LOGIN“Nathan?”
Degh… suara itu familiar. Nathan memejamkan matanya erat sebelum akhirnya menoleh ke sumber suara tersebut. “Ayahhh…” ucapnya sambil tersenyum saat ia mendapati ayahnya berada tak jauh di belakangnya. Ayahnya berjalan mendekatinya lalu menyentuh lengan Nathan dengan pelan. “Sedang apa di rumah sakit jam segini?” tanyanya. Ekspresi ayahnya sedikit berubah khawatir, “apa kau sakit?” “Tidak ayah, aku baik-baik saja. Yah hanya mengantar teman saja tadi,” jawab Nathan. Jawaban itu tak sepenuhnya bohong, sebab dia benar-benar telah mengantarkan Loraine untuk diobati. Sementara ayahnya sedikit terlihat lega karena putranya baik-baik saja. “Teman? Jackson maksudmu? Apa kau lagi-lagi memberinya banyak pekerjaan?” tanyanya lagi. “Jackson? Sakit? Jelas itu suatu hal mustahil ayah. Seorang Jackson sakit bisa-bisa diperingati sebagai hari libur nasional,” jawab Nathan. “Hahahaha… kau masih saja melontarkan lelucon konyol. Walau begitu, tetap perhatikan dia. Dia anak yang baik, kau beruntung memiliki teman yang baik sepertinya,” ucap ayahnya sambil menepuk pundaknya. “Ya… aku beruntung,” ulangnya pelan. “Kalau bukan Jackson, lalu siapa yang sakit?” tanya ayahnya lagi. Pertanyaan itu mengejutkan Nathan. Ia tak berpikir jika ayahnya akan sepenasaran ini. “Temanmu kan hanya Jackson,” lanjut ayahnya. “Aku tak semenyedihkan itu hingga hanya memiliki seorang teman saja, ayah,” gerutu Nathan. “Ya… ayah tahu. Hanya saja teman-temanmu kebanyakan tinggal di luar negeri,” sambung ayahnya. “Aku harus mengalihkan pembicaraan,” batin Nathan. “Omong-omong, ayah. Kenapa ayah baru pulang jam segini?” tanyanya untuk mengalihkan. Ekspresi ayahnya berubah menjadi serius, “ayah menunggu pasien ayah melewati masa kritisnya.” Nathan mengerutkan alisnya, “lalu?” “Anak itu berhasil melewati masa kritisnya,” jawab ayahnya. “Syukurlah…” sahut Nathan. “Kantung mata ayah semakin hari semakin gelap. Orang selembut ayah memang pantas menjadi seorang dokter anak. Aku sangat bangga pada ayah,” batin Nathan. “Bagaimana kalau ayah pulang bersamaku saja. Ayah terlihat lelah sekali, cukup berbahaya jika memaksakan diri untuk mengemudi sendiri,” ucap Nathan. “Tentu saja ayah tak bisa menolak tawaran dari putra ayah yang paling sibuk ini,” ucap ayahnya sambil menepuk pundaknya. Nathan membukakan pintu untuk ayahnya, selanjutnya ia masuk mobilnya dan mengemudi dengan hati-hati. Ayahnya sekilas mengamati mobilnya, lalu… “Kau pandai merawat mobil ini,” ucapnya lembut. “Yah… ini mobil yang sangat berharga sekaligus bersejarah,” sambung Nathan. “Kau benar,” kenang ayahnya pada mobil yang hampir seumuran putranya itu. Obrolan demi obrolan mengalir begitu saja. Nathan merasa sedikit bersalah karena tak memiliki waktu untuk dihabiskan dengan orang tuanya. Ia hanya sibuk dan fokus bekerja saya. Meski begitu… melihat orang tuanya sehat, sudah cukup untuknya. “Ayah?” panggil Nathan. “Ada apa?” jawab ayahnya. “Ah.. tidak jadi,” ucap Nathan. “Kau ini konyol sekali! Sudahlah, fokus mengemudi saja,” ledek ayahnya. Setibanya di rumah, ayahnya menyuruhnya untuk menginap saja malam itu. Tapi Nathan menolak dengan alasan masih ada kerjaan tertunda untuk segera diselesaikan. Namun ia tak menolak ajakan ayahnya untuk sekedar mampir dan minum kopi sebentar. “Sudah berapa bulan aku tak kesini,” batin Nathan saat berjalan di belakang ayahnya. “Biasanya jam segini ibumu sudah tertidur. Tapi ayah