Home / Romansa / Dikejar Mantan Boss! / Bab 5 Surat Resign yang Ditolak

Share

Bab 5 Surat Resign yang Ditolak

Author: Suci Awaliah
last update publish date: 2026-08-27 19:27:58

Atmosfer di dalam penthouse mewah milik Reno mendadak membeku. Amplop cokelat tebal yang dilemparkan Tuan Hendra mendarat tepat di atas meja kaca, memancarkan aura ancaman yang begitu pekat.

Reno tidak langsung menyentuh amplop itu. Pria itu memiringkan kepalanya sedikit, menatap Tuan Hendra dengan pandangan dingin nan tajam.

"Rahasia apa yang Anda maksud, Tuan Hendra?" tanya Reno datar.

Tuan Hendra tertawa meremehkan, matanya sekilas menyapu Anindya yang berdiri kaku di lorong.

"Buka saja, Reno. Jangan menyalahkan saya kalau gadis yang kamu bela mati-matian ini ternyata cuma anak dari wanita penipu yang pernah merusak keluarga orang lain!"

DEK!

Dada Anindya bergemuruh hebat.

"Bapak jangan asal bicara ya! Ibu saya orang baik-baik!" pekik Anindya tidak terima, melangkah keluar dari tempat persembunyiannya.

"Anindya, diam di tempatmu," potong Reno tegas.

Namun bukannya membuka amplop di meja, Reno justru melangkah santai, mengambil amplop itu, lalu—SREK! SREK!—merobeknya menjadi dua bagian tanpa pernah melihat isinya!

Tuan Hendra membelalak kaget.

"Reno! Apa-apaan kamu?!"

"Saya tidak tertarik dengan gertakan murah Anda, Tuan Hendra," ujar Reno tenang sembari melemparkan potongan amplop itu ke tempat sampah. "Saya tahu persis siapa calon ibu mertua saya. Dan mengenai ancaman saham Anda... silakan tarik seluruhnya besok pagi. Saya sudah menyiapkan dana investasi pengganti dari konsorsium Eropa."

Wajah Tuan Hendra seketika memerah padam.

"Kamu... kamu sengaja menjebak saya?!"

"Pengawal, tolong antar Tuan Hendra keluar dari penthouse saya," panggil Reno santai.

Dua pengawal pribadi Reno yang berada di dekat pintu langsung melangkah maju.

Dengan napas memburu dan rasa malu luar biasa, Tuan Hendra menunjuk Reno dan Anindya ganti-ganti.

"Kalian berdua bakal nyesel! Perang ini belum selesai!" bentaknya sebelum akhirnya diusir keluar.

Keesokan harinya di kantor, Anindya berjalan dengan lingkaran hitam di bawah matanya. Semalaman ia tidak bisa tidur. Tekanan dari gertakan Tuan Hendra, rasa takut akan keselamatan ibunya, hingga debaran jantung tak karuan saat Reno membelanya mati-matian kemarin membuat otaknya nyaris meledak.

Gue nggak bisa gini terus. Gue harus keluar dari lingkaran gila ini!

Anindya meremas selembar kertas putih di tangannya.

Surat Pengunduran Diri.

Tanpa mengetuk pintu, Anindya langsung menerobos masuk ke ruang CEO. Reno yang sedang memeriksa dokumen di laptopnya mendongak.

TAK!

Anindya menaruh amplop putih itu tepat di tengah meja kerja Reno.

"Saya resign, Pak," tegas Anindya tanpa ragu.

Reno menatap amplop itu sejenak, lalu beralih menatap wajah Anindya yang nampak bertekad bulat.

"Alasannya?"

"Saya nggak mau terlibat drama orang kaya Bapak!" cerocos Anindya emosional. "Saya cuma staf biasa yang mau hidup tenang! Kenapa saya harus dikejar-kejar Dion, diancam Tuan Hendra, dihina Clara, dan dipermainkan sama Bapak?!"

Reno bersandar di kursi eksekutifnya.

"Kamu pikir dengan resign, mereka akan melepaskan kamu?"

"Paling nggak saya nggak usah liat muka Bapak lagi!"

Reno tersenyum tipis—sebuah senyuman misterius yang selalu membuat Anindya merinding.

Pria itu meraih surat pengunduran diri Anindya, mengambil pena mahal di sakunya, lalu tanpa ragu menyilang merah kertas tersebut.

SREK!

Reno meremas surat itu hingga membentuk bola kertas dan melemparkannya ke keranjang sampah.

