MasukAtmosfer di dalam penthouse mewah milik Reno mendadak membeku. Amplop cokelat tebal yang dilemparkan Tuan Hendra mendarat tepat di atas meja kaca, memancarkan aura ancaman yang begitu pekat.
Reno tidak langsung menyentuh amplop itu. Pria itu memiringkan kepalanya sedikit, menatap Tuan Hendra dengan pandangan dingin nan tajam. "Rahasia apa yang Anda maksud, Tuan Hendra?" tanya Reno datar. Tuan Hendra tertawa meremehkan, matanya sekilas menyapu Anindya yang berdiri kaku di lorong. "Buka saja, Reno. Jangan menyalahkan saya kalau gadis yang kamu bela mati-matian ini ternyata cuma anak dari wanita penipu yang pernah merusak keluarga orang lain!" DEK! Dada Anindya bergemuruh hebat. "Bapak jangan asal bicara ya! Ibu saya orang baik-baik!" pekik Anindya tidak terima, melangkah keluar dari tempat persembunyiannya. "Anindya, diam di tempatmu," potong Reno tegas. Namun bukannya membuka amplop di meja, Reno justru melangkah santai, mengambil amplop itu, lalu—SREK! SREK!—merobeknya menjadi dua bagian tanpa pernah melihat isinya! Tuan Hendra membelalak kaget. "Reno! Apa-apaan kamu?!" "Saya tidak tertarik dengan gertakan murah Anda, Tuan Hendra," ujar Reno tenang sembari melemparkan potongan amplop itu ke tempat sampah. "Saya tahu persis siapa calon ibu mertua saya. Dan mengenai ancaman saham Anda... silakan tarik seluruhnya besok pagi. Saya sudah menyiapkan dana investasi pengganti dari konsorsium Eropa." Wajah Tuan Hendra seketika memerah padam. "Kamu... kamu sengaja menjebak saya?!" "Pengawal, tolong antar Tuan Hendra keluar dari penthouse saya," panggil Reno santai. Dua pengawal pribadi Reno yang berada di dekat pintu langsung melangkah maju. Dengan napas memburu dan rasa malu luar biasa, Tuan Hendra menunjuk Reno dan Anindya ganti-ganti. "Kalian berdua bakal nyesel! Perang ini belum selesai!" bentaknya sebelum akhirnya diusir keluar. Keesokan harinya di kantor, Anindya berjalan dengan lingkaran hitam di bawah matanya. Semalaman ia tidak bisa tidur. Tekanan dari gertakan Tuan Hendra, rasa takut akan keselamatan ibunya, hingga debaran jantung tak karuan saat Reno membelanya mati-matian kemarin membuat otaknya nyaris meledak. Gue nggak bisa gini terus. Gue harus keluar dari lingkaran gila ini! Anindya meremas selembar kertas putih di tangannya. Surat Pengunduran Diri. Tanpa mengetuk pintu, Anindya langsung menerobos masuk ke ruang CEO. Reno yang sedang memeriksa dokumen di laptopnya mendongak. TAK! Anindya menaruh amplop putih itu tepat di tengah meja kerja Reno. "Saya resign, Pak," tegas Anindya tanpa ragu. Reno menatap amplop itu sejenak, lalu beralih menatap wajah Anindya yang nampak bertekad bulat. "Alasannya?" "Saya nggak mau terlibat drama orang kaya Bapak!" cerocos Anindya emosional. "Saya cuma staf biasa yang mau hidup tenang! Kenapa saya harus dikejar-kejar Dion, diancam Tuan Hendra, dihina Clara, dan dipermainkan sama Bapak?!" Reno bersandar di kursi eksekutifnya. "Kamu pikir dengan resign, mereka akan melepaskan kamu?" "Paling nggak saya nggak usah liat muka Bapak lagi!" Reno tersenyum tipis—sebuah senyuman misterius yang selalu membuat Anindya merinding. Pria itu meraih surat pengunduran diri Anindya, mengambil pena mahal di sakunya, lalu tanpa ragu menyilang merah kertas tersebut. SREK! Reno meremas surat itu hingga membentuk