LOGINPria gila mana yang tega menceraikan istrinya sendiri di muka umum. Di tengah resepsi pernikahan. Di depan banyak orang. Oh, Alvin pasti bercanda.
Segera saja Arumi menyusul suaminya masuk ke dalam rumah. Pernikahan mereka baru berjalan 6 bulan. Tidak mungkin karena hal sepele Alvin langsung menalaknya begitu saja. Ya, talak. Jika pernikahan itu sakral, maka perceraian itu keramat. Apalagi bagi pria yang tidak bisa menjaga lisannya. Arumi memburu suaminya masuk ke rumah, sesampainya disana ia tak tahan untuk memanggil. "Mas Alvin.." "Apalagi?" Alvin menoleh dan menatap tajam. "Mas maafin aku.. ini semua salahku." Lirih Arumi berkaca-kaca. "Memang semua salahmu. Dari awal pernikahan ini terjadi, ini semua salahmu." Nurlela mulai lagi ikut campur. "Ibu aku mohon.. aku ingin bicara dengan mas Alvin sebentar." Pinta Arumi memelas. "Eh berani sekali kamu mengusir ibu, ya! Astaga lihat kelakuan Arumi, Alvin! Pantas sekali kalau kamu menceraikannya." Nah, Alvin termakan lagi dengan ucapan ibunya. Pria ini menatap Arumi dengan mata yang berkobar. "Aku menceraikanmu, Arumi. Ibu benar. Aku sudah salah pilih istri!" "Ya Allah, mas.." sampai meringis Arumi mendengarnya. "Apa salahku?" "Kamu bertanya apa salahmu?" Alvin sampai meninggikan suaranya. "Berkaca, Arumi. Wajahmu memang cantik. Tapi kamu itu bo-doh. Tidak berpendidikan. Tidak bisa membantu suami! Kerjaanmu hanya menyusahkan dan membuatku malu. Detik ini juga aku menceraikanmu. Pergilah kamu dari sini!" Tanpa angin dan hujan, tubuh Arumi bak tersambar petir. Ia membeku dengan kepala yang terasa dihantam benda berat. Air matanya mengalir dengan deras. Bibirnya sampai keluh untuk mengatakan sesuatu. Hari ini, suaminya secara sadar menceraikan dirinya. Bahkan Alvin pun telah mengusirnya. "Nah, sekarang kamu sudah dengar sendiri, kan? Pergi kamu dari sini. Sudah cukup rasa malu yang kamu berikan pada kami." Sambung Nurlela puas bukan main. Rencananya memisahkan Alvin dan Arumi berjalan dengan mulus. Alvin kembali ke kamarnya dengan Arumi yang masih berdiri di sana. Tak lama, pria ini keluar dan melemparkan tas milik Arumi. "Pergi kamu. Aku nggak mau melihat wajahmu lagi!" "Mas Alvin.. apa kita nggak bisa bicara baik-baik?" Pinta Arumi terisak. Dia belum terima perpisahan ini. "Kamu tuli kayaknya!" Dengan kesal, Nurlela menarik tangan Arumi dan menyeretnya sampai pintu keluar. Wanita itu didorongnya hingga terjatuh, tas milik Arumi pun dilempar begitu saja. "Pergi sana!" Usir Nurlela. Arumi menangis tersedu-sedu atas perlakuan keji yang diberikan padanya. Sungguh sampai hati mertua dan suaminya melakukan ini padanya. Arumi yang sedang terjatuh di depan rumah hanya bisa menjadi tontonan para tamu hajatan yang mulai beranjak pulang. Tak ada satupun yang berniat membantu wanita ini. Ia menangkap suara bisik-bisik yang ada di belakangnya. Jelas sekali seperti membicarakan dirinya. Arumi lalu melihat ke arah sebrang dimana ada ibu-ibu dapur yang menjadi temannya seharian ini. Namun, mereka juga tak ada niat untuk membantu. Mata-mata itu tetap melihat Arumi dengan tatapan yang sulit diartikan. Wanita ini lalu mengusap air matanya dan bangkit berdiri. Sambil membawa tas tangannya ia berjalan tertatih keluar dari perkarangan halaman tempat diselenggarakannya hajatan ini. Arumi menunduk dari banyak mata yang melihatnya. Saat Arumi benar-benar keluar dari tenda yang melingkarkan janur kuning. Suara disana terdengar. "Maaf atas keributan yang terjadi barusan. Ada pengacau yang berusaha merusak