"Pak Reno!" jerit Anindya gemas. "Bapak nggak berhak nolak surat resign saya!"

"Saya berhak, Anindya. Buka kontrak kerjamu halaman 14 ayat 3," balas Reno santai. "Staf yang mengundurkan diri secara sepihak sebelum masa kontrak habis harus membayar denda tiga kali lipat. Ditambah denda pembatalan perjodohan... totalnya jadi satu koma lima miliar rupiah."

Anindya ternganga.

"Satu... satu koma lima miliar?! Bapak peras saya?!"

"Saya tidak memeras. Saya cuma menjalankan aturan," ujar Reno sembari berdiri.

Pria itu melangkah mendekati Anindya, mengikis jarak hingga perempuan itu menyenggol tepi meja.

Reno menunduk, menatap iris mata Anindya dengan pijar protektif yang begitu pekat.

"Dengar, Nin... keluar dari sini justru bikin kamu makin bahaya. Di samping saya, saya bisa jamin keselamatan kamu dan Ibumu."

Anindya menelan ludah, suaranya mendadak mencicit.

"T-tapi sampai kapan, Pak...?"

"Sampai kamu sadar kalau tempatmu memang di sini, sama saya," bisik Reno dalam, membuat napas Anindya tertahan di tenggorokan.

Belum sempat Anindya membalas gombalan maut pimpinannya itu, tiba-tiba telepon genggam di meja Reno berdering nyaring.

Reno mengangkatnya dan memasang mode speaker.

"Pak Reno! Gawat, Pak!" suara Maya dari bagian resepsionis terdengar panik setengah mati.

"Ada apa, Maya?" tanya Reno tegas.

"Di bawah... Ibu dari Anindya baru aja ditangkap polisi atas dugaan kasus penipuan dan penggelapan dana toko tiga tahun lalu! Dan yang melaporkan... Tuan Hendra!"

DEK!

Lutut Anindya mendadak lemas seketika. Wajahnya pucat pasi, dan tubuhnya hampir ambruk kalau saja lengan kokoh Reno tidak dengan cepat menangkap pinggangnya.

Di dalam pelukan Reno, Anindya menatap layar ponsel yang masih menyala dengan mata membelalak sempurna.

Tuan Hendra benar-benar menabuh genderang perang!

"Pak! Ibu saya, Pak!" jerit Anindya panik, suaranya parau menahan tangis. Tangan kecilnya mencengkeram erat kemeja Reno, tak peduli lagi betapa mahalnya pakaian sang atasan. "Ibu saya nggak mungkin ngerampok atau nipu! Ini pasti ulah Tuan Hendra!"

Reno meremas pelan pinggang Anindya, memberikan tumpuan penuh agar tubuh wanita itu tidak ambruk ke lantai. Sorot matanya mendadak tajam dan dipenuhi kilatan amarah.

"Maya," panggil Reno ke arah ponsel yang masih menyambung di meja.

"I-iya, Pak?"

"Tahan polisi dan wartawan di lobby. Jangan biarkan mereka membawa Ibu Anindya lewat pintu depan. Amankan beliau di ruang VIP resepsionis, saya turun sekarang."

"Baik, Pak!"

Reno mematikan sambungan telepon. Ia lalu menatap Anindya yang masih gemetaran dalam pelukannya. Air mata mulai menetes membasahi pipi wanita itu.

"Dengar saya, Nin," bisik Reno tegas namun lembut. Kedua tangannya kini membingkai wajah Anindya, memaksa wanita itu menatap matanya. "Surat resign kamu saya tolak bukan cuma soal denda 1,5 miliar."

"T-terus apa...?" cicit Anindya di selang isaknya.

"Karena kalau kamu keluar dari ruang kerja saya hari ini sebagai staf biasa, kamu tidak punya perlindungan hukum dari ancaman Hendra," ujar Reno dengan nada dalam. "Tapi kalau kamu tetap di sini, sebagai tunangan saya... tidak ada satu polisi pun di kota ini yang berani menyentuh Ibu kamu tanpa berhadapan dengan tim pengacara saya."

Anindya membelalak.

"Maksud Bapak...?"

"Surat pengunduran diri kamu resmi ditolak," potong Reno cepat tanpa memberi ruang debat. Pria itu menyambar jas hitamnya di sandaran kursi, lalu menggenggam erat jemari Anindya. "Sekarang ikut saya ke bawah. Kita selesaikan main-mainnya Tuan Hendra."

