공유

3. Diceraikan

작가: Stary Dream
last update 게시일: 2026-05-17 22:41:03

Semua orang tengah bersuka cita di hajatan yang sedang diselenggarakan ini. Senyum tersungging dari tamu hadirin yang memberikan selamat kepada kedua mempelai.

Namun, ada satu hati yang tengah bersedih yaitu Arumi.

Sejak tadi wanita ini sibuk di dapur. Tidak diizinkan bergabung dengan suami maupun keluarganya. Dari tadi kaki ini melangkah tak berhenti menerima perintah nyonya besar.

Dan yang terparah.. dengan matanya sendiri ia melihat suaminya, Alvin sedang bercengkrama dengan wanita yang cantik. Akrab sekali. Seolah mereka adalah teman lama yang sudah lama tak bertemu.

"Arumi!! Mana sayurnya???" Teriakan dari luar menyadarkan Arumi.

Helaan nafas panjang keluar dari mulutnya. Ia lalu mempercepat tangannya menuangkan sayur gado-gado itu ke nampan stenlis. Selesai, Arumi membawanya keluar dari dapur menuju meja makan.

"Bawa ke meja VIP." Titah Nurlela.

"Baik, bu."

Arumi manut saja dan menuju meja VIP yang berada di dekat pelaminan. Wanita ini berjalan penuh hati-hati melewati kerumunan tamu yang separuh ingin naik ke atas panggung untuk memberikan selamat.

Mata itu.. akhirnya melihat lagi.

Alvin dan wanita berkebaya merah muda itu bak memiliki dunianya sendiri. Mereka tertawa dengan tangan wanita itu yang sering kali mampir ke lengan suaminya.

Dia menyentuh, mencubit bahkan memukul gemas Alvin yang sepertinya selalu memberikan jenaka.

Berbeda sekali sikapnya kepada Arumi yang terkesan keras dan dingin. Pria itu hanya mendekat ketika ingin mengambil haknya saja. Selain dari itu, dia tak perduli dengan keadaan Arumi yang babak belur tinggal di rumah mertuanya.

Saking tak fokusnya berjalan karena terus memperhatikan Alvin, Arumi menabrak bahu pria berbadan gempal.

Beban yang dibawa berat dengan tubuh Arumi yang kecil membuatnya kehilangan keseimbangan.

Pyarr!!

Arumi terkejut hingga membuat mulutnya terbuka lebar. Begitu juga dengan tamu lain yang langsung memperhatikannya. Teriakan dari para ibu-ibu membuat perhatian tertuju pada Arumi.

Pemain musik bahkan menghentikan nyanyian mereka. Kini semua mata melihat seorang pria paruh baya yang mendapatkan tumpahan sayur gado-gado itu. Dari bahu hingga perut, sayur itu mengotori jasnya.

Salah sekali Arumi yang tak melihat jalan hingga membuat sayur itu tertumpah pada tamu VIP yang tengah duduk di kursi makan menyantap makanannya.

"Ma-maaf..." Arumi ketakutan bukan main.

Istri dari pria tersebut bangkit dari duduknya. Mengambil tissue dan mengelap jas suaminya yang terkena sayuran. Dia tak mengatakan apa-apa hingga membuat Arumi gugup bukan main.

"Maafkan saya, Tuan.." Arumi mencoba mendekatkan dirinya namun terkesiap.

Pria ini adalah pria yang tadi memberikan kata sambutan di atas panggung. Pria ini yang berhasil menjadi buah bibir di acara ini. Ya, ia adalah seorang tentara berpangkat jenderal.

"Oh.. maafkan saya, Tuan." Arumi meringis bukan main.

Pria yang memiliki rahang tegas itu belum menanggapi. Bersama istrinya, ia masih sibuk mengelap bajunya yang kotor.

"Arumi!" Teriak Alvin. Ia lalu menarik lengan istrinya. "Apa lagi yang kamu lakukan sekarang, hah??"

Astaga! Padahal Alvin sedang seru sekali mengobrol dengan Raisa, tapi istrinya malah mengukir perhatian.

"Aku.. aku nggak sengaja, mas.." ucap Arumi terbata.

Tak hanya Alvin, Nurlela dan Santi ikut mendekat. Mereka terperanjat akan apa yang dilakukan oleh menantunya. Terlebih pria yang sudah diberikan kekacauan oleh Arumi.

