Home / Rumah Tangga / Dijatah Tiga Minggu Sekali / 6. Air Mata Terakhir untuk Suamiku

Share

6. Air Mata Terakhir untuk Suamiku

last update Last Updated: 2026-01-15 11:07:39

"Mama kenapa nangis?" suara Ibra membuatku menoleh. Rupanya aku lupa menutup pintu kamar. Segera kuhapus air mata agar putraku tidak khawatir.

"Mama rasa ini karena Mama terlalu lama di depan laptop," jawabku asal. Tidak boleh sebenarnya berbohong pada anak, tetapi semua ini terpaksa aku lakukan. Ibra masih terlalu dini mengetahui papanya menikah lagi. Cepat atau lambat Ibra memang harus diberi tahu, tapi bukan sekarang. Aku saja masih belum benar-benar siap, apalagi Ibra! aku gak mau sampai mentalnya kena dengan kabar pernikahan sang Papa.

"Mama lagi gak di depan laptop. Mama lagi marahan sama papa ya? " aku tersenyum, lalu berjalan menghampiri Ibra.

"Sayang, besok akan ada mbak di rumah ini. Mama harus kerja karena Mama mau lebih pintar lagi jika Mama kerja. Ibra gak papa kan?" anak lelakiku itu mengganggukkan kepala.

"Mama belum jawab pertanyaan Ibra. Mama marahan sama papa, terus pergi dari rumah? kayak yang di sinetron televisi itu."

"Sayang, Mama dan papa memang ada sedikit masalah. Namanya juga orang dewasa, pasti ada masalah. Anak kecil seperti Ibra saja, terkadang ada masalah juga di sekolah kan? tapi semua terselesaikan dengan baik. Jadi, Ibra gak perlu memikirkan apapun. Tugas Ibra hanya dua, belajar dan main. Oke! Urusan Mama dan papa, akan kami selesaikan secara dewasa pula. Oke, Sayang!"

"Oke, Ma." Ibra tersenyum, lalu masuk ke dalam kamarnya. Aku harap luka ini bisa sembuh dengan sendirinya saat aku mulai bekerja nanti. Aku pastikan ini air mata terakhirku menangisi Bang Exel. Sakit hati, marah, kecewa, dan aku benar-benar tak menyangka Bang Exel menghianatiku.

Aku berangkat pagi-pagi sekali dengan mengendarai ojek online. Tidak mungkin calon karyawan baru sepertiku malah naik Fortuner'kan? Bisa-bisa aku tidak diterima. Ibra pun berangkat ke sekolah dengan mobil jemputan. Semua sudah aku susun rapi dan semoga saja sesuai dengan targetku untuk manusia pinguin seperti Pororo itu. Bagaimana aku bisa menjalani hidup sebagai single mom dengan tagihan biaya yang tidak sedikit? Tentu saja dari rekening Bang Exel yang sudah habis aku tarik. Baik dari bank B, BR, BN, semua tercantum sebagai naskah prioritas dan kini rekening itu sudah aku pindahkan. Semua itu aku lakukan demi menjamin masa depan Ibra.

Bisa saja aku tidak kerja. Cukup merawat Ibra saja, tapi aku gak mau karena ada dendam yang harus aku balaskan.

Bugh!

"Aduh, maaf, Pak! Maafkan saya tidak lihat jalan!" Aku menunduk malu sambil mengambil ponsel mahal berlogo apel digigit yang tergeletak mengenaskan di lantai karena ulahku. Aroma parfumnya seperti parfum yang hampir dibeli Bang Exel seharga lima juta rupiah. Berarti aku bukan menabrak OB atau staf biasa, bisa saja orang yang aku tabrak adalah ayah dari Pororo.

"Mbak siapa? Saya sepertinya baru lihat?" aku mengangkat wajah ini perlahan. Suara berat yang mencerminkan usia yang tidak lagi muda, melainkan matang, seratus persen aku yakin adalah ayahnya Pororo. Mirip sekali dengan foto yang ada di i*******m pelakor itu.

