LOGIN"Mama kenapa nangis?" suara Ibra membuatku menoleh. Rupanya aku lupa menutup pintu kamar. Segera kuhapus air mata agar putraku tidak khawatir.
"Mama rasa ini karena Mama terlalu lama di depan laptop," jawabku asal. Tidak boleh sebenarnya berbohong pada anak, tetapi semua ini terpaksa aku lakukan. Ibra masih terlalu dini mengetahui papanya menikah lagi. Cepat atau lambat Ibra memang harus diberi tahu, tapi bukan sekarang. Aku saja masih belum benar-benar siap, apalagi Ibra! aku gak mau sampai mentalnya kena dengan kabar pernikahan sang Papa. "Mama lagi gak di depan laptop. Mama lagi marahan sama papa ya? " aku tersenyum, lalu berjalan menghampiri Ibra. "Sayang, besok akan ada mbak di rumah ini. Mama harus kerja karena Mama mau lebih pintar lagi jika Mama kerja. Ibra gak papa kan?" anak lelakiku itu mengganggukkan kepala. "Mama belum jawab pertanyaan Ibra. Mama marahan sama papa, terus pergi dari rumah? kayak yang di sinetron televisi itu." "Sayang, Mama dan papa memang ada sedikit masalah. Namanya juga orang dewasa, pasti ada masalah. Anak kecil seperti Ibra saja, terkadang ada masalah juga di sekolah kan? tapi semua terselesaikan dengan baik. Jadi, Ibra gak perlu memikirkan apapun. Tugas Ibra hanya dua, belajar dan main. Oke! Urusan Mama dan papa, akan kami selesaikan secara dewasa pula. Oke, Sayang!" "Oke, Ma." Ibra tersenyum, lalu masuk ke dalam kamarnya. Aku harap luka ini bisa sembuh dengan sendirinya saat aku mulai bekerja nanti. Aku pastikan ini air mata terakhirku menangisi Bang Exel. Sakit hati, marah, kecewa, dan aku benar-benar tak menyangka Bang Exel menghianatiku. Aku berangkat pagi-pagi sekali dengan mengendarai ojek online. Tidak mungkin calon karyawan baru sepertiku malah naik Fortuner'kan? Bisa-bisa aku tidak diterima. Ibra pun berangkat ke sekolah dengan mobil jemputan. Semua sudah aku susun rapi dan semoga saja sesuai dengan targetku untuk manusia pinguin seperti Pororo itu. Bagaimana aku bisa menjalani hidup sebagai single mom dengan tagihan biaya yang tidak sedikit? Tentu saja dari rekening Bang Exel yang sudah habis aku tarik. Baik dari bank B, BR, BN, semua tercantum sebagai naskah prioritas dan kini rekening itu sudah aku pindahkan. Semua itu aku lakukan demi menjamin masa depan Ibra. Bisa saja aku tidak kerja. Cukup merawat Ibra saja, tapi aku gak mau karena ada dendam yang harus aku balaskan. Bugh! "Aduh, maaf, Pak! Maafkan saya tidak lihat jalan!" Aku menunduk malu sambil mengambil ponsel mahal berlogo apel digigit yang tergeletak mengenaskan di lantai karena ulahku. Aroma parfumnya seperti parfum yang hampir dibeli Bang Exel seharga lima juta rupiah. Berarti aku bukan menabrak OB atau staf biasa, bisa saja orang yang aku tabrak adalah ayah dari Pororo. "Mbak siapa? Saya sepertinya baru lihat?" aku mengangkat wajah ini perlahan. Suara berat yang mencerminkan usia yang tidak lagi muda, melainkan matang, seratus persen aku yakin adalah ayahnya Pororo. Mirip sekali dengan foto yang ada di i*******m pelakor itu. "Perkenalkan, saya Sekar Mawangi, calon pelamar yang akan diwawancara pagi ini, Pak. Maafkan saya karena