LOGINSamar-samar Zelena mendengar suara-suara. Awalnya lirih, lalu semakin jelas. Suara langkah kaki, dan percakapan percakapan yang tidak bisa ia pahami. Perlahan, kesadarannya mulai kembali.
Ia merasakan sakit di sekujur tubuhnya, terutama di kepala. Matanya terasa berat, namun ia berusaha membukanya. Cahaya putih yang menyilaukan langsung menyambutnya. Zelena mengerjap-ngerjapkan mata, mencoba menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar. Ia berada di sebuah ruangan serba putih. Bau obat-obatan langsung menusuk hidungnya. Zelena menyadari, ia berada di rumah sakit. Seorang wanita berjas putih mendekat. Wajahnya tampak ramah dan penuh perhatian. “Syukurlah Ibu sudah sadar,” ucapnya. Zelena mencoba mengingat apa yang terjadi sebelumnya. Jeandra, makan malam, jalanan sepi, dan kemudian gelap. Air mata kembali menggenang di pelupuk matanya. Jeandra meninggalkannya. “Siapa yang membawa saya ke sini, Dok?” tanyanya dengan suara bergetar. Dokter wanita itu tersenyum tipis. “Tadi ada laki-laki yang menemukan Ibu. Dia membawa Ibu ke sini.” Zelena terdiam. Seorang pria asing menolongnya, sementara suaminya sendiri meninggalkannya di jalanan. Ironi yang pahit. “Bagaimana keadaan saya, Dok?” Dokter itu menarik napas dalam sebelum menjawab. “Kondisi Ibu cukup lemah karena demam tinggi dan kurang istirahat. Tapi ada kabar baik.” Zelena menatap dokter dengan bingung. Kabar baik? Apa yang bisa menjadi kabar baik dalam situasi seperti ini? “Selamat ya, Bu. Ibu sedang mengandung.” Dokter tersenyum memberitahu. Zelena terkejut. Matanya membulat sempurna. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. “Mengandung? Tapi bagaimana mungkin?” “Usia kandungan Ibu sekitar enam minggu. Mungkin Ibu belum menyadarinya karena beberapa gejala awal kehamilan seringkali mirip dengan gejala penyakit biasa.” Zelena menggelengkan kepala. “Nggak mungkin, Dok. Saya masih haid tiga hari yang lalu.” Dokter tersenyum sabar. “Itu bukan haid, Bu. Itu adalah pendarahan implantasi. Pendarahan ringan yang terjadi ketika embrio menempel pada dinding rahim. Banyak wanita yang salah mengira sebagai haid.” Zelena masih tidak bisa mencerna informasi tersebut. Ia hamil? Setelah sekian lama menunggu dan berharap, akhirnya ia mengandung? Air mata haru mengalir deras di pipinya. Ia mengelus perutnya dengan lembut. Di dalam sana ada kehidupan baru. Ada buah cintanya dengan Jeandra. Walaupun saat ini ia merasa sangat sedih dan kecewa pada suaminya itu. Namun, kebahagiaan itu bercampur dengan ketakutan. Bagaimana jika kandungannya kembali lemah dan ia mengalami keguguran lagi? “Bu, ada pihak keluarga yang bisa dihubungi? Suami Ibu mungkin.” Pertanyaan dokter mengeluarkan Zelena dari lamunan singkat. “Suami saya, Dok. Tolong hubungi dia.” Zelena lalu menyebutkan sepuluh angka yang harus dihubungi. Dokter mengangguk dan memberi isyarat kepada seorang perawat untuk segera menghubungi nomor tersebut. Zelena menunggu dengan jantung berdebar kencang. Beberapa saat kemudian perawat itu kembali dengan wajah menyesal. “Maaf, Bu, nomor yang Ibu berikan tidak bisa dihubungi. Sepertinya sedang tidak aktif atau di luar jangkauan.” “Coba lagi, Sus. Ini nomor yang benar kok.” Perawat itu mencoba lagi, namun hasilnya tetap sama. Nada sambung yang terdengar hanya mengatakan bahwa nomor tersebut tidak dapat dihubungi. Dengan tangan gemetar Zelena mengambil ponselnya sendiri dan mencoba menghubungi Jeandra. Ia berharap ada keajaiban, namun yang ia dapatkan hanyalah kekecewaan yang mendalam. “Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Silakan coba beberapa saat lagi,” suara operator terdengar dingin di telinganya. Air mata Zelena kembali mengalir. Ia merasa sendirian dan tidak berdaya. Ke mana Jeandra pergi? Mengapa ia tidak bisa dihubungi? Apakah lelaki