Lobby lantai utama gedung perkantoran sudah ramai. Beberapa polisi berpakaian dinas berdiri di dekat sofa resepsionis, bersanding dengan seorang wanita paruh baya bermuka pucat yang tak lain adalah Ibu Anindya.

"Anin!" panggil sang Ibu penuh kepanikan saat melihat putrinya turun dari lift eksklusif bersama Reno.

"Ibu!" Anindya berlari menyongsong dan langsung memeluk ibunya erat. "Ibu nggak apa-apa? Ibu diapain sama mereka?"

"Ibu bingung, Nak... tiba-tiba ada polisi datang ke rumah bawa surat penangkapan. Katanya Ibu pernah nilep uang toko emas tiga tahun lalu... padahal toko itu aja udah tutup!" ratap sang Ibu menangis sesenggukan.

Seorang pria berjas rapi yang berdiri di samping polisi step forward—dia adalah pengacara utusan Tuan Hendra.

"Maaf, Saudari Anindya. Kami hanya menjalankan prosedur hukum atas laporan klien kami, Tuan Hendra," ucap sang pengacara dengan senyum formal yang menyebalkan. "Tersangka harus kami bawa ke kantor polisi sekarang untuk pemeriksaan."

"Tunggu dulu," suara bariton Reno memotong ketegangan. Pria itu melangkah maju, memasukkan satu tangannya ke saku celana dengan gaya mengintimidasi yang alami.

Pengacara itu agak ragu melihat Reno.

"Pak Reno, ini urusan hukum pribadi. Saya sarankan Anda tidak perlu ikut campur—"

"Siapa bilang saya ikut campur?" Reno terkekeh dingin. "Ini urusan keluarga saya. Wanita yang mau kamu bawa itu adalah calon ibu mertua saya."

Para polisi dan pengacara itu saling pandang, tampak terkejut.

Reno memanggil kuasa hukum perusahaannya yang baru saja berlari masuk dari pintu utama.

"Pak Wibowo, urus surat penangguhan penahanan dan laporkan balik Tuan Hendra atas dugaan pencemaran nama baik serta pemalsuan dokumen."

"Baik, Pak Reno. Semua bukti rekayasa laporan tiga tahun lalu sudah saya pegang," jawab Pak Wibowo mantap.

Pengacara Tuan Hendra mendadak pucat.

"P-Pak Reno... Anda tidak bisa sepihak begini!"

"Saya bisa," potong Reno datar. Pria itu menatap sang pengacara dengan pandangan membunuh. "Dan sampaikan pada Hendra, kalau dia berani menyentuh keluarga calon istri saya lagi... bukan cuma sahamnya yang hilang, tapi seluruh bisnisnya akan saya ratakan dengan tanah sebelum minggu ini berakhir."

Satu jam kemudian, situasi berhasil dikendalikan. Ibu Anindya diantar oleh sopir pribadi Reno menuju penthouse tempat Anindya menumpang agar aman dari jangkauan media dan orang suruhan Hendra.

Kini tinggal Anindya dan Reno yang berdiri di dalam ruang kerja CEO yang kembali hening.

Anindya menyandarkan punggungnya di tepi meja kerja Reno, napasnya masih agak tersengal setelah rentetan kejadian gila seharian ini.

"Makasih ya, Pak..." gumam Anindya pelan, menunduk menatap lantai. "Kalau nggak ada Bapak... mungkin Ibu saya udah dibawa ke sel."

Reno melangkah mendekat, berhenti tepat di depan Anindya.

"Sudah saya bilang, kan? Di samping saya, kamu dan Ibu kamu aman."

Anindya mendongak, menatap pria di depannya.

"Tapi soal denda 1,5 miliar dan pembatalan perjodohan tadi... Bapak serius?"

Reno tersenyum tipis—kali ini senyuman hangat yang jarang sekali diperlihatkan pada orang lain. Pria itu mengulurkan tangan, merapikan anak rambut Anindya yang berantakan ke belakang telinga.

"Surat resign kamu tetap saya tolak sampai kapan pun," bisik Reno pelan. "Lagipula, mana ada bos yang izinkan tunangannya resign?"

"Pak Reno! Saya kan belum bilang 'iya' soal jadi calon istri Bapak!" protes Anindya dengan pipi yang mulai memerah panas.

"Tapi jarimu sudah memakai ini," sahut Reno santai.

Anindya membeku. Ia melirik tangan kanannya. Entah sejak kapan, sebuah cincin berlian berdesain simpel namun sangat elegan sudah melingkar manis di jari manisnya!

