LOGINMotor tua itu berhenti di depan rumah besar yang memperlihatkan bahwa pemiliknya adalah orang yang banyak berduit.
Rumah itu adalah rumah paling besar yang ada di kampung Nadira. Gerbang besi berdecit terbuka, menyambut kedatangan sang tamu. Surya memasukkan motornya ke dalam halaman yang sudah terbuka pagarnya. "Ayah, aku takut." Hati Nadira berdegup kencang, tangannya meremas celana dengan gemetar. Dia merasa seperti masuk ke dalam kandang serigala. "Ayo, turun," ucap Surya tanpa menghiraukan apa yang di ucapkan anak gadis satu-satunya itu. Surya berjalan ke arah pintu utama rumah itu, diikuti Nadira di belakangnya. Setelah sebelumnya memarkirkan motor tuanya di dekat pagar rumah itu. Brama sudah berdiri di depan teras rumahnya. Menyambut dengan tatapan tajam dan senyum yang tidak bisa di artikan oleh Nadira. "Selamat datang, calon istriku. Masuklah, sayang. Rumah ini nanti juga akan jadi rumahmu," ujar Brama sambil mempersilahkan masuk ke rumahnya. Nadira menelan ludah karena rasa takut, tanpa berani membantah dia mengikuti lelaki itu bersama ayah. Begitu masuk ke dalam, suasana rumah itu terlihat rapi dan bersih. Lantai marmer dingin berkilau, terlihat adem. Tapi tetap terasa seram bagi Nadira. Di ruang tamu, beberapa anak buah Brama berkumpul duduk santai sambil tertawa. Ada juga yang asik mengisap rokoknya. Bau asap rokok dan parfum murah bercampur jadi satu, membuat kepala Nadira terasa pening. Brama berhenti di depan anak buahnya, dengan bangga memperkenalkan Nadira pada mereka. "Perkenalkan, calon istri ku. Calon nyonya besar di rumah ini," tangannya sambil menggandeng bahu Nadira. "Kalian harus menghormatinya juga," lanjutnya. Nadira merasa risih saat di gandeng Brama, namun tidak bisa menolak. Karena takut. "Dia calon mertua ku," katanya sambil mengarahkan jari telunjuknya ke arah Surya yang sedari tadi mengikutinya di belakang, dengan tangan yang masih menggandeng bahu Nadira. "Perlakukan dia dengan baik, tidak perlu lagi kalian menagih hutang padanya." Mendengar itu, anak buah Brama paham kalau anaknya Surya sebagai pengganti membayar hutangnya. "Baik, bos," sahut anak buah Brama. Brama yang sudah memiliki tiga istri, akan menikah lagi dengan Nadira, menjadikannya istri keempat. Istri kedua dan ketiga Brama juga bernasib sama seperti Nadira. Dijadikan alat menebus hutang oleh orang tuanya. Karena ekonomi yang sulit, memaksa mereka untuk berhutang pada rentenir seperti Brama, agar mencukupi kebutuhan sehari-hari. Di kampung tempat Nadira tinggal, mayoritas penduduknya bekerja sebagai buruh di kebun. Yang pendapatannya tidak menentu setiap hari. Lebih sering tidak mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari. Brama berjalan mendekati kursi besar di ruang utama, tangannya sudah terlepas dari bahu Nadira. Lalu duduk dengan gaya angkuhnya, mengangkat satu kakinya. Sambil menyalakan cerutu, mengisapnya dalam-dalam dan menghembuskan asapnya ke udara. "Mulai besok, setelah ijab kabul, kau tinggal di sini. Tidak ada lagi urusan mu dengan dunia luar, kau hanya perlu melayaniku." "Jadilah istri yang patuh, mengerti?" lanjutnya. Nadira menunduk dengan air mata yang jatuh, bibirnya bergetar. Ingin sekali dia berkata "tidak", tapi suaranya seakan terkunci saat ini. Karena rasa takutnya pada Brama dan juga ayahnya. Melihat calon istrinya menangis, Brama tertawa sambil menghembuskan asap cerutunya ke arah Nadira. Lalu dia meminta pembantunya untuk mengantarkannya ke kamar yang akan didiami Nadira mulai