bola kertas dan melemparkannya ke keranjang sampah. "Pak Reno!" jerit Anindya gemas. "Bapak nggak berhak nolak surat resign saya!" "Saya berhak, Anindya. Buka kontrak kerjamu halaman 14 ayat 3," balas Reno santai. "Staf yang mengundurkan diri secara sepihak sebelum masa kontrak habis harus membayar denda tiga kali lipat. Ditambah denda pembatalan perjodohan... totalnya jadi satu koma lima miliar rupiah." Anindya ternganga. "Satu... satu koma lima miliar?! Bapak peras saya?!" "Saya tidak memeras. Saya cuma menjalankan aturan," ujar Reno sembari berdiri. Pria itu melangkah mendekati Anindya, mengikis jarak hingga perempuan itu menyenggol tepi meja. Reno menunduk, menatap iris mata Anindya dengan pijar protektif yang begitu pekat. "Dengar, Nin... keluar dari sini justru bikin kamu makin bahaya. Di samping saya, saya bisa jamin keselamatan kamu dan Ibumu." Anindya menelan ludah, suaranya mendadak mencicit. "T-tapi sampai kapan, Pak...?" "Sampai kamu sadar kalau tempatmu memang di sini, sama saya," bisik Reno dalam, membuat napas Anindya tertahan di tenggorokan. Belum sempat Anindya membalas gombalan maut pimpinannya itu, tiba-tiba telepon genggam di meja Reno berdering nyaring. Reno mengangkatnya dan memasang mode speaker. "Pak Reno! Gawat, Pak!" suara Maya dari bagian resepsionis terdengar panik setengah mati. "Ada apa, Maya?" tanya Reno tegas. "Di bawah... Ibu dari Anindya baru aja ditangkap polisi atas dugaan kasus penipuan dan penggelapan dana toko tiga tahun lalu! Dan yang melaporkan... Tuan Hendra!" DEK! Lutut Anindya mendadak lemas seketika. Wajahnya pucat pasi, dan tubuhnya hampir ambruk kalau saja lengan kokoh Reno tidak dengan cepat menangkap pinggangnya. Di dalam pelukan Reno, Anindya menatap layar ponsel yang masih menyala dengan mata membelalak sempurna. Tuan Hendra benar-benar menabuh genderang perang! "Pak! Ibu saya, Pak!" jerit Anindya panik, suaranya parau menahan tangis. Tangan kecilnya mencengkeram erat kemeja Reno, tak peduli lagi betapa mahalnya pakaian sang atasan. "Ibu saya nggak mungkin ngerampok atau nipu! Ini pasti ulah Tuan Hendra!" Reno meremas pelan pinggang Anindya, memberikan tumpuan penuh agar tubuh wanita itu tidak ambruk ke lantai. Sorot matanya mendadak tajam dan dipenuhi kilatan amarah. "Maya," panggil Reno ke arah ponsel yang masih menyambung di meja. "I-iya, Pak?" "Tahan polisi dan wartawan di lobby. Jangan biarkan mereka membawa Ibu Anindya lewat pintu depan. Amankan beliau di ruang VIP resepsionis, saya turun sekarang." "Baik, Pak!" Reno mematikan sambungan telepon. Ia lalu menatap Anindya yang masih gemetaran dalam pelukannya. Air mata mulai menetes membasahi pipi wanita itu. "Dengar saya, Nin," bisik Reno tegas namun lembut. Kedua tangannya kini membingkai wajah Anindya, memaksa wanita itu menatap matanya. "Surat resign kamu saya tolak bukan cuma soal denda 1,5 miliar." "T-terus apa...?" cicit Anindya di selang isaknya. "Karena kalau kamu keluar dari ruang kerja saya hari ini sebagai staf biasa, kamu tidak punya perlindungan hukum dari ancaman Hendra," ujar Reno dengan nada dalam. "Tapi kalau kamu tetap di sini, sebagai tunangan saya... tidak ada satu polisi pun di kota ini yang berani menyentuh Ibu kamu tanpa berhadapan dengan tim pengacara saya." Anindya membelalak. "Maksud Bapak...?" "Surat