Share

5. Pertanyaan Tetangga

last update Last Updated: 2026-01-15 10:54:00

"Itu urusan papa dan Mama yang harus diselesaikan, Nak. Nanti jika Ibra sudah lebih besar, Mama pasti cerita. Udahan tidurnya? Mau ikut Mama jajan es krim?" wajahnya berubah terang.

"Mau, dong! Ibra cuci muka dulu ya, Ma." Putraku berlari masuk ke kamar mandi. Aku pun menutup laptop. Balasan email bisa aku buka dari ponsel. Aku harap, Tuhan membantuku kali ini.

Aku membawa Ibra berkeliling tempat tinggal baru kami. Aku juga mengenalkan Ibra pada ibu tetangga kanan kiri, agar mereka kenal siapa saja anggota keluarga yang ikut tinggal bersamaku. Tidak lupa Ibra juga aku daftarkan mengaji di mushola terdekat agar ia bergaul dengan teman-teman seusianya.

"Jadi tinggal berdua aja, Bu Sekar? Suaminya ke mana? Bu Sekar emang janda? Wah, kalau jandanya cantik kayak Bu Sekar, suami kita perlu dipakaikan kaca mata buibu, biar gak naksir Bu Sekar," tanya Bu Heru, tetangga depan rumahku.

"Iya, Bu, untuk saat ini saya tinggal berdua Ibra karena ayah Ibra lagi banyak urusan keluar kota. Nanti kalau sudah waktunya, saya kenalkan pada ibu-ibu ya. Saya masuk dulu, Bu." Aku membawa Ibra pulang. Berlama-lama dengan tetangga kepo bisa sangat merusak mood-ku.

"Memangnya papa ke mana, Ma?" tanya Ibra saat ia baru saja selesai melaksanakan solat magrib. Ibra yang minta untuk solat di mushola perumahan yang kebetulan hanya berjarak seratus lima puluh meter dari rumahku.

"Papa lagi ada urusan, Nak. Mungkin akan lama. Jadinya, dari pada tinggal di rumah besar berdua saja, mending bawa kamu nyewa di sini. Rumah lama juga mau dibenerin, Ibra. Kamar Mama bocor. WC juga mampet. Kamar Ibra juga tempias plafonnya jika hujan deras.

Jadi, sambil menunggu papa di luar kota, rumahnya dibenerin dulu," ceritaku terpaksa berbohong. Maafkan Mama, Ibra. Terpaksa Mama lakukan ini karena belum saatnya kamu tahu, apa yang terjadi pada mama dan papa. Ini mungkin akan sangat berat bagi Ibra, tetapi mama akan berusaha memberikan Ibra penjelasan sebaik mungkin karena bagaimanapun, Bang Exel adalah ayahnya.

"Padahal sebelum Ibra kemping, papa janji mau ajak Ibra treking ke curug, Ma. Papa sibuk sekali ya, Ma. Pekerjaannya banyak banget."

"Iya, Ibra benar. Papa lagi sibuk sayang." Sibuk melayani perempuan yang gatal anuannya. Tentu saja aku ngedumel dalam hati.

Satu Minggu berlalu. Hampir setiap hari aku mengecek email balasan dari perusahaan milik ayah Pororo itu. Namun, aku tidak mendapatkan balasan apapun. Pesimis, tentu saja tidak! Aku akan berusaha dengan cara lain agar aku bisa dekat dengan keluarga si Pororo itu. Jika tidak bisa masuk lewat jalur sekretaris, masih ada jalur lain, yaitu cleaning service. Gak papa, asalkan aku bisa mendekati ayah Pororo. Wanita itu akan terkejut dengan apa yang akan aku lakukan.

Kring! Kring!

Ada nomor kantor tidak aku kenal muncul di layar.

"Halo, assalamualaikum."

"Halo selamat siang, betul ini dengan Ibu Sekar Mawangi?"

"Iya, saya Sekar Mawangi."

"Kami dari PT. Harapan Putra mengundang Ibu untuk wawancara esok hari pada jam sembilan pagi. Apakah Ibu bisa?"

"Wah, ini yang saya tunggu, Mbak. Tentu saja saya bisa. Saya akan datang tepat waktu insyaaallah."

"Baik, kami tunggu." Aku melompat kegirangan karena apa yang aku tunggu pun akhirnya terjadi. Mungkin ini akan sedikit makan waktu, tetapi segala sesuatu yang terburu-buru itu tidak baik bukan? Oleh karena itu aku akan masuk perlahan untuk merusak dari dalam.