suasana khidmat ini. Saya haturkan beribu maaf." Arumi menoleh ke belakang. Ternyata Nurlela lah yang berkata demikian. Sekarang Arumi sadar bahwa dirinya tidak pernah dianggap sebagai penantu. Melainkan sebagai benalu yang menggerogoti keluarga Nurlela. Memantapkan langkahnya, Arumi kembali berjalan ke depan. Sedikit agak jauh karena Arumi harus menuju ke depan desa. Tin! Arumi terlonjak kaget ketika mendapati sebuah mobil yang menyalipnya. Terlihat seorang pria yang turun dari sana. "Mas Paris.." "Arumi! Kamu mau kemana?" Pria yang memakai batik ini terlihat cemas. "Mau pulang ke kota, mas." Paris menatap iba wanita ini. Bukannya ia tak tahu nasib malang yang menimpa Arumi di acara hajatan tadi. "Mau naik apa?" "Naik travel." "Nggak ada travel disini, setidaknya kamu harus ke kota kabupaten kalau mau mencari bis atau mobil." Arumi mengangguk letih. Itu artinya dia akan berjalan sekian kilometer. "Terima kasih informasinya, mas." "Kebetulan aku juga akan pulang ke kota, kamu ikut aku aja." Tawarnya. "Nggak perlu, mas. Aku nggak mau merepotkan." "Nggak merepotkan, Arumi. Ayo, Naiklah. Siang ini terik sekali." Ajak Paris bersungguh-sungguh. Melihat itu, Arumi jadi setuju. Ia lalu ikut masuk ke bagian tengah mobil. Namun, Arumi jadi terkesiap ketika melihat dua orang yang sudah duduk manis disana. "Nyonya?" Arumi sontak menatap ke kursi depan. "Tuan Jenderal?" Lesti sampai terkekeh melihat reaksi Arumi. "Panggil ibu dan bapak saja." "Oh, maafkan saya soal yang tadi.." "Nggak usah dipikirkan. Bapak tidak apa-apa." Kini Wirawan yang duduk di depan ikut menimpali. Arumi lalu memandang tiga orang ini secara bergantian. Apalagi Paris yang terlihat duduk di kursi kemudi. "Mereka orang tuaku, Arumi." Ucap Paris seakan tahu apa yang ingin wanita ini tanyakan. "Oh.." Arumi lagi-lagi terkesiap. Hari ini banyak sekali kejutan yang ia dapatkan. Ketika ia ingin mengucapkan maaf lagi, Lesti langsung mencegahnya. "Lupakan saja soal yang tadi. Apa kamu sudah makan?" Lesti begitu lembut menanyakannya. Arumi hanya terdiam sambil meremas tas tangannya. Jelas dia kelaparan karena belum memakan satu apapun. "Nanti kita mampir ke rumah makan yang ada di desa sebrang saja. Papa dengar makanan disana enak-enak." Sahut Wirawan. "Ya, setuju. Papamu makannya sedikit tadi. Lauknya kurang enak." Lesti menimpali sambil tertawa. "Siapa namamu?" Tanya Wirawan. "Arumi, pak." Jawab Arumi. "Kamu dan Paris saling mengenal?" Paris sampai menoleh karena pertanyaan itu. Pria ini lalu berdeham. "Arumi dulu teman sekolahku, pa. Adik tingkat waktu SMP." "Begitu rupanya." Sekitar 40 menit perjalanan, Arumi diajak makan siang di sebuah restoran yang ada disana. Setelah itu, mereka melanjutkan perjalanan pulang. "Kamu mau pulang kemana? Maksudku dimana alamat rumahmu?" Paris meralat ucapannya. "Aku pulang ke rumah suamiku aja, mas." "Kamu nggak mau pulang ke rumah orang tuamu dulu?" Lesti mengerti kondisi Arumi sekarang. Arumi lalu menunduk. "Saya yatim piatu, bu." Suasana menjadi hening seketika. Malang sekali nasib Arumi. Dia sudah tak memiliki tempat untuk berlindung. "Kita antar saja dia ke rumah suaminya." Ujar Wirawan. Pria ini harus mengingatkan istri dan anaknya kalau mereka tak perlu ikut campur urusan rumah tangga orang lain. Paris mengendarai mobil hitamnya sampai ke sebuah rumah yang ada di pinggir kota. Arumi akhirnya pulang setelah menempuh 2 jam perjalanan. "Terima kasih, bapak, ibu dan mas Paris tumpangannya." Arumi bersyukur dia masih dipertemukan dengan orang