"Perkenalkan, saya Sekar Mawangi, calon pelamar yang akan diwawancara pagi ini, Pak. Maafkan saya karena ceroboh, ingin buru-buru sampai, malah membuat orang lain tidak nyaman." Aku setengah membungkuk memberi hormat sekaligus sebagai permohonan maaf padanya.

"Mmm ... Oke, silakan sebelah sini!" pria dewasa itu memintaku mengikuti langkahnya. Ada seorang wanita muda cantik dengan rok amat pendek sepertinya ingin menyela pria dewasa di depanku, tetapi pria itu mengangkat tangan.

Ya Tuhan, mimpi apa aku pagi ini langsung diwawancarai oleh papanya Pororo. Pantas saja anaknya cantik, walau kayak berbie KW. Papanya juga tampan. Ya, jujur saja, pria dewasa di depanku ini memang mapan. Duh, jalannya cepat sekali, seperti mengejar maling. Langkahku jadi terseok-seok mengikuti ke mana arah kakinya.

"Silakan duduk!" Katanya mempersilakan. Aku mengangguk, lalu duduk dengan penuh rasa percaya diri, meskipun jantung ini berdetak amat sangat cepat.

"Jadi kamu calon pelamar di sini?" tanyanya lagi.

"Betul, Pak. Mau wawancara sama HRD katanya jam delapan."

"Sama saya juga bisa." Matanya yang penuh pesona seperti ingin melahapku bulat-bulat.

"Baik, Pak." Aku menghela napas secara perlahan.

"Silakan perkenalan diri secara pribadi dan pendidikan, juga pengalaman kerja!" Pria itu melonggarkan dasinya, lalu membuka kancing baju kemeja dua biji. Mataku ternoda. Ya ampun, sepertinya bapak dan anak satu tipe. Penggoda dan tebar pesona.

"Nama saya Sekar Mawangi. Usia tiga puluh tahun bulan depan. Tanggal dua, Alhamdulillah awal bulan." Aku mengulum senyum. Suara tawa pendek pria dewasa di depanku terdengar begitu segar.

"Saya otewe janda beranak satu. Lulusan Universitas Jaket Kuning dengan predikat cumelaud. Pernah bekerja di Telkomsel sebagai supervisor, lalu dilamar pria hidung belang, sehingga saya tidak bekerja lagi sampai kemarin. Saya harap hari ini saya diterima." Pria dewasa itu sekali lagi tertawa, tapi kali ini tawanya besar.

"Apa kamu cuma berniat kerja di sini?" pertanyaan yang membuatku menelan ludah. Tidak mungkin ia mengenal siapa aku sebenarnya.

"Kerja dan cari jodoh kalau ada, Pak," jawabku jujur. Biarlah aku dinilai berlebihan, asalkan apa yang aku rencanakan berjalan lancar.

"Kamu bisa kerjakan pekerjaan sekretaris?" tentu saja aku mengangguk.

"Oke, mulai besok kamu sekretaris saya. Perkenalkan, saya Probo Hadireja, pemilik perusahaan ini." Pria itu mengulurkan tangannya untuk berjabat. Tentu saja aku sambut dengan senyuman amat lebar.

"Terima kasih atas kesempatannya untuk saya, Pak."

"Saya harus membantu janda toh! He he he ... suami kamu ke mana? Maaf, mantan suami maksud saya."

"Oh, ayahnya anak saya jadi TKI di negara perang, Pak. Belum kembali lagi jadi saya sudah gugat cerai. Gak tahu juga kabarnya, apa kena tembak senjata atau malah kena tembak hatinya sama perempuan di sana. Intinya, saya dan mantan saya udah selesai."

"Wah, berarti ada kemungkinan anak kamu yatim? Saya pastikan kamu dan anak kamu mendapatkan yang terbaik di perusahaan ini."

"Terima kasih, Pak Probo. Saya sangat beruntung dipertemukan dengan lelaki bijak, dewasa, pintar, dan juga kebapakan seperti Bapak. Saya permisi kalau begitu."

"Terima kasih pujiannya, Sekar. Besok kamu bisa ke sini jam delapan. Usahakan jam delapan sudah sampai di kantor ya."

"Baik, Pak, terima kasih. Saya pamit." Aku pun undur diri dengan sopan.