akan membangunkannya,” ucap ayahnya. “Tidak perlu ayah. Jika ibu sudah tidur, biarkan saja,” sahut Nathan. “Kenapa? Apa kau kesal gara-gara desakan untuk segera menikah?” ledek ayahnya. “Ukkhhh, kenapa ucapan ayah selalu tepat sasaran sih,” gerutu dalam hati. “Ayah, aku sebaiknya kembali pulang saja. Sudah terlalu larut juga. Sebaiknya ayah segera beristirahat, selamat malam ayah,” ucap Nathan sambil berbalik dan berlari menuju mobilnya. “Dasar anak ini!” omel ayahnya, “hati-hati di jalan,” lanjutnya dengan suara lebih keras. Nathan hanya melambaikan tangan tanpa menoleh. Lalu masuk ke dalam mobilnya lagi menuju rumahnya. Ia melirik jam tangannya, terlihat sudah hampir jam 12 malam. “Kenapa sih aku selalu pulang selarut ini,” keluhnya. Ponselnya kembali berdering, ia menjawabnya. “Halo?” ucapnya. “Anak ini! Kau bersekongkol dengan ayahmu ya! Sudah sampai rumah bukannya mampir, tapi malah langsung pulang,” omel ibunya. “Bu, hentikan… putramu ini sangat lelah. Akhir pekan ini saja mengomelnya. Aku akan berkunjung lagi,” jawabnya. “Baiklah, ibu akan menantikannya, selamat malam. Kututup dulu ya,” “Selain berkunjung, aku akan memberikan banyak keluhan untuk ibu. Tunggu saja bu,” gerutunya. *** Pagi harinya saat Nathan sudah di parkiran, ia hendak mengambil berkas di jok belakang mobilnya. Namun… “SIAL!” Bersambung…Tangisan terdengar cukup keras dari dalam ruangan.“Huaaa... hiks...”Aurora duduk di sofa sambil menangis sesenggukan. Kedua tangannya menutupi wajahnya. Bahunya naik turun setiap kali ia mencoba menahan isakannya.Darren yang duduk di sampingnya hanya bisa menghela napas. Ia kemudian menepuk-nepuk pundak saudara kembarnya itu. “Sudahlah, Aurora.”“Aku... aku tidak tahu kalau Ibu mengalami semua itu...” isak Aurora.Darren terdiam. Sejujurnya, ia juga baru mengetahui sebagian besar kisah hidup ibunya. Namun dibandingkan Aurora, dirinya masih bisa menahan air mata.Aurora kembali menyeka pipinya. “Ternyata aku punya ayah...”Darren langsung menatapnya.“...”Tangisan Aurora kembali pecah. “Ternyata aku punya ayah!”Darren menutup wajahnya dengan satu tangan. “Ya, kau kan sudah tahu dari penjelasan Ibu.”“Tapi selama ini aku tidak tahu!”“Sekarang kan kau sudah tahu.”
“Jangan,” ucap Amber. Satu kata itu membuat Nathan terdiam.Ia menatap Amber yang masih berdiri di hadapannya. Wanita itu terlihat sangat cemas, seolah ada sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar pertemuan kembali dengan keluarganya.“Kenapa, Kak?” tanya Nathan.Amber menggenggam kedua tangannya erat. “Pelakunya belum diketahui.” Suaranya terdengar pelan. “Bagaimana jika orang yang membuat semua itu terjadi masih mencariku?”Nathan mengerutkan dahi. “Kakak ipar.” Suaranya menjadi lebih serius. “Kalau Kakak tetap tinggal di sini, mungkin justru akan lebih berbahaya.”Amber menatapnya.“Apalagi sekarang Loraine sudah datang ke sini.”“Apa hubungannya dengan Loraine?” tanya Amber bingung.Nathan menghela napas. “Loraine memutuskan komunikasi dengan kalian karena Leon.”Ekspresi Amber langsung berubah ketika mendengar nama itu.“Leon tidak pernah menerima kenyataan bahwa mereka sud
