ログインMobil melaju, Widuri masih bingung, kini rasa takut kembali datang menyergap, pelan tapi cukup menusuk. Ia tak tahu akan bagaimana takdir hidupnya saat ini.Minah tak ada di tempatnya, ia pergi, mungkin juga kabur, menghindari kenyataan pahit yang sedang mencari kebenaran. Sedang Widuri masih berputar-putar tak jelas , dari satu sudut ke sudut lain di kota itu, tempat asing yang sama sekali tak ramah, bahkan seolah seperti sengaja menjadikan Widuri sebagai bahan pelampiasan kekacauan."Ma-af tu-an..kita..""Kalo kau punya tujuan lain, aku akan antar kau kesabaran!" potong Zeka, seperti sudah tahu kemana arah ucapan Widuri.Widuri diam, tak berani bicara lagi. Apa yang Zeka katakan memang benar, di tempat asing dengan kondisi selarut itu, kemana ia akan pergi. "Tapi, maaf..sa-ya, saya mau cari tempat penginapan.." ujar Widuri lagi, lirih, sebab rasa ragu terlalu besar untuk ditaklukkan."Tak masalah, ada banyak tempat penginapan di kota ini, aku bisa antar kau kesana, kau punya uangn
Mobil meluncur, kecepatannya bertambah, membelah jalanan yang masih padat oleh kendaraan. Malam terus merangkak, mengungkungi segenap penjuru alam dengan gelap dan dingin yang mulai menusuk. Ada sedikit rasa tenang di dalam diri Widuri, ia kini mulai yakin jika pria yang ada di sampingnya adalah orang baik, lebih tepatnya, ia berharap kiranya dia menang orang yang baik, ia orang yang sungguh ingin menolong Widuri, membebaskan gadis itu dari belenggu ketidakpastian dan rasa terombang-ambing yang saat ini sedang menjajah jiwa dan raganya. Mobil terus melaju, dari jalanan yang padat oleh kendaraan beralih ke jalanan yang agak sepi, meski tetap saja ada kendaraan yang melintas. Rintik hujan tiba-tiba turun, dengan langit yang gelap, Widuri tak tahu jika itu ternyata adalah mendung. Hawa dingin kian merajalela, mengobrak-abrik Rafa Widuri yang lemah dan kacau itu. Mobil berhenti, Widuri melongok dari dalam mobil, di hadapannya, saat ia menoleh kesamping, tampak sebuah bangunan menju
Widuri sudah berada di dalam mobil, hasa dingin dari pendingin udara langsung menyergap tubuhnya yang lelah. Ia duduk persis di sebelah Zeka, hidungnya yang mungil itu mampu mencium aroma wangi yang entah aroma apa itu, ia tak paham, tapi yang jelas aroma itu sungguh hangat dan segar. Rasa takut dan canggung menghantui dirinya, ini jadi yang ketiga kali ia dibawa pergi oleh orang asing dengan tujuan yang entah apa dan kemana. Sekilas ia sempat berfikir jika Zeka mungkin saja sang juru selamat yang diutus oleh Tuhan untuk menolong dirinya, ia membebaskan Widuri dari cengkeraman direktur Willi yang nyaris saja menghancurkan hidupnya. Tapi seketika saat ia tahu ada transaksi dengan nilai fantastis atas pembebasan dirinya, Widuri jadi sedikit skeptis. Ia tak ingin berharap terlalu jauh, sekali lagi, ia sedang berada di tempat asing dan dikelilingi oleh orang-orang asing juga yang tak ia kenal satupun. Tangan Widuri terus mendekap erat tas besar miliknya, satu-satunya benda yang ia mi
"Apa yang kau inginkan?!" tanya Zeka, ia masih berdiri menghadap pintu yang hanya tinggal sejengkal Saha jaraknya dari tempat ia berada. "Tap! tap! tap!" langkah kaki yang dialasi sandal kulit bermerek terdengar mendekat dengan ketukan irama yang teratur namun terdengar jengah. "puffff!!" hembusan nafas yang berat menjadi penanda terhentinya nada irama dari langkah itu. "Kau bisa bawa gadis ini pergi jika kau mau, tapi sebagai gantinya, kau harus kembalikan uang yang sudah aku keluarkan untuk dia" ujar direktur Willi, pelan, tanpa suara lantang, tanpa teriakan, tapi cukup mampu membuat nyali Zeka sedikit ciut. Bukan takut pada direktur Willi, tapi lebih kepada makna yang tersirat dari negoisasi yang sedang ditawarkan. Ini bukan saja tentang uang tebusan, tapi ada hal rumit yang sedang menanti jika Zeka enggan memenuhi tuntutan kakak iparnya itu. "Kenapa aku harus menebus sesuatu yang tidak akan aku gunakan?" protes Zeka. "Heh, kau pikir kau bisa ikut campur semua urusanku karena
"Tuan tolong saya!" Widuri menangkupkan tangannya, memohon belas kasihan Zeka, orang asing yang sama sekali tak ia kenal. "Hei jalang! kau pikir dengan siapa kau sedang bicara, hah?! apa kau pikir dia akan sudi mendengar perkataan konyol mu itu?! sudahlah, kau lebih baik diam! setelah urusan kita selesai kau akan terima uangmu!" oceh direktur Willi yang terlihat kian panik. "Ti-dak tuan! saya mohon tolong saya!" Widuri menggeleng, ia terus meratap sambil berharap Zeka akan peka terhadap ucapannya, bahwa sungguh saat ini ia sedang butuh bantuan. Nasibnya sedang di ujung tanduk, dan tak tahu lagi apakah akan ada kesempatan lagi setelah Zeka, sepertinya tidak. "Dasar kau..!" direktur Willi mengangkat tangan, hendak memukul Widuri yang duduk bersimpuh sambil terus memohon pada Zeka. "Kakak!!" suasana Zeka lantang menggema, membuat direktur Willi urung mengayunkan tangannya. Wajahnya tegang menahan amarah yang begitu besar, amarah yang tak bisa sepenuhnya ia lampiaskan pada Widuri.
"Sial!" umpat Zeka, tak ada yang bisa ia lakukan lagi. Willi yang licik itu selalu menggunakan Stela sebagai katu As untuk membuat Zeka tak berkutik hingga akan selalu menuruti kemauannya.Zeka diam, dengan raut wajah marah yang tertahan, ia memutar badannya, menghadap ke arah pintu, sepertinya hendak pergi.Widuri terhenyak, panik. Sedari tadi rupanya ia diam-diam memperhatikan perdebatan kedua pria itu. Ia tak mengenal mereka sama sekali, tapi jika dilihat sekilas, Zeka sepertinya orang baik, itu menurut pendapat pribadi Widuri. Entahlah, mungkin karena beberapa hari ini ia hanya bertemu dengan orang-orang yang jahat, sehingga mungkin kini ia mulai berhalusinasi dan menganggap ada orang baik yang akan perduli pada dirinya pada nasibnya."Tu-an! tunggu..!!" suasana Widuri yang serak terdengar lirih, ia sebenarnya sudah berteriak cukup kencang, hanya saja akibat terlalu sering menangis, teriakan itu lebih terdengar seperti ratapan, lirih dan menyayat.Langkah Zeka terhenti, sedang Wi