pengunduran diri kamu resmi ditolak," potong Reno cepat tanpa memberi ruang debat. Pria itu menyambar jas hitamnya di sandaran kursi, lalu menggenggam erat jemari Anindya. "Sekarang ikut saya ke bawah. Kita selesaikan main-mainnya Tuan Hendra." Lobby lantai utama gedung perkantoran sudah ramai. Beberapa polisi berpakaian dinas berdiri di dekat sofa resepsionis, bersanding dengan seorang wanita paruh baya bermuka pucat yang tak lain adalah Ibu Anindya. "Anin!" panggil sang Ibu penuh kepanikan saat melihat putrinya turun dari lift eksklusif bersama Reno. "Ibu!" Anindya berlari menyongsong dan langsung memeluk ibunya erat. "Ibu nggak apa-apa? Ibu diapain sama mereka?" "Ibu bingung, Nak... tiba-tiba ada polisi datang ke rumah bawa surat penangkapan. Katanya Ibu pernah nilep uang toko emas tiga tahun lalu... padahal toko itu aja udah tutup!" ratap sang Ibu menangis sesenggukan. Seorang pria berjas rapi yang berdiri di samping polisi step forward—dia adalah pengacara utusan Tuan Hendra. "Maaf, Saudari Anindya. Kami hanya menjalankan prosedur hukum atas laporan klien kami, Tuan Hendra," ucap sang pengacara dengan senyum formal yang menyebalkan. "Tersangka harus kami bawa ke kantor polisi sekarang untuk pemeriksaan." "Tunggu dulu," suara bariton Reno memotong ketegangan. Pria itu melangkah maju, memasukkan satu tangannya ke saku celana dengan gaya mengintimidasi yang alami. Pengacara itu agak ragu melihat Reno. "Pak Reno, ini urusan hukum pribadi. Saya sarankan Anda tidak perlu ikut campur—" "Siapa bilang saya ikut campur?" Reno terkekeh dingin. "Ini urusan keluarga saya. Wanita yang mau kamu bawa itu adalah calon ibu mertua saya." Para polisi dan pengacara itu saling pandang, tampak terkejut. Reno memanggil kuasa hukum perusahaannya yang baru saja berlari masuk dari pintu utama. "Pak Wibowo, urus surat penangguhan penahanan dan laporkan balik Tuan Hendra atas dugaan pencemaran nama baik serta pemalsuan dokumen." "Baik, Pak Reno. Semua bukti rekayasa laporan tiga tahun lalu sudah saya pegang," jawab Pak Wibowo mantap. Pengacara Tuan Hendra mendadak pucat. "P-Pak Reno... Anda tidak bisa sepihak begini!" "Saya bisa," potong Reno datar. Pria itu menatap sang pengacara dengan pandangan membunuh. "Dan sampaikan pada Hendra, kalau dia berani menyentuh keluarga calon istri saya lagi... bukan cuma sahamnya yang hilang, tapi seluruh bisnisnya akan saya ratakan dengan tanah sebelum minggu ini berakhir." Satu jam kemudian, situasi berhasil dikendalikan. Ibu Anindya diantar oleh sopir pribadi Reno menuju penthouse tempat Anindya menumpang agar aman dari jangkauan media dan orang suruhan Hendra. Kini tinggal Anindya dan Reno yang berdiri di dalam ruang kerja CEO yang kembali hening. Anindya menyandarkan punggungnya di tepi meja kerja Reno, napasnya masih agak tersengal setelah rentetan kejadian gila seharian ini. "Makasih ya, Pak..." gumam Anindya pelan, menunduk menatap lantai. "Kalau nggak ada Bapak... mungkin Ibu saya udah dibawa ke sel." Reno melangkah mendekat, berhenti tepat di depan Anindya. "Sudah saya bilang, kan? Di samping saya, kamu dan Ibu kamu aman." Anindya mendongak, menatap pria di depannya. "Tapi soal denda 1,5 miliar dan pembatalan perjodohan tadi... Bapak serius?" Reno tersenyum tipis—kali ini senyuman hangat yang jarang sekali diperlihatkan