Share

Bab 5

Author: Chouw
last update publish date: 2026-06-14 18:38:00

Rama menghembuskan napas, menatap langit. Ia mendadak cemas sendiri. Jantungnya berdegup agak cepat. Tangannya sedikit gemetar tanpa alasan yang jelas.

Fakk... gue salah gak sih, malah nawarin kerjaan ginian ke janda? batin Rama, mengusap wajahnya gusar.

Niat awalnya jujur karena kasihan setelah mendengar cerita Sinta yang harus menghidupi dua adiknya. 

Tapi mengingat insiden di kamar mandi siang tadi, Rama jadi agak sangsi dengan isi kepalanya sendiri. Perempuan itu memang kelihatan polos sekarang, tapi lekuk tubuhnya yang matang jelas bukan sesuatu yang gampang diabaikan oleh laki-laki normal.

Oke, aman. Rama, tenang aja, dia mencoba mendoktrin otaknya sendiri. Kesadaran diri lo lebih tinggi.

Saat sedang sibuk menimbang dalam hati, tanpa sadar suara perempuan menegurnya. "Mas Rama,” panggil Sinta. 

Ia masih berdiri canggung di depan teras. "Mas Rama, maaf ya agak telat. Tadi nunggu adik-adik tidur dulu," 

Rama seketika itu langsung menoleh. Kelabakan melihat Sinta yang kini menundukkan kepalanya. "Eh, Mbak gapapa. Silahkan masuk, Mbak." 

Sinta mengangguk, pelan-pelan mengangkat wajahnya dan menatap Rama. "Mas jadi pijitnya?”

“Ya… jadi," Rama bergumam tak jelas.

Otaknya yang sering macet mendadak mengingat kejadian tadi sore. “Dia gak bakal macem-macem, kan?" gumamnya dalam hati sambil menatap Sinta skeptis.

“Kok Mas kaya ragu? Mau gak, kalo gak jadi aku balik lagi aja mumpung belum terlalu malem." 

“Eh, jadi Mbak, jadi," jawab Rama cepat. “Yaudah ayo, mau dimana?”

Sinta ikut berdiri, “Di ruang tengah aja, Mas. Kamu ganti baju dulu sana, pake sarung kain. Kamu punya, kan?" 

Rama berhenti dan menoleh menatap Sinta. “Sarung kain?" tanyanya bingung. “Oh, iya ada. Mbak tunggu dulu ya, saya ganti baju dulu." 

Saat Rama masuk kedalam kamarnya, Sinta menggelar tikar yang terbuat dari daun pandan.

"Begini, Mbak?”

Sinta menoleh, dan mendapati Rama yang kini bertelanjang dada dan hanya mengenakan sarung kain. Ia menelan ludah, berusaha untuk bersikap biasa saja meski jantungnya berdegup kencang.

“I-iya, Mas." 

Rama duduk bersila didepan Sinta, seakan tak peduli dengan wajah wanita itu yang sudah memerah. "Ayo Mbak, saya udah siap.”

Sinta mengangguk patah-patah, menyuruh Rama untuk tidur menelungkup. Saat tangannya menyingkap sedikit kain sarungnya dan mulai membaluri minyak di kaki Rama, pemuda itu langsung menoleh..

"Mbak itu minyaknya pake apaan? Kok banyak banget. Mbak mau goreng saya atau gimana?” cerocos Rama saat Sinta mulai memijat kedua kakinya.

Meski begitu, ia tetap menikmati pijatan Sinta yang ternyata lumayan enak dan bertenaga. Wanita itu tidak berbohong jika dirinya pandai memijat.

"Ini minyak kepala, Mas. Kalo sedikit nanti gak licin, kamunya jadi sakit nanti. Masa iya saya mau goreng kamu.”

Sinta beralih memijit punggung Rama yang berotot. Meski dalam kondisi tengkurap, punggung pemuda benar-benar memanjakan matanya.

“Mas, kamu suka olahraga ya?" 

Rama membuka matanya, pijatan Sinta benar-benar membuat tubuhnya kembali rileks. “Saya sukanya berantem, Mbak." 

“Wong kok ganteng-ganteng suka berantem sih, Mas." 

"Uhh..." Rama refleks menghela napas panjang saat pijatannya naik ke pangkal paha. 

Kepalanya mendongak saking enaknya.

Selama di Jakarta, ia sudah biasa manggil tukang pijat panggilan yang tarifnya ratusan ribu per jam. Tapi tak ada orang Jakarta yang tenaganya sekuat ini. 