itu tidak khawatir karena Zelena masih belum pulang ke rumah? “Saya mau pulang, Dok,” pinta Zelena dengan suara lirih. Ia tidak tahan lagi berada di rumah sakit yang terasa begitu asing. Ia tidak nyaman di sana. Ia ingin pulang ke rumahnya, meskipun ia tahu bahwa di sana pun ia akan merasa kesepian. Dokter itu tampak ragu. “Tapi, Bu, kondisi Ibu masih lemah. Sebaiknya Ibu istirahat dulu di sini sampai benar-benar pulih.” “Saya kuat, Dok. Saya mau pulang. Saya nggak bisa istirahat di sini. Saya ingin berada di rumah sendiri.” Zelena bersikeras dengan keinginannya. Melihat tekad Zelena yang begitu kuat, dokter akhirnya mengalah. “Baiklah, Bu. Tapi kami akan mengantar Ibu pulang. Kami tidak ingin terjadi apa-apa di jalan.” Malam itu juga pihak rumah sakit mengantar Zelena pulang ke rumahnya. Sepanjang perjalanan pikirannya terus berkecamuk. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Kehamilan ini membuatnya sedikit gugup. Ia takut tidak bisa menjaganya dengan baik. Sesampainya di rumah Zelena mendapati bahwa Jeandra belum pulang. Rumah bernuansa putih itu tampak sepi. Ia masuk ke dalam rumah dengan langkah lunglai dan merebahkan diri di tempat tidur. Air mata terus mengalir di pipinya hingga ia tertidur karena kelelahan. Keesokan paginya Zelena terbangun dengan perasaan bersemangat. Ia akan menyampaikan pada Jeandra mengenai kehamilannya. Ia melirik ke samping tempat tidur dan mendapati bahwa Jeandra tidak ada di sana. Seketika Zelena merasa kecewa. Ia menemukan handuk basah di kasur yang berarti Jeandra pulang larut di saat Zelena sudah tidur lalu tadi pergi pagi-pagi sekali di saat Zelena belum bangun. Ia bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi. Saat bercermin, ia melihat wajahnya yang pucat dan mata yang sembap karena menangis semalaman. “Aku harus kuat,” gumamnya pada diri sendiri. “Aku harus berjuang untuk diriku sendiri dan untuk anakku. Kali ini anakku harus lahir agar Jeandra mau membalas cintaku.” Zelena sering mendengar bahwa anak adalah perekat hubungan suami istri. Zelena berharap jika mereka memiliki anak nanti Jeandra akan berbalik mencintainya. Setelah membersihkan diri, ia memutuskan pergi ke apotik untuk membeli test pack. Ia ingin memastikan sendiri bahwa dirinya benar-benar hamil. Ia tidak sabar untuk melihat hasilnya. Setelah mendapatkan test pack, Zelena bergegas pulang dan segera melakukan tes kehamilan di kamar mandi. Ia menunggu dengan cemas. Selama beberapa menit jantungnya berdebar kencang. Akhirnya, ia memberanikan diri untuk melihat hasilnya. Dua garis merah. Positif. Ia benar-benar hamil. Air mata haru kembali mengalir di pipinya. Ia mengelus perutnya dengan lembut dan tersenyum. Setelah mendapatkan kepastian tentang kehamilannya, Zelena yang tidak sabar memutuskan untuk menyusul Jeandra ke kantornya. Ia ingin memberitahukan kabar baik ini secara langsung kepada suaminya. Ia berharap Jeandra akan senang dan tersenyum padanya. Senyum yang tidak pernah ia dapatkan selama tiga tahun pernikahan mereka. Dengan semangat yang baru, Zelena segera berangkat menuju kantor Jeandra. Ia sengaja menggunakan ojek demi menghindari kemacetan. Setelah ojeknya tiba, Zelena langsung naik. Jalanan begitu padat, tapi udara pagi yang sejuk membuatnya merasa sedikit lebih baik. Ia merapatkan tas di pangkuan, seolah takut test pack-nya akan hilang jika longgar sedikit saja. Pikirannya penuh oleh Jeandra. Oleh reaksinya nanti. Oleh bayangan bahwa suaminya itu akan tersenyum, menariknya ke pelukan. Saat Zelena sedang berangan-angan, suara benturan keras terdengar dari belakang. Motornya ditabrak dengan kuat. Zelena terkejut dan jatuh menghantam aspal. Ia meringis kesakitan. Seluruh tubuhnya terasa remuk. Satu-satunya yang ingin ia lindungi saat itu adalah perutnya. Dengan setitik kesadaran