Share

BAB 7

Penulis: Riichan
last update Tanggal publikasi: 2026-06-24 16:09:14

“SIAL!”

Kata itu keluar begitu saja saat dia melihat tas milik Loraine tertinggal di dalam mobilnya. Dengan segera ia meraihnya dan membuka.

“Ponselnya di dalam tas ini!” ucapnya.

“Perusahaan tidak menoleransi jika karyawannya tidak masuk tanpa keterangan jelas. Wanita itu dalam masalah jika ia tak bisa menghubungi kantor karena sedang opname, kan. Apes banget nasibnya,” gumamnya.

Nathan mencoba menyalakan ponsel milik Loraine itu, “bisa-bisanya ponselnya tak memakai sandi, coba ku cari kontak asisten manajer atau manajernya.”

Saat membuka kontaknya, Nathan menggelengkan kepalanya. Ia benar-benar tak habis pikir, bisa-bisanya tak memiliki satu kontak tersimpan.

“Apa dia dirundung dan dikucilkan di kantor? Bukankah perusahaan akan menindak tegas jika terjadi perundungan antar karyawan. Ah sudahlah,”

Nathan kembali memasukkan ponsel milik Loraine ke dalam tas itu seperti semula. Ia mengeluarkan ponselnya untuk menelepon Jackson.

“Halo, pak. Ada yang bisa saya bantu?” jawab Jackson.

“Tolong sampaikan ke bagian SDM, bahwa karyawan bernama Loraine tidak masuk hari ini karena opname. Proses secepat mungkin.”

“Yang bersangkutan di unit apa, pak?”

“Kau cari tahu sendiri, bukankah itu tugasmu?”

Nathan menutup ponselnya.

Di waktu yang sama, Loraine merasa jauh lebih baik. Saat perawat berkunjung, ia menanyakan apakah sudah boleh pulang hari ini. Perawat itu menjelaskan bahwa ia baru bisa pulang besok.

Loraine menatap ke arah luar jendela, langit terlihat cerah. Seolah beban hidupnya terasa tak seberapa dibandingkan awan-awan di langit.

“Syukurlah, sebelum pulang kerja kemarin aku sudah mengajukan cuti untuk dua hari. Setidaknya ponselku hilang tak menjadi masalah besar buatku. Toh tak ada hal penting di dalamnya,” gumamnya.

Hari itu ia merasa sedikit damai atau mungkin terasa ringan seolah semua beban hidupnya terangkat sementara.

“Aku harap perasaan ini tak sementara,” bisiknya pelan.

Lalu setelahnya ia tertawa getir, “orang sepertiku tak pantas mengharapkan kedamaian. Hanya kesepianlah yang paling setia menemaniku pada akhirnya.”

“Ya, aku memang terlahir seperti itu, kan? Bahkan orang tuaku telah membuangku saat aku lahir,” senyum getir itu kembali menghiasi wajahnya.

“Selain itu… anakku, bahkan juga meninggalkanku disaat aku menjaganya sepenuh hati,” Loraine menangis sambil meremas perutnya.

Ia teringat kandungannya yang keguguran. Kemudian tersadar dan menyeka air matanya sendiri. Loraine menarik napas panjang dan menghembuskan pelan.

“Maafkan ibu, nak,” bisiknya akhirnya dengan suara yang bergetar.

Perawat kembali datang untuk mengantarkan makan siang. Ia menyapa namun Loraine tak menjawabnya. Perawat itu mengamatinya, tampak hidung dan matanya masih membekas warna merahㅡjelas akibat menangis.

“Ehm… selamat siang, bu” ucap perawat pelan.

“Ah… ya, siang. Maaf saya sepertinya melamun, hingga tak menyadari kedatangan anda,” jawab Loraine.

“Cuaca di luar terlihat cerah, apa ibu mau saya temani keluar menghirup udara segar? Anda bisa sekalian makan siang juga seperti sedang piknik,” kata perawat.

“Terima kasih, tapi saya hanya ingin sendirian di sini saja,” jawab Loraine.

“Baiklah, kalau begitu saya permisi,” pamit perawat itu.

Loraine menatap makanan yang sudah disiapkan perawat tadi. Dia hanya memakan beberapa suap saja akibat tak berselera makan.

Ia kembali membaringkan tubuhnya. Punggungnya sesekali terasa perih, namun masih bisa ditahan.

