تسجيل الدخول"Maaf ya, Mas... Sudah lama saya gak lihat yang kotak-kotak begini,"
Sinta terengah, sepasang matanya yang sayu menatap pergelangan tangannya yang dicengkram kuat oleh Rama. Rama langsung mengambil langkah mundur, melepaskan cengkeramannya kasar demi menjauhkan dirinya dari jangkauan wanita itu. Sesuatu di balik handuknya masih berkedut tegang, efek kedekatan intim yang mendadak tadi membuat akal sehatnya sempat berada di ambang batas. Rama berdecak, membenarkan letak simpul handuk yang agak melonggar. "Mbak, tolong dong jangan ganggu saya, ya. Mending Mbak balik sekarang," usir Rama, suaranya ketus dan dingin. “Lagian mbak mau ngapain lagi kesini sih? Kayak gak ada kerjaan lain aja di kampung?” Mendengar gertakan itu, wajah menggoda Sinta mendadak berubah drastis. Nyalinya mencicit seketika. Sepasang mata bulatnya berkedip cepat, tampak panik seolah baru tersadar dari hipnotis gairah yang sempat menguasai kepalanya. Dia meremas ujung dasternya yang tipis, melangkah mundur dengan kikuk. "M-maaf ya, Mas... Saya ke sini sebenarnya mau cari Nenek Ratna," cicit Sinta, suaranya bergetar halus. "Mau minta rantang saya yang kemarin dipinjam Nenek buat wadah masakan. Maaf kalau saya sudah ganggu Mas Rama... Saya permisi dulu." Tanpa menunggu jawaban, Sinta langsung berbalik dan setengah berlari meninggalkan teras belakang. "Hadehhh..." Rama mengusap wajahnya kasar, mengembuskan napas panjang untuk menenangkan detak jantungnya yang berantakan. Kepalanya mendadak pusing dua kali lipat. Di Jakarta dia pusing karena dikejar kasus hukum, sedangkan di desa ini dia malah pusing karena direcoki wanita aneh. Baru saja Rama hendak melangkah masuk ke kamarnya untuk memakai baju, suara langkah kaki lain terdengar dari arah pintu depan. “Apa lagi mbak?!” Namun bukannya wanita tadi, justru Nenek Ratna yang berjalan masuk ke area teras belakang, membawa sebakul kecil sayuran segar. Begitu matanya menangkap sosok Rama yang masih bertelanjang dada hanya bermodal handuk, wanita tua itu langsung berkacak pinggang. Tatapannya menukik tajam, penuh selidik. “Kamu galak sekali.” "Itu Sinta habis kamu apain, Rama? Kok jalannya sambil nangis-nangis begitu keluar dari sini?" semprot Nenek Ratna langsung tanpa basa-basi. "Kamu apain dia, hah?!" Rama menggeram frustrasi, memutar bola matanya malas. "Aku gak ngapa-ngapain, Nek! Dia yang tiba-tiba masuk ke sini, terus gangguin aku mulu. Dia gak ada kerjaan apa Nek? Kayak lalat aja, ganggu banget!” Nenek Ratna terdiam sejenak, menghela napas panjang sebelum meletakkan bakul sayurnya di atas meja kayu. "Kamu gak boleh kasar begitu sama dia, Rama," ujar Nenek Ratna, suaranya kini merendah, menasihati. "Sinta itu janda ditinggal mati. Kasihan. Jangan galak galak sama perempuan, Rama.” Rama menaikkan sebelah alisnya, agak terkejut mendengar status wanita yang baru saja meraba dadanya itu. Oh. Pantas. "Suaminya dulu sopir truk, meninggal karena kecelakaan dua tahun lalu," jelas Nenek Ratna sambil memilah sayuran. "Sejak itu, dia harus hidup mandiri. Kerjaan apa saja dia ambil. Anaknya gak neko-neko. Bantu-bantu masak di mana-mana kalau ada hajatan kampung, termasuk bantu Nenek. Kalau dia masak, Nenek beli.” Rama hanya mendengus pelan, bersandar pada tiang kayu teras sambil melipat tangan di dada. "Yaudah sih, Nek. Lagian aku juga gak minat macam-macam