Apalagi perempuan.

Tapi, makin lama dipijat, kesadaran tinggi yang dibanggakan Rama tadi perlahan mulai goyah. 

Karena mereka sama-sama duduk di lantai, Sinta harus membungkuk cukup dalam supaya bisa menjangkau belikat Rama. Imbasnya, dada montok Sinta sesekali menyenggol punggung tegapnya. 

Rama sebisa mungkin menahan napasnya yang mulai berat. 

Sesuatu yang empuk dan kenyal itu beberapa kali bergesekan di bahunya, bahkan sesekali tanpa sengaja menempel di belakang kepalanya pas Sinta menekan area tengkuk sekuat tenaga. 

"Pegal sekali di sini ya, Mas?" tanya Sinta, napasnya agak terengah karena capek menekan otot Rama yang keras. 

"Seharian kerja di sawah bikin otot Mas Rama tegang semua. Aku yakin, pasti di kota Mas Rama gak pernah kerja berat begini, 'kan?" lanjut Sinta. 

Tangannya sekarang bergerak turun ke dada Rama buat meratakan minyak pijat, mengelusnya pelan dari atas ke bawah. Telapak tangannya yang hangat menyentuh kulit dada Rama yang sedikit lembap.

"Jangan ditahan, Mas. Kalau sakit, bilang saja ya," tambah Sinta polos, memiringkan kepalanya di samping telinga Rama buat melihat ekspresi wajah cowok itu.

Rama menggigit lipatan bibir bawahnya, memejamkan mata rapat-rapat. Otaknya mendadak macet, kesadaran dirinya kalah telak oleh insting alaminya. Di bawah sana, miliknya sudah bangun total, mengeras kencang sampai rasanya sesak di balik celana.

Saat tangan Sinta pindah memijat area lengan, Rama tiba-tiba bergerak refleks. Dia berbalik cepat dan menahan kedua bahu Sinta dengan tangannya yang gemetar, menatap janda muda itu dengan napas yang memburu berantakan.

Sinta terkesiap, matanya berkedip panik melihat tatapan Rama yang mendadak gelap. 

"M-Mas Rama? Kenapa?"

Sadar dirinya sudah di ambang batas kendali, ia langsung melepaskan cengkeramannya, berdiri terburu-buru, lalu kabur cepat ke arah kamar mandi di dekat dapur.

Buru-buru ia ke kamar mandi lalu menyandarkan punggungnya di pintu, napasnya naik turun berantakan di tengah kegelapan. 

Sialan. 

Tanpa pilihan lain, tangan Rama bergerak turun, membuka ritsleting celana dan mencengkeram miliknya yang sudah menegang panas. 

Membayangkan lekuk tubuh Sinta dan kelembutan yang menempel di punggungnya tadi.

“Ah… Ah… Hahhh…”

Desahan berat dan serak itu lolos begitu saja dari tenggorokannya, memecah keheningan kamar mandi yang pengap. 

Rama benar-benar sudah tidak peduli lagi dengan sekitar. 

Sementara di luar, Sinta berdiri di depan pintu kamar mandi dengan wajah cemas. Kedua telapak tangannya yang masih basah oleh minyak urut. Ia bingung kenapa Rama tiba-tiba kabur.

Sinta mengetuk pintu kayu itu pelan. "Mas? Mas Rama?"

Tidak ada sahutan. Yang terdengar malah suara napas terengah-engah yang aneh.

Sinta mendekatkan telinganya ke sela pintu yang agak renggang. "Mas, ini... pijatnya udah?"

Tepat saat kalimatnya selesai, dari dalam terdengar suara erangan tertahan yang begitu dalam, disusul bunyi gesekan yang ritmis. 

Detik itu juga, Sinta sadar apa yang sedang terjadi. Sinta refleks mengintip dari celah kecil yang terbuka.

Kedua mata Sinta melebar sempurna. Dia melihat jelas Rama sedang bersandar di tembok, dengan satu tangan bergerak cepat di balik celananya yang melorot.

"Mas—?!" Sinta terkesiap, hampir saja berteriak saking kagetnya.

Brak!

Sebelum suara Sinta sempat memecah malam, pintu kamar mandi tiba-tiba terbuka. 

Sebuah tangan kekar mencengkeram pergelangan tangan Sinta, dan menarik dirinya masuk ke dalam.

