بيت / Romansa / Dikejar Mantan Boss! / Bab 6 Perangkap Kertas Kerja

مشاركة

Bab 6 Perangkap Kertas Kerja

مؤلف: Suci Awaliah
last update تاريخ النشر: 2026-08-29 12:34:14

"Jaga mulutmu, Clara," potong Reno dingin, melangkah maju hingga tubuh jangkungnya menghalangi Anindya dari pandangan wanita bergaun merah itu. "Ini ruang kerja saya, bukan panggung drama kamu."

"Drama kamu bilang?!" Clara melangkah mendekat, jarinya menunjuk Anindya dengan sengit. "Kamu batalin pertunangan keluarga kita cuma demi cewek staf biasa yang ibunya aja mantanan penipu?! Kamu udah gila, Reno!"

Anindya yang tadinya sibuk memandangi cincin di jarinya seketika menegang. Rasa emosi merayapi dadanya.

"Mbak Clara kalau ngomong tolong disaring ya!" sergah Anindya membalas tatapan tajam Clara. "Ibu saya nggak salah apa-apa! Itu cuma fitnah rekayasa Tuan Hendra!"

"Dih, berani kamu nyaut?!" bentak Clara, hendak mendekati Anindya dengan tangan terangkat.

Namun sebelum tangan Clara sempat menyentuh Anindya, Reno memegang pergelangan tangan Clara dengan remasan yang cukup kuat hingga wanita itu meringis.

"Sekali lagi kamu angkat tangan di depan saya, Clara... saya pastikan nama keluargamu dicoret dari seluruh jajaran asosiasi pengusaha," ancam Reno dengan nada rendah yang amat berbahaya.

Reno menghempaskan tangan Clara kasar. Pria itu menekan tombol interkom di mejanya. "Keamanan, naik ke lantai atas sekarang. Sisir dan bawa Nona Clara keluar dari gedung ini."

"Reno! Kamu bakal nyesel! Kamu sama cewek udik ini nggak bakal pernah tenang!" jerit Clara meluapkan emosinya sebelum dua petugas keamanan menariknya keluar dari ruangan.

Suasana ruangan kembali hening. Anindya menghela napas panjang, mengusap dadanya yang naik-turun.

Gue baru lepas dari terkaman harimau, sekarang malah masuk ke kandang singa, batin Anindya meratapi nasib.

"Kenapa? Takut?" suara Reno memecah lamunan Anindya. Pria itu sudah kembali duduk santai di kursi kebesarannya.

"Ya takutlah! Musuh Bapak tuh kelas berat semua! Mana saya mendadak ditempelin cincin ginian lagi!" omel Anindya sambil meraba cincin berlian yang melekat di jari manisnya.

Reno terkekeh pelan. "Itu pelindungmu, Anindya. Mulai hari ini, tugasmu bukan cuma mengurus jadwal saya."

Pria itu menarik sebendel berkas tebal dari dalam laci meja dan melemparnya ke hadapan Anindya.

TAK!

Anindya mengerutkan dahi. "Apaan nih, Pak? Surat pemecatan berhadiah?"

"Itu Perangkap Kertas Kerja," ujar Reno tenang. "Audit internal laporan keuangan proyek Grand Resort lima tahun lalu. Ada kebocoran dana sebesar lima puluh miliar, dan nama ibumu terseret di lembar lampiran sebagai penerima transferan akhir."

Jantung Anindya mendadak berhenti berdetak seraksa. "M-maksud Bapak...?"

"Hendra nggak cuma bikin laporan palsu soal toko emas," lanjut Reno sembari menatap Anindya tajam. "Dia sengaja menanam dokumen ini di arsip lama perusahaan saya tiga tahun lalu. Dia sudah menyiapkan jebakan ini dari jauh-jauh hari untuk mengunci saya dan menghancurkan ibumu."

Anindya meraih berkas itu dengan tangan gemetaran. Di sana, pada lembar kuning yang agak kusam, tertera tanda tangan yang sangat mirip dengan tanda tangan ibunya!

"Ibu saya cuma ibu rumah tangga biasa, Pak! Mana paham dia transaksi puluhan miliar begini!" tangis Anindya mulai pecah lagi.

