LOGINSuasana di kediaman Jeandra dan Zelena dipenuhi orang-orang. Karena hari tersebut syukuran empat bulanan kehamilan Zelena digelar secara hangat. Mereka hanya mengundang keluarga besar dan kerabat terdekat.Mengenakan kaftan berwarna sage yang lembut, tangannya tak lepas mengusap perutnya yang kini menonjol, membentuk kurva kehidupan yang nyata. Di sampingnya, Jeandra duduk dengan gagah. Sesekali, Jeandra menggenggam tangan istrinya, menyalurkan kekuatan dan rasa syukur yang tak terlukiskan lewat kata-kata.Bagi mereka, momen empat bulanan ini adalah gerbang spiritual yang luar biasa. Dalam keyakinan yang mereka peluk, di usia empat bulan inilah momen sakral itu terjadi, ketika malaikat diutus untuk meniupkan ruh ke dalam janin. Di saat itulah sang calon manusia bukan lagi sekadar gumpalan daging dan darah, melainkan entitas yang memiliki jiwa, pendengaran, dan ketetapan takdir.Zelena memejamkan mata beberapa detik ketika merasakan denyut halus di rahimnya. Ia membayangkan di dalam
“Bang, aku mau resign.”Ucapan itu disampaikan Kavita pada Jeandra di ruangan kerja lelaki itu saat menyerahkan laporan.Jeandra yang sedang memeriksa laporan dimaksud langsung mengangkat muka menatap pada Kavita. Lalu tawanya meluncur begitu saja. “Resign? Canggih amat bahasanya,Ta. Emangnya kamu kerja di sini? Kamu tuh cuma magang.” Di akhir kalimatnya Jeandra mengulurkan tangan mengacak gemas rambut Kavita.Kavita terpaku. Ia sudah menyiapkan mental untuk diinterogasi habis-habisan, tapi reaksi santai Jeandra justru membuatnya merasa seperti baru saja menabrak tembok busa. Lembut, tapi tetap menahannya di tempat.Jeandra kembali fokus pada lembaran di depannya, sesekali membubuhkan coretan kecil dengan pulpen hitamnya. “Bang Je, aku serius. Terserah namanya apa. Aku tetap mau resign,” ucap Kavita sekali lagi dengan wajah bersungguh-sungguh.Jeandra menghentikan gerakan pulpennya. Tawa yang tadi sempat menghiasi wajahnya kini perlahan memudar, digantikan oleh kerutan di dahi yang
Setelah sarapan usai, Jeandra dan Zelena sibuk membongkar koper oleh-oleh di ruang tengah, ditemani celoteh riang Aira. Inilah kesempatan Kavita. Ia melihat Nayaka membawa cangkir kotornya ke dapur. Meskipun ada ART, tapi Nayaka sudah terbiasa mandiri.Kavita segera berdiri, meninggalkan oatmeal-nya yang baru dimakan separuh, lalu menyusul ke belakang.Di dapur, Nayaka sedang berdiri membelakanginya, membilas cangkir di bawah kucuran air keran."Om," panggil Kavita sepelan mungkin.Gerakan tangan Nayaka terhenti beberapa detik, namun ia tidak memutar tubuhnya. Ia mematikan keran, lalu mengelap tangannya."Kenapa, Ta? Kalau mau sesuatu minta tolong Bibi," ucap Nayaka tanpa nada, suaranya sedatar aspal jalanan tadi malam."Aku nggak butuh apa-apa, cuma mau bicara sebentar," jawab Kavita cepat. Ia melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka. "Aku mau tanya soal semalam."Nayaka akhirnya memutar tubuh mengarah pada Kavita. "Semalam apa? Kan, sudah jelas. Aku jemput kamu, ka
Nayaka masih diam, sedangkan Zelena menunggu jawaban laki-laki itu.Zelena sempat berpandangan dengan Jeandra atas reaksi Nayaka. Jeandra mengangkat bahunya sebagai tanda tidak tahu.“Naka,” panggil Zelena, mengingatkan bahwa dirinya butuh jawaban."Oh, itu..." Nayaka berdeham, berusaha menormalkan pita suaranya yang mendadak terasa kaku. Ia tetap menatap lurus pada aspal yang mengilap tertimpa lampu jalan. "Tadi aku sempat jemput Kavita ke kantornya. Dia ada lembur sampai malam. Jadi mungkin karena itu ada bau parfumnya.” Nayaka berharap jawabannya cukup logis untuk memuaskan rasa ingin tahu Zelena.Jeandra yang sedari tadi lebih banyak diam, kini membuka suara. Suaranya berat dan tenang, namun bagi Nayaka, setiap kata yang keluar dari mulut pria itu selalu memiliki bobot yang menekan. "Gimana kabar Kavita sama Aira selama kami di Jerman, Ka?”Nayaka telan salivanya. Bayangan Kavita yang menari liar di kelab malam dan ciuman panas di lampu merah tadi mendadak berputar di kepalanya.