ceroboh, ingin buru-buru sampai, malah membuat orang lain tidak nyaman." Aku setengah membungkuk memberi hormat sekaligus sebagai permohonan maaf padanya. "Mmm ... Oke, silakan sebelah sini!" pria dewasa itu memintaku mengikuti langkahnya. Ada seorang wanita muda cantik dengan rok amat pendek sepertinya ingin menyela pria dewasa di depanku, tetapi pria itu mengangkat tangan. Ya Tuhan, mimpi apa aku pagi ini langsung diwawancarai oleh papanya Pororo. Pantas saja anaknya cantik, walau kayak berbie KW. Papanya juga tampan. Ya, jujur saja, pria dewasa di depanku ini memang mapan. Duh, jalannya cepat sekali, seperti mengejar maling. Langkahku jadi terseok-seok mengikuti ke mana arah kakinya. "Silakan duduk!" Katanya mempersilakan. Aku mengangguk, lalu duduk dengan penuh rasa percaya diri, meskipun jantung ini berdetak amat sangat cepat. "Jadi kamu calon pelamar di sini?" tanyanya lagi. "Betul, Pak. Mau wawancara sama HRD katanya jam delapan." "Sama saya juga bisa." Matanya yang penuh pesona seperti ingin melahapku bulat-bulat. "Baik, Pak." Aku menghela napas secara perlahan. "Silakan perkenalan diri secara pribadi dan pendidikan, juga pengalaman kerja!" Pria itu melonggarkan dasinya, lalu membuka kancing baju kemeja dua biji. Mataku ternoda. Ya ampun, sepertinya bapak dan anak satu tipe. Penggoda dan tebar pesona. "Nama saya Sekar Mawangi. Usia tiga puluh tahun bulan depan. Tanggal dua, Alhamdulillah awal bulan." Aku mengulum senyum. Suara tawa pendek pria dewasa di depanku terdengar begitu segar. "Saya otewe janda beranak satu. Lulusan Universitas Jaket Kuning dengan predikat cumelaud. Pernah bekerja di Telkomsel sebagai supervisor, lalu dilamar pria hidung belang, sehingga saya tidak bekerja lagi sampai kemarin. Saya harap hari ini saya diterima." Pria dewasa itu sekali lagi tertawa, tapi kali ini tawanya besar. "Apa kamu cuma berniat kerja di sini?" pertanyaan yang membuatku menelan ludah. Tidak mungkin ia mengenal siapa aku sebenarnya. "Kerja dan cari jodoh kalau ada, Pak," jawabku jujur. Biarlah aku dinilai berlebihan, asalkan apa yang aku rencanakan berjalan lancar. "Kamu bisa kerjakan pekerjaan sekretaris?" tentu saja aku mengangguk. "Oke, mulai besok kamu sekretaris saya. Perkenalkan, saya Probo Hadireja, pemilik perusahaan ini." Pria itu mengulurkan tangannya untuk berjabat. Tentu saja aku sambut dengan senyuman amat lebar. "Terima kasih atas kesempatannya untuk saya, Pak." "Saya harus membantu janda toh! He he he ... suami kamu ke mana? Maaf, mantan suami maksud saya." "Oh, ayahnya anak saya jadi TKI di negara perang, Pak. Belum kembali lagi jadi saya sudah gugat cerai. Gak tahu juga kabarnya, apa kena tembak senjata atau malah kena tembak hatinya sama perempuan di sana. Intinya, saya dan mantan saya udah selesai." "Wah, berarti ada kemungkinan anak kamu yatim? Saya pastikan kamu dan anak kamu mendapatkan yang terbaik di perusahaan ini." "Terima kasih, Pak Probo. Saya sangat beruntung dipertemukan dengan lelaki bijak, dewasa, pintar, dan juga kebapakan seperti Bapak. Saya permisi kalau begitu." "Terima kasih pujiannya, Sekar. Besok kamu bisa ke sini