MasukMemuncak sudah kekesalannya. Setelah kemarin melihat ada laki-laki asing dan kaya berkunjung ke rumah tetangganya. Sekarang di meja ruang tamunya ada undangan pernikahan wanita itu dengan pria kemarin. Benar-benar tidak bisa dinalar, bagaimana bisa?
Kayye kepanasan bukan main. Rasa geram dan kesal sudah mencapai ke ubun-ubunnya. Hanya dirinya saja yang boleh merasakan keberuntungan itu, sedangkan orang lain tidak boleh. Kayye tersenyum smirk, “pasti juga dimanfaatkan saja, cuma bua dipakai lalu dibuang. Tidak mungkin ada orang seganteng itu mau sama wanita biasa saja dan tidak begitu menarik.” Ia semangati dirinya sendiri dan menepis pemikiran jika Myli akan bahagia. Omong kosong!! Kenyataan pahit bahwa pria itu duluan yang menyukai Myli, membuat Kayye setres. Hingga tanpa sadar ia menendang kursi kayu dengan kuat. “Auhss. Sialan, sakit sekali kakiku…” Nyeri dan panas yang dirasakannya. Ya begitu lah, karena banyak tingkah. Nyatanya, setiap individu sudah mendapatkan porsinya masing-masing. Tapi dirinya malah merasa kurang unggul dari yang lain. “Ku jamin hidupnya tidak akan bahagia dan mulus.” Ramalnya ketus dan pongah. Sekarang Kayye menyalahkan dan mengumpati Gion— kekasihnya sendiri, karena tidak kunjung menikahinya. Kayye ingin dirinya dulu yang menikah, ketimbang mantan temannya semasa SD dulu— Myli. Ya, mantan temannya. Gadis itu sangat menyebalkan dulunya dan membuat Kayye harus menjauhinya juga memutuskan hubungan pertemanan itu. Ponsel yang tergeletak di kursi langsung ia ambil. Kayye memencet tombol telepon pada nomor Gion. “Lama sekali kau mengangkatnya!!” Ujar Kayye sebal. “Aku sedang bekerja, kau tahu sendirikan? Kau kira di sini bebas membuka ponsel tanpa kepentingan?” Kata Gion memberi pengertian padanya. Kayye selalu saja seperti ini, tidak paham-paham. Lama-lama ia muak. “Kau jangan mengajakku berdebat!!” Tanpa menunggu jawaban darinya, Kayye memutuskan sambungan itu. Langkahnya terburu-buru keluar, menuju rumah tetangganya. Mengetuk pintu sangat keras dan tergesa-gesa. “Mencari Myli? Maaf… Myli keluar bersama calonnya.” Reimma yang diambang pintu, terkejut akan kehadirannya. Kayye pun segera mengundurkan diri dari sana. Tentunya dengan decakan kesal. •••• Sudah menjelang hari pernikahan mereka. Tentu saja kedua manusia ini sedang fitting baju pernikahan di butik terkenal.. “Berapa kali kita akan berganti pakaian?” Myli kira hanya satu yaitu putih. Namun semuanya berubah ketika Keeiko menyuruh memilih warna lain. “Tiga. Kau ingin warna apa biar bisa aku samakan.” “Sebenarnya aku suka dengan model dan warna ini. Tetapi bagian punggung dan dada sangat terbuka sekali.” Gaun panjang warna burgundy yang Myli pegang. Tepatnya gaun ketiga. “Apa ada warna seperti ini tapi model lain yang tertutup?” Tanya Keeiko pada pemilik butiknya langsung—Mrs. Saniye. “Tentu saja. Kami memiliki banyak warna yang sama dengan model berbeda. Sengaja tidak kami pajang semua, agar gaun itu tetap aman dan terjaga kualitasnya.” Pernah ada keluarga menyewa gaun wisuda dan mereka membawa satu anak berusia 4 tahun. Terlepas dari pengawasan, anak kecil itu mencabuti mutiara dan manik-manik yang ada di 3 gaun berbeda. Bahkan menyobek plastik penutup gaun itu. Mrs. Saniye membawa 3 model berbeda. Ada yang berlengan pendek, lalu berlengan panjang ada selendang kaku bergelombang yang menjuntai seperti bunga, dan itu untuk dilitkan ke sepanjang tangan. Yang satunya berlengan juga berlengan panjang tetapi krahnya membentuk sayap kupu-kupu. “Aku ingin yang ini.” Myli mengambil gaun yang berlengan dengan tambahan selendang. Sangat glamour nan elegan sekali. Akhirnya gaun-gaun itu dibungkus oleh sang pemilik dan perancang— Mrs. Saniye. Mereka berdua tengah melakukan percobaan memaikainya satu persatu. Myli s***k kelambu yang berada ditengah-tengah mereka. Dia mendekat ke arahnya, berdiri