Akhirnya, perlahan jalan terbuka lebar di depanku untuk membalas dendam pada Pororo itu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dijatah Tiga Minggu Sekali   10. Kelakuan Pelakor

    "Mas, aku gak suka warna cat kamar ini. Masa warna biru, norak dan gak elegan! Aku mau ganti warna abu-abu gelap. Biar terkesan cantik dan menggoda," rengek Roro pada Exel. Keduanya baru saja mengarungi tujuh samudra dan menyebrangi lautan di rumah Exel. Di kamar yang sama saat ia masih bersama Sekar. Pria itu sama sekali sudah melupakan Sekar, wanita yang sudah memberikannya keturunan."Nanti kita ganti warna catnya," jawab Exel sembari menyentuh kulit halus lengan istri mudanya. Sebuah kecupan ia daratkan di kening Roro dengan penuh khidmat, seolah-olah menikahi Roro adalah berkat paling baik dalam hidupnya. Pria yang dibutakan oleh cinta dan hasrat yang semu."Lemari dan ranjangnya juga aku mau ganti, Mas. Ini bekas Mbak Sekar semua. Masa aku dapat bekas. Biar ditukar saja sama toko furniture.""Boleh, Sayang. Apa sih yang gak boleh untuk kamu? Semua yang ada di kamar ini boleh kamu ganti, kecuali saya ha ha ha ...." Exel tertawa bahagia, begitu juga Roro yang bersemu merah. Ini ke

  • Dijatah Tiga Minggu Sekali   9. Calon Suami Baru

    "Kerja bagus, Anggi," puji Pak Probo padaku. "Terima kasih, Pak. Sudah menjadi tugas saya," jawabku sopan dan profesional. Kaki ini mengekori langkah lebarnya dengan tergopoh karena kakiku tidak sebesar kakinya. Pria itu menoleh ke belakang sambil tersenyum padaku. "Apa jalan saya terlalu cepat sampai kamu seperti tengah jadi atlet lari?" tanyanya lagi. "Maaf, Pak, kalau berkenan, Bapak jalan pelan-pelan aja sedikit, Pak. Karena saya bawa banyak barang dan berkas ini," kataku tanpa berani mengangkat wajah untuk melihat ekspresinya. Sebuah kesalahan yang aku buat di hari pertama, pasti aku dikira mengatur bos."Saya gak bisa pelan, saya mau ke WC. Nanti keburu itu ha ha ha ...." aku pun akhirnya ikut tertawa. Pria itu berbelok ke kanan setelah melewati lorong. Ia masuk ke toilet lelaki, sedangkan aku ke toilet wanita. Wajah ini kucuci bersih agar kantuk hilang. Pelembab pun koleskan merata di kulit wajah agar terasa segar kembali. "Mau makan?" tanyanya. "Mau, Pak. Kalau Bapak?""T

  • Dijatah Tiga Minggu Sekali   8. Aturan Poligami

    PoV SekarAku mengernyit saat melihat nomor yang muncul di layar panggilan ponselku. Nomor asing yang tidak aku kenali. Merasa tidak penting, maka panggilan itu aku abaikan. Aku bergegas mandi karena kata bos yang menjadi targetku, hari ini aku tidak boleh terlambat. Sampai aku selesai mandi, ponsel masih berkelap-kelip. Mungkin saja dari bosku dan penting. Aku berdeham dua kali, agar suara serak ini tidak menganggu. Masih dengan memakai handuk saja, aku pilih mengangkat panggilan itu. "Halo." Kusapa dengan ramah."Apa yang kamu lakukan dengan kartu kreditku, Sekar? Ada tagihan tiga puluh lima juta. Apa yang sudah kamu beli? Kamu mau bikin aku bangkrut?""Ya ampun, kirain siapa yang nelpon, rupanya pengantin baru. Saya beli alat olah raga. Saya merasa mungkin saya tidak seksi, sehingga suami saya selingkuh dengan pinguin yang jago berlenggak-lenggok.""Sekar, hentikan! Kamu tidak perlu pergi juga sebenarnya bisa. Masalah ini menjadi rumit karena kamu tidak mau menerima aturan agama