“Ka-kakak ipar?” Nathan refleks mengucapkan kalimat itu begitu melihat sumber suara gelas pecah.Loraine yang masih duduk di sampingnya langsung menoleh. “Apa?” batinnya. Ia menatap Nathan dengan bingung.Ekspresi pria itu terlihat sangat berbeda dari sebelumnya. Nathan bahkan sudah berdiri dan menatap Amber dengan mata yang membesar.Loraine mengerutkan dahi. “Kakak ipar?” tanyanya dalam hati. Apa dirinya tidak salah dengar?Nathan langsung berjalan cepat menghampiri Amber yang masih berdiri mematung di tempatnya. Wanita itu bahkan belum bergerak sedikit pun sejak gelas di tangannya terjatuh.“Kak Daisy?” Nathan berhenti tepat di hadapan Amber. “Kakak ipar!”Tangannya refleks memegang kedua pundak wanita itu. “Ini benar Kakak, kan?”Amber masih membeku. Aurora yang melihat Nathan memegang pundak ibunya langsung maju dan mendorong tangan pria itu. “Lepaskan Ibu!”Nathan sedikit terhuyung. Darren juga langsung be
“...”Nathan masih mematung menatap pemuda di hadapannya.Loraine yang sejak tadi memperhatikan reaksinya akhirnya ikut menatap pemuda tersebut. Ia mengerutkan dahi, mencoba mengingat wajah yang sudah bertahun-tahun tidak dilihatnya.“Darren?”Pemuda itu yang masih berdiri di hadapan Nathan langsung menoleh kepada Loraine. Ia menyipitkan matanya sejenak. Tatapannya terlihat seperti sedang berusaha mengingat sesuatu dari masa lalu.Beberapa detik kemudian, matanya melebar.“...Kak Loraine?” Wajahnya langsung berubah cerah.“Kak Loraine!” Darren tersenyum lebar. Ia bahkan terlihat jauh lebih bersemangat daripada sebelumnya. “Kemana saja Kakak selama ini?”Loraine ikut tersenyum. “Darren... sudah lama sekali.”Namun sebelum Loraine sempat mengatakan lebih banyak, Darren tiba-tiba menoleh ke arah bawah pohon besar yang berada tidak jauh dari mereka. “Aurora!”Seorang gadis muda terlihat duduk di ba
“Apa ada orang terdekat yang akan kau undang saat pesta pernikahan kita nanti? Mengingat itu hari bahagia kita.”Pertanyaan Nathan membuat Loraine terdiam.Ia sebenarnya sudah memikirkan hal itu beberapa kali sejak mereka memutuskan untuk tetap melangsungkan pesta pernikahan. Namun setiap kali memikirkannya, ada satu nama yang selalu muncul di kepalanya.Hanya saja, entah kenapa menyebut nama itu terasa sulit.“Kenapa diam?” tanya Nathan.Loraine memainkan ujung tisu di tangannya. “Ada... satu orang.”Nathan mengangguk. “Siapa?”Loraine membuka mulut, tetapi tidak langsung menjawab. Namun setelah beberapa detik, Loraine kembali terdiam.Nathan tidak mendesaknya. Ia hanya menatap Loraine dengan tenang, menunggu wanita itu melanjutkan.“Namanya...” Loraine berpikir sejenak. “Bibi Martha Hart.”Nathan mengangguk kecil.“Beliau pemilik panti asuhan tempat saya dulu dibesarkan.” Loraine men
“Kalau begitu...” ucap Nathan. Loraine menatapnya.Nathan mengangkat alis. “Bagaimana dengan pesta pernikahan kita?”Pertanyaan itu membuat pikiran Loraine yang sebelumnya sudah mulai tenang kembali berantakan.“Pesta pernikahan,” pikirnya. “Benar. Kami baru saja membicarakan berakhirnya kontrak, lalu Pak Nathan mengungkapkan perasaannya, dan sekarang bagaimana dengan pesta pernikahan yang tinggal beberapa minggu lagi?” batinnya sangat bergejolak. Loraine menundukkan wajah.“Bagaimana dengan pesta pernikahan kita?”Pertanyaan Nathan kembali terngiang di kepalanya. Sejujurnya, Loraine sendiri tidak tahu.“Kalau menurut saya...” Loraine berhenti sejenak. “Saya akan mengikuti keputusan Anda.”Nathan mengerutkan dahi. “Mengikuti keputusanku?”Loraine mengangguk pelan.“Ya. Bagaimanapun, pesta ini awalnya diadakan karena kontrak kita.” Loraine memainkan ujung tisu di tangannya. “Jadi setelah kontraknya berakhir, saya pikir keputusan selanjutnya ada di tangan Anda.”Nathan menatapnya bebe