di sampingnya. Menyandingkan keserasiannya di depan cermin panjang dan besar itu. “Kau semakin cantik menggunakan gaun itu…” Pujinya. “Kau berlebihan, aku tetap sama dengan memakai atau tanpa gaun ini.” Sanggah Myli. Ah tidak mungkin hanya memakai baju mahal tiba-tiba menjadi cantik. “Aku berkata jujur...” Setelah semuanya benar-benar sudah fiks. Keeiko membayarnya langsung. “Biar aku yang bawa.” Papper bag itu ia rebut dari genggaman Myli. Myli menariknya kembali, “tidak, tidak. Biar aku saja yang membawanya.” Kedua tangan Keeiko sudah penuh oleh bawaan jaz dan aksesoris lain Myli. “Berat. Berikan padaku saja,” Keeiko mencoba meraih bawaanya itu. “Aku tidak mau…” Myli malah menjauhkan papper bag itu darinya. Ia angkat ke bawah dan ke atas biar Keeiko tidak bisa mengambilnya. “Baiklah kalau begitu.” Dirinya menyerah. Myli memilih pulang daripada ke tempat lain. Karena sudah lelah dan tidak bersemangat untuk melanjutkan perjalanan ini. Keeiko membantu mengambilkan papper bag itu dan membawanya sampai masuk ke dalam rumah. “Jaga dirimu baik-baik jangan sampai terluka, sampai kita bisa bersatu di altar untuk menyatakan janji suci.” Myli yang berdiri diambang pintu itu mengangguk, mendengarkan Keeiko yang berpamitan akan pulang. Sebelum benar-benar pergi, ia berkata. “Aku suka. Karena kau sudah mulai banyak bicara padaku. Aku suka itu.” Senyumnya sangat lebar dan manis. Myli melambaikan tangannya, menyuruhnya untuk menunduk sedikit. Keeiko pikir perempuan itu akan membisikkan sesuatu. Tetapi… Cup Myli mengecup sekilas pipinya seraya berkata, “terima kasih. Hati-hati di jalan…” Ia berlari ke dalam dan menutup pintunya, meninggalkan Keeiko yang membeku. Myli berhasil membuat dirinya kehabisan napas.Ini lah yang tidak disukai Myli, belum cerita sampai habis tapi sudah ingin menangis duluan. Dia menangis karena tidak menyangka mampu bertahan bertahun-tahun hingga sekarang. Tidak bund1r di saat sedang setres sudah pencapaian yang luar biasa. Keeiko menangkap inti ceritanya, tentang pembullyan di masa lalu dan Sereya salah satu pelakunya. “Tidak apa-apa. Jangan dilanjutkan kalau tidak kuat cerita. Omong-omong kejadian yang kau alami tidak lah alay. Stop berbicara jika itu hanya biasa saja yang tidak perlu dibesar-besarkan.” Keeiko langsung menarik Myli ke dekapannya. Gadis itu kekeuh ingin cerita tapi selalu mengatakan jika takut dicap lebay dan biasa saja. Entah ini termasuk dari ucapan Ibunya juga yang selalu menyuruhnya diam dan jangan menangis kalau sedang sakit hati. Jika ketahuan langsung kena amarah berjam-jam. Akibatnya anak tidak bisa meluapkan apa yang sedang dirasakannya. Dipendam hingga menjadi setres berkepanjangan dan sulit mengontrol emosi dalam diri. “Kalau it
“Kau kurang gerak cepat! Kalah sekali dengan perempuan badan kecil. Padahal kau lebih tinggi dan jalan mu lebih cepat darinya. Memang kau itu tidak becus!!” Sereya memukul pahanya dengan kesal. Olla berdiri dengan ekspresi yang sengaja dijelek-jelekkan. Lebih tepatnya mengejek kakaknya. Halah! Banyak komen dan modal protes. Sereya mendatangi apartement adiknya untuk mengetahui hasilnya. Zonk dan memancing amarahnya. “Semua di luar prediksi aku. Daripada kena mending aku pergi. Kau ini berbicara seakan tidak ada hari lain atau besok, agar rencana lain terealisasikan.” Kata Olla memutar bola matanya. Situ enak tinggal berbicara dan memerintahkan. Tanpa ikut ada di sisinya, jadinya tidak tahu bagaimana suasananya. “Aku tidak mau tahu! Intinya aku ingin hubungan mereka retak.” Sereya duduk di kasur dengan kasar serta anaknya yang ada di gendongannya. “Pikirkan cara lain kalau begitu. Kau kan yang punya masalah dengan mereka. Kalau aku sih santai saja dan terima jadinya.” Mendengar
