LOGIN
"Arumi!!!"
Panggilan itu melengking keras hingga membuat beberapa tamu yang baru datang menoleh. Arumi yang mendengar itu terkejut bukan main. Hampir saja piring ini lepas dari tangannya. Ia lalu menoleh ke arah sumber suara. Nurlela. Ibu mertuanya tengah berkacak pinggang menatapnya dengan marah. Wanita ini terpaksa menghentikan kegiatannya dan tergopoh-gopoh menghampiri wanita paruh baya itu. "Ada apa, bu?" "Ada apa kamu bilang? Kamu ini nggak becus jadi istri! Lihat suamimu itu muter-muter mencarimu. Gimana sih kamu? Acara bentar lagi mulai. Jas suamimu belum kamu siapkan!" Bentak Nurlela kesal. "Iya maaf, bu. Arumi tadi masih nyuci piring." "Lama banget nyuci piringnya. Dasar kamu aja yang lelet. Cepet sana! Alvin sudah menunggu!" Seru Nurlela lagi. Arumi mengangguk dan mengambil lap tangan. Menyeka tangannya yang masih basah dan segera pergi ke kamarnya. Ternyata benar, Alvin sedang kesulitan memakai kainnya. "Kamu ini darimana??" Tanya Alvin dengan mata melotot. "Belakang, mas. Bantu nyuci piring bekas sarapan." "Udah tahu mau ada hajatan. Bukannya kamu mengurus suami, malah sibuk mengurus dapur." Gerutu Alvin. Arumi diam tak menanggapi. Wajahnya yang kelelahan sudah cukup menjelaskan betapa penatnya dia hari ini. Bagaimana tidak penat? Setiap ada hajatan maka Arumi lah yang pontang panting mengurus keperluan dapur. Wanita biasa. Hanya tamatan SMA. Tidak bekerja. Berbeda dengan menantu lainnya dari keluarga ini yang bekerja. Ada yang menjadi pegawai negeri, guru bahkan pedagang. Hanya Arumi yang tidak memiliki status tersebut. Oleh sebab itulah, Arumi dibedakan oleh menantu lainnya. Dia dianggap budak oleh Nurlela. Setiap ada hajatan, maka Arumi yang sibuk di dapur. Mengerjakan pekerjaan rumah tanpa perduli jika Arumi juga sebenarnya ingin bergabung dengan keluarga lainnya. Seperti sekarang.. Mereka tengah menghadiri hajatan dari sepupu Alvin yang ada di desa Muara. Datang dari kota bersama Nurlela dan juga saudara serta iparnya. Sejak datang sampai sekarang telinga Arumi hampir berdenging karena namanya selalu dipanggil. Ada saja pekerjaan yang harus melibatkan Arumi. Sedangkan iparnya yang lain hanya duduk manis dan sibuk mengurus anak mereka. Arumi sendiri baru saja menikah dengan Alvin 6 bulan ini. Alvin sendiri anak keempat dari empat bersaudara. Oleh karena saudara yang lain sudah memiliki rumah, maka Alvin memboyong istrinya untuk tinggal bersama Nurlela. Dan setiap hari juga Arumi harus memperbanyak lembar stok kesabarannya. "Pakai ini, mas." Arumi memakaikan sebuah rompi kepada suaminya. Barulah jas berwarna kuning emas itu dipakaikan. "Kamu belum siap?" Dahi Alvin ingin menyatu ketika menyadari istrinya masih memakai daster rumahan. "Belum. Bentar lagi aku bersiap." Alvin berdecak. "Jangan terlalu lama. Tamu udah mulai datang." Arumi ikut melirik jam yang sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Sesuai jadwal, akad nikah akan dilaksanakan setengah jam lagi. Setelah membantu suaminya, Arumi mengganti pakaiannya dengan kebaya. Kebaya yang ia beli sendiri karena tak mendapatkan seragam dari Nurlela. Selesai memakai kebaya yang dipadupadankan dengan kain batik terusan, Arumi memoles sedikit wajahnya. Lagi-lagi Arumi tak mendapatkan jatah rias dari Nurlela. Padahal menantunya lain memakai jasa MUA. Entahlah, Arumi juga tak mengerti. Mungkin karena Arumi bukam menantu yang diharapkan makanya dia diperlakukan semena-mena seperti