baik. "Sama-sama. Jaga dirimu." Sambung Lesti. Arumi pun berpamitan dan turun dari mobil. Paris juga ikut turun dan mengantarkan wanita itu sampai ke depan rumahnya. "Makasih mas Paris." Arumi terpaksa menerbitkan senyuman di hatinya yang tengah kelabu. "Jika kamu butuh sesuatu, kamu bisa menghubungiku." Paris memberikan kartu namanya. Arumi menerima kartu nama tersebut dan memandanginya. Ternyata pria ini bekerja di sebuah perusahaan asing. "Apa aku boleh mengatakan sesuatu, Arumi?" Paris memandang lekat. "Apa itu, mas?" "Jangan bertahan pada pria yang tidak bisa menghargaimu. Kamu pantas bahagia." Arumi mengigit bibirnya menahan tangis. Ia pun hanya memberikan anggukan. "Terima kasih sudah mengantar mas Paris." Arumi sekali lagi mengucapkannya. Wanita ini lalu masuk ke halaman rumah mertuanya dan pergi ke area belakang rumah. Sedangkan, Paris hanya bisa memandang wanita itu dan memastikannya sampai benar-benar masuk ke rumah. Melihat bekas air mata Arumi yang tertinggal di wajahnya membuat hati Paris ikut teriris."Pak Paris???" Astaga! Raisa tak salah mengenali pria berjas rapi yang baru saja melakukan pembayaran di kasir ini."Raisa.." tegur Paris datar. "Bagaimana keadaan ibu mertuamu?""Syukurlah nggak apa-apa, pak. Cuma darah tinggi aja." Jawab Raisa tak enak.Tadi di kantor, Paris, Raisa beserta sopir tengah di perjalanan untuk menjalin kerja sama dengan perusahaan asing. Tapi telepon dari luar memecah konsentrasi Raisa. Jadilah wanita ini berpamitan hingga Paris terpaksa membatalkan pertemuan hari ini."Syukurlah kalau begitu.""Bapak di rumah sakit juga? Apa ada yang sakit?" Tanya Raisa menatap bungkusan plastik obat yang dipegang oleh manajernya."Iya. Saya ke igd dulu.""Oh, baik." Raisa menundukkan sedikit kepalanya sebagai tanda hormat ketika Paris melewatinya.Wanita ini lalu melihat Paris yang masuk ke igd, nah ternyata benar. Jadi penasaran! Raisa mempercepat proses pembayarannya di kasir. Dia ingin tahu siapa yang dibawa manajernya berobat sampai ke IGD.Paris, manajer yang baru
"Mas Alvin.." Alvin menoleh dengan terkejut ketika namanya disebut. Saat melihat siapa yang ada di belakangnya. Alvin langsung melengos. "Kamu lagi.." Alvin setengah menggerutu. "Mbak Arumi, ini masnya yang mau beli nasi uduk." Lagi-lagi Alvin terkejut, dia menatap Arumi dengan penuh pertanyaan. Sedangkan Arumi jadi tertunduk malu. Matanya yang berkaca-kaca disembunyikannya. "Mas mau nasi uduk? Sebentar aku siapkan." Ucap Arumi. Wanita ini lalu pergi ke meja jualan miliknya dan membungkus dua nasi uduk. Alvin sendiri hanya diam dan menatap Arumi dari ekor matanya. Pergelangan tangan yang biasa digenggamnya itu terlihat kurus, begitu juga dengan pipi yang ranum itu sangat tirus. Apa benar wanita ini sedang hamil? Kenapa perutnya tidak terlihat besar? "Ini, mas." Arumi menyerahkan satu bungkusan yang terdapat dua nasi uduk. "Nggak usah. Aku tidak jadi mesan." Sahut Alvin dingin. Pria ini masih meninggikan harga dirinya. "Nggak apa-apa, mas. Aku minta maaf karena membuatmu lam