Plak!

Arumi memalingkan wajah ketika lima jari Nurlela mampir ke wajahnya.

"Menantu sialan!" Hardik Nurlela melengking. "Lihat apa yang kamu lakukan, astaga!"

Nurlela malu sekali. Ia lalu maju sedikit menghadap pria yang memakai jas rapi itu. Wanita ini sontak terkejut bukan main.

"Pak Jenderal.." mata Nurlela terbelalak.

Begitu juga dengan Alvin yang baru mengenali pria tersebut. Ia sampai kehilangan kata-katanya.

"Maaf sekali, pak.." oh, Nurlela ingin bersembunyi di lubang semut rasanya. "Menantu saya ini memamg sulit sekali diatur. Dia sudah kurang ajar." Nurlela memandang sengit menantunya. "Kemari, Arumi. Minta maaf."

"Maafkan saya, Tuan. Sumpah saya nggak sengaja."

Pria ini hanya mengangguk dengan wajah yang menahan marah. Hatinya jelas dongkol karena mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan ini.

"Alvin! Didik istrimu dengan baik. Itulah ibu bilang kalau cari istri itu harus berpendidikan. Nah, inilah akibatnya. Dari tadi hanya bisa kasih rasa malu. Mau dimana wajah ini disembunyikan, hah?" Kini giliran Alvin yang dimarahi Nurlela.

Alvin langsung beralih menatap tajam istrinya.

"Aku tadi sudah bilang kan, Arumi? Kenapa kamu ngga henti-hentinya membuat masalah?"

"Maaf, mas. Sumpah aku nggak sengaja.." lirih Arumi menahan tangis dan malunya.

"Benar-benar nggak berguna. Apa sih yang bisa kami banggakan darimu, Arumi?" Nurlela ikut menimpali hingga situasi menjadi panas.

"Maaf, bu.." Arumi menangkupkan kedua tangannya. Menghadapi kemarahan dua orang di depannya lebih buruk dibanding pria yang berpangkat jenderal ini.

"Aku bosan terus mengasihinimu. Aku ceraikan kamu saat ini juga!" Ujar Alvin dengan emosi yang membuncah.

Nurlela terkejut. Begitu juga orang-orang yang sedang memperhatikan mereka.

Dengan tegas dan lugas Alvin mengucapkan kata perceraian.

Tubuh Arumi membeku, sejenak bibirnya keluh untuk melontarkan sesuatu. Matanya menatap tak percaya. Baru saja Alvin memberikan talak padanya.

"Mas Alvin.." Arumi masih berharap salah dengar.

"Aku malu memiliki istri sepertimu. Detik ini juga aku menceraikanmu."

Alvin langsung meninggalkan Arumi yang masih termagu ditempatnya. Sementara, Nurlela mengikuti langkah anaknya dengan tersenyum puas. Matilah, Arumi. Hari ini juga Alvin memberikannya kata perpisahan.

Semua mata lagi-lagi tertuju pada Arumi. Wanitaini nampai menangis dalam diam. Air matanya mengalir deras hingga menerbitkan rasa iba.

Istri dari pak jenderal pun datang mendekat dan menyentuh bahu Arumi.

"Kamu nggak apa-apa, nak?" Tegurnya lembut.

Arumi mengerjap menahan air matanya yang terus menurun.

"Tidak apa-apa.. maafkan saya, nyonya. Tadi saya tidak sengaja." Arumi kembali menghadap pak jenderal. "Maafkan saya, Tuan.." Arumi menangkupkan kedua tangannya.

"Tidak masalah." Sahut pria tersebut dengan senyuman simpatiknya. Rasa marah itu berganti menjadi rasa iba.

Arumi ikut tersenyum dengan berlinangan air mata. Ia lalu berpamitan untuk menyusul suaminya masuk ke dalam.