"E-eh?! Sejak kapan Bapak masang cincin ini?!" jerit Anindya kaget setengah mati, mencoba menarik cincin itu namun malah tertahan oleh cengkeraman lembut jemari Reno.

Reno terkekeh pelan, menundukkan wajahnya hingga jarak hidung mereka hanya tersisa beberapa senti.

"Waktu kamu nangis meluk kemeja saya tadi," bisik Reno jahil dengan suara bass yang makin merindingkan bulu kuduk Anindya. "Jadi, tidak ada resign, tidak ada pembatalan. Mulai hari ini, kamu milik saya, Anindya."

Belum sempat Anindya menyemprot bosnya itu, pintu ruang kerja Reno mendadak didobrak kasar dari luar!

BAM!

"RENO! APA-APAAN KAMU BATALIN PERNIKAHAN KITA?!"

Clara berdiri di ambang pintu dengan wajah merah padam karena amarah, memegang sebuah dokumen pembatalan pernikahan resmi dari pihak keluarga Reno. Namun tatapannya mendadak mengunci pada posisi Reno dan Anindya yang sangat dekat.

Mata Clara melotot tajam tatkala melihat cincin berlian di jari Anindya.

"Kamu... kamu beneran milih cewek udik ini dibanding aku?!" jerit Clara histeris.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dikejar Mantan Boss!   Bab 23 Perang Dingin di Ruang Rapat

    "Anin, baca lagi pesannya."Suara Reno menembus keheningan yang mencekat. Tatapan matanya yang tadi tajam mendadak meredup, menyisakan kecemasan yang teramat sangat saat melihat tangan Anindya bergetar hebat memegang ponselnya.Anindya mendongak. Layar ponsel yang menampilkan pesan dari Aris seolah menyengat jemarinya. "Kak Aris bilang... kematian Ayah ada hubungannya sama keluarga Dirgantara, Reno."Reno menghembuskan napas panjang, melangkah mendekat lalu menggenggam kedua bahu Anindya. "Kamu percaya sama aku atau sama orang yang baru muncul bawa bunga mawar tadi?""Bukan masalah percaya atau nggak," potong Anindya pelan, ada keraguan yang mulai merayap di dadanya. "Tapi Ayah mati karena serangan jantung waktu diancam Bagas. Dan Bagas itu... asisten kepercayaan keluarga kamu selama bertahun-tahun, Reno."Sebelum Reno sempat membela diri, pintu ruang kerja kembali diketuk dua kali. Sekretaris divisi umum mengintip dengan wajah tegang."Maaf mengganggu, Pak Reno, Nona Anindya. Rapat d

  • Dikejar Mantan Boss!   Bab 22 Rekan Kerja Baru yang Tampan

    Reno masih berdiri kaku di depan pintu ruang kerjanya yang tertutup rapat. Rahangnya mengeras, matanya menatap tajam ke arah pintu kayu mahoni itu seolah-olah Aris—si pria berjas krem—masih berdiri di sana.Cemburu? Reno tak akan pernah mengakuinya secara terang-terangan. Namun, fakta bahwa ada pria lain yang secara terang-terangan memberikan mawar putih, merangkul pundak Anindya, dan memegang kartu as berupa surat wasiat perjodohan benar-benar membakar isi dadanya."Reno... kamu nggak apa-apa?" Anindya memecah keheningan. Langkah kakinya pelan mendekati Reno yang napasnya masih menderu halus. "Soal kata-kata Kak Aris tadi, kamu nggak usah dipikirin banget. Nanti malam aku—""Aku ikut."Anindya mengedipkan matanya polos. "Hah? Ikut ke mana?""Nanti malam kamu mau ketemu dia buat bahas surat wasiat itu, kan?" Reno membalikkan badan, menatap Anindya dengan sorot mata intens tanpa kompromi. "Aku yang menyetir. Aku yang nemenin kamu. Dan nggak ada acara obrolan empat mata di tempat remang

  • Dikejar Mantan Boss!   Bab 21 Kecemburuan Sang CEO

    "Bagas...?" bisik Anindya tak percaya. Matanya melebar menatap layar laptop yang masih memutarkan sisa suara static rekaman. "Orang yang selama ini selalu berdiri di samping kamu... yang kemarin nolongin kita di Jawa Timur?"Reno tidak menjawab. Rahangnya mengeras sampai otot-otot di lehernya menegang. Pria itu menyambar ponsel di saku jasnya, jemarinya bergerak cepat menekan tombol panggilan cepat."Bagas, ke ruangan Anindya sekarang. Ada berkas RUPS yang harus kamu tanda tangani," kata Reno dengan suara yang sangat tenang—terlalu tenang sampai terasa mengerikan."Baik, Pak Reno. Saya segera ke sana," sahut suara di ujung telepon dengan nada sopan seperti biasa.Reno mematikan sambungan, lalu menatap Anindya yang masih gemetar di kursinya. Reno bergerak cepat, mencabut flashdisk dari laptop, lalu menyembunyikannya ke dalam saku celana. Foto tua almarhum ayah Anindya diselipkan kembali ke dalam saku jasnya."Anin, dengerin saya," bisik Reno seraya berlutut di samping kursi Anindya. Ta

