共有

BAB 5

作者: Riichan
last update 公開日: 2026-06-24 16:07:31

“Arghhh,” teriak Loraine kesakitan.

Nathan yang berhasil mendobrak pintu dan langsung bergegas masuk. Melihat semua yang kacau itu, tanpa basa basi menendang Leon hingga ia terpental dan melepas tangannya dari rambut Loraine.

Dengan segera Nathan langsung merengkuh tubuh Loraine dan menggendongnya di atas pundak. Posisi ini adalah satu-satunya cara agar punggung wanita itu tidak tersentuh. Nathan bergerak secepat mungkin tanpa membuat gadis itu semakin kesakitan dan berlari keluar.

“Kau! Bagaimana bisa tiba-tiba muncul? Berhenti!” teriak Leon.

“Sial! Kalian bersekongkol mempermainkanku!” teriak Leon saat mencoba berlari mengejar mereka.

Loraine sudah dibawa pergi Nathan. Dia dibaringkan di kursi belakang dengan posisi tengkurap. Loraine yang mulai sadarkan diri menatap punggung Nathan, pundaknya naik turun tak beraturan karena napas yang memburu.

“Pak Nathan menepati ucapannya,” gumamnya.

Ingatan Loraine bercampur tentang banyak hal, dari pengasingan serta cibiran yang selama ini ia terima dari keluarga mantan suami hingga kegugurannya. Suara ponsel Nathan memecah keheningan.

“Astaga mengagetkanku saja,” gerutunya sambil mengangkat tanpa melihat siapa yang menelepon.

“Putraku… lama sekali kau mengangkat telepon ibu?”

“Bu… nanti kutelepon lagi. Jadi sekarang kumatikan dulu ya,”

Setibanya di rumah sakit, dokter segera menangani luka Loraine. Selain luka bekas pecahan kaca, suhu tubuhnya juga tinggi. Wanita itu akhirnya opname untuk beberapa hari ke depan.

Saat Loraine mulai sadarkan diri, wajah pertama yang dilihatnya adalah wajah atasannya itu. Rasa bersalah kembali muncul.

“Pak Nathan?” panggilnya.

“Maafkan saya telah merepotkan bapak lagi. Saya sudah merasa baikan. Bapak sebaiknya kembali pulang dan beristirahat,” lanjutnya.

Nathan tak ingin membantahnya, sudah jelas wanita itu membutuhkan waktu untuk sendiri. Ia mengangguk dan beranjak pergi.

Loraine menatap punggung Nathan yang semakin menjauh. Ia merasa sangat bersalah sekaligus malu karena melibatkan orang lain dalam masalah pribadinya.

“Aku harus bagaimana setelah ini,” pikirnya.

Mengingat Leon kini sudah tak lagi memprioritaskan citranya seperti yang selama ini dikenalnya. Loraine mulai mengkhawatirkan keselamatan dirinya. Ia tahu bahwa tak memiliki siapapun untuk dimintai pertolongan.

Pikirannya kembali dipenuhi dengan hal-hal buruk. Diantara semua itu, sekilas wajah Nathan terbesit di benaknya. Loraine dengan cepat menggelengkan kepalanya.

“Tidak… tidak. Jangan libatkan pak Nathan lagi. Beliau sudah menolongku sejauh ini,” gumamnya.

Ia kembali teringat saat makan siang tadi. Nathan yang mengajukan diri untuk mengantarnya bertemu Leon. Bahkan Nathan bersedia menunggunya.

Loraine masih teringat jelas dengan ucapan Nathan, “sepuluh menit kau belum keluar dari rumah itu, aku akan mendobrak masuk.”

Tatapannya beralih ke langit-langit ruangan itu. Rasanya ia ingin kabur dan menghilang, tapi ia tak bisa melakukannya. Sebab ia tahu, kemanapun ia pergi dan lari, Leon pasti bisa menemukannya.

Jadi Loraine benar-benar tak memiliki tempat untuk bersembunyi atau menghilang. Dan bekerja adalah satu-satunya hal yang membuatnya bisa bernapas lega dari gangguan Leon, setidaknya selama jam kerja.

“Bagaimana jika Leon tahu, kalau aku sedang dirawat di sini?” pikiran itu tiba-tiba muncul.

“A-apa yang harus kulakukan?” bisiknya pelan.

Ia melihat sekelilingnya, tempat tidur untuk pasien lain yang ada di ruangan itu kosong semua. Hanya dia satu-satunya pasien di ruangan itu. Rasa takut kembali menjalar ke seluruh tubuhnya.

Saat pintu ruangan itu terbuka, Loraine tersentak kaget. Saat seorang perawat yang masuk, napasnya sedikit lega.

“Maaf, apakah saya mengejutkan anda, bu?” tanya perawat itu dengan sopan.