pada orang lain. Pria itu mengulurkan tangan, merapikan anak rambut Anindya yang berantakan ke belakang telinga. "Surat resign kamu tetap saya tolak sampai kapan pun," bisik Reno pelan. "Lagipula, mana ada bos yang izinkan tunangannya resign?" "Pak Reno! Saya kan belum bilang 'iya' soal jadi calon istri Bapak!" protes Anindya dengan pipi yang mulai memerah panas. "Tapi jarimu sudah memakai ini," sahut Reno santai. Anindya membeku. Ia melirik tangan kanannya. Entah sejak kapan, sebuah cincin berlian berdesain simpel namun sangat elegan sudah melingkar manis di jari manisnya! "E-eh?! Sejak kapan Bapak masang cincin ini?!" jerit Anindya kaget setengah mati, mencoba menarik cincin itu namun malah tertahan oleh cengkeraman lembut jemari Reno. Reno terkekeh pelan, menundukkan wajahnya hingga jarak hidung mereka hanya tersisa beberapa senti. "Waktu kamu nangis meluk kemeja saya tadi," bisik Reno jahil dengan suara bass yang makin merindingkan bulu kuduk Anindya. "Jadi, tidak ada resign, tidak ada pembatalan. Mulai hari ini, kamu milik saya, Anindya." Belum sempat Anindya menyemprot bosnya itu, pintu ruang kerja Reno mendadak didobrak kasar dari luar! BAM! "RENO! APA-APAAN KAMU BATALIN PERNIKAHAN KITA?!" Clara berdiri di ambang pintu dengan wajah merah padam karena amarah, memegang sebuah dokumen pembatalan pernikahan resmi dari pihak keluarga Reno. Namun tatapannya mendadak mengunci pada posisi Reno dan Anindya yang sangat dekat. Mata Clara melotot tajam tatkala melihat cincin berlian di jari Anindya. "Kamu... kamu beneran milih cewek udik ini dibanding aku?!" jerit Clara histeris.Atmosfer di dalam penthouse mewah milik Reno mendadak membeku. Amplop cokelat tebal yang dilemparkan Tuan Hendra mendarat tepat di atas meja kaca, memancarkan aura ancaman yang begitu pekat.Reno tidak langsung menyentuh amplop itu. Pria itu memiringkan kepalanya sedikit, menatap Tuan Hendra dengan pandangan dingin nan tajam."Rahasia apa yang Anda maksud, Tuan Hendra?" tanya Reno datar.Tuan Hendra tertawa meremehkan, matanya sekilas menyapu Anindya yang berdiri kaku di lorong."Buka saja, Reno. Jangan menyalahkan saya kalau gadis yang kamu bela mati-matian ini ternyata cuma anak dari wanita penipu yang pernah merusak keluarga orang lain!"DEK!Dada Anindya bergemuruh hebat."Bapak jangan asal bicara ya! Ibu saya orang baik-baik!" pekik Anindya tidak terima, melangkah keluar dari tempat persembunyiannya."Anindya, diam di tempatmu," potong Reno tegas.Namun bukannya membuka amplop di meja, Reno justru melangkah santai, mengambil amplop itu, lalu—SREK! SREK!—merobeknya menjadi dua bag
Ponsel di genggaman Anindya bergetar hebat. Pesan ancaman dari nomor tak dikenal itu masih terpampang di layar, bertepatan dengan ketukan pintu kosnya yang kian mendesak."Nin? Gue tahu lo di dalam. Buka pintunya sebentar, ini penting," suara Dion di balik pintu terdengar begitu menuntut.Tangan Anindya meremas ponselnya hingga buku-buku jarinya memutih. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Di layar laptop, wajah Dion pada video dua tahun lalu masih membeku—bukti tak terbantahkan bahwa pria ramah yang kerap meminjamkannya alat tulis di kantor ini adalah sosok bermuka dua yang berbahaya.Kenapa harus dia lagi? Dari sekian banyak orang di kantor, kenapa Dion yang jadi dalangnya?!Mengabaikan pesan itu, Anindya langsung menggeser layar ponsel, mencari kontak BOS IBLIS, lalu menekan tombol panggilan.Satu detik. Dua detik."Ada apa, Anindya?" suara berat Reno menyapa dari seberang telepon."P-Pak Reno... Dion ada di depan kamar kos saya!" bisik Anindya panik. Ia berjongkok di balik