Baru saja ponsel aku letakkan di atas meja makan, karena aku memang tengah memasak untuk makan siang Ibra, suara dering kembali terdengar. Kali ini muncul nama mamaku dan disaat itu pula aku tersadar, bahwa aku belum memberitahu keluargaku bahwa aku telah berpisah. Isi kepalaku masih bisa penuh dengan segala strategi balas dendam, sehingga aku gak sempat menceritakan masalah ini pada mama.

"Halo, assalamualaikum, Ma."

"Sekar, apa-apaan itu? Kenapa di status Exel dia tengah ijab kabul dengan wanita lain. Sekar, Exel nikah lagi? Kamu diselingkuhi?"

"Ma, i-itu ....."

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Mimin Rosmini
si Exel.. tunggu ya karmamu
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Dijatah Tiga Minggu Sekali   56. Ibra Anakku

    POV ExelSiang itu juga, aku ke kantor untuk memastikan kabar dari Bobi. Bukan hanya Bobi yang memberi kabar, asistenku juga memberitahu. Aku tidak mau percaya dan sangat mustahil ada namaku pada list karyawan. Sekelas manager pemasaran dengan kemampuan sangat bagus, tentu mustahil aku dipecat. "Siang, Pak Exel," sapa Rini; asistenku. Ia menyambutku karena aku mengatakan aku akan ke kantor. "Siang, kamu yakin gak salah lihat?" tanyaku."Sebelah sini, Pak. Ada di monitor banner besar dengan lift utama," katanya sambil menunjuk lift bagian kira. Bukan hanya aku, tetapi beberapa karyawan lainnya ikut memperhatikan layar tersebut. Nama yang muncul per sepuluh orang disertai divisinya. Namaku ada dan aku benar-benar tidak percaya. "Pak Samuel ada?" tanyaku pada Rini. Gadis itu menggelengkan kepala. "Semua direksi hari ini ada meeting di Bali tiga hari, Pak." "Kamu kena juga?""Tidak tahu, Pak, karena saya statusnya kontrak, jadi tinggal menunggu surat saja," jawab Rini yang sama bingu

  • Dijatah Tiga Minggu Sekali   55. Pernyataan Sekar

    "Exel bantu Mami. Mami gak mau di sini," rengek Bu Rosa pedih. Matanya sayu seperti orang yang tidak tidur semalaman. Memang benar Bu Rosa tidak bisa memejamkan mata sejak ia sampai di kantor polisi sampai dengan keesokan harinya. "Ada apa sebenarnya, Mi? Kenapa Mami bisa sampai ditangkap? Apa yang Mami lakukan?" cecar Exel yang tidak mengerti. "Mami gak tahu. Mami khilaf. Bantu Mami, Exel!" "Iya, saya mau bantu Mami, tapi gimana kalau saya gak tahu apa yang terjadi sama Mami. Apa Mami udah hubungi pengacara?" Bu Rosa menggelengkan kepala."Oke, Mami ceritakan pada saya apa yang terjadi, lalu saya akan carikan pengacara tepat untuk Mami. Saya juga akan ajukan juga penangguhan penahanan, gimana?" Rosa mengangguk pelan. Lalu mengalir cerita dari wanita itu, bahwa ia telah nekat melakukan hal yang sangat membahayakan dirinya dan juga mantan suaminya. Exel hanya bisa diam, terkejut dengan setiap kalimat yang meluncur dari bibir ibu mertua, tanpa berani berkomentar apapun. Ia tidak aka

  • Dijatah Tiga Minggu Sekali   54. Kondisi Probo

    "Bagaimana suami saya, Dok? A-apa sakit yang diderita suami saya?" tanya Sekar terbata, sembari menahan tangis. Dokter menghela napas,lalu menyodorkan kertas hasil pemeriksaan milik Probo untuk ia jelaskan pada istri pasiennya. "Dari hasil darah dan urin, ini ada infeksi ginjal dan kandungan obat tidur keras yang masuk ke tubuh Pak Probo selama beberapa Minggu ini memperparah kondisinya. Ditambah Pak Probo ada jantung." Sekar menelan ludahnya. "Menurut data pasien di rumah sakit ini, Pak Probo memang pasien kami dan rutin kontrol ginjal. Kondisinya belum parah, masih baru kena bahasa gampangnya. Stadium satu. Namun, ada zat yang dipaksa masuk ke dalam tubuhnya dan itu tentu memperparah kondisi beliau. Mengakibatkan jantung yang terus berdebar dan pasti berefek pada jantung, sehingga Pak Probo sesak napas.""A-apa yang bisa kita lakukan, Dok? Saya ingin suami saya dapat yang terbaik." Sekar menahan diri untuk tidak tersedu-sedan. Padahal ia ingin sekali berteriak sedih dan memeluk su

