Share

Bab 3

Penulis: Mufid Pandri
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-02 15:24:51

Malam itu, rumah Nadira begitu sunyi, hanya sesekali terdengar batuk ayahnya dari ruang tamu yang ditemani aroma menyengat alkohol. Nadira duduk di sudut kamar, lututnya dipeluk erat. Matanya sembab karena terlalu lama menangis. Sejak pertemuannya dengan Brama pagi tadi, pikirannya tak berhenti berputar. Esok, dia akan dibawa ke rumah pria tua itu, dinikahkan paksa tanpa cinta. Dan akan menjadi seperti burung yang terjebak dalam sangkar selamanya.

"Tidak, aku tidak bisa pasrah... aku harus pergi," bisiknya, suara tercekat oleh ketakutan.

"Maafkan aku, Ayah..." lanjutnya.

Nadira bangkit, melangkah ke arah meja kecil di samping ranjang yang sudah terlihat rapuh. Dari bawah laci meja itu, dia mengeluarkan sebuah kaleng bekas berkarat yang sengaja dia simpan. Di dalamnya tersimpan koin-koin dan lembaran lusuh yang dia kumpulkan diam-diam selama beberapa tahun ini, tanpa sepengetahuan ayahnya. Upah dari menjahit baju tetangga, uang gajinya sebagai buruh di kebun yang dia sisihkan, dan sedikit pemberian ibunya dulu sebelum tiada. Jumlahnya tidak banyak, tapi cukup untuk ongkos ke kota.

Semenjak ibu tiada, Nadira memang melanjutkan pekerjaan ibunya sebagai penjahit, namun tidak seramai saat ibu menjahit dulu. Dia juga menjadi buruh di kebun untuk bisa mencukupi kebutuhannya dan ayah. Dari hasil itu semua, dia sisihkan uangnya yang rencananya untuk melunasi hutang Surya. Tapi segala usahanya pupus, ayah malah menyerahkannya untuk membayar hutang pada Brama. Hutang ayah bahkan tidak berkurang, malah semakin bertambah.

Dia mulai menyiapkan tas lusuh peninggalan ibunya. Beberapa helai pakaian dia lipat cepat dan mengambil barang-barang yang di perlukan, lalu memasukkannya ke dalam tas. Dia juga menyelipkan foto ibunya yang mulai pudar warnanya. Foto itu satu-satunya harta yang benar-benar ia sayangi, pengingat bahwa dia pernah dicintai seseorang dalam hidupnya.

"Ibu... aku rindu... maafkan aku, Bu, karena memilih pergi meninggalkan Ayah."

Sambil di elus nya foto ibu, sebelum dia memasukkannya ke dalam tas.

Di luar kamar, langkah kaki berat ayahnya terdengar berjalan mengarah ke kamar Nadira. Lalu suara botol yang di pegangnya terjatuh ke lantai di depan pintu kamar Nadira. Dia tersentak kaget, buru-buru mematikan lampu dan berbaring di ranjang berpura-pura tidur agar ayah tidak curiga.

"Dira..."

Dibukanya pintu kamar, dilihatnya Nadira sudah tertidur pulas.

"Ah, kau besok akan jadi istri Brama, akan jadi orang kaya," racaunya sambil memegangi handle pintu, lalu menutupnya kembali.

Surya berjalan memasuki kamarnya.

Sunyi kembali menguasai rumah. Jantung Nadira masih berdegup kencang, seakan bisa pecah kapan saja.

"Malam ini tidak boleh gagal. Aku harus menunggu waktu yang tepat... saat Ayah benar-benar tertidur," pikir Nadira.

Matanya melirik jendela kamar yang menghadap ke jalan kecil di belakang rumah. Dari sanalah dia akan memulai semuanya. Setiap detail dia pikirkan. Kapan harus keluar, barang apa yang dibawa, dan arah mana yang dituju setelah keluar.

Jam berdentang menandakan tengah malam. Nadira duduk di samping ranjang. Tasnya sudah siap, tangannya menggenggam erat tas yang di pegangnya itu. Tubuhnya gemetar, bukan hanya karena takut, tapi juga karena keberanian yang perlahan tumbuh di hatinya.