Reno berdiri, berjalan mendekati Anindya lalu meraih berkas tebal itu dari genggaman sang gadis. Tangannya kemudian mengusap lembut puncak kepala Anindya—tindakan kecil yang sukses membuat gadis itu membeku.

"Makanya saya bilang, tetap di samping saya," bisik Reno pelan. "Dokumen ini asli tapi isinya rekayasa. Cuma saya yang pegang salinan pertamanya. Kalau kamu kabur atau resign, berkas ini bisa jatuh ke tangan jaksa kapan saja."

Anindya mendongak, menatap mata elang milik bosnya. "Bapak lagi ngancem saya atau mau nolongin saya sih?!"

"Dua-duanya," jawab Reno santai tanpa rasa dosa. "Sekarang, hapus air matamu. Ikut saya ke lantai bawah. Kita ada rapat direksi."

"Rapat direksi? Saya kan cuma staf biasa, Pak!"

"Bukan staf biasa lagi," Reno tersenyum tipis, lalu menggandeng tangan Anindya rapat-rapat, mengunci jemari mereka di atas cincin berlian yang baru terpasang. "Mulai detik ini, kamu Sekretaris Pribadi sekaligus calon istri CEO. Dan kita akan tunjukkan pada mereka siapa yang pegang kendali."

Anindya pasrah dituntun keluar ruangan. Namun saat pintu lift terbuka di lantai direksi, ponsel di saku jas Reno bergetar. Reno merogoh ponselnya, dan raut wajah pria itu mendadak berubah sangat keruh tatkala membaca sebuah pesan singkat yang masuk.

Anindya melirik layar ponsel Reno secara sembunyi-sembunyi. Sebuah pesan foto terkirim dari nomor tak dikenal.

Foto itu memperlihatkan Ibu Anindya yang sedang duduk di penthouse Reno... sementara di belakangnya, berdiri seorang pria berjaket hitam yang sedang memegang sebuah pisau lipat!

Di bawah foto itu terdapat satu baris kalimat ancaman:

"Serahkan dokumen audit lima tahun lalu dalam waktu 1 jam, atau calon ibu mertuamu tidak akan pernah keluar dari penthouse itu dengan bernapas."

Tubuh Anindya langsung gemetaran hebat begitu melihat foto di layar ponsel Reno. Napasnya tercekat di tenggorokan, dan mukanya pucat seputih kertas.

"I-Ibu... Pak, itu Ibu!" jerit Anindya panik, suaranya parau. Jari-jarinya mencengkeram lengan jas Reno sampai kain mahal itu kusut. "Gimana bisa ada penyusup di penthouse Bapak?! Bukannya di sana penjagaannya ketat?!"

Reno tetap berdiri tegak, meski rahangnya mengeras dan tatapannya mendadak menggelegar dingin. Pria itu menyapukan jarinya di layar ponsel, mengetik sesuatu dengan sangat tenang—ketenangan yang justru terasa menakutkan.

"Tenang, Anindya. Jangan panik," bisik Reno tegas, jemarinya menggenggam balik jemari Anindya yang dingin.

"Gimana saya nggak panik, Pak?! Ibu saya diancam pisau! Kita harus ke penthouse sekarang!" Anindya sudah hendak berbalik berlari menuju lift, tapi Reno menahan pinggangnya dengan satu tangan.

"Kalau kita jalan sekarang, orang itu bakal tahu kita masuk dan bisa nekat," potong Reno cepat. "Dengar saya. Penthouse itu punya jalur keamanan otomatis. Pria berjaket hitam itu cuma belum sadar kalau dia sedang masuk ke perangkapnya sendiri."

Anindya mendongak dengan mata berkaca-kaca. "M-maksud Bapak?"

"Buka ruang rapat direksi," perintah Reno pada sekuritas di sebelahnya melalui interkom. Pria itu lalu menatap Anindya. "Ikut saya masuk. Biarkan para direksi melihat berkas audit ini dulu."

"Tapi Ibu—"

"Satu menit. Beri saya waktu satu menit di dalam," tegas Reno dengan nada tak terbantahkan.

Pintu ruang rapat direksi terbuka. Puluhan petinggi perusahaan dan jajaran komisaris—termasuk beberapa sekutu Tuan Hendra—sudah duduk melingkari meja oval besar. Suasana yang tadinya bising seketika hening saat sang CEO masuk membawa seorang staf wanita yang tangannya tergenggam erat.