Setelah Myli masuk, Olla mengumpat kasar dan terpaksa pergi. Tinggal sedikit lagi loh. Oh my... ada saja cobaannya.Myli melempar bantal itu dengan sembarangan. “Keeiko, ada apa?” Dia duduk di samping laki-laki itu yang kini memejamkan matanya dan Myli mengikuti arah posisi tangan Keeiko... Waduh lumayan ++ ya pemirsa. Tidak biasanya. Tebakannya ada sesuatu yang tidak beres hingga kelakukannya yang soft positif jadi melenceng begini. Bukan jawaban yang diberikan pria itu. Saat matanya terbuka, dia langsung menempel pada Istrinya. Dimabuk cinta kah...?Myli bergidik merinding merasakan tangan Keeiko bermain-main di lehernya. Tapi juga membiarkannya. Penting bukan dilakukan ke orang lain. “Tadi kau mengajak ku pulang sekarang malah begini. Jadi atau tidak?” Tanya Myli yang entah Keeiko masih ingat apa sudah lupa. “Aku ingin ke hotel!” Hotel yang dimaksud Keeiko adalah yang tepat di depan perusahaannya. Tinggal menyebrang saja dengan mobil yang terparkir di sini. Anti ribet dan re
Benar saja sesuai dugaannya. Di saat dirinya tenang dan biasa saja. Justru yang heboh adalah seisi kantor. Lebih tepatnya khawatir akan ada pertengkaran besar yang menghambat pekerjaan mereka. “Oh itu ya Istri Pak Keeiko. Aku baru tahu, karena memang tidak diundang!” Tatapannya pun tertuju padanya. “Sstt, jangan keras-keras. Aku kan juga sudah bilang jangan menoleh. Kapok deh aku memberitahumu.” Temannya merasa malu. Derita punya teman yang blak-blakan dan suka nyeplos tanpa mau tahu kondisi ataupun perasaan orang. “Untung ya tidak ada drama Indosiar. Karena aku muak dengan film itu. Membosankan.” “Sudah! Kau mending diam saja.” Myli sudah setengah perjalanan menuju ke Olive. Karena mendapatkan tatapan tidak biasa dari banyaknya orang ditambah Keeiko yang kembali ke ruang meeting. Menjadikan Myli goyah. Dia pun memutuskan kembali ke ruangan Keeiko. Sesampainya di sana ia langsung menutup pintunya. Tidak ada yang boleh melihatnya. Myli gelisah dan tubuhnya mendadak panas dingin.
Berbanding terbalik dengan sikapnya yang tadi arogan. Mereka berdua saat ini justru berdiri terdiam dan tidak berdaya. Keeiko berjalan ke sana ke mari di sekitaran mereka. Begitu Keeiko hadir, seakan bagai penampakkan bagi keduanya. Menyeramkan sekaligus mengagetkan. “Sudah merasa bangga menghina dan memarah-marahi Istri ku?” Keeiko marah. “Siapa yang menyuruh kalian menginjakkan kaki di ruangan ku?” Matanya tertuju pada mereka yang menunduk. “Jangan masuk kalau belum atau tidak dipersilakan. Itu yang namanya etika.” Myli bernapas normal, ternyata pemikirannya salah. “Aku kira kau pergi meninggalkan ku karena puas melihat ku diserang mereka.” Ucapnya pada Olive. Mereka memilih menjauh dan berdiri di depan pintu. “Negatif sekali pemikiran mu terhadap ku. Astaga aku tersinggung...” Balasnya mendramatis. Dia tidak bersungguh-sungguh dan Myli paham jika itu candaan semata. “Kau tersenyum misterius.” Olive tertawa kecil. Disalah artikan atas senyumnya. “Karena aku yakin. Kalau a
Sebenarnya bukan hanya sekedar bosan dan mengantuk. Tapi matanya memanas dan kepalanya mendidih jika menatap perempuan itu. Dirinya tidak akan pernah lupa sampai kapanpun. Jadi… penglihatannya tidak salah. Wanita itu yang bersama Hexa kapan lalu. Sekarang ia sedang menunggu Olive. Perempuan yang sudah disuruhnya ke sini. “Tidak ku sangka kau selangkah lebih maju dari ku. Oh atau mungkin sudah dua atau tiga langkah?” “Bagaimana kalau kau enyah saja? Bukan kah aku yang akan menang?” Mendengar suara yang Myli dengar dia pun mendongak ke arah pintu. “Adab lebih penting daripada ilmu. Kau dilarang menginjakkan kaki di sini tanpa seizin ku.” Balas Myli sinis. Tidak, tidak. Ia hanya mewakili Keeiko. Ini kan ruangan pribadi laki-laki itu. “Aku tidak butuh izin mu untuk melakukan apapun. Semuanya terserah aku dan aku tidak suka diatur...” Ujarnya. Sereya langsung mencontohkannya dengan duduk di kursi single milik Keeiko. Hell! Apa-apaan ini? Myli saja duduk di sofa loh.Apa itu aturan?