"Aku tidak tahu apa yang menungguku di luar sana," gumamnya lirih, “tapi lebih baik menghadapi ketidakpastian daripada terjebak di dalam neraka ini.”

Malam itu, di balik keheningan rumah, lahirlah sebuah tekad. Nadira telah memutuskan. Dia akan kabur, apapun risikonya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dijual Ayah, Dipinang Takdir   Bab 54

    Semua karyawan yang ada di kantin terdiam seketika, mengetahui siapa yang datang. Pria yang tengah dibicarakan saat ini.Rama berjalan mendekati meja yang di duduki Nadira dan teman-temannya. "Ada apa ini, rame banget?" Nadira tertunduk dan menggeleng pelan, berusaha menutupi matanya yang mulai berkaca. "Tidak ada apa-apa, Kak.""Ada yang fitnah Dira, Pak Rama." ucap Sinta pelan dengan nada sedikit gugup. Pandangannya tertuju pada karyawan dari divisi lain yang duduk di belakang Nadira.Rama menatap para karyawan itu, ekspresinya tetap tenang tapi ada ketegasan di matanya. "Apa ada yang ingin kalian ketahui tentang saya dan Dira? Kalau ada, kalian bisa tanyakan pada saya langsung. Tidak perlu berspekulasi hingga akhirnya menyebarkan fitnah." Karyawan dari divisi lain itu tersentak, mulutnya terbuka tapi tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut mereka.Rama mengangkat alis tinggi, seolah memberi isyarat pada mereka "cepat katakan."Karyawan tersebut langsung menunduk, tidak ber

  • Dijual Ayah, Dipinang Takdir   Bab 53

    Sesuai perintah Vino, yang tidak menerima bantahan, Nadira akhirnya tidak pernah lagi memesan ojek online.Pada pagi hari, sopir keluarga mengantarnya ke kantor. Dan sore harinya, ketika para karyawan mulai memenuhi lobby, selalu ada sosok Rama.Rama turun dari mobil, melambai santai ke arah Nadira sambil menyandarkan punggung di samping mobil. Sikapnya tampak natural, ramah, tidak terlihat seperti sebuah tugas dari atasan.Namun bagi karyawan yang ada di lobby, melihatnya seperti sebuah bahan cerita baru. Bagaimana tidak... Nadira yang biasanya keluar sambil merapatkan jaket dan langsung memesan ojek, kini berjalan santai ke arah pria yang terkenal sebagai sekretaris CEO.Bisik-bisik pun bermunculan."Eh, itu anak divisi administrasi umumkan?" bisik salah satu karyawan dari divisi marketing."Iya deh, dia pulang bareng Sekretaris Rama?" "Iya, setiap hari loh, kemarin aku juga lihat mereka pulang bareng.""Mereka kelihatan dekat banget, ya?"Oh, jadi karena itu dia pindah ke kantor

  • Dijual Ayah, Dipinang Takdir   Bab 52

    Langit sudah mulai menjingga, cahayanya terlihat tipis di ujung gedung. Para karyawan mulai keluar satu persatu melalui lobby utama gedung Putra Corporation.Vino keluar dari lift langsung menuju ke tempat mobilnya terparkir. Saat keluar dari parkiran, mobilnya tiba-tiba berhenti, begitu dia melihat sosok yang sangat dia kenali, berdiri sambil memeluk tas dan memakai jaket tipis."Dira..." gumamnya pelan.Nadira menunduk sebentar sambil mengecek ponselnya. Lalu beberapa menit kemudian , sebuah motor berhenti di depannya. Pengendara ojek online menurunkan standar motornya, dan memanggil nama Nadira."Nadira ?" tanyanya sopan.Nadira mengangguk dan tersenyum sopan, lalu mendekat ke tukang ojek.Melihat pemandsangan itu, tanpa sadar Vino menggenggam setirnya lebih kuat. Seketika dadanya mengeras, dia tidak suka pemandangan itu, sama sekali tidak suka.Cara tukang ojek itu menatap Nadira, saat memastikan penumpangnya benar. Cara Nadira tersenyum kecil pada tukang ojek. Motor itu perlahan