“Tadi malam, jika pak Nathan tak menyelamatkanku. Bukankah artinya aku bisa bertemu dan berkumpul dengan anakku, kan?” gumamnya pelan dan air matanya kembali menetes tanpa sadar.

“Apa anakku mau bertemu ibu pengecut sepertiku? Bahkan aku saja tak pantas sekedar mengharapkan bertemu dengan anakku,” Loraine menangis tersedu.

Ia kembali menyeka air matanya. Pintu ruangannya terbuka, Loraine menoleh dengan cepat. Tatapan matanya bertemu langsung dengan tatapan mata perawat.

Perawat itu menunduk pelan sambil tersenyum.

“Maaf saya mengganggu lagi, seseorang telah mengirimkan sesuatu pada anda, bu,” ucapnya.

Pandangan Loraine turun ke arah tangan perawat yang sedang menjinjing sesuatu.

Deghhhh!

Detak jantung Loraine berdegup cepat. Telapak tangannya seketika terasa dingin.

“Leon? Apa dia sudah tahu kalau aku di sini?” pikirnya.

Pikiran itu kembali memenuhi kepala Loraine.

Bersambung…

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dikejar Mantan, Dipeluk Atasan   BAB 78

    “Kalau begitu...” ucap Nathan. Loraine menatapnya.Nathan mengangkat alis. “Bagaimana dengan pesta pernikahan kita?”Pertanyaan itu membuat pikiran Loraine yang sebelumnya sudah mulai tenang kembali berantakan.“Pesta pernikahan,” pikirnya. “Benar. Kami baru saja membicarakan berakhirnya kontrak, lalu Pak Nathan mengungkapkan perasaannya, dan sekarang bagaimana dengan pesta pernikahan yang tinggal beberapa minggu lagi?” batinnya sangat bergejolak. Loraine menundukkan wajah.“Bagaimana dengan pesta pernikahan kita?”Pertanyaan Nathan kembali terngiang di kepalanya. Sejujurnya, Loraine sendiri tidak tahu.“Kalau menurut saya...” Loraine berhenti sejenak. “Saya akan mengikuti keputusan Anda.”Nathan mengerutkan dahi. “Mengikuti keputusanku?”Loraine mengangguk pelan.“Ya. Bagaimanapun, pesta ini awalnya diadakan karena kontrak kita.” Loraine memainkan ujung tisu di tangannya. “Jadi setelah kontraknya berakhir, saya pikir keputusan selanjutnya ada di tangan Anda.”Nathan menatapnya bebe

  • Dikejar Mantan, Dipeluk Atasan   BAB 77

    “Loraine, jangan menangis seperti itu. Aku benar-benar tidak tahu harus melakukan apa.” Suara Nathan terdengar panik.Loraine masih menunduk. Tangannya menggenggam tisu yang diberikan Nathan, sementara air mata terus mengalir tanpa bisa ia hentikan.Ia sendiri tidak mengerti kenapa dirinya menangis sebanyak ini. Padahal Nathan tidak mengatakan sesuatu yang menyakitkan, justru sebaliknya.Untuk pertama kalinya, pria itu mengatakan apa yang sebenarnya ia rasakan. Nathan mencintainya. Kalimat sederhana itu terus berputar di kepala Loraine. “Aku mencintaimu, Loraine.”Entah kenapa, mendengarnya langsung dari mulut Nathan membuat dadanya terasa sesak sekaligus hangat. Selama beberapa waktu terakhir, Loraine memang mulai menyadari bahwa sikap Nathan kepadanya telah berubah.Perhatian kecil yang semakin sering diberikan. Cara Nathan selalu memastikan dirinya sudah makan lalu cara pria itu memperhatikannya ketika mereka sedang berada di rumah. Ba

  • Dikejar Mantan, Dipeluk Atasan   BAB 76

    “Apa yang ingin Anda sampaikan?” tanya Loraine. Nathan terdiam, pertanyaan sederhana itu justru membuat seluruh keberanian yang sudah dikumpulkannya sejak tadi terasa menghilang.Ia menatap Loraine yang masih duduk di hadapannya. Wanita itu terlihat tegang. Kedua tangannya masih berada di atas pangkuan, sementara matanya menatap Nathan dengan penuh rasa penasaran.Nathan menarik napas panjang, ia sudah sampai sejauh ini. Kontrak mereka sudah berakhir. Tidak ada lagi alasan untuk menyembunyikan perasaannya di balik kesepakatan. Jika ia ingin mempertahankan wanita itu, sekarang adalah satu-satunya kesempatan untuk mengatakannya.“Ada sesuatu yang sebenarnya sudah cukup lama ingin kukatakan,” kata Nathan. Loraine menunggu.Nathan menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya berkata, “Mungkin ini akan terdengar egois.”Loraine sedikit mengerutkan dahi. “Egois?” ulangnya. Nathan mengangguk pelan. “Karena setelah kontrak ini berakhir, seharusnya aku membiarkanmu pergi.”Jantung Loraine be