"Pak Reno, rapat sudah tertunda sepuluh menit," tegur salah satu komisaris senior dengan wajah masam. "Dan kenapa Anda membawa staf biasa ke ruang rapat strategis ini?"

Reno tidak membalas tegoran itu. Dengan gerakan tenang namun penuh dominasi, pria itu melemparkan bundelan Perangkap Kertas Kerja—dokumen audit lima tahun lalu—tepat ke tengah meja rapat.

Brak!

"Itu laporan audit palsu proyek Grand Resort yang baru saja dikirim oleh Tuan Hendra untuk memeras saya," ucap Reno nyaring, suaranya menggema di seluruh ruangan. "Di dalamnya ada nama ibu dari calon istri saya, Anindya. Hendra mencoba mengkambinghitamkan keluarga staf saya demi menutupi kebocoran dana lima puluh miliar yang sebenarnya masuk ke rekening anak perusahaannya sendiri."

Para direksi saling pandang, kasak-kusuk langsung pecah seketika.

"Pak Wibowo," panggil Reno ke arah pintu. Kuasa hukum perusahaan langsung masuk membawa dokumen tandingan. "Serahkan bukti transfer asli ke seluruh anggota komite. Hari ini juga, usulkan pemecatan tidak dengan hormat untuk seluruh saham keluarga Hendra dari jajaran direksi."

Setelah melempar bom di ruang rapat, Reno tidak menunggu respons para direksi. Pria itu langsung menarik Anindya keluar ruangan, meninggalkan jajaran komisaris yang heboh saling tuduh.

"Pak, terus Ibu gimana?!" bisik Anindya setengah berlari mengimbangi langkah lebar Reno menuju pintu darurat.

"Sopir saya tidak pernah meninggalkan Ibu kamu di penthouse sendirian, Anindya," ujar Reno santai sembari mengeluarkan ponsel kedua dari dalam saku celananya. Pria itu menekan satu tombol di layar. "Foto tadi dikirim untuk memancing kita menyerahkan berkas asli."

"Maksudnya... foto itu bohong?!"

"Bukan bohong, tapi si penyusup yang kena tipu," Reno terkekeh dingin. Ia memperlihatkan layar ponselnya ke depan wajah Anindya.

Melalui kamera CCTV real-time penthouse, terlihat pria berjaket hitam yang memegang pisau tadi sudah tergeletak telungkup di lantai marmar, dikunci oleh tiga pengawal pribadi berbadan tegap milik Reno. Sementara Ibu Anindya sedang duduk tenang di sofa sambil menikmati teh hangat, sama sekali tidak tersentuh.

"Pintu penthouse dilengkapi pemindai wajah dan pengunci kedap udara," jelas Reno tenang. "Begitu ada pergerakan mencurigakan dari ruang tamu, sistem langsung mengisolasi area itu dan melepaskan gas bius ringan."

Lutut Anindya rasanya mau copot seketika. "Ya Tuhan... Pak Reno! Kenapa nggak bilang dari tadi?! Saya mau mati berdiri tahu nggak?!"

"Kalau kamu tidak kelihatan panik, penyusup itu tidak akan tenang menunggu di penthouse sampai gas biusnya bereaksi," balur Reno dengan senyuman tipis yang sangat menjengkelkan sekaligus memikat.

Anindya menyandarkan dahi di dada bidang Reno, menghembuskan napas lega yang luar biasa. "Bapak bener-bener bos paling jahat dan licik yang pernah saya temui..."

Reno tertawa pelan, tangannya mengusap punggung Anindya dengan hangat. "Licik untuk melindungi tunangan saya, kenapa tidak?"

Anindya merona hebat, hendak menepis tangan Reno, tapi pria itu justru mempererat genggamannya saat mereka melangkah masuk ke dalam lift pribadi.

Dink!

Lift bergerak turun. Namun baru saja Anindya bisa bernapas lega, lampu indikator lift mendadak berkedip merah.

CTAK!

Lift berhenti mendadak di antara lantai 12 dan 11! Seluruh lampu di dalam kabin lift padam seketika, menyisakan lampu darurat yang temaram.

"P-Pak... lampu lift-nya mati?!" gumam Anindya, reflek mendekat dan meremas pinggang Reno.