  • Dijual Ayah, Dipinang Takdir   Bab 51

    Vino duduk di kursinya cukup lama, menatap layar komputer yang sudah menyala namun tidak satu pun file laporan yang dia baca.Seluruh fokusnya tertarik kekejadian saat di lobby tadi. Nadira yang tampak santai tertawa dengan pria lain, tanpa sedikit pun terlihat beban karena kejadian tadi malam. Seperti memperlihatkan kalau hatinya merasa tidak nyaman dengan perlakuannya, sifat dinginnya yang mengabaikannya semalaman. Nadira tetap terlihat santai...Dia memijat pelipisnya berkali-kali. Tubuhnya terasa panas oleh perasaan yang sebelumnya selalu dia tepis. Cemburu... perasaan itu sudah lama dia rasakan namun dia menepis kuat-kuat. Sejak acara tahunan perusahaan, saat dia melihat Nadira mengobrol hangat dengan pria yang sama saat di lobby tadi.Karena menyadari perasaan itulah akhirnya Vino memilih sering ke luar kota dengan alasan mengurusi beberapa pabrik. Padahal dia hanya ingin menghindar.Ironis, memang... Dia yang membuat kesepakatan pernikahan tanpa berharap cinta darinya, tapi si

  • Dijual Ayah, Dipinang Takdir   Bab 50

    Matahari sudah menembus sela tirai ruang kerja, yang membuat Vino membuka matanya pelan, dia mengerjap beberapa kali. Menggeliat pelan, lehernya terasa kaku, bahunya pegal, dan punggungnya protes karena semalaman dia tidur di sofa kecil yang pernah dirancang untuk tidur. Vino duduk perlahan, mengusap wajahnya. Napasnya masih terasa berat, seperti beban semalam masih menempel utuh di bahunya. Dan rasa bersalah yang menekan dadanya.Dia meraih ponsel di atas meja kerja, menyalakannya, lalu melihat jam, 07.15 pagi.Dia membuka pintu ruang kerja dengan tarikan pelan, seolah takut melihat apa yang menunggunya di luar.Biasanya jam segini Nadira masih berada di kamar, bersiap-siap. Kadang berdiri di depan cermin sambil memoles tipis wajahnya dengan bedak atau mengikat rambutnya. Kadang duduk di sofa sambil merapikan dan menyiapkan tas untuk bekerja. Rutinitas pagi Nadira yang selama ini dia anggap biasa.Dan pagi ini setelah pintu terbuka, segala rutinitas yang dia lihat selama ini, tiba-

  • Dijual Ayah, Dipinang Takdir   Bab 49

    POV VinoBegitu pintu ruang kerja tertutup di belakangnya, Vino menyandarkan punggung ke permukaan dinding. Napasnya tersengal, seperti habis lari marathon. Padahal dia cuma berjalan cepat dari ranjang ke dalam ruang kerjanya.Tangannya terangkat, menekan wajah dengan kuat.Dingin...Gemetar...Dan dadanya terasa sesak, terlalu penuh untuk menampung perasaan ini."Kenapa tadi aku mengucapkan itu? Kenapa aku malah pergi meninggalkan dia?" Vino mengumpat dalam hati, pelan tapi penuh penyesalan.Dia melangkah ke meja kerjanya dengan langkah kacau. Kursi kerjanya di tarik asal, tubuhnya didudukkan dengan berat. Dia menyalakan laptop, cahaya dari layar laptop memantul di wajah Vino yang masih dipenuhi gelisah. Dia tidak benar-benar melihat isi layar, matanya terpaku, tapi pikirannya melayang pada Nadira.File yang terbuka adalah laporan proyek, namun huruf-hurufnya terlihat seperti blok hitam yang tidak bisa dia pahami. Jari-jarinya mengetik satu baris, lalu berhenti...Hapus... Mengetik

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status