Mag-log inPersiapan pernikahan itu tidak dirancang seperti pesta korporat yang bising, melainkan sebuah pertunjukan kekuasaan yang sunyi, presisi, dan mutlak.Di penthouse Keiran yang menghadap lanskap Jakarta Selatan, suasana pagi itu terasa dingin dan tenang. Hanya ada beberapa staf senior dari rumah mode ternama serta tim keamanan internal Alvareno Group yang berjaga di luar pintu kaca.Shaluna berdiri di atas podium bundar berlapis beludru di tengah ruangan, mengenakan gaun pengantin berpotongan haute couture berwarna putih gilded-ivory. Kain sutra yang membungkus tubuhnya jatuh dengan anggun, tanpa banyak payet yang mencolok, melainkan garis desain yang tajam, elegan, dan tegas. Mencerminkan status barunya sebagai calon pendamping tunggal sang penguasa Alvareno.Seorang penjahit wanita paruh baya berkebangsaan Prancis sedang merapikan ujung gaun Shaluna dengan hati-hati."Sedikit lagi di bagian pinggang, Mademoiselle Dastan," gumam penjahit itu sopan. "Silakan berdiri tegap."Shalun
Tangan Ragan yang memegang pinggiran etalase kaca itu berguncang halus. Napasnya terengah, mengembuskan uap putih yang makin memburu di tengah dinginnya malam Melbourne."Ragan?"Sebuah suara pria beraksen Australia yang familier memecah keheningan di belakangnya.Ragan dengan cepat menarik tangannya dari kaca, membalikkan badan dengan gerakan refleks yang agak panik. Berdiri beberapa langkah di depannya adalah Lian. Pria berkebangsaan Australia-Yunani yang merupakan seorang arsitek lanskap dan rekan satu timnya dalam proyek sukarelawan penataan taman kota yang Ragan ikuti selama enam bulan terakhir.Julian menatap Ragan dengan kening berkerut halus, memperhatikan raut wajah Ragan yang pucat pasi bak tanpa darah."Kamu baik-baik saja?" tanya Lian, melangkah mendekat. Pria itu mengenakan jaket parka tebal dan membawa dua cangkir kopi takeaway. "Aku lihat kamu berdiri mematung di sini dari seberang jalan. Wajahmu seperti baru saja melihat hantu."Ragan menelan ludah, berusaha ker
Ragan memasukkan ponsel itu ke dalam saku mantel tebalnya, membiarkan kegelapan di dalam saku itu menelan foto Shaluna sepenuhnya. Ia bangkit dari kursi, menarik resleting mantelnya hingga merapatkan kerah ke leher, lalu melangkah keluar dari kafe menuju udara dingin Southbank yang menusuk tulang.Langkahnya membawanya menyusuri pedestrian sepanjang Yarra River. Angin sore bertiup cukup kencang, membawa aroma tanah basah dan dedaunan kering. Di kota ini, tidak ada satu pun orang yang mengenalnya sebagai Rag homoseksual. Di sini, ia hanyalah seorang pria asing dalam balutan mantel gelap yang berjalan sendirian di tengah kerumunan pejalan kaki.Di Melbourne, ia dipaksa menghadapi kenyataan paling brutally jujur dalam hidupnya. Bahwa ketakutannya akan penolakan Maria telah mengubahnya menjadi monster yang egois. Selama tiga tahun pernikahan, ia menyiksa Shaluna bukan dengan pukulan, melainkan dengan kebingungan psikologis. Ia membuat Shaluna merasa tidak sempurna sebagai wanita, hanya
Dua tahun berlalu sejak Pengadilan Negeri melegalkan ketukan palu perceraian itu. Ragan memilih mengasingkan diri ke Melbourne.Kota yang cukup jauh dari jangkauan Tuan Dion dan radar Alvareno untuk merajut kembali sisa-sisa hidupnya yang hancur.Di Melbourne, jauh dari tekanan patriarki keluarganya dan intrik korporat, Ragan mendedikasikan waktunya untuk menjalani terapi intensif, konseling psikologis, serta program rehabilitasi diri. Ia bertarung hebat dengan konflik internalnya. Berusaha keras menekan dorongan dan kecenderungan seksualnya yang selama ini dianggapnya sebagai sumber kehancuran hidup dan penyebab luka mendalam bagi Shaluna.Dalam kesendiriannya di kota asing itu, Ragan belajar hidup tanpa topeng. Untuk belajar bertanggung jawab atas masa lalunya dan menjadi manusia yang tidak lagi mengorbankan orang lain demi kenyamanan pribadinya.Di Melbourne, musim dingin terasa lebih menggigit bagi Ragan.Dari balik jendela lantai dua sebuah kafe sepi di Southbank, ia menatap b
Kamar utama menyerap seluruh keheningan malam, menyisakan pendar temaram lampu dinding yang membiaskan bayangan mereka di atas langit-langit kayu. Keiran membiarkan berat tubuhnya menopang di sisi tubuh Shaluna, jemari tangannya yang panjang menyusup ke sela-sela helai rambut hitam wanita itu yang terurai bebas di atas bantal linen.Tidak ada kata-kata kaku atau pertimbangan strategis yang perlu diucapkan lagi. Di dalam ruang pribadi ini, Keiran Alvareno hanyalah seorang pria yang sepenuhnya menyerahkan hidup dan hatinya kepada wanita yang berbaring di bawah naungannya."Kamu lelah?" bisik Keiran rendah di dekat pelipis Shaluna. Suaranya serak, sarat akan kehangatan yang melelehkan sisa-sisa ketegangan hari itu.Shaluna menggeleng pelan. Ia mengulurkan tangannya, menyusuri garis rahang tegas Keiran yang kini terasa begitu familiar di bawah jemarinya. Cincin berlian di jari manisnya bergesekan halus dengan kulit rahang Keiran, menimbulkan sensasi hangat yang menjalar cepat ke seluru
Malam makin larut saat kendaraan mereka akhirnya berbelok memasuki pekarangan rumah tempat mereka menetap. Lampu-lampu taman berpendarkan cahaya keemasan yang lembut, menyambut kepulangan mereka dengan kehangatan yang bersahaja. Suara deru mesin mobil perlahan memudar sebelum akhirnya mati sepenuhnya, menyisakan keheningan malam yang tenang.Keiran turun lebih dulu, lalu berjalan melintasi bagian depan mobil untuk membukakan pintu bagi Shaluna. Pria itu mengulurkan tangannya yang lebar, disambut oleh jemari Shaluna tanpa ragu. Saat wanita itu melangkah keluar dari kabin, Keiran tidak melepaskan genggamannya. Pria itu justru melingkarkan tangannya di pinggang Shaluna, menarik tubuhnya mendekat hingga tak menyisa jarak di antara mereka.Di bawah naungan langit malam yang bertabur bintang, Keiran menatap lurus ke dalam iris mata Shaluna. Pendar mata gelap pria itu memancarkan intensitas murni dari seorang pria yang telah menemukan tempatnya berlabuh secara utuh."Malam ini terasa be







