Share

Bab 4

Author: Chouw
last update publish date: 2026-06-13 19:28:40

Rama melangkah ragu memasuki pekarangan rumah Sinta. Ternyata, rumah itu cukup besar dan berada tidak jauh dari kediaman Nenek. 

Rama sempat berdiri terpaku menatap halaman luas dengan kebun dan lahan yang terawat rapi di depannya. 

Saat Rama tiba di depan pintu, Sinta kebetulan baru keluar dari arah samping rumah sambil membawa sapu lidi. 

Begitu melihat Rama, langkahnya langsung terhenti. Hampir ia buru - buru menarik diri dan masuk ke rumah.

Tangannya sudah memegang gagang pintu, siap untuk menutupnya rapat-rapat karena terlanjur malu setengah mati akibat kejadian tadi.

"Mbak Sinta," panggil Rama cepat sebelum pintu itu benar-benar tertutup di depan hidungnya.

Langkah Sinta tertahan. Dia menoleh pelan dengan wajah yang sudah merah padam, meremas sapu.  "Eh, Mas Rama... Ada apa, ya?" 

Rama sengaja tetap berdiri di teras, memilih tidak melangkah lebih dekat demi menjaga jarak aman dan tidak membuat wanita itu semakin panik. 

Ia langsung menyodorkan rantang yang dipegangnya sejak tadi.

"Ini dari Nenek, Mbak. Rantangnya sekalian sama uang upah cabut teh tadi siang," kata Rama, berusaha membuat suaranya senetral mungkin,

"Sama ini... uang buat lauk makan sore saya. Kata Nenek, saya disuruh numpang makan di sini karena di rumah gak ada lauk."

Mendengar penjelasan Rama, ketegangan di bahu Sinta perlahan mengendur. Ia melepaskan pegangannya pada gagang pintu, lalu melangkah maju dengan kikuk untuk menerima rantang tersebut. 

"Oh, alah... iya. Duh, malah ngerepotin pakai dianterin segala, Mas. Makasih, ya." 

“Gak apa-apa, Mbak," sahut Rama pendek. “Saya juga minta maaf tadi.”

Sinta melirik sekilas, “Mmh gapapa, Mas. Saya tahu saya mengganggu. Saya minta maaf kalau mengganggu masnya.”

Lalu kembali menatap Rama dengan senyum tipis yang dipaksakan untuk menutupi rasa malunya. "Sini, Mas, masuk dulu. Gak enak kalau langsung pulang, di luar angin sorenya lagi kencang. Nasi nya juga baru matang.”

Karena perutnya memang sudah keroncongan dan rasanya tidak sopan jika langsung balik kanan setelah diongkosi neneknya Rama akhirnya mengangguk pelan dan melangkah masuk ke dalam. 

Ruang tamunya terasa nyaman, sejuk oleh angin yang berembus masuk melalui jendela besar yang terbuka lebar. 

Sinta sudah mengganti pakaiannya yang jauh lebih longgar dan sopan, meski potongan kain itu tetap tidak bisa menyembunyikan lekuk tubuhnya yang memang sudah matang dari sananya.

Sinta menyajikan segelas es kelapa muda ke atas meja kayu, lalu mengambil posisi duduk di sofa panjang yang sama dengan Rama, namun kali ini dia sengaja memberi jarak satu bantalan sofa di antara mereka.

“Ini memang selalu sepi, Mbak?”

"Oh.. iya, Mas.” kata Sinta pelan, mengusap permukaan gelas kaca di atas meja. "Dulu ada suami... sekarang meski ada adik-adikku, terkadang aku masih sering kesepian kalau malam."

Sinta menoleh, menatap Rama dengan senyum tipis yang tulus, tidak ada lagi kilat nakal seperti sebelumnya. 

"Makanya saya senang waktu tahu ada Mas Rama di sini. Nenek Ratna jadi ada yang nemenin.”

Rama hanya mengangguk pelan, menyesap kopi yang tadi disuguhkan demi mengusir rasa canggung yang masih tersisa di antara mereka. “Selain bantuin nenek, mbak biasa ngapain lagi?”