ini. Brak!! Bahu Arumi sampai terlonjak karena pintu main dibuka begitu saja. "Astaga! Belum siap juga kamu!" Mata Nurlela melotot kepada wanita ini. "Be-belum, bu. Masih pake riasan." "Cepet sedikit! Tamu udah berdatangan!" Brak! Pintu ditutup dengan cara dibanting hingga membuat Arumi menggelengkan kepalanya. Ia lalu mempercepat riasan sederhananya dan memakai hijab. Arumi yang tak biasa tampil modis hanya bisa memanjangkan hijabnya sampai menutup dada. Setelah itu dia keluar dari kamar. "Arumi! Itu bekas cangkir kopi kenapa belum dibereskan?" Kini bukan Nurlela yang berucap sengit. Tapi Santi, adik dari Nurlela yang menatapnya tajam. "Cangkir dimana tante?" Tanya Arumi tak tahu. "Yang ada di meja depan. Bereskan cepat! Kamu ini bukannya beres-beres malah sibuk sendiri." Arumi lalu pergi ke teras depan. Benar saja. Beberapa cangkir bekas kopi serta asbak masih tergeletak disana. Astaga.. padahal rasanya Arumi sudah menyisir semua sudut rumah, tapi kenapa masih tertinggal. Ketika mengambil bekas cangkir tersebut, mata Arumi bertabrakan dengan iparnya. Wanita itu hanya menyunggingkan senyum. Seolah meremehkan Arumi dan menguatkan posisinya. Arumi hanya bisa menahan perasaannya. Dia lalu menyadari bahwa dirinya lah yang sejak tadi sibuk sendiri, yang lain sudah duduk manis menunggu kedatangan tamu undangan. Tanpa banyak bicara, Arumi membersihkan cangkir tersebut dan membawanya ke dapur. Selesai dari sana, Arumi pergi lagi ke depan. Baru saja ingin mendaratkan pinggulnya, Nurlela sudah melotot lagi. Lama-lama mata itu keluar juga dari sarangnya. "Ngapain kamu disini?" Hardik Nurlela kesal. "Ke dapur sana. Jagain lauk untuk tamu makan. Nanti dimakan kucing baru tahu rasa." Arumi bisa melihat ipar-iparnya yang mengulum senyum. Walau hanya perintah, Arumi bisa merasakan tamparannya. Rasanya malu sekali. Ya, Tuhan.. Arumi hanya bisa menekuk wajahnya. Dengan langkah berat, Arumi pergi ke bagian belakang. Duduk di kursi yang ada di dapur dan menjaga lauk makanan yang tertutup. Oleh karena adat istiadat, acara di desa memang tak pernah memakai jasa catering. Mereka selalu mengutamakan gotong royong ketika ada hajatan. "Mbak Arumi kok disini? Ke depan aja. Itu calon pengantin pria nya udah datang." Ujar salah satu ibu-ibu juru masak. Sudah ada 3 orang yang menjaga lauk disini. Tapi tetap saja Nurlela menyuruhnya kemari. "Nggak apa-apa, bu. Saya disini aja." Jawab Arumi menahan perasaannya. Terdengar suara tabuhan, rupanya keluarga mempelai pria sudah datang. Arumi hanya bisa mendengar dari belakang. Hingga akhirnya hening, ternyata akan dilaksanakan acara ijab qabul setelah ini. "Mana Arumi?" Bisik Alvin pada saudaranya, Ramli. "Nggak tahu. Dari tadi istrimu itu nggak kelihatan." Alvin berdecak kesal. Dia bangkit dari duduknya hingga membuat Nurlela menahan tangan pria tersebut. "Mau kemana?" "Nyari Arumi." "Biar aja. Dia lagi di belakang." "Aku mau nyuruh dia ambil ponselku." Nurlela baru melepaskan tangan anaknya. Setelah itu, Alvin pergi sendiri ke kamar tamu dan mengambil ponselnya. Oleh karena ruangan yang mulai sesak, Alvin tak sengaja menginjak kaki dari tamu wanita yang sedang duduk di tengah ruangan. "Eh, maaf.." Alvin terkesiap. Begitu juga wanita yang meringis kesakitan itu. "Mas Alvin?" "Ya ampun, Raisa.. apa kabar?" Alvin terkesima melihat wanita cantik yang memakai gaun kebaya berwarna merah muda itu. "Baik, mas. Kamu apa kabar?" "Baik juga. Aku ke depan