  • Dijatah Tiga Minggu Sekali   53. Kelakuan Busuk

    "Bodoh! Apa yang kamu lakukan? Keberadaan kita nanti diketahui oleh keluarganya.""Saya butuh HP-nya. Buat apa HP bagus malah seharga dua puluh juta ini dianggurin, mending saya pake!"Plak!"Sakit bego!" seorang pemuda menggosok kepalanya karena mendapatkan pukul."Cepat matikan!" Ponsel pintar berlogo apel digigit itu pun langsung dimatikan kembali. "Antar saya balik!" Pemuda itu pun mengangguk paham."Ponselnya boleh buat saya, Bu?" "Gak bisa!" Ponsel itu pun langsung diambil oleh Rosa. "Ini tuh bukti penting untuk saya. Udah, cepat bawa mobilnya balik ke hotel!" Pinta Rosa dengan wajah kesal. Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang menuju hotel tempat ia menginap hampir satu bulan. Kenapa bisa? Tentu saja bisa dan mudah, karena hotel itu adalah hotel milik keluarganya. Ada kamar khusus yang disiapkan di sana bagi keluarga yang ingin menginap lama. Bahkan mendapatkan fasilitas full. Khusus untuk anak, menantu, dan cucu saja. "Bu, kita udah sampai!" Ucap pemuda itu membangunk

  • Dijatah Tiga Minggu Sekali   52. Mencari Tahu

    "M-mami, a-apa yang Mami lakukan di sini?" Exel mendelik terkejut saat melihat mertuanya duduk di kursi roda, ditemani salah satu staf hotel. Bu Rosa tertawa."Kamu bersama pelacur? Udah berapa lama? Maksudnya udah berapa wanita?" tanya balik Bu Rosa tanpa menjawab pertanyaan Exel. Hati wanita itu panas dan sangat terbakar amarah saat melihat menantunya digandeng wanita lain, padahal istrinya sedang berada di jeruji besi. Apalagi tanda merah jelas sekali terlihat saat wanita yang diam saja itu menyugar rambut panjangnya. Sepanas apa malam yang dilewati menantunya dengan pelacur? Apa lebih hebat pelacur dari pada putrinya? Bu Rosa bermonolog.Exel melepas kasar tangan Elora, tentu saja wanita malam itu mengerti maksud Exel dan segera berjalan cepat meninggalkan lelaki itu. "Mi, ini baru pertama kali. Maafkan saya karena sudah tiga bulan lebih saya gak dapat nafkah dari Roro, untuk itu saya sewa wanita itu. Saya pakai pengaman Mi, bukan juga sembarangan karena saya gak mau sakit." Jawa

  • Dijatah Tiga Minggu Sekali   51. Kabar Baik atau Buruk?

    "Alhamdulillah, kamu sudah sadar, Nak." Bu Erin menatap begitu itu putrinya yang saat ini terbaring di rumah sakit. Ia mengusap kepala Sekar dengan pelan dan penuh rasa keibuan."Mau minum?" tanyanya pada sang Putri. Sekar menggelengkan kepala."Sekar di mana, Ma?" Bu Erin menghela napas. "Di rumah sakit. Ipar kamu memberitahu Mama kalau kamu pingsan di kantor dan ini rumah sakit yang di depan kantor." "Kata dokter Sekar kenapa, Ma? Surat dari Mas Probo ada di mana?" suara Sekar bergetar menahan tangis. Bu Erin menatap nanar putrinya dan ikut juga berkaca-kaca."Sekar, mulai sekarang kamu gak boleh stres. Kamu harus jaga kandungan kamu." Bu Erin kemudian tersenyum."Apa, Ma? Kandungan? S-sekar hamil?" pekik Sekar tidak percaya. "Alhamdulillah, terima kasih ya Allah." Sekar tertawa dalam tangisnya. Bahunya bergetar hebat menahan haru, hingga Bu Erin pun ikut sama-sama menangis. Wanita itu memeluk putrinya yang sangat kuat, tetapi juga masih sangat manja. Bu Erin membiarkan Sekar men

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status