登入Sepuluh bulan kemudian..
Waktu terus bergulir, tak terasa Arumi sudah berdiam diri di rumah ini selama sepuluh bulan. Anak semata wayangnya, Hannan kini sudah bisa berjalan di usianya yang menginjak satu tahun. Dengan langkah tertatih anak kecil ini menyusul ibunya ke dapur sembari memegang mainannya. "Ma! Ma!" Arumi tersenyum geli. Apalagi Hannan memanggilnya dengan senyum lebar yang menunjukkan enam gigi besarnya yang baru tumbuSepuluh bulan kemudian.. Waktu terus bergulir, tak terasa Arumi sudah berdiam diri di rumah ini selama sepuluh bulan. Anak semata wayangnya, Hannan kini sudah bisa berjalan di usianya yang menginjak satu tahun. Dengan langkah tertatih anak kecil ini menyusul ibunya ke dapur sembari memegang mainannya. "Ma! Ma!" Arumi tersenyum geli. Apalagi Hannan memanggilnya dengan senyum lebar yang menunjukkan enam gigi besarnya yang baru tumbuh. "Anak pintar! Kamu nggak nangis bangunnya, ya?" Padahal baru 15 menit yang lalu Arumi menidurkan anaknya, tapi Hannan sudah bangun dan menyusulnya ke dapur. Arumi sendiri sudah memiliki usaha sendiri. Tepatnya 6 bulan yang lalu, Arumi mengembangkan bakatnya di bidang memasak. Mencari keuntungan dari keahlian yang dia miliki dengan berjualan makanan. Mulai dari kue ulang tahun dan puding sekarang Arumi sudah me
"Aku melanggar janjiku untuk membayar biaya rumah sakit anak kita. Maafkan, aku.. kondisiku saat ini sedang sulit. Pengobatan ibu dan juga kemoterapi Raisa tidaklah murah. Ini saja aku harus menjual mobilku." Alvin lalu mengambil nafas panjang. "Ketiga kakakku tidak mau tahu menahu soal penyakit ibu. Sekarang aku mengerti, yang punya harta belum tentu memiliki segalanya.." Nah, dahi Arumi sampai mengernyit. Dia lalu menatap Lesti dengan penuh pertanyaan. Jika bukan Alvin yang membayarnya lalu siapa? Apakah Arumi berhutang dengan rumah sakit? Di tengah kebingungan ini, Paris datang dan memanggil. Matanya lalu bertumburan dengan Alvin. "Disini juga?" Tanya Paris. "Iya. Kontrol ibu dan Raisa." Paris menoleh ke Raisa sekilas dan memberikan anggukan, ke wanita yang sebelahnya dia hanya melihat sekejap saja. "Mari kita pulang kalau begitu." Ajak Paris. Lesti mengangguk s
Keesokan harinya, jagoan Arumi sudah diperbolehkan pulang. Bayi kecil ini sudah ditutup dengan topi lucu dan selimut berwarna biru. Melihat itu, Lesti menjadi gemas. "Apa boleh ibu menggendongnya?" Tanya Lesti ragu. "Boleh, bu." Arumi menyerahkan bayinya ke dalam pelukan Lesti. Terlihat sekali jika Lesti sangat menyayangi anak ini. Nalurinya sebagai seorang nenek benar terlihat. Andai saja yang digendong itu adalah cucunya, maka pasti Lesti bahagia sekali. "Mas Paris dimana, bu?" "Sedang ngurus administrasi." Jawab Lesti tanpa menoleh. Ia masih sibuk bersenandung. Arumi sejenak berpikir. Kenapa Paris yang mengurus administrasinya? Tak lama Paris muncul dan menemui sang jagoan yang digendong oleh Lesti. Keduanya tampak tertawa bersama ketika bayi kecil itu menggeliat. "Kita pulang sekarang, Arumi." Ajak Paris. "Pulang kemana?" Tanya Arumi tersendat.
Pontang panting tubuh Alvin dibuat oleh dua orang wanitanya saat ini. Belum selesai drama keterkejutannya karena penyakit ganas yang menimpa istrinya. Sekarang dia makin terkejut setelah mendapat kabar dari sel penjara.Nurlela pingsan di bawah ke rumah sakit. Astaga!Bergegas Alvin meninggalkan Raisa di rumah. Walau wanita itu tak menjawab dan hanya menekuk wajahnya yang tak sedap dipandang itu.Sesampainya di rumah sakit, Alvin bak di sambar petir. Kalau bisa dia ingin mati saja sekarang! Darah tinggi ibunya kumat lagi. Malah sudah mengarah ke stroke. Bibir itu tampak miring ke kiri. Nurlela juga mengeluh tak bisa menggerakan anggota tubuhnya. Dan saran dokter, wanita ini harus dirawat untuk mengobati darah tinggi serta strokenya.Sudah beberapa hari ini, Alvin bolak balik rumah sakit dan rumah untuk menjaga Nurlela dan juga Raisa.Raisa sendiri merasa dunianya berhenti setelah terdiagnosis kanker. Tak hanya itu, karena penyak
"Aduh! Tolong!" Teriak Raisa begitu kuat.Dua orang pria masuk begitu saja ketika mendengar teriakan wanita dari kamar rawat VIP ini."Raisa!" Alvin terkejut ketika melihat istrinya tergeletak di lantai dengan memegang perut.Sementara pria satunya berjalan santai ke arah Arumi."Mas.. dia mendorongku.." Raisa menangis tersedu-sedu."Kenapa kamu mendorongnya, Arumi? Istriku baru saja dioperasi." Tatap Alvin tak senang."Sebelum kamu bertanya itu, harusnya kamu tanyakan dulu tujuan istrimu ke kamar ini." Sela Paris.Ucapan Paris barusan membuat Alvin tersentak. Dia lalu beralih memandang wajah istrinya yang kesakitan."Sedang apa kamu disini?"Raisa tertunduk mendengar pertanyaan Alvin. Untuk masalah ini, dia akan bungkam seribu bahasa."Untuk menyumpahi anakku.""Apa?" Kini Alvin terkejut."Dia datang kemari untuk memberiku pelajaran. Dia ingin aku tidak kembali lagi padamu, m
"Pak Paris. Aku minta maaf soal ibuku." ujar Alvin dengan wajah tertunduk. "Dan jangan berharap aku akan menarik tuntutanku." Sahut Paris dingin. Alvin mengangguk. Dia pun menyadarinya. Jikapun Alvin ada di posisi Paris, dia mungkin akan melakukan hal yang sama. "Aku hanya ingin meminta satu hal." "Apa itu?" "Biaya rumah sakit anakku, biar aku saja yang menanggungnya. Aku ingin dia tahu jika dia masih memiliki ayah." Paris menatapnya dengan teliti. Seolah mempertanyakan keseriusan pria ini. Tapi apa Paris bisa menolak? Jelas Alvin punya hak atas anaknya. "Silahkan saja." Ucap Paris akhirnya. "Tapi dengan satu syarat.. kalau kamu berani menggugat Arumi karena hak asuh, maka kamu akan berhadapan denganku." "Tenang saja.. aku sadar jika anak itu hanya pantas diasuh oleh Arumi." Alvin harus sadar diri. Pria yang plin plan dan egois serta mudah terpengaruh sepertinya memang belum bisa dipercayakan untuk mengasuh anak. Biarlah Arumi yang mengurus putranya sendiri. Lepas