“Ya, sedikit mengejutkan. Tapi tidak apa-apa,” jawab Loraine.

“Saya sungguh minta maaf, bu,” ulang perawat itu.

Loraine hanya tersenyum, perawat itu mendekat dan memberikan obat padanya. Lalu sebelum perawat itu kembali, Loraine mengajaknya bicara.

“Apa saya boleh meminta tolong?” tanyanya akhirnya.

“Boleh, bu. Apa itu?” jawab perawat.

“Saya tak ingin bertemu dengan siapapun, jadi… jika ada orang yang mungkin ingin menjenguk. Bisakah ditolak?” Loraine menjelaskan.

“Tentu saja. Kenyamanan pasien adalah prioritas utama. Saya akan sampaikan ke bagian resepsionis. Ada yang lain lagi, bu?” tanya perawat.

“Sudah… itu saja. Terima kasih ya,” ucap Loraine sambil tersenyum.

“Sama-sama, bu. Silakan beristirahat,” jawab perawat, kemudian keluar dari ruangan itu.

“Setidaknya ini pencegahan yang bisa kulakukan untuk sekarang,” gumam Loraine.

Matanya kini terasa berat, mungkin obat yang diberikan perawat tadi mulai bereaksi. Tak lama kemudian, Loraine akhirnya tertidur.

Di sisi lain, saat Nathan keluar dari ruangan tempat Loraine dirawat. Ia berjalan menuju parkiran, saat hendak membuka pintu mobilnya. Seseorang memanggilnya.

“Nathan?”

Degh… suara itu familiar. Nathan memejamkan matanya erat sebelum akhirnya menoleh ke sumber suara tersebut.

Bersambung…

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Dikejar Mantan, Dipeluk Atasan   BAB 9

    “A-apa ini?” ucapnya.Ia sangat terkejut hingga menutup mulutnya dengan kedua tangannya.Begitu banyak buket bunga memenuhi depan pintunya. Bahkan ada banyak tumpukan hadiah dari merk-merk terkenal. Sudah jelas bahwa ini semua ulah Leon. “Aku tak menginginkan ini semua,” ucapnya lirih sambil berderai air mata. Loraine memesan jasa kebersihan untuk membersihkan semua buket bunga beserta hadiah-hadiah itu. “Maaf, bu. Apakah anda yakin hadiah-hadiah ini juga dibuang?” tanya petugas yang datang.“Benar, pak,” jawabnya singkat. “Bukankah ini semua barang-barang mahal?” petugas itu masih tak habis pikir dengan keputusan Loraine.“Memang, tetapi saya tak menginginkan semua ini. Jadi bisakah anda segera membereskan semuanya?” ucap Loraine. “Ma-maaf…” petugas lain menyela.Loraine menoleh dan menjawab, “ya?”“Ji-jika anda berkenan, apakah saya boleh meminta ini?” tanya petugas itu ragu-ragu. Loraine menatap sekilas kardus yang ditunjuk oleh petugas itu, salah satu hadiah dari banyak tump

  • Dikejar Mantan, Dipeluk Atasan   BAB 8

    “Leon? Apa dia sudah tahu kalau aku di sini?” pikirnya. Pikiran itu kembali memenuhi kepala Loraine. Perawat itu berjalan mendekat ke arah Loraine dan mengatakan, “saya letakkan di sini ya?” “Tu-tunggu. Bisakah anda lihat apa isinya?” tanya Loraine ragu.Perawat mengangguk pelan dan mengeluarkan isinya. Ternyata berisi sebuah tas yang familiar bagi Loraine. “Oh! Tasku!” seru Loraine. Loraine mengulurkan tangannya perlahan. Perawat itu menyerahkan tas tersebut. Saat menerimanya Loraine mengucapkan terima kasih.Perawatan tersebut akhirnya keluar dan meninggalkan Loraine sendirian. Sementara Loraine mengecek isi tasnya masih lengkap. Dia mulai penasaran tentang pengirimnya.“Jelas bukan dari Leon. Dia tak mungkin melakukan tindakan seperti untuk sekarang, mengingat kejadian semalam. Lalu siapa?” tanyanya sendiri.“Apakah pak Nathan?” tanyanya lirih.Pertanyaan itu tetap tertinggal di pikirannya untuk beberapa saat. Loraine mengecek ponselnya, tak ada seseorang atau teman dekat yang