dulu. Acara mau dimulai." Terdengar suara penghulu di depan membuat Alvin menghentikan dulu remeh temehnya dengan Raisa. Nanti saja kalau selesai hajatan ini, Alvin akan menghampirinya lagi. Luar biasa. Sudah 5 tahun tidak bertemu, mantan pacarnya itu bertambah cantik saja. Kenapa terbit rasa penyesalan pada diri Alvin karena melepas gadis secantik itu? Alvin sampai menepuk jidatnya sendiri. Ingat-ingat Arumi, Alvin! Suasana menjad khidmat seketika, penghulu mengangkat mic dan menyodorkannya pada wali pernikahan. "Sah!" Semua orang bersuka cita ketika pengantin pria melafaskan qabul dalam satu tarikan nafas. Do'a pengantin mengalun memberkahi seluruh ruangan. Sedang khusyuk berdo'a, Nurlela selalu bisa mencari cara untuk marah. "Arumi!! Bawa lauk makanan ke meja makan!" Bisik Nurlela keras pada menantunya yang sedang menunggu di bilik pintu dapur. Arumi mengangguk. Bersama para ibu-ibu yang lain dia membawa nampan berisi lauk pauk itu ke meja yang ada di samping. "Pelan-pelan, mbak. Nanti tumpah." Seloroh salah satu ibu-ibu ketika Arumi membawa baskom besar yang berisi sop. "Saya bisa kok." Arumi mengangkat baskom stenlis yang berat tersebut dengan berhati-hati. Namun sial tak mengenal waktu, kaki Arumi tersandung ketika melewati pintu yang menghubungkan dapur dengan teras samping. Baskom tersebut terlempar dan teratuh menimbulkan suara gaduh. Sontak saja, kejadian ini menjadi perhatian semua orang. Termasuk Alvin dan Nurlela yang langsung naik pitam.Hari demi hari berganti, Arumi yang tahu akan balas budi membalas semua sikap baik Paris padanya dengan memberikan makan siang. Hampir setiap hari dia mengantarkan makanan dan menitipkannya pada Security. Hanya menu sederhana, tidak istimewa. Tapi sedikit bisa menyentuh hati Paris yang paling dalam. Kata orang jika mau menaklukan pria harus dari perutnya, kan? Nah Paris jadi ketagihan masakan Arumi. Siang ini, di kehamilannya yang menginjak 6 bulan Arumi pergi lagi mengantar makan siang ke kantor Paris. Padahal, Paris sudah mencegah. Kelamaan ia takut Arumi kelelahan karena terus memasak. Tapi, Arumi tidak perduli. Sebagai timbal balik, Paris akan mengirimkan buah-buahan, roti, susu ataupun vitamin hamil. Nah, pria ini memang lebih cerewet dari dokter kandungan Arumi sendiri. "Arumi, ya?" Tanya seorang wanita paruh baya ketika Arumi baru saja keluar dari kant
Jika Arumi tersentuh akan kebaikan Paris maka berbeda lagi dengan pengantin baru, Raisa dan Alvin. Wajah wanita ini tak sedap dipandang. Jika di ruangan usg tadi kesedihan begitu membebaninya. Sekarang malah terlihat kemarahan. Alvin pun tak mengerti apa yang dipikirkan oleh istrinya ini. "Mau cari dimana lagi kita obatnya, mas? Setiap apotik yang kamu kunjungi selalu kosong obat itu!" Gerutu Raisa sebal. "Ke tengah kota aja. Ada apotik legend disana, pasti lebih dekat dan murah." Jawab Alvin. "Oh.. sekarang aku ngerti. Kamu rupanya nyari obat yang lebih murah begitu? Perhitungan banget kamu sama istri sendiri!" Mata Raisa ingin keluar. "Bukan perhitungan." Sanggah Alvin. "Tapi kalau ada yang lebih murah kenapa kita nggak beli disana aja?" Raisa mendengkus. "Kalau sampai terjadi sesuatu dengan rahimku maka kamu yang harus bertanggung jawab!" "Loh kenapa jadi
