Masuk“Arghhh,” teriak Loraine kesakitan.
Nathan yang berhasil mendobrak pintu dan langsung bergegas masuk. Melihat semua yang kacau itu, tanpa basa basi menendang Leon hingga ia terpental dan melepas tangannya dari rambut Loraine. Dengan segera Nathan langsung merengkuh tubuh Loraine dan menggendongnya di atas pundak. Posisi ini adalah satu-satunya cara agar punggung wanita itu tidak tersentuh. Nathan bergerak secepat mungkin tanpa membuat gadis itu semakin kesakitan dan berlari keluar. “Kau! Bagaimana bisa tiba-tiba muncul? Berhenti!” teriak Leon. “Sial! Kalian bersekongkol mempermainkanku!” teriak Leon saat mencoba berlari mengejar mereka. Loraine sudah dibawa pergi Nathan. Dia dibaringkan di kursi belakang dengan posisi tengkurap. Loraine yang mulai sadarkan diri menatap punggung Nathan, pundaknya naik turun tak beraturan karena napas yang memburu. “Pak Nathan menepati ucapannya,” gumamnya. Ingatan Loraine bercampur tentang banyak hal, dari pengasingan serta cibiran yang selama ini ia terima dari keluarga mantan suami hingga kegugurannya. Suara ponsel Nathan memecah keheningan. “Astaga mengagetkanku saja,” gerutunya sambil mengangkat tanpa melihat siapa yang menelepon. “Putraku… lama sekali kau mengangkat telepon ibu?” “Bu… nanti kutelepon lagi. Jadi sekarang kumatikan dulu ya,” Setibanya di rumah sakit, dokter segera menangani luka Loraine. Selain luka bekas pecahan kaca, suhu tubuhnya juga tinggi. Wanita itu akhirnya opname untuk beberapa hari ke depan. Saat Loraine mulai sadarkan diri, wajah pertama yang dilihatnya adalah wajah atasannya itu. Rasa bersalah kembali muncul. “Pak Nathan?” panggilnya. “Maafkan saya telah merepotkan bapak lagi. Saya sudah merasa baikan. Bapak sebaiknya kembali pulang dan beristirahat,” lanjutnya. Nathan tak ingin membantahnya, sudah jelas wanita itu membutuhkan waktu untuk sendiri. Ia mengangguk dan beranjak pergi. Loraine menatap punggung Nathan yang semakin menjauh. Ia merasa sangat bersalah sekaligus malu karena melibatkan orang lain dalam masalah pribadinya. “Aku harus bagaimana setelah ini,” pikirnya. Mengingat Leon kini sudah tak lagi memprioritaskan citranya seperti yang selama ini dikenalnya. Loraine mulai mengkhawatirkan keselamatan dirinya. Ia tahu bahwa tak memiliki siapapun untuk dimintai pertolongan. Pikirannya kembali dipenuhi dengan hal-hal buruk. Diantara semua itu, sekilas wajah Nathan terbesit di benaknya. Loraine dengan cepat menggelengkan kepalanya. “Tidak… tidak. Jangan libatkan pak Nathan lagi. Beliau sudah menolongku sejauh ini,” gumamnya. Ia kembali teringat saat makan siang tadi. Nathan yang mengajukan diri untuk mengantarnya bertemu Leon. Bahkan Nathan bersedia menunggunya. Loraine masih teringat jelas dengan ucapan Nathan, “sepuluh menit kau belum keluar dari rumah itu, aku akan mendobrak masuk.” Tatapannya beralih ke langit-langit ruangan itu. Rasanya ia ingin kabur dan menghilang, tapi ia tak bisa melakukannya. Sebab ia tahu, kemanapun ia pergi dan lari, Leon pasti bisa menemukannya. Jadi Loraine benar-benar tak memiliki tempat untuk bersembunyi atau menghilang. Dan bekerja adalah satu-satunya hal yang membuatnya bisa bernapas lega dari gangguan Leon, setidaknya selama jam kerja. “Bagaimana jika Leon tahu, kalau aku sedang dirawat di sini?” pikiran itu tiba-tiba muncul. “A-apa yang harus kulakukan?” bisiknya pelan. Ia melihat sekelilingnya, tempat tidur untuk pasien lain yang ada di ruangan itu kosong semua. Hanya dia satu-satunya pasien di ruangan itu. Rasa takut kembali menjalar ke seluruh tubuhnya. Saat pintu ruangan itu terbuka, Loraine tersentak kaget. Saat seorang perawat yang masuk, napasnya sedikit