Pintu langsung ditutup kembali dan dikunci. Rama langsung memojokkan tubuh Sinta ke dinding, membalikkan badan wanita itu hingga posisinya membelakangi Rama. Satu tangan Rama yang bebas langsung bergerak cepat membungkam mulut Sinta dari belakang.

"Sshh... Diam. Nenek lagi tidur," bisik Rama tepat di samping telinga Sinta. Napasnya memburu panas, berembus kasar di ceruk leher wanita itu.

Sinta gemetar hebat, dadanya naik turun dengan ritme cepat. Ia bisa merasakan punggungnya menempel erat pada dada telanjang Rama yang bidang dan lembap oleh keringat. 

Tapi yang lebih membuat seluruh tubuhnya mendadak lemas adalah sesuatu yang keras, besar, dan menegang panas di bawah sana.

Milik Rama yang sudah bangun total tanpa ampun menekan miliknya dari belakang. 

Sinta melenguh tertahan di balik telapak tangan Rama yang membungkamnya. Dengan sisa kesadaran yang ada, dia mencoba melirik ke belakang melalui sudut matanya, bersuara dengan nada bergetar dan kehabisan napas.

"M-Mas... ini apa?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dihukum ke Pelukan Kembang Desa   BAB 44

    Perjalanan menuju kantor kecamatan memakan waktu hampir satu jam, melewati jalan berbatu yang berkelok tajan, sesekali membuat motor Bik Inah yang dikendarai Rama oleng ke kanan-kiri.Jika dalam kondisi santai, mungkin Rama akan sangat menikmati momen ini. Dimana Sinta kini memeluknya erat di belakang, menempelkan dadanya yang sintal dan kenyal itu di punggung Rama. Berboncengan menikmati udara desa yang segar, hamparan sawah yang hijau dan pegunungan yang indah.Tapi karena situasinya sedang kacau, mereka sama sekali tidak menghiraukan pemandangan indah itu. Tujuannya hanya satu, sampai di kantor kecamatan dengan selamat beserta semua berkas yang kini menjadi satu-satunya bukti yang bisa melawan Dewi."Apa masih jauh, Mbak?" tanya Rama, sedikit berteriak berusaha mengalahkan suara angin yang berdesir kencang."Sebentar lagi, Mas! Tinggal lewat pasar sama satu tikungan lagi!" jawab Sinta. Ia mengeratkan pelukannya, berusaha menenangkan diri dan jantungnya yang terus berdegup kencang.

  • Dihukum ke Pelukan Kembang Desa   BAB 43

    "Maksud kak Sinta apa kotaknya hilang?!" Rina langsung berlari mendekat, ikut menatap ke dalam lemari yang kini benar-benar kosong. Hanya ada tumpukan selimut lama dan beberapa baju yang tersisa di sudut.Sinta menggeledah lemari itu lebih dalam, memindahkan setiap lipatan kain dengan tangan gemetar, berharap kotak itu hanya tergeser, bukan hilang sungguhan. Tapi hasilnya tetap sama. Kotak kayu berisi surat cerai yang jadi bukti penting mereka benar-benar tidak ada di sana."Mas, gimana ini? Kok bisa hilang sih?" Sinta mulai terisak sambil terus mengeluarkan semua isi lemarinya, tidak jika semua baju-baju kini berserakan di lantai.Rama mendekat, ikut memeriksa lemari, bahkan sampai menunduk melihat kolong tempat tidur. "Kamu tenang dulu, Mbak. Siapa tau kamu lupa naruh kotak itu," ucapnya mencoba menenangkan Sinta."Gak mungkin aku lupa, Mas. Aku inget banget, aku taruh kotak itu di lemari ini." Sinta benar-benar kalut. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, dan mengacak-acak rambutnya

  • Dihukum ke Pelukan Kembang Desa   BAB 42

    Rama buru-buru menyambar kaosnya yang tergeletak di lantai, memakainya dengan gerakan asal sambil telinganya masih mendengarkan suara ketukan di pintu depan yang tak kunjung berhenti."Sinta! Buka pintunya, ini penting banget!"Sinta bangkit dengan panik mendengar suara Pak RT yang terus berteriak dengan heboh. Ia meraih daster yang tersampir di kursi dekat ranjang, jarinya sedikit gemetar saat mengancingkan bajunya, sementara rambutnya masih berantakan khas orang bangun tidur."Mas, sebaiknya kamu diam aja di sini," bisik Sinta cemas, menahan lengan Rama yang hendak keluar kamar. "Kalau Pak RT lihat kamu di sini, nanti dia malah curiga dan bisa jadi bahan gosip warga sekampung."Rama mengangguk cepat, meski dalam hati ia mendecak kesal. Sudah bukan pertama kali ia harus bersembunyi seperti maling di rumah orang yang ia cintai.Dengan berat hati, Rama kembali duduk di ujung tempat tidur, menatap pintu kamar yang ditutup kembali oleh Sinta."Mau ngapain sih dia pagi-pagi begini udah ng

