MasukLangkah pria yang bersama Widuri terhenti saat di depan sebuah pintu. Widuri celingukan, ia tak fokus pada pintu itu, tapi matanya terus berkeliling untuk mengamati area sekitar yang tampak begitu menakjubkan. "Dengarkan aku, kau cepat masuk, lalu rapikan dirimu!" ucap pria itu tiba-tiba. Widuri terhenyak, ia buru-buru mengalihkan pandangan pada pria itu. "Masuk kemana?!" tanya Widuri polos. "Kedalam sini!" ujar pria itu. Widuri diam, ia menatap pintu kayu berwarna cokelat yang ada di hadapannya. "Ini tempat apa?" tanyanya penasaran. "Jangan banyak tanya! cepat masuk!" celetuk pria itu, mulai kesal ia. Widuri menelan ludah, merasa tak enak hati ia mendengar celetukan pria itu. Pria itu segera membukakan pintu, Widuri dengan ragu mulai melangkah masuk. "Kau cuma punya waktu lima menit!" pesan pria itu. Widuri mengangguk pelan. Widuri sudah masuk ke tempat itu. Harum aroma lemon segera menyambut indera penciumannya, suasana yang dingin nan sunyi lun segera datang
Widuri benar-benar sudah tak tahan, kepala yang pusing dan perut yang mual membuat ia tak mampu lagi untuk terus menahan agar tak munta*. Namun saat ia nyaris menyerah, tiba-tiba mobil berhenti. Widuri mengurungkan niatnya, ia masih menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Matanya yang sayu kini coba untuk ia buka lebar-lebar. Dan betapa terkejutnya ia saat ia menyadari dimana ia saat ini. Mobil itu ternyata berhenti tepat di depan sebuah bangunan yang besar dan tinggi serta terlihat mewah, tapi bukan karena kemegahan gedung itu yang membuat Widuri terkejut dan bengong, melainkan pemandangan di sekitar gedung itu berdiri. Sejauh mata memandang hanyalah hamparan hutan yang dipenuhi aneka pepohonan, dan satu-satunya tempat yang terlihat bersih hanyalah sebuah jalan aspal yang terlihat lurus tapi sepi tanpa satupun terlihat kendaraan melintas selain dari mobil yang Widuri tumpangi saat ini. Ketika ia menyadari bahwa ia kini sungguh sudah berada di antah berantah, Widuri panik buka
Dengan diantar Minah, Widuri turun ke bawah, menuju ke tempat parkir mobil yang menjemput dirinya. Sepanjang menyusuri lantai demi lantai apartemen, pikirannya terus melayang tak tentu arah. Rasa bahagia karena akhirnya ia akan segera bekerja, kini berubah jadi rasa takut akan ketidakpastian pada apa yang nanti akan ia hadapi di tempat barunya, apalagi setelah Minah menegaskan jika ia tak bisa mengantar Widuri sampai ke tempatnya. Kalimat-kalimat bijak nan penuh penghiburan dan semangat yang terus dilontarkan Minah, nyatanya tak sedikitpun mampu membuat hati Widuri merasa tenang. Bayang-bayang akan hal-hal baru yang aneh dan mengerikan, kini terus bergelayut kasar di kedua netra indahnya yang menyorotkan rasa takut yang luar biasa. "Ayo masuk!" pinta si pria pada Widuri. Widuri tersentak dari lamunannya mendengar suara pria itu, saat ia tersadar, rupanya mereka sudah sampai di parkiran, dan di hadapannya sudah ada sebuah mobil hitam merek kenamaan. "Wid, buruan masuk, semakin cepa
"Mon?! apa semua baik-baik saja?!" tegur Widuri yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Minah. "A, e, enggak a-da..!!" Minah kaget bukan main, ia tak menduga jika Widuri sudah ada di belakangnya. Ia mulai cemas, takut kalau ternyata Widuri sudah ada disitu sejak tadi dan ia mendengar percakapan Minah dan pria utusan bos Reno itu. "Sejak kapan kau disitu?!" tanya Minah gusar, jantungnya berdegup kencang. "Baru aja, aku dengar ada suara orang berbincang, makanya aku kesini. Apa aku menggangu?" Widuri tampak tak enak. "Oh, gak, gak kok!" Minah tersenyum kecut sambil geleng kepala, ia merasa lega karena ternyata dugaannya salah. "Kau sudah siap, kan?" "Iya, aku siap!" ucap Widuri sambil terus menutupi area dadanya dengan kedua telapak tangannya, ia merasa risih dengan belahan dada baju yang ia pakai, itu terlalu rendah baginya. "Kau tunggu saja,kembali ke dalam, aku masih belum selesai!" perintah Minah. "Heh, mana bisa begitu Mona?!" serobot pria itu geram. "Gadis itu su
"Lu mau apa sih?! gue udah setuju sama permintaan elu buat tukar tu gadis sama hutang lu yang segunung! terus lu sekarang minta gue yang jemput tuh gadis?! sialan lu! jalang licik!" "Cihh!!" umpat bos Reno, ia murka karena merasa terus dipermainkan oleh Minah. Minah yang tahu kelemahan pria paruh baya itu tak ingin membuang kesempatan yang tak datang dua kali. "Maaf bos! bos, kan punya banyak anak buah, bos gak usah repot-repot datang kesini, cukup kirim orang aja untuk jemput Widuri!" ujar Minah, sok menasehati seolah dialah yang paling tahu segalanya. "Bocah tengik! nggak usah ngajarin gue! ingat, lu masih bisa makan enak dan tidur nyenyak, itu karena gue! jadi lu jangan coba-coba mempermainkan gue!" ancam bos Reno. "Sorry bos! jangan sensi gitu dong, bos ngerti lah, gue gak mau ambil resiko bos, gue gak mau Widuri curiga sama rencana kita!" "Please bos, bos kirim orang ya kesini!" Minah memohon. "Arggh! sial!" "Oke, gue kirim orang sekarang!" "Em,bos tunggu dulu!" "Apala
"Nah, gitu dong! itu baru cocok!" Minah menyeringai melihat Widuri yang mengenakan baju san sepatu yang tadi ia berikan. Sementara Widuri tampak tak nyaman, ia sibuk menarik bagian bawah bajunya agar menutupi kedua pahanya yang kuning Langsat dan mulus itu. Ia merasa malu memakai baju semacam itu. Belum lagi ia juga jadi tak leluasa bergerak karena kedua kakinya yang kini memakai sepatu hak tinggi, ia harus sangat hati-hati saat melangkah, seperti anak kecil yang sedang belajar berjalan. Sungguh situasi yang sangat merepotkan. "Jadi, lu udah siap?" tanya Minah sambil memperhatikan Widuri dari ujung kaki sampai ujung kepala,ia ingin memastikan bahwa penampilan Widuri sudah sempurna. "I-ya, aku siap!" jawab Widuri tegang. Ia tak tahu pekerjaan macam apa yang akan ia dapatkan nanti sehingga ia harus berpenampilan aneh seperti itu. Tapi Widuri tak bisa lagi protes, Minah memang benar, saat ini nasib sang ibu berada di tangan Widuri. Jika Widuri egois dan tetap pada prinsipnya untuk







