INICIAR SESIÓNSemua orang tengah bersuka cita di hajatan yang sedang diselenggarakan ini. Senyum tersungging dari tamu hadirin yang memberikan selamat kepada kedua mempelai.
Namun, ada satu hati yang tengah bersedih yaitu Arumi. Sejak tadi wanita ini sibuk di dapur. Tidak diizinkan bergabung dengan suami maupun keluarganya. Dari tadi kaki ini melangkah tak berhenti menerima perintah nyonya besar. Dan yang terparah.. dengan matanya sendiri ia melihat suaminya, Alvin sedang bercengkrama dengan wanita yang cantik. Akrab sekali. Seolah mereka adalah teman lama yang sudah lama tak bertemu. "Arumi!! Mana sayurnya???" Teriakan dari luar menyadarkan Arumi. Helaan nafas panjang keluar dari mulutnya. Ia lalu mempercepat tangannya menuangkan sayur gado-gado itu ke nampan stenlis. Selesai, Arumi membawanya keluar dari dapur menuju meja makan. "Bawa ke meja VIP." Titah Nurlela. "Baik, bu." Arumi manut saja dan menuju meja VIP yang berada di dekat pelaminan. Wanita ini berjalan penuh hati-hati melewati kerumunan tamu yang separuh ingin naik ke atas panggung untuk memberikan selamat. Mata itu.. akhirnya melihat lagi. Alvin dan wanita berkebaya merah muda itu bak memiliki dunianya sendiri. Mereka tertawa dengan tangan wanita itu yang sering kali mampir ke lengan suaminya. Dia menyentuh, mencubit bahkan memukul gemas Alvin yang sepertinya selalu memberikan jenaka. Berbeda sekali sikapnya kepada Arumi yang terkesan keras dan dingin. Pria itu hanya mendekat ketika ingin mengambil haknya saja. Selain dari itu, dia tak perduli dengan keadaan Arumi yang babak belur tinggal di rumah mertuanya. Saking tak fokusnya berjalan karena terus memperhatikan Alvin, Arumi menabrak bahu pria berbadan gempal. Beban yang dibawa berat dengan tubuh Arumi yang kecil membuatnya kehilangan keseimbangan. Pyarr!! Arumi terkejut hingga membuat mulutnya terbuka lebar. Begitu juga dengan tamu lain yang langsung memperhatikannya. Teriakan dari para ibu-ibu membuat perhatian tertuju pada Arumi. Pemain musik bahkan menghentikan nyanyian mereka. Kini semua mata melihat seorang pria paruh baya yang mendapatkan tumpahan sayur gado-gado itu. Dari bahu hingga perut, sayur itu mengotori jasnya. Salah sekali Arumi yang tak melihat jalan hingga membuat sayur itu tertumpah pada tamu VIP yang tengah duduk di kursi makan menyantap makanannya. "Ma-maaf..." Arumi ketakutan bukan main. Istri dari pria tersebut bangkit dari duduknya. Mengambil tissue dan mengelap jas suaminya yang terkena sayuran. Dia tak mengatakan apa-apa hingga membuat Arumi gugup bukan main. "Maafkan saya, Tuan.." Arumi mencoba mendekatkan dirinya namun terkesiap. Pria ini adalah pria yang tadi memberikan kata sambutan di atas panggung. Pria ini yang berhasil menjadi buah bibir di acara ini. Ya, ia adalah seorang tentara berpangkat jenderal. "Oh.. maafkan saya, Tuan." Arumi meringis bukan main. Pria yang memiliki rahang tegas itu belum menanggapi. Bersama istrinya, ia masih sibuk mengelap bajunya yang kotor. "Arumi!" Teriak Alvin. Ia lalu menarik lengan istrinya. "Apa lagi yang kamu lakukan sekarang, hah??" Astaga! Padahal Alvin sedang seru sekali mengobrol dengan Raisa, tapi istrinya malah mengukir perhatian. "Aku.. aku nggak sengaja, mas.." ucap Arumi terbata. Tak hanya Alvin, Nurlela dan Santi ikut mendekat. Mereka terperanjat akan apa yang dilakukan oleh menantunya. Terlebih pria yang sudah diberikan kekacauan oleh Arumi. Plak! Arumi memalingkan wajah ketika lima jari Nurlela mampir ke wajahnya. "Menantu sialan!" Hardik Nurlela melengking. "Lihat apa yang kamu lakukan, astaga!" Nurlela malu sekali. Ia lalu maju sedikit menghadap pria yang memakai jas rapi itu. Wanita ini sontak terkejut bukan main. "Pak Jenderal.." mata Nurlela terbelalak. Begitu juga dengan Alvin yang baru mengenali pria tersebut. Ia sampai kehilangan kata-katanya. "Maaf sekali, pak.." oh, Nurlela ingin bersembunyi di lubang semut rasanya. "Menantu