Reno merengkuh bahu Anindya, matanya menatap layar indikator lift yang menampilkan sebuah pesan digital yang diretas:

"Kamu pikir kamu sudah menang, Reno? Buka kotak darurat di atas kap lift kalau mau gadis itu selamat."

Di saat yang sama, suara desisan halus mulai terdengar dari ventilasi atas lift—bukan gas biasa, melainkan asap putih tebal yang beraroma aneh dan menyengat!

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
تعليقات (1)
goodnovel comment avatar
Ashilla Qurratu
awalnya tertarik baca tapi lama2 bingung sama alur ceritanya .... pusing bacanya thor
عرض جميع التعليقات

أحدث فصل

  • Dikejar Mantan Boss!   Bab 20 Hadiah Misterius di Meja Kerja

    Pukul 07.15 WIB. Gedung Graha Nusantara, Jakarta Pusat.Suasana di luar gedung pencakar langit itu seperti medan perang. Puluhan preman sewaan berjas hitam milik Tuan Wijaya memblokir gerbang utama, sementara puluhan wartawan berjejal di balik pagar barikade."Laporan langsung dari lokasi RUPS! Pihak Tuan Wijaya baru saja menyatakan bahwa rapat pemungutan suara Direktur Utama akan dimulai tepat pukul delapan pagi tanpa kehadiran Reno Dirgantara yang diduga kabur bersama buronan—"WUSH-WUSH-WUSH!Suara kibasan baling-baling helikopter memotong laporan reporter itu. Sebuah helikopter komersial berwarna hitam legam bertuliskan logo Dirgantara Group menukik turun dari langit pagi Jakarta, mendarat mulus tepat di helipad atap gedung!Para pengawal Tuan Wijaya di atap kaget setengah mati. Belum sempat mereka bereaksi, pintu helikopter terbuka. Tiga belas pengawal pribadi berseragam taktis turun duluan, membanting barikade atap dan membuka jalan.Reno keluar lebih dulu dengan jas abu-abu gel

  • Dikejar Mantan Boss!   Bab 19 Menghindari Sang Ex-Boss

    "Jangan ngawur, Reno! Kamu mau dikeroyok puluhan polisi?!" seru Anindya panik. Tangannya makin erat meremas kemeja hitam Reno.Reno membalikkan badan, lalu menangkup kedua pipi Anindya dengan hangat. "Dengar saya. Mereka ke sini bawa surat perintah atas nama kamu, bukan saya. Selama mereka nggak punya izin geledah resmi yang ditandatangani hakim malam ini, mereka nggak bisa asal masuk. Saya cuma perlu ulur waktu sepuluh menit.""Tapi—""Lari, Anin. Sekarang!" potong Reno tegas.Anindya menyambar tas dokumennya dari kursi, lalu berlari kencang menaiki tangga melingkar menuju lantai dua. Jantungnya berdegup kencang, setiap langkah terasa begitu berat karena rasa takut yang membakar dada.BRAMMM!Di bawah, pintu utama vila dibuka lebar oleh Reno. Suara gemuruh hujan dan raungan sirene langsung menerobos masuk ke dalam vila.Dari balik celak celak pembatas tangga lantai dua, Anindya mengintip dengan napas terengah-engah.Dion berdiri di paling depan bersama Pengacara Wijaya dan lima petug

  • Dikejar Mantan Boss!   Bab 18 Pengakuan Singkat

    "Surat perintah penangkapan...?" cicit Anindya. Suaranya bergetar hebat. Sendok di tangannya terlepas, jatuh terbentur piring porselen dengan bunyi nyaring.Dunia seolah berhenti berputar. Baru beberapa menit lalu Reno memintanya menikah, dan kini ia menjadi buronan atas tuduhan kejahatan berat yang tidak pernah ia lakukan."Pak Bagas, ini nggak salah?!" desak Anindya panik, matanya berkaca-kaca menatap ponsel di meja. "Saya bahkan nggak pernah pegang dokumen asli milik almarhum Ayah Pak Reno!""Skenario Tuan Wijaya sangat rapi, Nona Anindya!" seru Bagas dari balik telepon. "Dia memanfaatkan pengacara lama keluarga untuk bikin draf warisan palsu, lalu memotong video rekaman CCTV kantor seolah Nona menyusup ke ruang arsip! Media sudah menggoreng beritanya, dan polisi dalam perjalanan ke Surabaya setelah melacak sinyal terakhir!"Napas Anindya memburu, kepalanya mendadak pusing membayangkan dirinya diborgol di depan media seluruh Indonesia."Bagas," potong Reno dingin, memutus histeria