Zelena melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah lebih dari tiga puluh menit dirinya dan Jeandra menunggu kedatangan Nayaka, tapi lelaki itu masih belum muncul juga. "Katanya on the way," Jeandra menggumam pelan. “Tahu begini mending suruh Pak Anton yang jemput,” sambungnya menyebut nama supirnya. Zelena memandang Jeandra yang duduk dengan tangan terlipat di dada. Suaminya itu tidak banyak bicara sejak tadi, tapi Zelena hafal betul cara rahang Jeandra mengatup seperti itu berarti kesabarannya sudah semakin tipis. "Sabar, Je,” Zelena mengusap lengan suaminya. Saat ini mereka sedang menanti di executive lounge. "Kamu nggak apa-apa? Capek?" Jeandra melirik perut Zelena, tatapannya menyimpan kekhawatiran yang tidak pernah benar-benar bisa ia sembunyikan. Ia tidak ingin istrinya merasa tidak nyaman sekecil apa pun itu, termasuk karena kelamaan menunggu. "Aman, Je, aku baik-baik aja." Zelena tersenyum tipis. Penerbangan first class Berlin-Jakarta memang panjang, tap
Rentetan suara klakson dari kendaraan di belakang mereka karena lampu hijau sudah menyala membuat keduanya terperanjat.Nayaka memutus ciuman dengan cepat. Ia menarik diri. Napasnya tidak teratur. Bibirnya masih terasa hangat dari bekas sentuhan Kavita, dan itu adalah masalah yang tidak boleh ia pikirkan lebih dari tiga detik.Ia menginjak gas.Kavita terdiam. Tangannya gemetar saat meraih sabuk pengaman dan mengenakannya kembali. Ia tidak berani melirik ke arah Nayaka. Tidak berani berbicara. Alkohol yang tadi terasa mengambang di kepalanya kini seperti diusir paksa oleh sesuatu yang jauh lebih memabukkan sekaligus membekukan, yaitu rasa malu yang menghantam dirinya.Kavita mengalihkan wajah ke jendela, menatap deretan lampu yang melesat, mencoba menjadikan cahaya-cahaya itu sebagai sesuatu yang bisa ia fokuskan agar tidak tenggelam dalam rasa malunya.Hanya saja Kavita tidak habis pikir. Kenapa Nayaka membalas ciumannya?Di balik kemudi, Nayaka tidak membiarkan dirinya berpikir. Itu
Setelah insiden pahit di ruang perawatan Jeandra, Zelena membangun jarak dengan laki-laki itu. Selama Jeandra masih dalam masa pemulihan di rumah sakit, Zelena tidak pernah lagi muncul. Namun, Jeandra yang sedang kalut tidak tinggal diam. Dari atas tempat tidurnya, ia melancarkan serangan bertubi
Berita tentang serangan air keras itu menyebar secepat api di musim kering. Desas-desus liar memenuhi pikiran orang-orang, mulai dari teori persaingan bisnis hingga masalah pribadi yang kelam. Begitu Zelena datang, para rekan kerjanya langsung mengerubungi seperti semut. Mereka meminta Zelena men
Jeandra tidak segera menjawab. Tangannya naik memijit pangkal hidungnya, membuat Zelena langsung melihat luka akibat siraman air keras itu. Kulit yang mengerut dan kemerahan tersebut merambat dari punggung tangan hingga ke balik lengan yang tertutup kemeja lengan panjang. Luka itu masih terlihat mu
Pesan singkat dari Sandra mendarat di ponsel Valerie tepat saat wanita itu sedang menuangkan wine ke gelasnya dengan tangan gemetar. Membaca pesan itu, Valerie menjerit histeris, tangannya menyapu semua gelas kristal di atas mejanya hingga hancur berkeping-keping. “Sombong! Wanita murahan itu ben