  • Dijatah Tiga Minggu Sekali   7. Status Pernikahan

    PoV ProboNamaku Probo Hadiraja, biasa dipanggil Pak Probo oleh rekan bisnis, maupun teman sejawat. Aku pria mapan dan matang di usia empat puluh tujuh tahun. Aku memiliki anak perempuan satu-satunya yang bernama Ratu Roro Handayani yang biasa dipanggil Roro.Istriku Rosa Herdiyanti, wanita dari keluarga kaya yang saat ini terkena penyakit stroke. Istriku kerap marah-marah karena sakit yang ia derita tak kunjung sembuh, padahal kami sudah berobat keluar negeri. Oleh karena itu, ia pun menyerah dan membolehkan aku menikah lagi dengan Susan; seorang janda yang usianya lebih tua dua tahun dari istriku. Susan belum lama meninggal karena sakit jantung. Aku terkadang berpikir, apa salahku pada Tuhan sehingga aku selalu dihadapkan pada pasangan yang penyakitan. Mungkin sudah takdir untuk menguji kesabaranku. InsyaAllah aku sabar dan ikhlas, tentunya. Mereka berdua wanita baik dan terutama Rosa, adalah wanita cerdas yang memberikanku anak perempuan cantik yang cerdas dan juga berprestasi. Ha

  • Dijatah Tiga Minggu Sekali   6. Air Mata Terakhir untuk Suamiku

    "Mama kenapa nangis?" suara Ibra membuatku menoleh. Rupanya aku lupa menutup pintu kamar. Segera kuhapus air mata agar putraku tidak khawatir."Mama rasa ini karena Mama terlalu lama di depan laptop," jawabku asal. Tidak boleh sebenarnya berbohong pada anak, tetapi semua ini terpaksa aku lakukan. Ibra masih terlalu dini mengetahui papanya menikah lagi. Cepat atau lambat Ibra memang harus diberi tahu, tapi bukan sekarang. Aku saja masih belum benar-benar siap, apalagi Ibra! aku gak mau sampai mentalnya kena dengan kabar pernikahan sang Papa. "Mama lagi gak di depan laptop. Mama lagi marahan sama papa ya? " aku tersenyum, lalu berjalan menghampiri Ibra. "Sayang, besok akan ada mbak di rumah ini. Mama harus kerja karena Mama mau lebih pintar lagi jika Mama kerja. Ibra gak papa kan?" anak lelakiku itu mengganggukkan kepala. "Mama belum jawab pertanyaan Ibra. Mama marahan sama papa, terus pergi dari rumah? kayak yang di sinetron televisi itu.""Sayang, Mama dan papa memang ada sedikit m

  • Dijatah Tiga Minggu Sekali   5. Pertanyaan Tetangga

    "Itu urusan papa dan Mama yang harus diselesaikan, Nak. Nanti jika Ibra sudah lebih besar, Mama pasti cerita. Udahan tidurnya? Mau ikut Mama jajan es krim?" wajahnya berubah terang. "Mau, dong! Ibra cuci muka dulu ya, Ma." Putraku berlari masuk ke kamar mandi. Aku pun menutup laptop. Balasan email bisa aku buka dari ponsel. Aku harap, Tuhan membantuku kali ini. Aku membawa Ibra berkeliling tempat tinggal baru kami. Aku juga mengenalkan Ibra pada ibu tetangga kanan kiri, agar mereka kenal siapa saja anggota keluarga yang ikut tinggal bersamaku. Tidak lupa Ibra juga aku daftarkan mengaji di mushola terdekat agar ia bergaul dengan teman-teman seusianya. "Jadi tinggal berdua aja, Bu Sekar? Suaminya ke mana? Bu Sekar emang janda? Wah, kalau jandanya cantik kayak Bu Sekar, suami kita perlu dipakaikan kaca mata buibu, biar gak naksir Bu Sekar," tanya Bu Heru, tetangga depan rumahku. "Iya, Bu, untuk saat ini saya tinggal berdua Ibra karena ayah Ibra lagi banyak urusan keluar kota. Nanti k

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status