  • Dihukum ke Pelukan Kembang Desa   Bab 41

    Malam itu, rumah Nenek Ratna sudah sepenuhnya gelap. Hanya suara jangkrik dan desir angin yang mengisi kesunyian, menemani Rama yang berbaring di kasurnya sambil menatap langit-langit kamarnya.Berulangkali ia mengubah posisi tidurnya, namun matanya tidak juga mau terpejam. Semenjak kejadian di gudang itu, hatinya selalu gelisah dan tidurnya menjadi tak nyenyak.Preman yang sempat mengintai rumah Sinta beberapa hari lalu memang sudah tidak terlihat lagi sejak Pak RT mengerahkan beberapa warga untuk ronde malam bergiliran. Tapi ketegangan itu tetap meninggalkan bekas terutama di dada Rama, yang terus memikirkan bagaimana keadaan Sinta di tengah semua kekacauan ini.Rama bangkit dari kasurnya, mengintip ke luar jendela kamar. Nenek Ratna sudah lama terlelap di kamar sebelah, suara dengkurannya samar-samar terdengar dari balik dinding bambu."Bodo amat, ah," gumamnya pelan, mengambil kaos yang tergantung di kursi dan memakainya cepat-cepat."Daripada gue gak bisa tidur malem ini, mending

  • Dihukum ke Pelukan Kembang Desa   BAB 40

    Matahari belum sepenuhnya naik di balik pegunungan di belakang desa, tapi Rama sudah berdiri di depan rumah Sinta.Ia sengaja datang lebih awal, bahkan sebelum jadwalnya kerja di kebun Pak Karman, karena semalaman ia tidak bisa tidur nyenyak memikirkan gudang penuh dokumen itu."Eh, Mas Rama udah dateng aja," sapa Rina dengan suara serak khas bangun tidur. Matanya langsung cerah seketika kala melihat Rama."Mas Rama pasti mau ketemu Kak Sinta, kan? Dia lagi siapin kopi, sebentar lagi juga selesai," lanjutnya sambil tersenyum manis.Gadis itu melangkah lebih dekat, lalu tanpa ragu menggamit tangan Rama. "Kamu kemana aja sih, Mas? Kok sekarang kamu jarang ke sini," katanya sambil memeluk erat lengan Rama."Rin, jangan mulai deh. Nanti ketahuan Mbak Sinta," ucap Rama sambil berusaha melepaskan tangannya dari pelukan Rina.Sadar dengan penolakan Rama, gadis itu langsung menjauhkan dirinya. "Kamu sama kak Sinta terus, sama akunya kapan?" ungkapnya kesal lalu menggembungkan pipinya.Melihat

  • Dihukum ke Pelukan Kembang Desa   BAB 39

    Ruang tengah rumah Sinta terasa lebih sempit dari biasanya malam itu. Empat orang duduk melingkari meja kayu tua, Rama, Sinta, Rina, dan Nenek Ratna duduk saling berhadapan, sementara Lina tidak pulang malam ini, menginap di rumah temannya.Tak ada yang bicara selama beberapa saat. Hanya suara isak tangis Sinta yang sesekali masih terdengar, meski sudah jauh lebih tenang dibanding sore tadi.Rama diam-diam memperhatikan Sinta. Keberadaan neneknya diantara mereka membuatnya tidak bisa leluasa untuk sekedar menenangkan wanita itu. Padahal, ingin sekali ia memeluknya, karena beberapa hari kemarin ia terlalu sibuk bekerja bersama Pak Karman."Nek, tadi Nenek bilang kenal salah satu pengacara itu. Sekarang, tolong jelasin. Nenek kenal dia dari mana?" tanya Rama memecah keheningan.Nenek Ratna menghela napas panjang, tangannya yang keriput meraih cangkir teh di depannya, tapi tidak langsung diminum. Wanita tua itu menatap jauh ke depan, seolah pikiranny

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status