Ya. Arumi harap suaminya tadi hanya bercanda.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
댓글 (1)
goodnovel comment avatar
Yati Syahira
kho dibodohin mau
댓글 더 보기

최신 챕터

  • Diceraikan Usai Hajatan   51. Hadiah Terindah (Ending)

    "Ini.. namanya test pack, kan?" Tanya Paris setelah kesadarannya kembali. Arumi mengangguk. "Garis dua itu.. artinya hamil?" Kali ini, Arumi mengedikkan bahu. Dia pura-pura tak tahu saja untuk melihat ekspresi suaminya. Dahi Paris mengkerut. Ia memang orang awam tapi pernah mendengar makna garis dua yang tertulis di atas benda pipih ini. Dan untuk memastikannya, Paris harus melakukan sesuatu. "Ganti bajumu!" Paris beranjak dari duduknya. Ia menarik tangan Arumi dan mengajaknya berjalan ke lemari. "Mau kemana, mas?" Tanya Arumi keheranan. "Periksa ke tante Winda. Aku ingin memastikannya." Yang membuat sebal adalah tanggapan Paris saat ini. Suaminya Arumi ini tak berjingkrak senang atau memeluk istrinya. Membuat Arumi jadi curiga kalau sebenarnya Paris terbebani dengan kehamilan ini.

  • Diceraikan Usai Hajatan   50. Garis Dua

    Tidak ada yang kekal. Semua akan kembali ke Sang Pencipta di saat yang telah ditentukan. Inilah akhir kisah Nurlela. Tak lama kepergian dari Arumi, wanita itu menghembuskan nafasnya yang terakhir. Wanita yang dulu sombong namun segera memikul penyakit untuk menebus dosa-dosanya di masa lalu. Di akhir hayatnya, diri ini terkunci karena kesalahan yang belum sempat diutarakannya. Hingga keikhlasan keluar dari mulut wanita yang disakitinya, Nurlela akhirnya bisa melepas beban yang menjeratnya selama ini. Berita duka ini sampai kepada pengantin baru. Padahal keduanya baru sampai ke rumah, Arumi baru saja bermain dengan Hannan. Tapi kabar kesedihan ini didapatkannya dari Alvin. Oleh karena sudah melihat tadi di rumah sakit, Paris dan Arumi akan pergi ke rumah duka saja. Kebetulan almarhumah juga akan dimakamkan besok pagi. Tak hanya pasangan suami istri ini, Lesti

  • Diceraikan Usai Hajatan   49. Bahagianya Pengantin Baru

    Malam pertama dan kedua selesai. Waktunya Paris kembali ke rumah bersama istrinya. Kali ini dia tinggal di rumah warisan neneknya, ibu dari Lesti. "Kalian nggak mau bulan madu?" Tanya Lesti saat mengantar Paris pindahan. "Mau sih. Tapi aku cuma cuti seminggu." "Pergi saja bulan madu kemana kek. Kasihan istrimu masak dikurung terus dirumah." Arumi jadi tersenyum. "Nggak apa-apa kok, ma. Kasihan mas Paris capek juga." "Apa karena Hannan?" Lesti menebak. "Nggak usah risau. Ada papa dan mama yang menjaganya." Paris menatap ibunya lekat, terutama ayahnya. "Beneran nggak apa-apa kami titipkan Hannan?" "Nggak masalah. Ya kan, pa?" Wirawan mengangguk. "Bersenang-senanglah. Jangan kerja terus yang kamu pikirkan!" Senyuman Paris mengembang. Sekarang tinggal membujuk Arumi untuk berbulan madu saja. Ya, dia

  • Diceraikan Usai Hajatan   48. Pernikahan

    Tujuh hari kemudian.. Sebuah acara pernikahan akan dilaksanakan di sebuah hotel berbintang lima dengan pengawalan yang ketat. Maklum saja. Yang akan menikah adalah anak dari seorang jenderal, Wirawan. Apalagi Paris merupakan seorang manajer perusahaan asing yang terkenal karena prestasinya. Masih muda namun bisa duduk di jabatan eksekutif. Ayat dari kitab suci mulai disenandungkan, sebagai tanda bahwa mulainya acara ijab qabul sebentar lagi akan dilaksanakan. Hingga akhirnya qabul terdengar dan dinyatakan SAH! Arumi keluar dari tempat persembunyiannya. Menemui sang pangeran yang kini sudah resmi menjadi suaminya. Paris tersenyum penuh haru ketika istrinya muncul ditemani dayang-dayangnya. Arumi menerima uluran tangan Paris dan menciuminya dengan takzim. Begitu juga dengan Paris yang langsung memberikan do'a di pucuk kepala istrinya. Paris dan Arumi saling melempar senyuman. Merek