  • Dikejar Mantan, Dipeluk Atasan   BAB 75

    “Mengakhiri kontrak?”Nathan masih terdiam, kalimat Loraine terus berputar di kepalanya. Ia menatap wanita di hadapannya tanpa berkata apa-apa. Untuk beberapa detik, pikirannya benar-benar kosong.Lalu berbagai kemungkinan mulai bermunculan.Jika ia menyetujui permintaan Loraine, semuanya akan selesai. Tidak ada lagi alasan bagi mereka untuk tinggal bersama. Loraine bisa kembali menjalani hidupnya sendiri.“Lalu, bagaimana dengan diriku?” tanya Nathan dalam hati.Ia menundukkan wajahnya. “Tapi jika aku menolak? Aku membutuhkan alasan,” lanjutnya dalam hati.Ia ingin mengakui bahwa dirinya tidak ingin kontrak itu berakhir. Dan itu berarti harus mengakui perasaan yang bahkan sampai sekarang masih dipendamnya itu.Nathan mengepalkan tangannya di bawah meja.“Aku setuju,” suara dalam pikirannya berkata demikian. “Kalau memang dia ingin pergi, lepaskan.” Namun suaranya yang lain segera menyela. “Tidak.” Nathan menarik napas panjang. “Kalau aku mengatakan tidak, lalu apa yang akan kukataka

  • Dikejar Mantan, Dipeluk Atasan   BAB 74

    Dua bulan berlalu sejak Nathan pertama kali menyadari bahwa perasaannya terhadap Loraine sudah berubah. Sejak saat itu, banyak hal berubah di antara mereka. Belum ada pengakuan atau pembicaraan mengenai perasaan masing-masing. Tapi Nathan juga tidak lagi berusaha menyembunyikan perhatiannya kepada Loraine. Jika sebelumnya ia selalu mencari alasan untuk membantu wanita itu, kini ia melakukannya tanpa banyak berpikir.Loraine pun mulai terbiasa dengan kebiasaan-kebiasaan kecil dengan Nathan yang perlahan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.~Suasana di kantor Green Group jauh lebih sibuk daripada biasanya. Hari itu merupakan hari yang sudah ditunggu-tunggu Nathan selama berbulan-bulan. Pengumuman resmi mengenai posisi barunya akhirnya disampaikan.Nathan West secara resmi dipromosikan menjadi Wakil CEO Green Group. Berita tersebut langsung menjadi bahan pembicaraan di seluruh perusahaan.Beberapa karyawan mengucapkan selamat ketika Nathan melewati lorong kantor. Bahkan beberapa

  • Dikejar Mantan, Dipeluk Atasan   BAB 73

    Senin pagi datang terlalu cepat bagi Nathan. Pria itu berdiri di depan cermin sambil merapikan dasinya. Tatapannya tampak serius, tetapi pikirannya justru dipenuhi satu hal yang sama sekali tidak berhubungan dengan pekerjaannya.Loraine.Nathan menghela napas. “Mulai hari ini, bersikaplah biasa.” Ia menatap pantulan dirinya sendiri.“Dia tetap sekretarisku. Aku tetap atasannya.” Nathan mengangguk seolah sedang memberikan instruksi penting kepada dirinya sendiri.“Tidak perlu memperhatikannya terus-menerus. Tidak perlu memikirkan apa yang dia lakukan. Dan yang paling penting…”Ia berhenti sejenak.“Jangan bersikap aneh.”Setelah merasa cukup yakin, Nathan mengambil jasnya lalu keluar dari kamar. Namun begitu turun ke lantai bawah, langkahnya langsung berhenti.Loraine sudah berada di meja makan. Wanita itu sedang mengobrol dengan bibi Ratna sambil sesekali melihat jam di dinding. Rambut panjangnya diikat sederhana. Pakaian kerjanya sudah rapi.Nathan terdiam.“Pagi, Pak Nathan.”Nathan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status