Oleh karena Paris yang selalu memesan makanan di hari jum'at dan membagikannya pada seluruh pegawai kantor. Tak terkecuali pegawai wanita yang berada di divisi marketing. "Jum'at berkah lagi dari pak Paris?" Tanya Raisa pada teman satu ruangannya. "Iya." Sahut teman wanitanya. Raisa membuka nasi kotak tersebut dan tergelak. Isinya nasi uduk. "Kere banget sih manajer kita satu itu. Kenapa nggak pesen nasi kotak dari restoran mahal aja? Kalau cuma nasi uduk mah aku bisa beli sendiri." "Syukuri aja.. toh nggak cuma kita yang dikasih tapi seluruh pegawai." Mulai dari satpam, cleaning service hingga karyawan berdasi semuanya mendapatkan makanan yang sama. "Itulah maksudku, Rila. Pak Paris harusnya bisa membedakan kalo ngasih makanan begini. Masa makanan untuk kita disamakan dengan makanan yang dikasih ke tukang sapu!" Ketus Raisa seolah tak terima. "Makan aja lah, Raisa. Nggak enak nolak rezeki. Namanya juga dikasih. Lagian nasi uduknya enak, kok." Rila lama-lama jengah juga dengan
Arumi sampai ke kost sewa miliknya. Tempat kecil yang hanya muat untuk dirinya saja. Di ruangan ini hanya ada dua ruangan yaitu kamar dan kamar mandi. Di kamar inilah tempat Arumi beristirahat, tempat dia memasak untuk berjualan. Pikiran wanita ini melayang jauh ke depan. Bagaimana kalau sudah melahirkan nanti? Apa dia harus tetap tinggal disini? Lalu.. bagaimana dia menghidupi anaknya? Pasti banyak sekali kebutuhan yang harus disanggupinya. Suara ketukan pintu akhirnya membuyarkan lamunan kesedihan Arumi. Rupanya Lilis yang datang. "Tadi kenapa nggak jualan, mbak Arumi?" Tanya ibu yang berprofesi sebagai tukang gorengan ini. "Ada kerjaan, bu. Kenapa ya, bu?" "Oh.. ibu mau ngabarin kalau ada yang mesen nasi uduk punya mbak Arumi untuk hari jum'at nanti." "Untuk hari jum'at? Mau berapa banyak, bu?" "100 kotak katanya." "Apa??" Arumi terkejut bukan main. "Banyak sekali.. aku takut nggak bisa ngerjainnya." Lilis lalu tertawa. "Namanya rezeki jangan ditolak. Gorengan ibu juga dip
Arumi dilewati begitu saja oleh rombongan yang akan menghantarkan Alvin ke kehidupan barunya. Sebelum Alvin mencapai pintu mobil, pria ini menoleh sekilas dan menatap Arumi.Kedua mata itu saling bertemu, Arumi yang begitu berharap seakan ingin mengatakan sesuatu membuat langkah Alvin berhenti."Biarkan kami bicara sebentar." Ucap Alvin pada ibunya."Jangan macam-macam, Alvin! Kita bisa terlambat!" Mata Nurlela sampai melotot."Cuma lima menit."Alvin melepaskan tangan Nurlela dari lengannya, ia lalu berjalan mendekat ke arah Arumi yang masih berdiri disana"Ada masalah apa, Arumi? Waktumu hanya 5 menit." Alvin berkata dingin."Kamu mau menikah, mas?" Tanya Arumi berkaca-kaca."Seperti yang kamu lihat.""Padahal baru dua bulan kita berpisah, tapi kamu sudah mau menikah lagi." Ucap Arumi sedih. Dia menyayangkan keputusan Alvin yang begitu cepat berpaling darinya."Kenapa memangnya?" Dahi Alvin sampai mengernyit. "Apa aku harus meratapi hidupku setelah berpisah darimu? Kita sudah nggak
Dua bulan kemudian...Tangan Arumi membuka kran washtafel dan menyeka mulutnya dengan air secara perlahan. Mual ini begitu menyiksa. Ingin muntah, tapi tak ada satupun yang bisa ia keluarkan. Membuat perutnya sakit saja.Nafsu makan ini menurun drastis, begitu juga dengan berat badannya yang ikut turun.Arumi menatap dirinya di cermin yang memiliki retak di bagian sana sininya. Wajahnya pucat, matanya sayu.. entah sampai kapan penderitaan ini berakhir. Dia hanya bisa memasrahkan takdirnya pada Yang Kuasa.Satu bulan yang lalu, Arumi resmi berpisah dari suaminya dan saat itu pula dia baru tahu jika dirinya tengah berbadan dua. Kini kehamilannya sudah menginjak usia 9 minggu.Arumi ingin datang ke rumah mantan suaminya. Memberi tahu Alvin dan juga Nurlela mengenai kehamilan ini. Untuk menepis anggapan mereka jika Arumi adalah wanita mandul. Tapi.. bisakah mereka menerima Arumi kembali?"Mbak Arumi! Ada yang mau beli nasi uduk!" Seru seorang ibu paruh baya dari luar."Oh.. tunggu sebenta