"Kamu tunggu disini. Aku akan mengambil obatnya."Raisa duduk di kursi tunggu setelah Alvin pergi ke apotik. Dengan jari-jarinya, ia menyeka air mata yang sejak tadi ditahannya.Sambil menangis, Raisa memperhatikan satu per satu ibu hamil yang tengah menunggu panggilan untuk diperiksa.Perut-perut buncit itu nampak indah di wanita yang tepat, terlebih ada suami mereka yang setia menjaga.Kini giliran kursi belakang yang tak luput dari sapuan indera penglihatan wanita ini, hingga akhirnya matanya berbenturan dengan seorang wanita yang sejak tadi memperhatikannya.Reflek, Raisa menghapus air matanya."Sedang disini kamu?" Tatap Raisa sinis. Matanya lalu menangkap buku pemeriksaan hamil yang ditangan Arumi."Iya." Ucap Arumi pelan. "Mbak juga disini?""Seperti yang kamu lihat!" Raisa berdecak kesal sambil memalingkan wajahnya.Ia terbalut emosi terlebih melihat buku hamil yang dipegang oleh mantan istri su
Beralih pada Paris yang mengajak Arumi makan malam di kedai nasi goreng kemangi yang tak jauh dari kost sewanya. Dengan berjalan kaki, mereka tiba disana dan mengambil tempat duduk."Pasti berat di tengah mual muntah ini kamu harus berjualan.." Paris membuka pembicaraan."Ya.. begitulah. Terkadang aku harus menutup hidung waktu memasak.""Kamu mau bekerja di Royal Energy? Nanti aku bisa minta tolong untuk dicarikan tempat yang pas untukmu.""Royal Energy?" Arumi langsung menggeleng. "Nggak usah, mas. Biar aku jualan aja.""Gajinya lebih besar dari hasil kamu berjualan, Arumi."Arumi tersenyum getir. "Memang aku bisa mendapatkan posisi apa, mas? Aku cuma tamatan SMA tanpa pengalaman kerja. Paling aku cuma cocok jadi office girlnya aja." Wanita ini menghela nafas panjang. "Kehamilanku semakin besar.. aku ngga bisa bekerja terlalu berat."Paris lalu memandang Arumi lekat."Setelah melahirkan kamu akan tinggal diman
Raisa mengomel lagi karena masakan Nurlela keasinan. Dia pun memuntahkannya secara terang-terangan. "Ibu kayaknya mau buat semua orang di rumah ini jadi darah tinggi kayaknya!" Seru Raisa. "Cukup ibu aja yang sakit! Jangan kami!" "Raisa! Tinggal tambahkan kecap manis aja!" Balas Alvin ikut kesal akan sikap istrinya. "Nggak enak, mas. Aku mau makan diluar aja!" "Raisa.." tegur Alvin lagi. Raisa yang tak perduli lalu bangkit dari duduknya. Namun sebelum mencapai pintu kamar, Nurlela mengeluarkan rasa sakit hatinya. "Ibu bukan pembantu di rumah ini. Kalau kamu mau makan sana masak sendiri! Kalau masakan ibu nggak enak, kamu nggak usah menghinanya." "Yang bilang kalau ibu pembantu siapa?" Raisa lalu berbalik lagi. "Sikapmu itu semena-mena pada ibu!" Desis Nurlela. "Di rumah ini ada tiga orang, kenapa hanya ibu yang disuruh membereskan rumah, memasak sampai mencuci."
"Oh! Jadi ini kelakuanmu, mas!!" Teriak Raisa murka.Alvin terkejut bukan main dengan keberadaan istrinya. Apalagi Raisa menatapnya dengan penuh kemarahan."Sekarang aku mengerti. Kamu bohong padaku waktu itu, kan? Kamu bilang ingin membeli sarapan rupanya malah mengunjungi mantan istrimu!"Giliran Arumi yang ditatapnya dengan kesal. Wanita ini baru tahu jika mantan istri suaminya berjualan nasi uduk."Raisa.." bisik Alvin. Dia mendekat ke arah istrinya. Suara tinggi Raisa barusan memancing perhatian membeli."Kamu brengsek, mas!" Raisa memukul dada suaminya dengan kesal dan pergi begitu saja.Astaga! Alvin sampai bingung harus mengatakan apa. Padahal dia belum melakukan apapun, menyapa Arumi saja tidak.Alvin mengusap wajahnya dengan kasar dan memandang Arumi sekilas. Ia lalu pergi tanpa mengucapkan satu katapun. Raisa sendiri langsung masuk ke mobil dan membanting pintu. Sadar akan sikapnya, Raisa langsung me