di sini. Aku cuma mau hukumanku cepat selesai dan balik lagi ke rumah." Nenek Ratna melirik cucunya sekilas, "Terserah kamu. Tapi ingat, kamu ini di desa jangan malah bikin repot orang kampung." "Iya, Nek. Tadi Rama cuma dengar kalau dia mau ambil rantang," gumam Rama, mencoba mencairkan suasana. "Dia itu jualan makanan atau gimana sih?" Nenek Ratna menghentikan memilah sayur, lalu menatap Rama lekat-lekat. "Dia pinter masak. Kadang terima pesanan katering kecil-kecilan, kadang ya keliling nawarin lauk matang kalau pas modalnya ada." Wanita tua itu kemudian merogoh dompetnya dari balik dada, mengeluarkan beberapa lembar uang kertas yang sudah agak lecek, lalu menyodorkannya. "Ya sudah, sekarang kamu ganti baju, terus anterin rantangnya ke rumah Sinta. Uangnya sekalian dikasih." Rama mengernyit, menatap lembaran uang di tangan neneknya dengan enggan. Kenapa sih nenek-nenek selalu menaruh uang di sembarang tempat? Harus banget gitu di selipin di dada? "Uang apaan lagi ini, Nek?" "Kamu belum makan sore, kan? Nenek lagi malas masak," sahut Nenek Ratna ketus, tak mau dibantah. "Sekalian kasih uang lauknya buat kamu makan di sana. Dan itu uang upah Sinta karena tadi siang sudah bantu Nenek cabutin teh." Rama menghela napas panjang, mengusap tengkuknya yang masih agak basah. "Rama mana tahu rumahnya si Sinta itu, Nek? Rumah-rumah disini bentukannya sama semua begini." "Makanya punya mata itu dipakai buat melihat jalan," sindir Nenek Ratna, membuat Rama mendengus dongkol. "Kamu keluar dari rumah nenek, jalan lurus ke arah rumah pak RT sampai ketemu pohon beringin besar yang ada pos rondanya. Dari situ kamu belok kiri. Cat dindingnya warna hijau, depannya ada jemuran rengginang. Gampang, kan?" Rama hanya diam, menerima lilitan uang dan rantang susun kuno yang langsung disodorkan neneknya dengan pasrah. "Ingat, Rama. Jangan galak-galak kamu jadi orang," ucap Nenek Ratna memberi peringatan terakhir saat Rama berbalik untuk masuk ke kamar. "Sinta itu orangnya sensitif sejak suaminya meninggal. Kalau kamu macam-macam lagi atau bikin dia menangis, Nenek yang bakal sunat jatah makanmu selama seminggu." Rama memutar bola matanya malas, melangkah masuk ke dalam kamar bambunya sembari menggerutu dalam hati. Hukuman ini benar-benar menguji kesabarannya. Baru sehari tinggal di desa, dan tugasnya sudah sebanyak ini?Perjalanan menuju kantor kecamatan memakan waktu hampir satu jam, melewati jalan berbatu yang berkelok tajan, sesekali membuat motor Bik Inah yang dikendarai Rama oleng ke kanan-kiri.Jika dalam kondisi santai, mungkin Rama akan sangat menikmati momen ini. Dimana Sinta kini memeluknya erat di belakang, menempelkan dadanya yang sintal dan kenyal itu di punggung Rama. Berboncengan menikmati udara desa yang segar, hamparan sawah yang hijau dan pegunungan yang indah.Tapi karena situasinya sedang kacau, mereka sama sekali tidak menghiraukan pemandangan indah itu. Tujuannya hanya satu, sampai di kantor kecamatan dengan selamat beserta semua berkas yang kini menjadi satu-satunya bukti yang bisa melawan Dewi."Apa masih jauh, Mbak?" tanya Rama, sedikit berteriak berusaha mengalahkan suara angin yang berdesir kencang."Sebentar lagi, Mas! Tinggal lewat pasar sama satu tikungan lagi!" jawab Sinta. Ia mengeratkan pelukannya, berusaha menenangkan diri dan jantungnya yang terus berdegup kencang.