  • Dikejar Mantan Boss!   Bab 20 Hadiah Misterius di Meja Kerja

    Pukul 07.15 WIB. Gedung Graha Nusantara, Jakarta Pusat.Suasana di luar gedung pencakar langit itu seperti medan perang. Puluhan preman sewaan berjas hitam milik Tuan Wijaya memblokir gerbang utama, sementara puluhan wartawan berjejal di balik pagar barikade."Laporan langsung dari lokasi RUPS! Pihak Tuan Wijaya baru saja menyatakan bahwa rapat pemungutan suara Direktur Utama akan dimulai tepat pukul delapan pagi tanpa kehadiran Reno Dirgantara yang diduga kabur bersama buronan—"WUSH-WUSH-WUSH!Suara kibasan baling-baling helikopter memotong laporan reporter itu. Sebuah helikopter komersial berwarna hitam legam bertuliskan logo Dirgantara Group menukik turun dari langit pagi Jakarta, mendarat mulus tepat di helipad atap gedung!Para pengawal Tuan Wijaya di atap kaget setengah mati. Belum sempat mereka bereaksi, pintu helikopter terbuka. Tiga belas pengawal pribadi berseragam taktis turun duluan, membanting barikade atap dan membuka jalan.Reno keluar lebih dulu dengan jas abu-abu gel

  • Dikejar Mantan Boss!   Bab 19 Menghindari Sang Ex-Boss

    "Jangan ngawur, Reno! Kamu mau dikeroyok puluhan polisi?!" seru Anindya panik. Tangannya makin erat meremas kemeja hitam Reno.Reno membalikkan badan, lalu menangkup kedua pipi Anindya dengan hangat. "Dengar saya. Mereka ke sini bawa surat perintah atas nama kamu, bukan saya. Selama mereka nggak punya izin geledah resmi yang ditandatangani hakim malam ini, mereka nggak bisa asal masuk. Saya cuma perlu ulur waktu sepuluh menit.""Tapi—""Lari, Anin. Sekarang!" potong Reno tegas.Anindya menyambar tas dokumennya dari kursi, lalu berlari kencang menaiki tangga melingkar menuju lantai dua. Jantungnya berdegup kencang, setiap langkah terasa begitu berat karena rasa takut yang membakar dada.BRAMMM!Di bawah, pintu utama vila dibuka lebar oleh Reno. Suara gemuruh hujan dan raungan sirene langsung menerobos masuk ke dalam vila.Dari balik celak celak pembatas tangga lantai dua, Anindya mengintip dengan napas terengah-engah.Dion berdiri di paling depan bersama Pengacara Wijaya dan lima petug

  • Dikejar Mantan Boss!   Bab 18 Pengakuan Singkat

    "Surat perintah penangkapan...?" cicit Anindya. Suaranya bergetar hebat. Sendok di tangannya terlepas, jatuh terbentur piring porselen dengan bunyi nyaring.Dunia seolah berhenti berputar. Baru beberapa menit lalu Reno memintanya menikah, dan kini ia menjadi buronan atas tuduhan kejahatan berat yang tidak pernah ia lakukan."Pak Bagas, ini nggak salah?!" desak Anindya panik, matanya berkaca-kaca menatap ponsel di meja. "Saya bahkan nggak pernah pegang dokumen asli milik almarhum Ayah Pak Reno!""Skenario Tuan Wijaya sangat rapi, Nona Anindya!" seru Bagas dari balik telepon. "Dia memanfaatkan pengacara lama keluarga untuk bikin draf warisan palsu, lalu memotong video rekaman CCTV kantor seolah Nona menyusup ke ruang arsip! Media sudah menggoreng beritanya, dan polisi dalam perjalanan ke Surabaya setelah melacak sinyal terakhir!"Napas Anindya memburu, kepalanya mendadak pusing membayangkan dirinya diborgol di depan media seluruh Indonesia."Bagas," potong Reno dingin, memutus histeria

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status