saya ini memamg sulit sekali diatur. Dia sudah kurang ajar." Nurlela memandang sengit menantunya. "Kemari, Arumi. Minta maaf." "Maafkan saya, Tuan. Sumpah saya nggak sengaja." Pria ini hanya mengangguk dengan wajah yang menahan marah. Hatinya jelas dongkol karena mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan ini. "Alvin! Didik istrimu dengan baik. Itulah ibu bilang kalau cari istri itu harus berpendidikan. Nah, inilah akibatnya. Dari tadi hanya bisa kasih rasa malu. Mau dimana wajah ini disembunyikan, hah?" Kini giliran Alvin yang dimarahi Nurlela. Alvin langsung beralih menatap tajam istrinya. "Aku tadi sudah bilang kan, Arumi? Kenapa kamu ngga henti-hentinya membuat masalah?" "Maaf, mas. Sumpah aku nggak sengaja.." lirih Arumi menahan tangis dan malunya. "Benar-benar nggak berguna. Apa sih yang bisa kami banggakan darimu, Arumi?" Nurlela ikut menimpali hingga situasi menjadi panas. "Maaf, bu.." Arumi menangkupkan kedua tangannya. Menghadapi kemarahan dua orang di depannya lebih buruk dibanding pria yang berpangkat jenderal ini. "Aku bosan terus mengasihinimu. Aku ceraikan kamu saat ini juga!" Ujar Alvin dengan emosi yang membuncah. Nurlela terkejut. Begitu juga orang-orang yang sedang memperhatikan mereka. Dengan tegas dan lugas Alvin mengucapkan kata perceraian. Tubuh Arumi membeku, sejenak bibirnya keluh untuk melontarkan sesuatu. Matanya menatap tak percaya. Baru saja Alvin memberikan talak padanya. "Mas Alvin.." Arumi masih berharap salah dengar. "Aku malu memiliki istri sepertimu. Detik ini juga aku menceraikanmu." Alvin langsung meninggalkan Arumi yang masih termagu ditempatnya. Sementara, Nurlela mengikuti langkah anaknya dengan tersenyum puas. Matilah, Arumi. Hari ini juga Alvin memberikannya kata perpisahan. Semua mata lagi-lagi tertuju pada Arumi. Wanitaini nampai menangis dalam diam. Air matanya mengalir deras hingga menerbitkan rasa iba. Istri dari pak jenderal pun datang mendekat dan menyentuh bahu Arumi. "Kamu nggak apa-apa, nak?" Tegurnya lembut. Arumi mengerjap menahan air matanya yang terus menurun. "Tidak apa-apa.. maafkan saya, nyonya. Tadi saya tidak sengaja." Arumi kembali menghadap pak jenderal. "Maafkan saya, Tuan.." Arumi menangkupkan kedua tangannya. "Tidak masalah." Sahut pria tersebut dengan senyuman simpatiknya. Rasa marah itu berganti menjadi rasa iba. Arumi ikut tersenyum dengan berlinangan air mata. Ia lalu berpamitan untuk menyusul suaminya masuk ke dalam. Ya. Arumi harap suaminya tadi hanya bercanda."Menikahlah denganku." Arumi terkejut. Dia memandang pria itu begitu lekat. "Jangan bercanda, mas." "Aku nggak bercanda. Daripada kamu hidup susah seperti ini.." "Jadi kamu ingin menikahiku karena rasa kasihan?" Arumi tersenyum pahit. "Tidak perlu, mas. Jangan mengkhawatirkan kami. Aku bisa menghidupi anakku sendiri." "Arumi.." Paris sudah tak mampu merangkai kata. Bagaimana caranya dia jujur akan perasaannya selama ini? Bahwa sejak dulu, Arumi adalah cinta pertamanya. Wanita yang ia cari dari bangku sekolah menengah namun ketika bertemu malah sudah menjadi milik orang lain. Salahkah jika dia begitu mengharapkan wanita ini? Sebab itulah, Paris begitu totalitas membantu Arumi. Memperhatikan dirinya sekaligus kehamilannya. Paris hanya ingin Arumi tahu bahwa dia tak sendirian. Ada dirinya yang akan selalu berada di samping Arumi. Ketika mulu
"Ternyata benar kamu menjadi pengemis disini." Nurlela sengaja menginjak makanan yang diambil oleh Arumi dan melewatinya begitu saja. Melihat itu, Alvin jadi meradang. "Ibu keterlaluan banget!" Pria ini ikut duduk membantu mantan istrinya mengambil makanan yang tercecer. "Alvin!" Seru Nurlela kesal. "Nggak usah, mas. Biar aku aja." Arumi mencegah Alvin membantunya. "Aku ganti makananmu." Ujar Alvin. "Alvin! Astaga! Nggak usah! Jangan kemakan umpannya!" Nurlela menarik Alvin berdiri. Membuang bungkusan makanan yang ada di tangan Alvin ke bawah dan tak sengaja mengenai wajah Arumi yang tengah menunduk. "Arumi!" Panggil seseorang cemas ketika makanan itu menodai wajahnya.Ibu!" Tangan Alvin memegang tangan Nurlela dengan kuat. Sembarangan saja Nurlela main melempar bungkusan makanan ini hingga mengenai wajah Arumi.Sementara, Lesti menatap marah akan