"Reno! Apa-apaan ini?!"Suara melengking Clara menggema keras di seluruh sudut ruangan CEO. Sepatu hak tingginya menepuk lantai dengan tajam saat ia melangkah masuk bersama dua orang pengawal pribadi di belakangnya. Matanya membakar penuh amarah, menatap lurus pada posisi Anindya yang masih terhimpit di tepi meja kerja Reno.Anindya yang panik setengah mati refleks mendorong dada Reno kuat-kuat. Kali ini Reno membiarkannya, mundur satu langkah sembari merapikan jasnya dengan santai—seolah kedatangan Clara tidak mengganggunya sama sekali."Clara? Sejak kapan kamu punya akses masuk tanpa mengetuk pintu?" tanya Reno datar, nada suaranya begitu dingin hingga sanggup membekukan udara."Kamu tanya kenapa aku langsung masuk?!" Clara menunjuk Anindya dengan jari berkuteks merah menyala. "Siapa perempuan murahan ini, Ren?! Kenapa kamu posisinya sedekat itu sama dia di dalam kantor?!"Anindya mendadak naik darah mendengarkan sebutan itu."Maaf ya, Mbak! Jaga mulutnya! Saya staf di sini, bukan p
"Gila! Pak Reno bener-bener enggak waras!"Anindya mendesis pelan seraya memegangi kepalanya yang mendadak berdenyut nyeri. Kalimat terakhir dari mantan atasannya itu masih terngiang-ngiang jelas di telinganya.Pertunangan?! Pria itu mikir nikah kayak beli kopi kenangan di minimarket?!"Anindya, kenapa kamu masih berdiri di situ?" tegur Reno datar. Pria itu sudah kembali duduk santai di balik meja kerjanya yang megah, menatap Anindya yang masih berdiri mematung seperti patung selamat datang. "Mau berdiri sampai jam kantor selesai?""Pak... ini gila," sahut Anindya dengan nada menahan emosi. "Surat ini pasti mainan Bapak, kan? Mana mungkin Ibu saya setuju sama hal konyol kayak gini tanpa ngomong apa-apa ke saya?!"Reno mengangkat sebelah alisnya, menyandarkan punggung ke kursi eksekutifnya dengan santai."Kenapa enggak kamu tanyakan langsung sama Ibumu?"Anindya menyipitkan mata. Tanpa berpikir panjang, ia merogoh tasnya, mengambil ponsel, lalu mengetik panggilan ke nomor ibunya. Ia se
"Merdeka! Merdeka dari penjajahan pria kaku berwajah datar!"Suara desahan lega Anindya menggema di sudut kubikel kerjanya. Perempuan itu menyandarkan punggungnya ke kursi, memutar-mutar bolpoin di jemarinya sembari mengamati langit-langit kantor yang mendadak terasa sepuluh kali lebih cerah hari ini."Nin, sstt! Suara kamu tuh pelanin dikit, nanti kalau ada yang denger gimana?" bisik Maya dari kubikel sebelah. Wajah sahabatnya itu panik setengah mati sambil menengok ke kanan-kiri.Anindya hanya terkekeh pelan. Ia memperbaiki posisi duduknya lalu meminum es kopi susu yang baru saja dibelinya."Denger siapa, Maya? Pak Reno kan udah resign dari kemarin. Hari ini beliau resmi angkat kaki dari perusahaan ini! Nggak akan ada lagi bos yang nempel pusing di dahi tiap liat draf laporan aku kurang rapi satu milimeter.""Iya sih, Pak Reno emang perfeksionisnya minta ampun," aku Maya sambil mengangguk setuju. "Tapi biar gitu, dia kan ganteng banget, Nin. Tajam, rapi, karismatik. Mana ada bos seg