  • Diceraikan Usai Hajatan   47. Lamaran

    "Mas Paris.."Aduh.. wajah ini sudah memerah. Mata ini mulai menjalar hangat hingga menumpuk cairan. Apa-apaan ini Paris? Pria ini memberi kejutan untuknya.Percuma mencari Paris di dalam kerumunan sana, dia rupanya muncul dari panggung belakang sambil mengulum senyum.Di layar sana sudah ada kata-kata romantis bertuliskan bahasa inggris. Yang pasti ada nama Arumi disana hingga membuatnya tersipu malu.Arumi ingin bersembunyi saja. Jika ada lubang semut dia ingin kesana. Menyembunyikan wajah yang mulai gerah karena kejutan dari pria ini.Paris berjalan dari arah belakang. Mengenakan kaos polo itu dia nampak gagah. Sebuah mic diberikan kepadanya.Pria ini mendekat bahkan berdiri di samping Arumi.Astaga... Arumi mau pingsan saja! Terlebih detak jantungnya sudah mengajaknya berlari."Arumi.." ucapnya.Arumi menutup mulutnya menahan malu, sementara semua mata penonton sekarang tertuju padanya. Belum lagi r

  • Diceraikan Usai Hajatan   46. Kejutan Paris

    Di sisi lain, Paris sejak tadi mengulum senyumnya. Alvin sudah tahu rencana pernikahan mereka. Itu artinya pasti tadi Arumi sudah cerita.Rapat itu hanya bualan. Paris sengaja berbohong tak bisa menemani Arumi dan Hannan bertemu dengan Alvin. Dia ingin memberi waktu pada Arumi menyelesaikan masa lalunya. Percakapan mereka juga sudah Paris dengar. Syukurlah, hati Arumi tak goyah atas rayuan mantan suaminya."Mas masih marah padaku?" Tanya Arumi ketika Paris hanya diam di perjalanan."Untuk apa aku marah padamu?""Abisnya aku tahu kalau kamu marah soal kemarin. Sikapmu berubah, mas.." lirih Arumi. "Padahal maksudku nggak ingin merepotkanmu aja.. aku takut menjadi beban untukmu padahal kamu bisa mendapatkan wanita baik selain aku.""Kamu mulai lagi.." gumam Paris menggelengkan kepalanya. Daripada meladeni Arumi lebih baik dia diam saja.Sesampainya di rumah, Arumi dan Hannan turun lebih dulu dan Paris menyusul."M

  • Diceraikan Usai Hajatan   42. Persiapan Pernikahan

    "Ke rumahmu?" Seketika jantung Arumi ingin copot. "Kenapa, mas? Ibu sakit?" "Nggak. Cuma mau ngenalin kamu aja sama papaku." "Bukannya kami sudah saling mengenal?" "Itu berbeda." Paris berharap Arumi jangan banyak pertanyaan. Ia belum bi

  • Diceraikan Usai Hajatan   40. Memaafkan

    "Aku melanggar janjiku untuk membayar biaya rumah sakit anak kita. Maafkan, aku.. kondisiku saat ini sedang sulit. Pengobatan ibu dan juga kemoterapi Raisa tidaklah murah. Ini saja aku harus menjual mobilku." Alvin lalu mengambil nafas panjang. "Ketiga kakakku tidak mau tahu menahu soal penyakit

  • Diceraikan Usai Hajatan   39. Bertemu Kembali

    Keesokan harinya, jagoan Arumi sudah diperbolehkan pulang. Bayi kecil ini sudah ditutup dengan topi lucu dan selimut berwarna biru. Melihat itu, Lesti menjadi gemas. "Apa boleh ibu menggendongnya?" Tanya Lesti ragu. "Boleh, bu." Arumi menyerahkan bayinya ke dalam pel

  • Diceraikan Usai Hajatan   37. Ketegasan Arumi

    "Aduh! Tolong!" Teriak Raisa begitu kuat.Dua orang pria masuk begitu saja ketika mendengar teriakan wanita dari kamar rawat VIP ini."Raisa!" Alvin terkejut ketika melihat istrinya tergeletak di lantai dengan memegang perut.Sementara pria satunya berjalan santai ke ar

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status