"Mas Rama kalau capek habis nyangkul seharian, saya bisa mijit juga, lho," tawar Sinta lagi, nadanya terdengar tulus menawarkan bantuan tetangga. 

"Kebetulan saya biasa mijit orang kampung sini kalau badannya pegal-pegal habis dari sawah. Kalau masnya butuh, bilang ke saya ya? Nanti saya ke rumah Nenek."

Baru saja Rama hendak membuka mulut untuk menjawab, terdengar suara gesekan langkah kaki dari arah dalam rumah. 

Dua sosok perempuan tiba-tiba muncul, lalu menghentikan langkah mereka saat melihat ada tamu asing duduk di ruang tamu.

Perempuan yang satu bertubuh langsing dengan belahan mata yang tampak penasaran dan sedikit genit saat menyadari keberadaan Rama. 

Sementara yang satunya lagi terlihat lebih muda, wajahnya masih polos tapi pipinya langsung merona merah saat pandangannya beradu dengan mata tajam Rama.

Sinta menoleh ke arah koridor lalu tersenyum kecil. "Oh, mereka adik-adik saya. Lina dan Rina."

Rama mengerutkan keningnya dalam, bergantian menatap dua gadis baru itu dan Sinta.

Adik? 

Jadi, di rumah sebesar ini, isinya perempuan semua?

Tak lama, Sinta mengajak Rama pindah ke meja makan kecil di dekat dapur. 

Di sela-sela suapan, Sinta mulai bercerita banyak hal tentang hidupnya.

"Rumah ini peninggalan Suami saya, Mas," ujar Sinta sambil meletakkan sendok. "Keliatannya aja besar dari luar, tapi ya dalamnya kosong. 

Sejak suami gak ada, saya yang harus putar otak buat cari uang. Kebun di belakang dipake tanam apa aja yang bisa dijual. Kadang nenek juga minta masakin makanan. Saya mah yang penting menghasilkan.”

Sinta melirik kedua adiknya yang sedang menunduk makan dengan lahap. "Lina sebentar lagi mau masuk kerja di kota, butuh biaya banyak. Apalagi Rina… dia sakit-sakitan, butuh berobat terus. Sebagai kakak tertua, saya gak boleh lembek. 

Makanya apa aja saya kerjain, asal bisa ngempanin mereka berdua dan bayar sekolah."

Rama mendengarkan dalam diam, mengunyah makanannya perlahan. Cerita Sinta mendadak memicu sisi lain dalam kepala Rama. 

Otak bisnisnya berputar, sekaligus mengingat bahwa dompetnya tidak sekosong itu. Benar dia diasingkan tanpa kartu kredit, tapi sebelum berangkat, mamanya sempat menyelipkan beberapa gepok uang tunai darurat.

Rama menatap Sinta, lalu beralih memandangi lengannya sendiri yang terasa kaku dan pegal akibat dipaksa memegang cangkul berjam-jam tadi pagi. 

Penawaran pijat Sinta yang tadinya dianggap sebagai godaan, kini terdengar seperti solusi yang saling menguntungkan.

Kasihan.

Rama meletakkan gelasnya.

"Mbak Sinta," panggil Rama, membuat Sinta mendongak dari piringnya.

"Iya, Mas?"

"Soal tawaran pijat tadi..." Rama menjeda kalimatnya, menatap lurus ke sepasang mata Sinta dengan ekspresi serius tanpa main-main. "Saya mau pijat, deh."

Sinta berkedip kaget. Lalu tersenyum lebar. “Pijat biasa kan, Mas?”

Mendengar pertanyaan polos itu, alis Rama langsung bertaut. Dia menatap Sinta, sedikit bingung sekaligus heran dengan jalan pikiran janda muda di depannya ini.

"Emang biasanya kayak apa?" tanya Rama balik, nadanya datar tapi tatapannya menyelidik.

