LOGINIni adalah ke-27 kalinya aku dan Zarend datang ke kantor catatan sipil untuk mendaftarkan pernikahan. Baru saja petugas memanggil nomor antrean kami, Alicia, adik tiri yang mengikuti dari belakang, tiba-tiba membungkuk sambil memegangi perutnya. "Kak, perutku sakit banget." Zarend langsung memapahnya dan berkata, "Aku antar kamu ke rumah sakit sekarang." Alicia buru-buru menggeleng, lalu menjawab, "Nggak usah. Hari ini hari penting kalian. Aku tahan saja." Meski berkata demikian, tangannya yang mencengkeram lengan baju Zarend sama sekali tidak dilepaskan. Zarend mengernyit. "Alicia, jangan memaksakan diri. Kakak antar kamu sekarang." Usai bicara, dia menyelipkan kembali nomor antrean ke tanganku. Aku menatapnya. "Daftar nikah cuma butuh waktu sebentar. Bahkan sepuluh menit pun kamu nggak bisa luangkan untukku?" Dia bahkan tidak melirikku, melainkan berkata, "Toh sudah menunggu 26 kali. Sekali lagi juga nggak ada bedanya." Mendengar nada bicaranya yang seolah semua itu sudah sewajarnya, aku tiba-tiba tertawa. Ternyata selama ini dia tahu. Hanya saja, dia tidak pernah menganggap penantianku sebagai sesuatu yang penting. "Zarend, kalau hari ini kamu nggak menikah denganku, nggak akan ada lagi kesempatan selanjutnya." Dia merangkul Alicia tanpa mengangkat kepala dan berkata, "Jangan bikin masalah dulu. Tunggu sampai aku pastikan Alicia baik-baik saja." Aku menunduk dan mengeluarkan ponsel, lalu mencari sebuah nomor yang sudah lama tidak pernah kuhubungi. [ Datang ke kantor catatan sipil dalam sepuluh menit. Bawa dokumenmu. ]
View MoreDalam video itu, sebelum masuk ke kantor catatan sipil, Alicia masih tersenyum dan berkata, "Hari ini aku akan mengabadikan momen bahagia Kak Zarend dan Kak Celine."Sepuluh menit kemudian, dia memegangi perutnya dan membuat Zarend harus memilih.Eddy tidak mengusirnya dari rumah. Dia hanya mengambil kembali sopir dan apartemen yang selama ini disediakan untuk Alicia, agar Alicia belajar hidup mandiri.Zarend juga tak lagi datang setiap kali Alicia memanggil. Yang hilang darinya bukan kasih sayang keluarga, melainkan hak istimewa yang selama ini dia dapatkan dengan berpura-pura lemah.Awalnya, Alicia berniat mengedit video hari mereka mengurus akta nikah menjadi konten kesehariannya untuk diunggah ke internet.Setelah rekan-rekan satu timnya melihat rekaman itu, untuk pertama kalinya mereka tidak membelanya.Gadis yang bertugas mengedit video itu bahkan langsung bertanya, "Kamu sudah tahu mereka akan mengurus akta nikah, kenapa nggak mencari pendamping untuk pemeriksaan dari awal?"Ali
"Celine nggak pernah melarang Zarend mengurus Alicia. Dia hanya berhenti menunggu. Kalian boleh meminta orang menjaga putri kalian. Tapi kalian nggak berhak menuntut orang lain untuk selamanya mengalah demi dia."Wajah Mira langsung pucat.Eddy menatap Zarend. "Kenapa kamu nggak mengurus akta nikah dengannya lebih dulu?"Zarend menunduk. "Aku pikir ... Celine akan menunggu."Eddy memejamkan mata. Dia seolah akhirnya menyadari bahwa semua ini bukan sekadar keputusan yang dibuat karena emosi sesaat.Hendy kembali duduk di sampingku. "Ayah, aku nggak merebut siapa pun. Celine sendiri yang datang padaku. Dia memilihku, jadi aku nggak akan membiarkan siapa pun memaksanya untuk kembali."Aku menatap wajah sampingnya. Tiba-tiba, hidungku terasa sedikit perih.Selama delapan tahun ini, aku terus berusaha membuktikan bahwa diriku layak dipilih oleh Zarend. Sampai hari ini aku baru menyadarinya. Pilihan yang benar-benar tulus tidak membutuhkanku untuk memperebutkannya, juga tidak membutuhkanku u
"Hari ini aku juga sudah kasih kamu kesempatan. Obatnya ada, mobilnya ada, bahkan ibuku juga bersedia menemaninya.""Aku sudah bertanya padamu sekali dan kamu memilih dia. Ayahku bertanya padamu sekali lagi, kamu tetap memilih dia. Di menit terakhir, aku kembali bertanya padamu.""Zarend, kamu sendiri yang bilang padaku, kapan pun kita mengurus akta nikah, hasilnya sama saja."Bibirnya bergetar. "Aku pikir ....""Pikir apa?"Dia terdiam lama, hingga akhirnya berkata dengan suara serak, "Aku pikir kamu nggak akan benar-benar pergi."Aku tiba-tiba tertawa. Ternyata jawabannya sesederhana itu. "Kamu bukannya nggak tahu aku akan terluka. Kamu hanya mengira aku nggak akan meninggalkanmu."Zarend berdiri di tempatnya, tak mampu berkata apa-apa lagi.Saat ini, kembali terdengar suara langkah kaki dari luar. Alicia masuk dengan ditopang oleh Mira. Wajahnya terlihat jauh lebih baik dibandingkan saat di kantor catatan sipil."Kak Celine, aku benar-benar sakit maag. Kamu nggak bisa menyalahkanku
Baru saja duduk, Hendy langsung berdiri dan membungkuk dengan hormat kepada Ayah dan Ibu."Om, Tante, keputusan hari ini memang sangat mendadak. Tapi aku menikahi Celine bukan untuk membereskan masalah yang ditinggalkan Zarend.""Soal kapan pernikahan digelar atau apakah perlu digelar, semuanya terserah Celine. Om dan Tante juga boleh menilaiku pelan-pelan."Ayah mengernyit. "Akta nikahnya sudah diambil, sekarang kamu baru minta kami menilaimu?"Hendy terdiam sejenak. "Kalau begitu, aku siap dinilai selama yang Om dan Tante butuhkan."Karin tak kuasa menahan tawa. Suasana yang sejak pagi tegang akhirnya sedikit mencair.Sebelum makanan tersaji semuanya, Hendy kembali mengeluarkan sebuah dokumen. Aku mengernyit."Apa ini?""Draf pengaturan harta sebelum dan sesudah menikah. Bukan untuk kamu tanda tangani sekarang."Dia mendorong dokumen itu ke depanku. "Harta yang kamu miliki sebelum nikah tetap sepenuhnya menjadi milikmu. Untuk pengeluaran bersama setelah menikah, kita bisa bikin reken






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.