "Ayo, bu.. mas, mbak.." seru Alvin memanggil ibu dan saudaranya yang lain. Satu per satu anggota keluarga naik ke atas panggung. Begitu juga Arumi yang tergopoh-gopoh naik ke atas panggung dan masuk ke barisan. Nurlela langsung melotot. "Bajumu itu kenapa, Arumi???" "Oh.." Arumi langsung tersenyum tak enak. "Kena kuah sop tadi, bu." "Turun kamu!" Bentak Nurlela. "Tapi, bu.." "Turun! Jangan mengacaukan foto keluarga kami dengan baju kotormu itu!" Arumi langsung menatap suaminya yang berdiri di sebelah sana. Begitu memelas seperti meminta pertolongan. Namun yang ditatap malah memalingkan wajah. Alvin seperti patung yang tetap menatap lurus ke depan. "Cepat!" Suara nyaring itu terdengar hingga kembali membuat kedua mempelai berdegup tak enak. Menahan rasa malunya, Arumi turun dari pelaminan sambil menundukkan wajahnya. Ia lalu pergi ke arah belakang dan bersembunyi. "Nah.. begini kan pas!" Nurlela tersenyum puas saat Arumi keluar dari formasinya. Dari jauh, Arumi menyaksikan foto keluarga itu. Tampak sempurna tak ada dirinya disana. Ya, sekarang Arumi paham posisinya. Dia hanya menantu yang tak dianggap. Wanita ini menekuk wajahnya dengan dalam. Ada perasaan sedih merayap di hati kecilnya. Dia dipermalukan oleh mertuanya sendiri tanpa mendapatkan pembelaan dari suaminya. Tak terasa Arumi meremas jarinya yang tertaut, menahan agar air mata ini tak tumpah. "Arumi, ya?" "Hmm??" Arumi mendongak ketika namanya dipanggil oleh seorang pria. Dia lalu menoleh ke samping ketika merasa ada yang memperhatikannya. "Iya.." jawab Arumi tersendat ketika melihat pria bertubuh tegap berdiri di sampingnya. "Benar ternyata.. kamu masih ingat siapa aku?" Arumi memicing memandang pria tersebut sembari mengingat-ingat. Wajahnya tampak familiar. Mereka rasanya pernah bertemu. Tapi, dimana? "Siapa, ya?" "Paris. Kakak tingkat SMAmu.." "Astaga.." Arumi sampai terperangah. "Mas Paris?" Paris tersenyum lebar ketika wanita ini berhasil mengenalinya. "Akhirnya kamu inget juga. Apa kabarmu?" "Baik, mas. Mas sendiri? Oh.. mas juga datang di acara ini?" "Iya. Kebetulan mempelai pria itu sepupuku.." "Begitu rupanya.. dan kebetulan mempelai wanitanya juga sepupu dari suamiku." "Ternyata kamu sudah punya suami, ya.." Paris tersenyum pahit. "Iya.. mas Paris sudah menikah?" Tanya Arumi. Baru saja Arumi membuka mulutnya, seseorang sudah memanggil Arumi dengan lantang. "Arumi! Ayo siap-siap, bentar lagi tamu mau makan. Jaga meja sana!" Giliran Santi memberikan perintah. "Baik, tante." Jawab Arumi jadi tak enak hati karena Santi main menyuruhnya dengan nada marah. "Maaf, mas. Aku harus ke belakang dulu.." Paris mengangguk mengerti. "Iya, nggak masalah." Pria ini hanya menatap punggung Arumi yang terlihat menjauh. Ia lalu menggeleng sedih. "Sekian lama kucari malah rupanya sudah menjadi istri orang lain.." gumam Paris dengan nada kecewa. Di sisi lain, Nurlela gencar mendekati Raisa lagi. "Jadi kamu sekarang sudah bekerja di perusahaan asing?" "Iya, tante. Di bagian marketingnya." Raisa tersenyum manis. "Aduh.. kamu hebat sekali, nak. Udah cantik, pinter dan sukses. Orang tuamu pasti bangga padamu!" "Ibu bisa aja!" Raisa jadi tersipu malu. "Kalau suami udah punya?" "Eh.." Raisa lalu tertawa. "Belum, bu." "Sayang sekali.." Nurlela menyayangkan, namun wajahnya menyimpulkan senyum penuh