lega. “Maaf, apakah saya mengejutkan anda, bu?” tanya perawat itu dengan sopan. “Ya, sedikit mengejutkan. Tapi tidak apa-apa,” jawab Loraine. “Saya sungguh minta maaf, bu,” ulang perawat itu. Loraine hanya tersenyum, perawat itu mendekat dan memberikan obat padanya. Lalu sebelum perawat itu kembali, Loraine mengajaknya bicara. “Apa saya boleh meminta tolong?” tanyanya akhirnya. “Boleh, bu. Apa itu?” jawab perawat. “Saya tak ingin bertemu dengan siapapun, jadi… jika ada orang yang mungkin ingin menjenguk. Bisakah ditolak?” Loraine menjelaskan. “Tentu saja. Kenyamanan pasien adalah prioritas utama. Saya akan sampaikan ke bagian resepsionis. Ada yang lain lagi, bu?” tanya perawat. “Sudah… itu saja. Terima kasih ya,” ucap Loraine sambil tersenyum. “Sama-sama, bu. Silakan beristirahat,” jawab perawat, kemudian keluar dari ruangan itu. “Setidaknya ini pencegahan yang bisa kulakukan untuk sekarang,” gumam Loraine. Matanya kini terasa berat, mungkin obat yang diberikan perawat tadi mulai bereaksi. Tak lama kemudian, Loraine akhirnya tertidur. Di sisi lain, saat Nathan keluar dari ruangan tempat Loraine dirawat. Ia berjalan menuju parkiran, saat hendak membuka pintu mobilnya. Seseorang memanggilnya. “Nathan?” Degh… suara itu familiar. Nathan memejamkan matanya erat sebelum akhirnya menoleh ke sumber suara tersebut. Bersambung…“Kalau begitu...” ucap Nathan. Loraine menatapnya.Nathan mengangkat alis. “Bagaimana dengan pesta pernikahan kita?”Pertanyaan itu membuat pikiran Loraine yang sebelumnya sudah mulai tenang kembali berantakan.“Pesta pernikahan,” pikirnya. “Benar. Kami baru saja membicarakan berakhirnya kontrak, lalu Pak Nathan mengungkapkan perasaannya, dan sekarang bagaimana dengan pesta pernikahan yang tinggal beberapa minggu lagi?” batinnya sangat bergejolak. Loraine menundukkan wajah.“Bagaimana dengan pesta pernikahan kita?”Pertanyaan Nathan kembali terngiang di kepalanya. Sejujurnya, Loraine sendiri tidak tahu.“Kalau menurut saya...” Loraine berhenti sejenak. “Saya akan mengikuti keputusan Anda.”Nathan mengerutkan dahi. “Mengikuti keputusanku?”Loraine mengangguk pelan.“Ya. Bagaimanapun, pesta ini awalnya diadakan karena kontrak kita.” Loraine memainkan ujung tisu di tangannya. “Jadi setelah kontraknya berakhir, saya pikir keputusan selanjutnya ada di tangan Anda.”Nathan menatapnya bebe
“Loraine, jangan menangis seperti itu. Aku benar-benar tidak tahu harus melakukan apa.” Suara Nathan terdengar panik.Loraine masih menunduk. Tangannya menggenggam tisu yang diberikan Nathan, sementara air mata terus mengalir tanpa bisa ia hentikan.Ia sendiri tidak mengerti kenapa dirinya menangis sebanyak ini. Padahal Nathan tidak mengatakan sesuatu yang menyakitkan, justru sebaliknya.Untuk pertama kalinya, pria itu mengatakan apa yang sebenarnya ia rasakan. Nathan mencintainya. Kalimat sederhana itu terus berputar di kepala Loraine. “Aku mencintaimu, Loraine.”Entah kenapa, mendengarnya langsung dari mulut Nathan membuat dadanya terasa sesak sekaligus hangat. Selama beberapa waktu terakhir, Loraine memang mulai menyadari bahwa sikap Nathan kepadanya telah berubah.Perhatian kecil yang semakin sering diberikan. Cara Nathan selalu memastikan dirinya sudah makan lalu cara pria itu memperhatikannya ketika mereka sedang berada di rumah. Ba