yang tersisa, Zelena merogoh handphone di saku celana dan menekan nomor Jeandra yang berada di panggilan terbaru. Jeandra tidak langsung menjawab. Zelena terus menunggu sambil menahan rasa sakit. Ia tidak sanggup membuka matanya. Napasnya putus-putus. Lalu suara datar itu terdengar. “Halo.” “Je ... tolong ... aku ... kecelakaan ....” Terbata-bata Zelena memberitahu. Tidak ada jawaban. Jeandra tahu ini adalah cara lain Zelena untuk mencari perhatian. Perempuan itu memiliki banyak trik yang sudah Jeandra hafal. Tidak mempan dengan cara pura-pura sakit, ia menggunakan cara yang lebih extrem. “Jeandra ... aku ... nggak ... kuat ... lagi ...,” lirih Zelena dengan tubuh yang bertambah lemah. “Berhentilah mencari perhatian, Zelena. Aku sibuk. Nggak ada waktu untuk hal-hal begini. Kalau kamu bisa menghubungiku, artinya kamu bisa ke rumah sakit sendiri.” Jawaban yang Zelena dengar membuat hatinya hancur. Namun, seolah tidak cukup membuatnya luluh-lantak, di ujung kesadarannya Zelena masih sempat mendengar suara yang sangat ia hafal. Suara Valerie. “Je, siapa yang nelepon?” tanya suara manja itu. Hati Zelena tidak berbentuk lagi. Bertahun-tahun mencintai Jeandra secara sepihak ternyata inilah yang ia dapatkan. Zelena merasa sangat bodoh karena telah menyia-nyiakan hidupnya dan merendahkan harga dirinya dengan mencintai orang yang salah. Orang yang sama sekali tidak pantas mendapatkan cinta sebesar ini darinya. Zelena sangat menyesal. Panggilan telah terputus sejak beberapa saat yang lalu. Di ujung kesadarannya Zelena mendengar suara ambulans yang datang mendekat. Lalu ia tidak tahu apa-apa. ***Zelena tentu terkejut mendengar ucapan Jeandra. Dari isi perkataan suaminya seolah-olah dia sangat mengenal perempuan itu cukup lama.“Jadi kamu kenal dia? Kenapa kamu hafal jam tangannya? Memangnya kamu lihat di mana? Siapa orang itu, Je?” rentet Zelena bertubi-tubi.“Dia Valerie, Zel," jawab Jeandra setelah helaan napas berat.Zelena tersentak kaget. “Valerie? Sahabat kamu sekaligus pacar yang nggak pernah mau kamu akui?”“Aku nggak pernah pacaran sama dia,” bantah Jeandra. “Kami memang dekat tapi nggak ada hubungan lebih dari itu.”Perasaan sakit kembali merayapi hati Zelena ketika ingat dulu Jeandra lebih mengutamakan dan meratukan Valerie. Padahaljelas-jelas Zelena istrinya. Tapi ia tidak memberi izin pada rasa itu untuk merusak kebahagiaannya. Semua sudah lewat. Zelena sudah berdamai dengan masa lalu.“Kalau aku jujur, kamu jangan marah ya, Sayang,” imbuh Jeandra tidak enak hati lantaran tidak ingin melukai Zelena lagi.“Ya, aku nggak akan marah. Bilang aja, Je.”“Soal jam tang
Setelah mendapatkan penanganan, kondisi Aira stabil dengan cepat. Karena tidak ada demam tinggi atau tanda infeksi sistemik yang membahayakan, dokter mengizinkan Aira pulang dengan syarat obat-obatan harus diminum di rumah dan apabila terjadi kondisi darurat harus segera dibawa secepatnya ke rumah sakit.Jadi, mereka pulang ke rumah malam itu juga.Mobil Nayaka berhenti di rumah tepat sebelum subuh. Aira sudah tertidur lelap di pangkuan Kavita. Wajahnya masih sangat pucat namun napasnya sudah teratur.Nayaka menggendong Aira dan melangkah masuk ke dalam rumah, diikuti oleh Kavita yang berjalan gontai karena kelelahan luar biasa. Begitu sampai di kamar, Nayaka meletakkan Aira dengan sangat hati-hati di atas tempat tidur, menyelimutinya hingga sebatas dada.Kavita memandangi Nayaka dari belakang. Ada rasa kagum yang menyeruak di hatinya melihat bagaimana pria itu begitu lembut memperlakukan keponakannya."Om," panggil Kavita.Nayaka menoleh, memberikan isyarat agar mereka bicara di