jam delapan. Usahakan jam delapan sudah sampai di kantor ya." "Baik, Pak, terima kasih. Saya pamit." Aku pun undur diri dengan sopan. Akhirnya, perlahan jalan terbuka lebar di depanku untuk membalas dendam pada Pororo itu.POV ExelSiang itu juga, aku ke kantor untuk memastikan kabar dari Bobi. Bukan hanya Bobi yang memberi kabar, asistenku juga memberitahu. Aku tidak mau percaya dan sangat mustahil ada namaku pada list karyawan. Sekelas manager pemasaran dengan kemampuan sangat bagus, tentu mustahil aku dipecat. "Siang, Pak Exel," sapa Rini; asistenku. Ia menyambutku karena aku mengatakan aku akan ke kantor. "Siang, kamu yakin gak salah lihat?" tanyaku."Sebelah sini, Pak. Ada di monitor banner besar dengan lift utama," katanya sambil menunjuk lift bagian kira. Bukan hanya aku, tetapi beberapa karyawan lainnya ikut memperhatikan layar tersebut. Nama yang muncul per sepuluh orang disertai divisinya. Namaku ada dan aku benar-benar tidak percaya. "Pak Samuel ada?" tanyaku pada Rini. Gadis itu menggelengkan kepala. "Semua direksi hari ini ada meeting di Bali tiga hari, Pak." "Kamu kena juga?""Tidak tahu, Pak, karena saya statusnya kontrak, jadi tinggal menunggu surat saja," jawab Rini yang sama bingu
"Exel bantu Mami. Mami gak mau di sini," rengek Bu Rosa pedih. Matanya sayu seperti orang yang tidak tidur semalaman. Memang benar Bu Rosa tidak bisa memejamkan mata sejak ia sampai di kantor polisi sampai dengan keesokan harinya. "Ada apa sebenarnya, Mi? Kenapa Mami bisa sampai ditangkap? Apa yang Mami lakukan?" cecar Exel yang tidak mengerti. "Mami gak tahu. Mami khilaf. Bantu Mami, Exel!" "Iya, saya mau bantu Mami, tapi gimana kalau saya gak tahu apa yang terjadi sama Mami. Apa Mami udah hubungi pengacara?" Bu Rosa menggelengkan kepala."Oke, Mami ceritakan pada saya apa yang terjadi, lalu saya akan carikan pengacara tepat untuk Mami. Saya juga akan ajukan juga penangguhan penahanan, gimana?" Rosa mengangguk pelan. Lalu mengalir cerita dari wanita itu, bahwa ia telah nekat melakukan hal yang sangat membahayakan dirinya dan juga mantan suaminya. Exel hanya bisa diam, terkejut dengan setiap kalimat yang meluncur dari bibir ibu mertua, tanpa berani berkomentar apapun. Ia tidak aka
"Bagaimana suami saya, Dok? A-apa sakit yang diderita suami saya?" tanya Sekar terbata, sembari menahan tangis. Dokter menghela napas,lalu menyodorkan kertas hasil pemeriksaan milik Probo untuk ia jelaskan pada istri pasiennya. "Dari hasil darah dan urin, ini ada infeksi ginjal dan kandungan obat tidur keras yang masuk ke tubuh Pak Probo selama beberapa Minggu ini memperparah kondisinya. Ditambah Pak Probo ada jantung." Sekar menelan ludahnya. "Menurut data pasien di rumah sakit ini, Pak Probo memang pasien kami dan rutin kontrol ginjal. Kondisinya belum parah, masih baru kena bahasa gampangnya. Stadium satu. Namun, ada zat yang dipaksa masuk ke dalam tubuhnya dan itu tentu memperparah kondisi beliau. Mengakibatkan jantung yang terus berdebar dan pasti berefek pada jantung, sehingga Pak Probo sesak napas.""A-apa yang bisa kita lakukan, Dok? Saya ingin suami saya dapat yang terbaik." Sekar menahan diri untuk tidak tersedu-sedan. Padahal ia ingin sekali berteriak sedih dan memeluk su