arti. "Kalau Alvin sudah menikah, tapi sayang.. istrinya cuma ibu rumah tangga biasa. Nggak berpendidikan dam cuma di rumah." "Oh..." Raisa terkejut karena Nurlela main menjelekkan menantunya begitu saja. "Andai saja kalian nggak putus. Pasti kalian berdua sudah menikah sekarang." Alvin yang sejak tadi mencuri dengar langsung menoleh. "Ibu ini bicara apa?" Nurlela tertawa tak enak. "Kalian ngobrol dulu, gih. Ibu mau lihat meja makan sebentar." Raisa hanya mengangguk sementara Alvin jadi salah tingkah. Duh, tiba-tiba dia jadi berdebar gara-gara Raisa memandangnya begitu. Nurlela sendiri sudah berdiri di dekat meja makan. Mengawasi tamu yang mengambil makan dan memainkan telunjuk saktinya. Apa saja pekerjaan dilimpahkannya pada Arumi. Ada saja yang membuat Arumi bolak balik. Tubuh Arumi jadi kelelahan karena sejak tadi pagi memang belum makan. Belum lagi perintah nyonya yang harus dituruti. "Ambil ayam goreng lagi ke dapur!" Nurlela memberikan perintah. Arumi menyeka keringatnya yang bercucuran. Penat mulai menguasai dirinya. Dengan langkah terbatas karena rok terusan ini, Arumi mengambil ayam goreng yang ada di dapur. Namun, matanya menangkap dua insan yang sedang bercengkrama dengan akrab. Ya.. Alvin dengan seorang wanita cantik yang ada disana.. seketika Arumi jadi sakit hati."Ternyata benar kamu menjadi pengemis disini." Nurlela sengaja menginjak makanan yang diambil oleh Arumi dan melewatinya begitu saja. Melihat itu, Alvin jadi meradang. "Ibu keterlaluan banget!" Pria ini ikut duduk membantu mantan istrinya mengambil makanan yang tercecer. "Alvin!" Seru Nurlela kesal. "Nggak usah, mas. Biar aku aja." Arumi mencegah Alvin membantunya. "Aku ganti makananmu." Ujar Alvin. "Alvin! Astaga! Nggak usah! Jangan kemakan umpannya!" Nurlela menarik Alvin berdiri. Membuang bungkusan makanan yang ada di tangan Alvin ke bawah dan tak sengaja mengenai wajah Arumi yang tengah menunduk. "Arumi!" Panggil seseorang cemas ketika makanan itu menodai wajahnya.Ibu!" Tangan Alvin memegang tangan Nurlela dengan kuat. Sembarangan saja Nurlela main melempar bungkusan makanan ini hingga mengenai wajah Arumi.Sementara, Lesti menatap marah akan
Hari demi hari berganti, Arumi yang tahu akan balas budi membalas semua sikap baik Paris padanya dengan memberikan makan siang. Hampir setiap hari dia mengantarkan makanan dan menitipkannya pada Security. Hanya menu sederhana, tidak istimewa. Tapi sedikit bisa menyentuh hati Paris yang paling dalam. Kata orang jika mau menaklukan pria harus dari perutnya, kan? Nah Paris jadi ketagihan masakan Arumi. Siang ini, di kehamilannya yang menginjak 6 bulan Arumi pergi lagi mengantar makan siang ke kantor Paris. Padahal, Paris sudah mencegah. Kelamaan ia takut Arumi kelelahan karena terus memasak. Tapi, Arumi tidak perduli. Sebagai timbal balik, Paris akan mengirimkan buah-buahan, roti, susu ataupun vitamin hamil. Nah, pria ini memang lebih cerewet dari dokter kandungan Arumi sendiri. "Arumi, ya?" Tanya seorang wanita paruh baya ketika Arumi baru saja keluar dari kant