Jeandra tidak segera menjawab. Ia mengambil ponsel Zelena, meletakkannya di meja, lalu merengkuh bahu istrinya."Zel, tenang dulu. Kalau itu orang suruhan Mama, dia nggak akan seceroboh itu menyerang ke sekolah Aira.”"Terus siapa, Je? Aku takut. Untuk apa coba orang itu ngasih kue sampai boneka?" Zelena meremas ujung kemeja Jeandra. "Gimana kalau dia orang jahat? Gimana kalau itu modus penculikan?"Jeandra menggeleng menidakkan dugaan Zelena. Ia langsung mengambil ponselnya sendiri dan men-dial sebuah nomor. "Beryl," sapa Jeandra begitu telepon diangkat. "Besok pagi sebelum ke kantor kamu jemput Aira, pastikan dia masuk ke sekolah dengan aman. Sebelum jam pulang sekolah, kamu harus stand by di sana setengah jam sebelumnya. Kamu perhatikan apa ada perempuan berhijab dengan kacamata hitam yang menemui Aira. Cari tahu dia datang pakai kendaraan apa, plat nomornya berapa. Saya mau data lengkapnya."Di seberang sana, Beryl terdengar sigap mengiyakan. Jeandra menutup telepon, lalu kem
Setelah panggilan video berakhir, Jeandra menarik tangannya yang tadi sempat berbuat nakal, namun ia tidak membiarkan Zelena menjauh. Ia membalikkan tubuh istrinya hingga mereka berdiri berhadapan."Je, kamu tuh benar-benar ya. Nayaka pasti canggung banget tadi," ujar Zelena dengan napas yang masih sedikit memburu karena tawa dan godaan Jeandra.Jeandra hanya tersenyum tipis, sorot matanya yang dalam menatap Zelena dengan penuh kepemilikan. "Aku cuma mau dia tahu, dan dunia tahu, kalau istriku ini lagi bahagia. Dan aku yang akan memastikan kebahagiaan itu nggak akan pernah hilang." Ia kemudian menangkup wajah Zelena dengan kedua tangannya. "Kamu dengar, kan, tadi? Nayaka janji mau bantu urus Aira. Jadi, nggak ada alasan lagi buat kamu ngerasa khawatir. Sekarang, fokusnya cuma satu, yaitu kita."Zelena mengangguk. Sebelum ia sempat berkata lagi, Jeandra sudah menariknya ke tempat tidur.***Malam harinya, resort tersebut menyiapkan private dinner untuk mereka di sebuah dek kayu ya
Begitu roda pesawat menyentuh landasan Bandara Ngurah Rai, udara khas Bali langsung menyapa. Jeandra menggandeng tangan Zelena dengan erat saat mereka berjalan menuju area penjemputan. Di sana, seorang staf dari resort mewah di Uluwatu sudah menunggu dengan papan nama dan senyum ramah.Perjalanan menuju selatan Bali terasa sangat menenangkan. Begitu memasuki area Uluwatu, pemandangan tebing kapur dan hamparan Samudera Hindia mulai terlihat. Mobil akhirnya berhenti di depan lobi resort, sebuah mahakarya arsitektur yang bertengger di bibir tebing. Aromaterapi yang memenuhi area lobi seketika menyerbu indra penciuman mereka.Staf resort mengantar mereka menuju private villa dengan infinity pool yang airnya seolah menyatu dengan cakrawala biru. Zelena melangkah ke balkon, membiarkan angin laut memainkan rambutnya. Jeandra datang dari belakang, melingkarkan lengannya di pinggang Zelena.Zelena memutar tubuhnya, menatap mata Jeandra yang teduh. "Aku suka view-nya, Je, cantik banget.”
Zelena dan Jeandra akhirnya menggunakan hadiah pernikahan dari Nayaka. Hari ini mereka akan berangkat ke Bali. Di saat Jeandra dibantu Beryl memasukkan koper ke dalam mobil, Zelena sedang memeluk Aira erat-erat."Aira sama Tante Kavita dulu ya. Nggak lama kok. Nanti Mama bawain hadiah yang banyak," ujar Zelena sambil menciumi pipi putrinya.“Tapi nanti siapa yang ngantar aku sekolah, Ma?” tanya anak itu.“Nanti sama Om Beryl sama Tante Kavita.”“Sama Om Nayaka juga,” sambar Kavita ikut masuk ke dalam pembicaraan.Zelena sempat tertegun sejenak mendengar nama itu disebut, sementara Jeandra yang baru saja masuk untuk menjemput koper terakhir langsung menghentikan langkahnya. Matanya menyipit menatap Kavita."Kenapa jadi ada Nayaka?" tanya Jeandra dengan nada selidik yang tidak bisa ia sembunyikan.Kavita tertawa kecil, berusaha menyembunyikan kegugupannya. “Ya maksudku dia, kan, orang kepercayaan juga. Jadi apa salahnya?”“Tapi nggak mungkin juga Nayaka terlibat terlalu jauh sampai m