"Maksud kak Sinta apa kotaknya hilang?!" Rina langsung berlari mendekat, ikut menatap ke dalam lemari yang kini benar-benar kosong. Hanya ada tumpukan selimut lama dan beberapa baju yang tersisa di sudut.Sinta menggeledah lemari itu lebih dalam, memindahkan setiap lipatan kain dengan tangan gemetar, berharap kotak itu hanya tergeser, bukan hilang sungguhan. Tapi hasilnya tetap sama. Kotak kayu berisi surat cerai yang jadi bukti penting mereka benar-benar tidak ada di sana."Mas, gimana ini? Kok bisa hilang sih?" Sinta mulai terisak sambil terus mengeluarkan semua isi lemarinya, tidak jika semua baju-baju kini berserakan di lantai.Rama mendekat, ikut memeriksa lemari, bahkan sampai menunduk melihat kolong tempat tidur. "Kamu tenang dulu, Mbak. Siapa tau kamu lupa naruh kotak itu," ucapnya mencoba menenangkan Sinta."Gak mungkin aku lupa, Mas. Aku inget banget, aku taruh kotak itu di lemari ini." Sinta benar-benar kalut. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, dan mengacak-acak rambutnya
Rama buru-buru menyambar kaosnya yang tergeletak di lantai, memakainya dengan gerakan asal sambil telinganya masih mendengarkan suara ketukan di pintu depan yang tak kunjung berhenti."Sinta! Buka pintunya, ini penting banget!"Sinta bangkit dengan panik mendengar suara Pak RT yang terus berteriak dengan heboh. Ia meraih daster yang tersampir di kursi dekat ranjang, jarinya sedikit gemetar saat mengancingkan bajunya, sementara rambutnya masih berantakan khas orang bangun tidur."Mas, sebaiknya kamu diam aja di sini," bisik Sinta cemas, menahan lengan Rama yang hendak keluar kamar. "Kalau Pak RT lihat kamu di sini, nanti dia malah curiga dan bisa jadi bahan gosip warga sekampung."Rama mengangguk cepat, meski dalam hati ia mendecak kesal. Sudah bukan pertama kali ia harus bersembunyi seperti maling di rumah orang yang ia cintai.Dengan berat hati, Rama kembali duduk di ujung tempat tidur, menatap pintu kamar yang ditutup kembali oleh Sinta."Mau ngapain sih dia pagi-pagi begini udah ng
Malam itu, rumah Nenek Ratna sudah sepenuhnya gelap. Hanya suara jangkrik dan desir angin yang mengisi kesunyian, menemani Rama yang berbaring di kasurnya sambil menatap langit-langit kamarnya.Berulangkali ia mengubah posisi tidurnya, namun matanya tidak juga mau terpejam. Semenjak kejadian di gudang itu, hatinya selalu gelisah dan tidurnya menjadi tak nyenyak.Preman yang sempat mengintai rumah Sinta beberapa hari lalu memang sudah tidak terlihat lagi sejak Pak RT mengerahkan beberapa warga untuk ronde malam bergiliran. Tapi ketegangan itu tetap meninggalkan bekas terutama di dada Rama, yang terus memikirkan bagaimana keadaan Sinta di tengah semua kekacauan ini.Rama bangkit dari kasurnya, mengintip ke luar jendela kamar. Nenek Ratna sudah lama terlelap di kamar sebelah, suara dengkurannya samar-samar terdengar dari balik dinding bambu."Bodo amat, ah," gumamnya pelan, mengambil kaos yang tergantung di kursi dan memakainya cepat-cepat."Daripada gue gak bisa tidur malem ini, mending
Matahari belum sepenuhnya naik di balik pegunungan di belakang desa, tapi Rama sudah berdiri di depan rumah Sinta.Ia sengaja datang lebih awal, bahkan sebelum jadwalnya kerja di kebun Pak Karman, karena semalaman ia tidak bisa tidur nyenyak memikirkan gudang penuh dokumen itu."Eh, Mas Rama udah dateng aja," sapa Rina dengan suara serak khas bangun tidur. Matanya langsung cerah seketika kala melihat Rama."Mas Rama pasti mau ketemu Kak Sinta, kan? Dia lagi siapin kopi, sebentar lagi juga selesai," lanjutnya sambil tersenyum manis.Gadis itu melangkah lebih dekat, lalu tanpa ragu menggamit tangan Rama. "Kamu kemana aja sih, Mas? Kok sekarang kamu jarang ke sini," katanya sambil memeluk erat lengan Rama."Rin, jangan mulai deh. Nanti ketahuan Mbak Sinta," ucap Rama sambil berusaha melepaskan tangannya dari pelukan Rina.Sadar dengan penolakan Rama, gadis itu langsung menjauhkan dirinya. "Kamu sama kak Sinta terus, sama akunya kapan?" ungkapnya kesal lalu menggembungkan pipinya.Melihat
Ruang tengah rumah Sinta terasa lebih sempit dari biasanya malam itu. Empat orang duduk melingkari meja kayu tua, Rama, Sinta, Rina, dan Nenek Ratna duduk saling berhadapan, sementara Lina tidak pulang malam ini, menginap di rumah temannya.Tak ada yang bicara selama beberapa saat. Hanya suara isak tangis Sinta yang sesekali masih terdengar, meski sudah jauh lebih tenang dibanding sore tadi.Rama diam-diam memperhatikan Sinta. Keberadaan neneknya diantara mereka membuatnya tidak bisa leluasa untuk sekedar menenangkan wanita itu. Padahal, ingin sekali ia memeluknya, karena beberapa hari kemarin ia terlalu sibuk bekerja bersama Pak Karman."Nek, tadi Nenek bilang kenal salah satu pengacara itu. Sekarang, tolong jelasin. Nenek kenal dia dari mana?" tanya Rama memecah keheningan.Nenek Ratna menghela napas panjang, tangannya yang keriput meraih cangkir teh di depannya, tapi tidak langsung diminum. Wanita tua itu menatap jauh ke depan, seolah pikiranny