Sinta langsung salah tingkah. “

Eh, bukan gitu, Mas. Maksud saya... pijat capek biasa. Takutnya Mas Rama minta pijat refleksi yang pakai alat-alat atau gimana, saya kan gak punya."

Rama terkekeh pelan melihat kepanikan di wajah wanita itu. "Nggak. Ya pijat capek lah, Mbak. Emang dipikir pijat apa lagi?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dihukum ke Pelukan Kembang Desa   BAB 44

    Perjalanan menuju kantor kecamatan memakan waktu hampir satu jam, melewati jalan berbatu yang berkelok tajan, sesekali membuat motor Bik Inah yang dikendarai Rama oleng ke kanan-kiri.Jika dalam kondisi santai, mungkin Rama akan sangat menikmati momen ini. Dimana Sinta kini memeluknya erat di belakang, menempelkan dadanya yang sintal dan kenyal itu di punggung Rama. Berboncengan menikmati udara desa yang segar, hamparan sawah yang hijau dan pegunungan yang indah.Tapi karena situasinya sedang kacau, mereka sama sekali tidak menghiraukan pemandangan indah itu. Tujuannya hanya satu, sampai di kantor kecamatan dengan selamat beserta semua berkas yang kini menjadi satu-satunya bukti yang bisa melawan Dewi."Apa masih jauh, Mbak?" tanya Rama, sedikit berteriak berusaha mengalahkan suara angin yang berdesir kencang."Sebentar lagi, Mas! Tinggal lewat pasar sama satu tikungan lagi!" jawab Sinta. Ia mengeratkan pelukannya, berusaha menenangkan diri dan jantungnya yang terus berdegup kencang.

  • Dihukum ke Pelukan Kembang Desa   BAB 43

    "Maksud kak Sinta apa kotaknya hilang?!" Rina langsung berlari mendekat, ikut menatap ke dalam lemari yang kini benar-benar kosong. Hanya ada tumpukan selimut lama dan beberapa baju yang tersisa di sudut.Sinta menggeledah lemari itu lebih dalam, memindahkan setiap lipatan kain dengan tangan gemetar, berharap kotak itu hanya tergeser, bukan hilang sungguhan. Tapi hasilnya tetap sama. Kotak kayu berisi surat cerai yang jadi bukti penting mereka benar-benar tidak ada di sana."Mas, gimana ini? Kok bisa hilang sih?" Sinta mulai terisak sambil terus mengeluarkan semua isi lemarinya, tidak jika semua baju-baju kini berserakan di lantai.Rama mendekat, ikut memeriksa lemari, bahkan sampai menunduk melihat kolong tempat tidur. "Kamu tenang dulu, Mbak. Siapa tau kamu lupa naruh kotak itu," ucapnya mencoba menenangkan Sinta."Gak mungkin aku lupa, Mas. Aku inget banget, aku taruh kotak itu di lemari ini." Sinta benar-benar kalut. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, dan mengacak-acak rambutnya

  • Dihukum ke Pelukan Kembang Desa   BAB 42

    Rama buru-buru menyambar kaosnya yang tergeletak di lantai, memakainya dengan gerakan asal sambil telinganya masih mendengarkan suara ketukan di pintu depan yang tak kunjung berhenti."Sinta! Buka pintunya, ini penting banget!"Sinta bangkit dengan panik mendengar suara Pak RT yang terus berteriak dengan heboh. Ia meraih daster yang tersampir di kursi dekat ranjang, jarinya sedikit gemetar saat mengancingkan bajunya, sementara rambutnya masih berantakan khas orang bangun tidur."Mas, sebaiknya kamu diam aja di sini," bisik Sinta cemas, menahan lengan Rama yang hendak keluar kamar. "Kalau Pak RT lihat kamu di sini, nanti dia malah curiga dan bisa jadi bahan gosip warga sekampung."Rama mengangguk cepat, meski dalam hati ia mendecak kesal. Sudah bukan pertama kali ia harus bersembunyi seperti maling di rumah orang yang ia cintai.Dengan berat hati, Rama kembali duduk di ujung tempat tidur, menatap pintu kamar yang ditutup kembali oleh Sinta."Mau ngapain sih dia pagi-pagi begini udah ng