  • Dikejar Mantan, Dipeluk Atasan   BAB 7

    “SIAL!”Kata itu keluar begitu saja saat dia melihat tas milik Loraine tertinggal di dalam mobilnya. Dengan segera ia meraihnya dan membuka.“Ponselnya di dalam tas ini!” ucapnya.“Perusahaan tidak menoleransi jika karyawannya tidak masuk tanpa keterangan jelas. Wanita itu dalam masalah jika ia tak bisa menghubungi kantor karena sedang opname, kan. Apes banget nasibnya,” gumamnya. Nathan mencoba menyalakan ponsel milik Loraine itu, “bisa-bisanya ponselnya tak memakai sandi, coba ku cari kontak asisten manajer atau manajernya.”Saat membuka kontaknya, Nathan menggelengkan kepalanya. Ia benar-benar tak habis pikir, bisa-bisanya tak memiliki satu kontak tersimpan.“Apa dia dirundung dan dikucilkan di kantor? Bukankah perusahaan akan menindak tegas jika terjadi perundungan antar karyawan. Ah sudahlah,” Nathan kembali memasukkan ponsel milik Loraine ke dalam tas itu seperti semula. Ia mengeluarkan ponselnya untuk menelepon Jackson. “Halo, pak. Ada yang bisa saya bantu?” jawab Jackson.“

  • Dikejar Mantan, Dipeluk Atasan   BAB 6

    “Nathan?”Degh… suara itu familiar. Nathan memejamkan matanya erat sebelum akhirnya menoleh ke sumber suara tersebut. “Ayahhh…” ucapnya sambil tersenyum saat ia mendapati ayahnya berada tak jauh di belakangnya. Ayahnya berjalan mendekatinya lalu menyentuh lengan Nathan dengan pelan.“Sedang apa di rumah sakit jam segini?” tanyanya. Ekspresi ayahnya sedikit berubah khawatir, “apa kau sakit?”“Tidak ayah, aku baik-baik saja. Yah hanya mengantar teman saja tadi,” jawab Nathan. Jawaban itu tak sepenuhnya bohong, sebab dia benar-benar telah mengantarkan Loraine untuk diobati. Sementara ayahnya sedikit terlihat lega karena putranya baik-baik saja. “Teman? Jackson maksudmu? Apa kau lagi-lagi memberinya banyak pekerjaan?” tanyanya lagi.“Jackson? Sakit? Jelas itu suatu hal mustahil ayah. Seorang Jackson sakit bisa-bisa diperingati sebagai hari libur nasional,” jawab Nathan. “Hahahaha… kau masih saja melontarkan lelucon konyol. Walau begitu, tetap perhatikan dia. Dia anak yang baik, kau

  • Dikejar Mantan, Dipeluk Atasan   BAB 5

    “Arghhh,” teriak Loraine kesakitan. Nathan yang berhasil mendobrak pintu dan langsung bergegas masuk. Melihat semua yang kacau itu, tanpa basa basi menendang Leon hingga ia terpental dan melepas tangannya dari rambut Loraine. Dengan segera Nathan langsung merengkuh tubuh Loraine dan menggendongnya di atas pundak. Posisi ini adalah satu-satunya cara agar punggung wanita itu tidak tersentuh. Nathan bergerak secepat mungkin tanpa membuat gadis itu semakin kesakitan dan berlari keluar.“Kau! Bagaimana bisa tiba-tiba muncul? Berhenti!” teriak Leon. “Sial! Kalian bersekongkol mempermainkanku!” teriak Leon saat mencoba berlari mengejar mereka. Loraine sudah dibawa pergi Nathan. Dia dibaringkan di kursi belakang dengan posisi tengkurap. Loraine yang mulai sadarkan diri menatap punggung Nathan, pundaknya naik turun tak beraturan karena napas yang memburu.“Pak Nathan menepati ucapannya,” gumamnya.Ingatan Loraine bercampur tentang banyak hal, dari pengasingan serta cibiran yang selama ini

  • Dikejar Mantan, Dipeluk Atasan   BAB 4

    “Kau kan bisa langsung masuk, password pintu masih sama yaitu tanggal lahirmu,” ucap Leon setelah membukakan pintu saat mendengar bel berbunyi.Loraine akhirnya masuk ke rumah Leon. Rumah yang sudah lima tahun ditempatinya saat masih menjadi istri Leon Valeㅡpria yang sering menjadi sampul majalah bisnis ataupun sering masuk di beberapa stasiun tv. Pria yang terkenal ramah dan selalu hadir di acara amal serta terkenal sebagai family man. Hampir semua wanita menginginkan menjadi pasangannya. “Aku hanya sebentar saja di sini,” ucap Loraine.Loraine berusaha tetap tenang, ia melihat sekilas semuanya tidak berubah. Masih sama seperti terakhir diingatnya. Bahkan foto pernikahan mereka masih terpajang di ruang tamu.Leon menyadari bahwa ekspresi Loraine sedikit melembut karena melihat foto-foto kenangan mereka masih terpajang seperti saat ia masih tinggal di sini.“Kau pasti belum makan, aku sudah menyiapkan makanan kesukaanmu,” ucap Leon dengan lembut. Loraine tak menjawabnya, hanya meli

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status