"Bodoh! Apa yang kamu lakukan? Keberadaan kita nanti diketahui oleh keluarganya.""Saya butuh HP-nya. Buat apa HP bagus malah seharga dua puluh juta ini dianggurin, mending saya pake!"Plak!"Sakit bego!" seorang pemuda menggosok kepalanya karena mendapatkan pukul."Cepat matikan!" Ponsel pintar berlogo apel digigit itu pun langsung dimatikan kembali. "Antar saya balik!" Pemuda itu pun mengangguk paham."Ponselnya boleh buat saya, Bu?" "Gak bisa!" Ponsel itu pun langsung diambil oleh Rosa. "Ini tuh bukti penting untuk saya. Udah, cepat bawa mobilnya balik ke hotel!" Pinta Rosa dengan wajah kesal. Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang menuju hotel tempat ia menginap hampir satu bulan. Kenapa bisa? Tentu saja bisa dan mudah, karena hotel itu adalah hotel milik keluarganya. Ada kamar khusus yang disiapkan di sana bagi keluarga yang ingin menginap lama. Bahkan mendapatkan fasilitas full. Khusus untuk anak, menantu, dan cucu saja. "Bu, kita udah sampai!" Ucap pemuda itu membangunk
"M-mami, a-apa yang Mami lakukan di sini?" Exel mendelik terkejut saat melihat mertuanya duduk di kursi roda, ditemani salah satu staf hotel. Bu Rosa tertawa."Kamu bersama pelacur? Udah berapa lama? Maksudnya udah berapa wanita?" tanya balik Bu Rosa tanpa menjawab pertanyaan Exel. Hati wanita itu panas dan sangat terbakar amarah saat melihat menantunya digandeng wanita lain, padahal istrinya sedang berada di jeruji besi. Apalagi tanda merah jelas sekali terlihat saat wanita yang diam saja itu menyugar rambut panjangnya. Sepanas apa malam yang dilewati menantunya dengan pelacur? Apa lebih hebat pelacur dari pada putrinya? Bu Rosa bermonolog.Exel melepas kasar tangan Elora, tentu saja wanita malam itu mengerti maksud Exel dan segera berjalan cepat meninggalkan lelaki itu. "Mi, ini baru pertama kali. Maafkan saya karena sudah tiga bulan lebih saya gak dapat nafkah dari Roro, untuk itu saya sewa wanita itu. Saya pakai pengaman Mi, bukan juga sembarangan karena saya gak mau sakit." Jawa
"Alhamdulillah, kamu sudah sadar, Nak." Bu Erin menatap begitu itu putrinya yang saat ini terbaring di rumah sakit. Ia mengusap kepala Sekar dengan pelan dan penuh rasa keibuan."Mau minum?" tanyanya pada sang Putri. Sekar menggelengkan kepala."Sekar di mana, Ma?" Bu Erin menghela napas. "Di rumah sakit. Ipar kamu memberitahu Mama kalau kamu pingsan di kantor dan ini rumah sakit yang di depan kantor." "Kata dokter Sekar kenapa, Ma? Surat dari Mas Probo ada di mana?" suara Sekar bergetar menahan tangis. Bu Erin menatap nanar putrinya dan ikut juga berkaca-kaca."Sekar, mulai sekarang kamu gak boleh stres. Kamu harus jaga kandungan kamu." Bu Erin kemudian tersenyum."Apa, Ma? Kandungan? S-sekar hamil?" pekik Sekar tidak percaya. "Alhamdulillah, terima kasih ya Allah." Sekar tertawa dalam tangisnya. Bahunya bergetar hebat menahan haru, hingga Bu Erin pun ikut sama-sama menangis. Wanita itu memeluk putrinya yang sangat kuat, tetapi juga masih sangat manja. Bu Erin membiarkan Sekar men