  • Dihukum ke Pelukan Kembang Desa   Bab 41

    Malam itu, rumah Nenek Ratna sudah sepenuhnya gelap. Hanya suara jangkrik dan desir angin yang mengisi kesunyian, menemani Rama yang berbaring di kasurnya sambil menatap langit-langit kamarnya.Berulangkali ia mengubah posisi tidurnya, namun matanya tidak juga mau terpejam. Semenjak kejadian di gudang itu, hatinya selalu gelisah dan tidurnya menjadi tak nyenyak.Preman yang sempat mengintai rumah Sinta beberapa hari lalu memang sudah tidak terlihat lagi sejak Pak RT mengerahkan beberapa warga untuk ronde malam bergiliran. Tapi ketegangan itu tetap meninggalkan bekas terutama di dada Rama, yang terus memikirkan bagaimana keadaan Sinta di tengah semua kekacauan ini.Rama bangkit dari kasurnya, mengintip ke luar jendela kamar. Nenek Ratna sudah lama terlelap di kamar sebelah, suara dengkurannya samar-samar terdengar dari balik dinding bambu."Bodo amat, ah," gumamnya pelan, mengambil kaos yang tergantung di kursi dan memakainya cepat-cepat."Daripada gue gak bisa tidur malem ini, mending

  • Dihukum ke Pelukan Kembang Desa   BAB 40

    Matahari belum sepenuhnya naik di balik pegunungan di belakang desa, tapi Rama sudah berdiri di depan rumah Sinta.Ia sengaja datang lebih awal, bahkan sebelum jadwalnya kerja di kebun Pak Karman, karena semalaman ia tidak bisa tidur nyenyak memikirkan gudang penuh dokumen itu."Eh, Mas Rama udah dateng aja," sapa Rina dengan suara serak khas bangun tidur. Matanya langsung cerah seketika kala melihat Rama."Mas Rama pasti mau ketemu Kak Sinta, kan? Dia lagi siapin kopi, sebentar lagi juga selesai," lanjutnya sambil tersenyum manis.Gadis itu melangkah lebih dekat, lalu tanpa ragu menggamit tangan Rama. "Kamu kemana aja sih, Mas? Kok sekarang kamu jarang ke sini," katanya sambil memeluk erat lengan Rama."Rin, jangan mulai deh. Nanti ketahuan Mbak Sinta," ucap Rama sambil berusaha melepaskan tangannya dari pelukan Rina.Sadar dengan penolakan Rama, gadis itu langsung menjauhkan dirinya. "Kamu sama kak Sinta terus, sama akunya kapan?" ungkapnya kesal lalu menggembungkan pipinya.Melihat

  • Dihukum ke Pelukan Kembang Desa   BAB 39

    Ruang tengah rumah Sinta terasa lebih sempit dari biasanya malam itu. Empat orang duduk melingkari meja kayu tua, Rama, Sinta, Rina, dan Nenek Ratna duduk saling berhadapan, sementara Lina tidak pulang malam ini, menginap di rumah temannya.Tak ada yang bicara selama beberapa saat. Hanya suara isak tangis Sinta yang sesekali masih terdengar, meski sudah jauh lebih tenang dibanding sore tadi.Rama diam-diam memperhatikan Sinta. Keberadaan neneknya diantara mereka membuatnya tidak bisa leluasa untuk sekedar menenangkan wanita itu. Padahal, ingin sekali ia memeluknya, karena beberapa hari kemarin ia terlalu sibuk bekerja bersama Pak Karman."Nek, tadi Nenek bilang kenal salah satu pengacara itu. Sekarang, tolong jelasin. Nenek kenal dia dari mana?" tanya Rama memecah keheningan.Nenek Ratna menghela napas panjang, tangannya yang keriput meraih cangkir teh di depannya, tapi tidak langsung diminum. Wanita tua itu menatap jauh ke depan, seolah pikiranny

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status