“Apa yang ingin Anda sampaikan?” tanya Loraine. Nathan terdiam, pertanyaan sederhana itu justru membuat seluruh keberanian yang sudah dikumpulkannya sejak tadi terasa menghilang.Ia menatap Loraine yang masih duduk di hadapannya. Wanita itu terlihat tegang. Kedua tangannya masih berada di atas pangkuan, sementara matanya menatap Nathan dengan penuh rasa penasaran.Nathan menarik napas panjang, ia sudah sampai sejauh ini. Kontrak mereka sudah berakhir. Tidak ada lagi alasan untuk menyembunyikan perasaannya di balik kesepakatan. Jika ia ingin mempertahankan wanita itu, sekarang adalah satu-satunya kesempatan untuk mengatakannya.“Ada sesuatu yang sebenarnya sudah cukup lama ingin kukatakan,” kata Nathan. Loraine menunggu.Nathan menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya berkata, “Mungkin ini akan terdengar egois.”Loraine sedikit mengerutkan dahi. “Egois?” ulangnya. Nathan mengangguk pelan. “Karena setelah kontrak ini berakhir, seharusnya aku membiarkanmu pergi.”Jantung Loraine be
“Mengakhiri kontrak?”Nathan masih terdiam, kalimat Loraine terus berputar di kepalanya. Ia menatap wanita di hadapannya tanpa berkata apa-apa. Untuk beberapa detik, pikirannya benar-benar kosong.Lalu berbagai kemungkinan mulai bermunculan.Jika ia menyetujui permintaan Loraine, semuanya akan selesai. Tidak ada lagi alasan bagi mereka untuk tinggal bersama. Loraine bisa kembali menjalani hidupnya sendiri.“Lalu, bagaimana dengan diriku?” tanya Nathan dalam hati.Ia menundukkan wajahnya. “Tapi jika aku menolak? Aku membutuhkan alasan,” lanjutnya dalam hati.Ia ingin mengakui bahwa dirinya tidak ingin kontrak itu berakhir. Dan itu berarti harus mengakui perasaan yang bahkan sampai sekarang masih dipendamnya itu.Nathan mengepalkan tangannya di bawah meja.“Aku setuju,” suara dalam pikirannya berkata demikian. “Kalau memang dia ingin pergi, lepaskan.” Namun suaranya yang lain segera menyela. “Tidak.” Nathan menarik napas panjang. “Kalau aku mengatakan tidak, lalu apa yang akan kukataka
Dua bulan berlalu sejak Nathan pertama kali menyadari bahwa perasaannya terhadap Loraine sudah berubah. Sejak saat itu, banyak hal berubah di antara mereka. Belum ada pengakuan atau pembicaraan mengenai perasaan masing-masing. Tapi Nathan juga tidak lagi berusaha menyembunyikan perhatiannya kepada Loraine. Jika sebelumnya ia selalu mencari alasan untuk membantu wanita itu, kini ia melakukannya tanpa banyak berpikir.Loraine pun mulai terbiasa dengan kebiasaan-kebiasaan kecil dengan Nathan yang perlahan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.~Suasana di kantor Green Group jauh lebih sibuk daripada biasanya. Hari itu merupakan hari yang sudah ditunggu-tunggu Nathan selama berbulan-bulan. Pengumuman resmi mengenai posisi barunya akhirnya disampaikan.Nathan West secara resmi dipromosikan menjadi Wakil CEO Green Group. Berita tersebut langsung menjadi bahan pembicaraan di seluruh perusahaan.Beberapa karyawan mengucapkan selamat ketika Nathan melewati lorong kantor. Bahkan beberapa
Senin pagi datang terlalu cepat bagi Nathan. Pria itu berdiri di depan cermin sambil merapikan dasinya. Tatapannya tampak serius, tetapi pikirannya justru dipenuhi satu hal yang sama sekali tidak berhubungan dengan pekerjaannya.Loraine.Nathan menghela napas. “Mulai hari ini, bersikaplah biasa.” Ia menatap pantulan dirinya sendiri.“Dia tetap sekretarisku. Aku tetap atasannya.” Nathan mengangguk seolah sedang memberikan instruksi penting kepada dirinya sendiri.“Tidak perlu memperhatikannya terus-menerus. Tidak perlu memikirkan apa yang dia lakukan. Dan yang paling penting…”Ia berhenti sejenak.“Jangan bersikap aneh.”Setelah merasa cukup yakin, Nathan mengambil jasnya lalu keluar dari kamar. Namun begitu turun ke lantai bawah, langkahnya langsung berhenti.Loraine sudah berada di meja makan. Wanita itu sedang mengobrol dengan bibi Ratna sambil sesekali melihat jam di dinding. Rambut panjangnya diikat sederhana. Pakaian kerjanya sudah rapi.Nathan terdiam.“Pagi, Pak Nathan.”Nathan