Jika Arumi tersentuh akan kebaikan Paris maka berbeda lagi dengan pengantin baru, Raisa dan Alvin. Wajah wanita ini tak sedap dipandang. Jika di ruangan usg tadi kesedihan begitu membebaninya. Sekarang malah terlihat kemarahan. Alvin pun tak mengerti apa yang dipikirkan oleh istrinya ini. "Mau cari dimana lagi kita obatnya, mas? Setiap apotik yang kamu kunjungi selalu kosong obat itu!" Gerutu Raisa sebal. "Ke tengah kota aja. Ada apotik legend disana, pasti lebih dekat dan murah." Jawab Alvin. "Oh.. sekarang aku ngerti. Kamu rupanya nyari obat yang lebih murah begitu? Perhitungan banget kamu sama istri sendiri!" Mata Raisa ingin keluar. "Bukan perhitungan." Sanggah Alvin. "Tapi kalau ada yang lebih murah kenapa kita nggak beli disana aja?" Raisa mendengkus. "Kalau sampai terjadi sesuatu dengan rahimku maka kamu yang harus bertanggung jawab!" "Loh kenapa jadi
"Kamu tunggu disini. Aku akan mengambil obatnya."Raisa duduk di kursi tunggu setelah Alvin pergi ke apotik. Dengan jari-jarinya, ia menyeka air mata yang sejak tadi ditahannya.Sambil menangis, Raisa memperhatikan satu per satu ibu hamil yang tengah menunggu panggilan untuk diperiksa.Perut-perut buncit itu nampak indah di wanita yang tepat, terlebih ada suami mereka yang setia menjaga.Kini giliran kursi belakang yang tak luput dari sapuan indera penglihatan wanita ini, hingga akhirnya matanya berbenturan dengan seorang wanita yang sejak tadi memperhatikannya.Reflek, Raisa menghapus air matanya."Sedang disini kamu?" Tatap Raisa sinis. Matanya lalu menangkap buku pemeriksaan hamil yang ditangan Arumi."Iya." Ucap Arumi pelan. "Mbak juga disini?""Seperti yang kamu lihat!" Raisa berdecak kesal sambil memalingkan wajahnya.Ia terbalut emosi terlebih melihat buku hamil yang dipegang oleh mantan istri su
Beralih pada Paris yang mengajak Arumi makan malam di kedai nasi goreng kemangi yang tak jauh dari kost sewanya. Dengan berjalan kaki, mereka tiba disana dan mengambil tempat duduk."Pasti berat di tengah mual muntah ini kamu harus berjualan.." Paris membuka pembicaraan."Ya.. begitulah. Terkadang aku harus menutup hidung waktu memasak.""Kamu mau bekerja di Royal Energy? Nanti aku bisa minta tolong untuk dicarikan tempat yang pas untukmu.""Royal Energy?" Arumi langsung menggeleng. "Nggak usah, mas. Biar aku jualan aja.""Gajinya lebih besar dari hasil kamu berjualan, Arumi."Arumi tersenyum getir. "Memang aku bisa mendapatkan posisi apa, mas? Aku cuma tamatan SMA tanpa pengalaman kerja. Paling aku cuma cocok jadi office girlnya aja." Wanita ini menghela nafas panjang. "Kehamilanku semakin besar.. aku ngga bisa bekerja terlalu berat."Paris lalu memandang Arumi lekat."Setelah melahirkan kamu akan tinggal diman
Raisa mengomel lagi karena masakan Nurlela keasinan. Dia pun memuntahkannya secara terang-terangan. "Ibu kayaknya mau buat semua orang di rumah ini jadi darah tinggi kayaknya!" Seru Raisa. "Cukup ibu aja yang sakit! Jangan kami!" "Raisa! Tinggal tambahkan kecap manis aja!" Balas Alvin ikut kesal akan sikap istrinya. "Nggak enak, mas. Aku mau makan diluar aja!" "Raisa.." tegur Alvin lagi. Raisa yang tak perduli lalu bangkit dari duduknya. Namun sebelum mencapai pintu kamar, Nurlela mengeluarkan rasa sakit hatinya. "Ibu bukan pembantu di rumah ini. Kalau kamu mau makan sana masak sendiri! Kalau masakan ibu nggak enak, kamu nggak usah menghinanya." "Yang bilang kalau ibu pembantu siapa?" Raisa lalu berbalik lagi. "Sikapmu itu semena-mena pada ibu!" Desis Nurlela. "Di rumah ini ada tiga orang, kenapa hanya ibu yang disuruh membereskan rumah, memasak sampai mencuci."