Hari demi hari berganti, Arumi yang tahu akan balas budi membalas semua sikap baik Paris padanya dengan memberikan makan siang. Hampir setiap hari dia mengantarkan makanan dan menitipkannya pada Security. Hanya menu sederhana, tidak istimewa. Tapi sedikit bisa menyentuh hati Paris yang paling dalam. Kata orang jika mau menaklukan pria harus dari perutnya, kan? Nah Paris jadi ketagihan masakan Arumi. Siang ini, di kehamilannya yang menginjak 6 bulan Arumi pergi lagi mengantar makan siang ke kantor Paris. Padahal, Paris sudah mencegah. Kelamaan ia takut Arumi kelelahan karena terus memasak. Tapi, Arumi tidak perduli. Sebagai timbal balik, Paris akan mengirimkan buah-buahan, roti, susu ataupun vitamin hamil. Nah, pria ini memang lebih cerewet dari dokter kandungan Arumi sendiri. "Arumi, ya?" Tanya seorang wanita paruh baya ketika Arumi baru saja keluar dari kant
Jika Arumi tersentuh akan kebaikan Paris maka berbeda lagi dengan pengantin baru, Raisa dan Alvin. Wajah wanita ini tak sedap dipandang. Jika di ruangan usg tadi kesedihan begitu membebaninya. Sekarang malah terlihat kemarahan. Alvin pun tak mengerti apa yang dipikirkan oleh istrinya ini. "Mau cari dimana lagi kita obatnya, mas? Setiap apotik yang kamu kunjungi selalu kosong obat itu!" Gerutu Raisa sebal. "Ke tengah kota aja. Ada apotik legend disana, pasti lebih dekat dan murah." Jawab Alvin. "Oh.. sekarang aku ngerti. Kamu rupanya nyari obat yang lebih murah begitu? Perhitungan banget kamu sama istri sendiri!" Mata Raisa ingin keluar. "Bukan perhitungan." Sanggah Alvin. "Tapi kalau ada yang lebih murah kenapa kita nggak beli disana aja?" Raisa mendengkus. "Kalau sampai terjadi sesuatu dengan rahimku maka kamu yang harus bertanggung jawab!" "Loh kenapa jadi
"Kamu tunggu disini. Aku akan mengambil obatnya."Raisa duduk di kursi tunggu setelah Alvin pergi ke apotik. Dengan jari-jarinya, ia menyeka air mata yang sejak tadi ditahannya.Sambil menangis, Raisa memperhatikan satu per satu ibu hamil yang tengah menunggu panggilan untuk diperiksa.Perut-perut buncit itu nampak indah di wanita yang tepat, terlebih ada suami mereka yang setia menjaga.Kini giliran kursi belakang yang tak luput dari sapuan indera penglihatan wanita ini, hingga akhirnya matanya berbenturan dengan seorang wanita yang sejak tadi memperhatikannya.Reflek, Raisa menghapus air matanya."Sedang disini kamu?" Tatap Raisa sinis. Matanya lalu menangkap buku pemeriksaan hamil yang ditangan Arumi."Iya." Ucap Arumi pelan. "Mbak juga disini?""Seperti yang kamu lihat!" Raisa berdecak kesal sambil memalingkan wajahnya.Ia terbalut emosi terlebih melihat buku hamil yang dipegang oleh mantan istri su
Beralih pada Paris yang mengajak Arumi makan malam di kedai nasi goreng kemangi yang tak jauh dari kost sewanya. Dengan berjalan kaki, mereka tiba disana dan mengambil tempat duduk."Pasti berat di tengah mual muntah ini kamu harus berjualan.." Paris membuka pembicaraan."Ya.. begitulah. Terkadang aku harus menutup hidung waktu memasak.""Kamu mau bekerja di Royal Energy? Nanti aku bisa minta tolong untuk dicarikan tempat yang pas untukmu.""Royal Energy?" Arumi langsung menggeleng. "Nggak usah, mas. Biar aku jualan aja.""Gajinya lebih besar dari hasil kamu berjualan, Arumi."Arumi tersenyum getir. "Memang aku bisa mendapatkan posisi apa, mas? Aku cuma tamatan SMA tanpa pengalaman kerja. Paling aku cuma cocok jadi office girlnya aja." Wanita ini menghela nafas panjang. "Kehamilanku semakin besar.. aku ngga bisa bekerja terlalu berat."Paris lalu memandang Arumi lekat."Setelah melahirkan kamu akan tinggal diman