besok. Nadira pun digiring melewati lorong dengan dinding penuh lukisan, namun pandangannya malah terasa kosong. Saat pintu kamar terbuka, dia mendapati kamar yang luas, dengan ranjang yang megah, lemari besar dan tirai yang juga megah. Setelah melihat itu, bukannya merasa senang dan nyaman dia malah merasa akan terkurung dalam sangkar seperti burung. Setelah melihat kamar yang akan di tinggalinya besok, Nadira diajak kembali ke ruang utama, di mana Bram dan ayahnya menunggu. Sesampainya di ruang utama, Brama mendekati Nadira. Jemarinya menyentuh bahu gadis itu hingga membuat tubuhnya merinding. "Ingat, tidak ada yang bisa keluar dari tempat ini, tanpa seizin ku," bisiknya di telinga Nadira. "Besok kita akan menikah secara sah. Kau akan jadi milik ku seorang, Dira". Itu membuatnya semakin ketakutan. Dalam hati, dia bersumpah untuk bisa lepas dari jeratan yang akan menyiksanya seumur hidup. "Bagaimanapun caranya, aku harus bisa melepaskan diri dari jeratan ini sebelum terlambat," ujarnya dalam hati.Semua karyawan yang ada di kantin terdiam seketika, mengetahui siapa yang datang. Pria yang tengah dibicarakan saat ini.Rama berjalan mendekati meja yang di duduki Nadira dan teman-temannya. "Ada apa ini, rame banget?" Nadira tertunduk dan menggeleng pelan, berusaha menutupi matanya yang mulai berkaca. "Tidak ada apa-apa, Kak.""Ada yang fitnah Dira, Pak Rama." ucap Sinta pelan dengan nada sedikit gugup. Pandangannya tertuju pada karyawan dari divisi lain yang duduk di belakang Nadira.Rama menatap para karyawan itu, ekspresinya tetap tenang tapi ada ketegasan di matanya. "Apa ada yang ingin kalian ketahui tentang saya dan Dira? Kalau ada, kalian bisa tanyakan pada saya langsung. Tidak perlu berspekulasi hingga akhirnya menyebarkan fitnah." Karyawan dari divisi lain itu tersentak, mulutnya terbuka tapi tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut mereka.Rama mengangkat alis tinggi, seolah memberi isyarat pada mereka "cepat katakan."Karyawan tersebut langsung menunduk, tidak ber
Sesuai perintah Vino, yang tidak menerima bantahan, Nadira akhirnya tidak pernah lagi memesan ojek online.Pada pagi hari, sopir keluarga mengantarnya ke kantor. Dan sore harinya, ketika para karyawan mulai memenuhi lobby, selalu ada sosok Rama.Rama turun dari mobil, melambai santai ke arah Nadira sambil menyandarkan punggung di samping mobil. Sikapnya tampak natural, ramah, tidak terlihat seperti sebuah tugas dari atasan.Namun bagi karyawan yang ada di lobby, melihatnya seperti sebuah bahan cerita baru. Bagaimana tidak... Nadira yang biasanya keluar sambil merapatkan jaket dan langsung memesan ojek, kini berjalan santai ke arah pria yang terkenal sebagai sekretaris CEO.Bisik-bisik pun bermunculan."Eh, itu anak divisi administrasi umumkan?" bisik salah satu karyawan dari divisi marketing."Iya deh, dia pulang bareng Sekretaris Rama?" "Iya, setiap hari loh, kemarin aku juga lihat mereka pulang bareng.""Mereka kelihatan dekat banget, ya?"Oh, jadi karena itu dia pindah ke kantor