  • Dikejar Mantan Boss!   Bab 17 Makan Malam Canggung

    "Pak, gimana ini?! Kalender jam lima pagi mereka udah siap bikin beritanya melayang ke mana-mana!" Anindya panik setengah mati seraya meremas map dokumennya.Reno dengan cepat memancing kancing kemeja hitamnya sampai rapi, lalu mengenakan jasnya kembali. Wajahnya begitu tenang, tapi sorot matanya tajam bagai belati."Tenang, Anin. Ikut saya lewat lorong evakuasi belakang," bisik Reno seraya meraih jemari Anindya."Tapi dokumennya—""Dokumen itu tetap aman sama kamu. Mari kita kasih Dion dan media pertunjukan yang beda."Lewat pintu rahasia staf hotel dan pengawalan ketat tim cadangan, mereka berhasil mengecoh massa Dion dan keluar dari area hotel tanpa tercium media. Namun, menyadari perjalanan kembali ke Jakarta masih berbahaya dan waktu RUPS tinggal menghitung jam besok pagi, Reno membawa Anindya ke sebuah vila pribadi milik keluarga inti yang tersembunyi di pinggiran Surabaya.Pukul tujuh malam. Vila Kayu, Surabaya.Keheningan melingkupi vila mewah berdinding kaca itu. Hujan gerimi

  • Dikejar Mantan Boss!   Bab 16 Kamar Hotel yang Tertukar

    "Serahkan tas itu, Anindya!" bentak Dion seraya memberi isyarat pada anak buahnya.Suara benturan besi dan teriakan pecah di tengah rintik hujan. Maya dan dua pengawal pria bertarung habis-habisan menahan belasan preman."Nona! Lari!" teriak Maya seraya mengunci pergerakan dua anak buah Dion.Tanpa berpikir panjang, Anindya memeluk tas dokumennya erat-erat dan berlari menembus kegelapan pinggir jalan tol. Napasnya memburu, kakinya yang terluka akibat benturan terasa makin perih. Di belakangnya, suara derap langkah Dion dan dua preman terdengar makin mendekat.BIP-BIP!Tiba-tiba, sebuah mobil van hitam melaju kencang dari arah belakang, membanting stir dan berhenti tepat di samping Anindya. Pintu geser terbuka lebar."Nona Anindya, cepat naik!" teriak seorang pria berseragam pengawal tim cadangan Reno.Tanpa ragu, Anindya melompat masuk. Mobil langsung tancap gas, meninggalkan Dion yang memaki habis-habisan di tengah hujan. Anindya menyandarkan punggungnya, dadanya naik turun tajam. Ia

  • Dikejar Mantan Boss!   Bab 15 Tugas Luar Kota Tiba-Tiba

    "Pak Reno! Keputusannya harus sekarang!" desak Bagas dengan wajah pucat pasi. "Pintu RUPS sudah dikunci dari dalam oleh orang-orang Tuan Wijaya. Kalau Bapak tidak masuk sekarang, pemungutan suara akan dianggap sah tanpa sanggahan!"Anindya meremas jemari Reno yang makin teraba dingin. "Pak... Ibu. Nyonya Besar lebih butuh Bapak sekarang."Reno memejamkan mata sejenak. Tarikan napasnya terasa amat berat, seolah beban seluruh dunia dihantamkan ke pundaknya. Begitu matanya kembali terbuka, kilat tegas dan dingin terpancar jelas dari manik hitamnya."Bagas,dobrak pintu RUPS itu pakai pengawal," perintah Reno dengan suara rendah namun penuh penekanan. "Tahan mereka. Jangan biarkan ada satu pun kertas hasil pemungutan suara yang ditandatangani sampai saya kembali.""Tapi Pak—""Lakukan sekarang!" potong Reno tanpa bantahan. Ia lalu menoleh lurus pada Anindya. "Anin, kamu ikut saya ke rumah sakit.""I-iya, Pak!"Anindya langsung menyambar map tebalnya dan berlari kecil menyamai langkah tegap

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status