LOGIN"Nathan,” panggil ibunya.
Nathan menelan ludah."Iya, Bu?"Ibunya masih menggenggam lengan putranya dengan wajah yang sangat serius. Sedangkan Nathan bersiap untuk membantah penolakan."Ibuㅡ”Sebelum ia selesai bicara, ibunya memotong, “kamu akhirnya benar-benar punya calon istri.""..."Nathan berkedip, “hah?"Wajah ibunya langsung berubah sendu, "Ibu kira...""Kamu akan hidup sendirian selamanya."NaTatapan ayahnya Nathan tidak berubah sedikit pun. Lalu dengan suara yang tetap tenang, ia bertanya, “apa pernikahan kalian ini hanya pura-pura?"“...”Nathan membeku. Loraine juga ikut membeku. Bahkan ibunya Nathan yang sedari tadi paling berisik pun langsung terdiam.Ruangan mendadak sunyi.Nathan hanya menatap ayahnya. Sementara di dalam kepalanya, “selesai. Belum genap satu hari kontrak berlaku. Sudah mau tamat."Ia bahkan sempat membayangkan Jackson yang mengomel dan mencercanya tanpa henti. Nathan mengusap wajahnya pelan."Aku bahkan belum sempat menghafal sepenuhnya isi kontraknya,” batinnya. Di sisi lain… Loraine sudah panik setengah mati."Astaga… Ketahuan!" teriaknya dalam hati."Gawat. Kontraknya ketahuan. Kalau orang tua Pak Nathan marah..." batinnya panik."Beliau pasti membatalkan kontraknya. Jika kontraknya batal, lalu bagaimana aku menghadapi Leon?" pikirnya bermacam-macam.
Ayah Nathan berdehem pelan."Ehem."Suara itu membuat pembicaraan di meja makan langsung terhenti. Semua menoleh ke arahnya.Ayahnya Nathan meletakkan sendoknya dengan tenang sebelum memandang putra dan istrinya bergantian, “kalian sejak tadi terlalu bersemangat."Ibunya Nathan berkedip, "hm?"Pria paruh baya itu lalu mengalihkan pandangan kepada Loraine yang sedari tadi hanya diam."Kalian belum bertanya pendapat Loraine."Ruangan langsung hening. Ia melanjutkan dengan suara lembut, “walaupun kalian sepasang kekasih, bukan berarti kauㅡNathan, boleh memutuskan semuanya sendiri." Tatapannya berpindah kepada Nathan."Apa kau sudah bertanya kalau dia benar-benar ingin menjadi sekretaris pribadimu?"Nathan ikut terdiam."..."Beberapa detik kemudian ia mengangguk kecil."Ah...""Benar juga."Nathan menoleh ke arah Loraine."Loraine."Wanita itu langsung menegakkan punggungnya."I-iya, Pak."Nathan tersenyum tipis, “bagaimana pendapatmu?""Kalau memang tidak nyaman, katakan saja.""Tidak p
"Nathan,” panggil ibunya. Nathan menelan ludah."Iya, Bu?"Ibunya masih menggenggam lengan putranya dengan wajah yang sangat serius. Sedangkan Nathan bersiap untuk membantah penolakan."Ibuㅡ” Sebelum ia selesai bicara, ibunya memotong, “kamu akhirnya benar-benar punya calon istri.""..."Nathan berkedip, “hah?"Wajah ibunya langsung berubah sendu, "Ibu kira...""Kamu akan hidup sendirian selamanya."Nathan langsung memijat pelipisnya."Ibu ini menganggapku apa? Bujang lapuk?" batinnya.Ibunya masih terus berbicara, "Nathan, dengarkan Ibu."Nathan mengangguk pasrah."Perhatikan Loraine baik-baik. Jangan terlalu sibuk bekerja. Jangan selalu memasang wajah datar. Sering-seringlah ajak dia kencan. Belikan bunga dan hadiah. Kalau dia marah, yang minta maaf duluan harus kamu."Nathan benar-benar kehilangan tenaga."Ibu...""Kenapa semua
"Ibu...""Jangan menatapnya seperti itu."Ucap Nathan mengusap pelipisnya pelan.Sementara ibunya sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari Loraine."Kenapa? Ibu cuma melihat calon menantuku."Nathan langsung menutup mata."Ibu mulai lagi..." batinnya. "Dia bisa saja merasa tak nyaman," ucap Nathan akhirnya. Namun ibunya tidak menggubrisnya, justru tersenyum semakin lebar dan mulai bertanya, “namanya siapa?"Nathan baru hendak menjawab. Ibunya sudah kembali bertanya."Umur berapa?""Kerja di mana?""Suka makanan apa?""Kalian kenal sejak kapan?""Siapa yang menyatakan cinta dulu?"Nathan menarik napas panjang dan mulai membuka mulut, "Bu..."Belum selesai Nathan bicara, Ibunya lanjut lagi."Sudah berapa lama pacaran?""Sudah pernah bertengkar belum?""Tanggal nikahnya kapan?""Anak pertama nanti ma
Tepat saat tangan mereka saling berjabat—Ting tong.Bel rumah berbunyi.Nathan menoleh ke arah pintu, “sepertinya makanan sudah datang."Pria itu melepaskan jabatan tangannya dengan Loraine lalu berjalan menuju pintu depan.Loraine mengangguk pelan, “baik, Pak."Nathan berjalan menuju pintu tanpa curiga. Begitu pintu dibuka…"..."Yang berdiri di depan pintu sama sekali bukan kurir. Melainkan seorang wanita paruh baya berpenampilan elegan dengan senyum lebar di wajahnya. Di sampingnya berdiri seorang pria paruh baya berkacamata yang membawa sebuah kotak makanan besar.Nathan membeku."Ibu...""...Ayah."Ibunya tersenyum cerah, “nah, akhirnya dibuka juga."Nathan masih belum bergerak."Kalian... kenapa ada di sini?"Ibunya mengangkat kantong makanan yang ada di tangannya."Di depan gerbang kami bertemu kurir makanan. Jadi sekalian ibu bawaka
“Astaga!” refleks Loraine.Jantungnya berdegup kencang. Ia langsung menoleh ke belakang."..."Nathan berdiri beberapa langkah di belakangnya. Loraine menghela napas lega."Pa-Pak Nathan..."Nathan mematung sejenak, “apakah saya mengejutkan Anda?"Loraine buru-buru menggeleng."Ti-tidak."Namun saat matanya melihat wajah Nathan. Ia langsung membeku."Kok… mata beliau..." batinnya. Lingkaran hitam di bawah mata Nathan terlihat sangat jelas."Hitam sekali..." pikirnya. Loraine spontan ingin bertanya apakah Nathan sakit. Namun bibirnya segera terkatup rapat."Jangan. Nanti beliau tersinggung."Nathan melihat ekspresi Loraine yang berubah-ubah."...""Kenapa menatapku seperti itu?" tanyanya datar.Loraine langsung panik, “ti-tidak ada apa-apa, Pak!"Nathan mengangguk singkat, “begitu ya."Pria itu sama sekali tidak sadar kalau dirinya sekarang memiliki mata panda akibat hanya tidur sekitar dua jam.Beberapa jam sebelumnya.Pukul 05.08Nathan terbangun saat suara notifikasi tablet terden