Langit sudah mulai menjingga, cahayanya terlihat tipis di ujung gedung. Para karyawan mulai keluar satu persatu melalui lobby utama gedung Putra Corporation.Vino keluar dari lift langsung menuju ke tempat mobilnya terparkir. Saat keluar dari parkiran, mobilnya tiba-tiba berhenti, begitu dia melihat sosok yang sangat dia kenali, berdiri sambil memeluk tas dan memakai jaket tipis."Dira..." gumamnya pelan.Nadira menunduk sebentar sambil mengecek ponselnya. Lalu beberapa menit kemudian , sebuah motor berhenti di depannya. Pengendara ojek online menurunkan standar motornya, dan memanggil nama Nadira."Nadira ?" tanyanya sopan.Nadira mengangguk dan tersenyum sopan, lalu mendekat ke tukang ojek.Melihat pemandsangan itu, tanpa sadar Vino menggenggam setirnya lebih kuat. Seketika dadanya mengeras, dia tidak suka pemandangan itu, sama sekali tidak suka.Cara tukang ojek itu menatap Nadira, saat memastikan penumpangnya benar. Cara Nadira tersenyum kecil pada tukang ojek. Motor itu perlahan
Vino duduk di kursinya cukup lama, menatap layar komputer yang sudah menyala namun tidak satu pun file laporan yang dia baca.Seluruh fokusnya tertarik kekejadian saat di lobby tadi. Nadira yang tampak santai tertawa dengan pria lain, tanpa sedikit pun terlihat beban karena kejadian tadi malam. Seperti memperlihatkan kalau hatinya merasa tidak nyaman dengan perlakuannya, sifat dinginnya yang mengabaikannya semalaman. Nadira tetap terlihat santai...Dia memijat pelipisnya berkali-kali. Tubuhnya terasa panas oleh perasaan yang sebelumnya selalu dia tepis. Cemburu... perasaan itu sudah lama dia rasakan namun dia menepis kuat-kuat. Sejak acara tahunan perusahaan, saat dia melihat Nadira mengobrol hangat dengan pria yang sama saat di lobby tadi.Karena menyadari perasaan itulah akhirnya Vino memilih sering ke luar kota dengan alasan mengurusi beberapa pabrik. Padahal dia hanya ingin menghindar.Ironis, memang... Dia yang membuat kesepakatan pernikahan tanpa berharap cinta darinya, tapi si
Matahari sudah menembus sela tirai ruang kerja, yang membuat Vino membuka matanya pelan, dia mengerjap beberapa kali. Menggeliat pelan, lehernya terasa kaku, bahunya pegal, dan punggungnya protes karena semalaman dia tidur di sofa kecil yang pernah dirancang untuk tidur. Vino duduk perlahan, mengusap wajahnya. Napasnya masih terasa berat, seperti beban semalam masih menempel utuh di bahunya. Dan rasa bersalah yang menekan dadanya.Dia meraih ponsel di atas meja kerja, menyalakannya, lalu melihat jam, 07.15 pagi.Dia membuka pintu ruang kerja dengan tarikan pelan, seolah takut melihat apa yang menunggunya di luar.Biasanya jam segini Nadira masih berada di kamar, bersiap-siap. Kadang berdiri di depan cermin sambil memoles tipis wajahnya dengan bedak atau mengikat rambutnya. Kadang duduk di sofa sambil merapikan dan menyiapkan tas untuk bekerja. Rutinitas pagi Nadira yang selama ini dia anggap biasa.Dan pagi ini setelah pintu terbuka, segala rutinitas yang dia lihat selama ini, tiba-
POV VinoBegitu pintu ruang kerja tertutup di belakangnya, Vino menyandarkan punggung ke permukaan dinding. Napasnya tersengal, seperti habis lari marathon. Padahal dia cuma berjalan cepat dari ranjang ke dalam ruang kerjanya.Tangannya terangkat, menekan wajah dengan kuat.Dingin...Gemetar...Dan dadanya terasa sesak, terlalu penuh untuk menampung perasaan ini."Kenapa tadi aku mengucapkan itu? Kenapa aku malah pergi meninggalkan dia?" Vino mengumpat dalam hati, pelan tapi penuh penyesalan.Dia melangkah ke meja kerjanya dengan langkah kacau. Kursi kerjanya di tarik asal, tubuhnya didudukkan dengan berat. Dia menyalakan laptop, cahaya dari layar laptop memantul di wajah Vino yang masih dipenuhi gelisah. Dia tidak benar-benar melihat isi layar, matanya terpaku, tapi pikirannya melayang pada Nadira.File yang terbuka adalah laporan proyek, namun huruf-hurufnya terlihat seperti blok hitam yang tidak bisa dia pahami. Jari-jarinya mengetik satu baris, lalu berhenti...Hapus... Mengetik







