LOGIN“SIAL!”
Kata itu keluar begitu saja saat dia melihat tas milik Loraine tertinggal di dalam mobilnya. Dengan segera ia meraihnya dan membuka. “Ponselnya di dalam tas ini!” ucapnya. “Perusahaan tidak menoleransi jika karyawannya tidak masuk tanpa keterangan jelas. Wanita itu dalam masalah jika ia tak bisa menghubungi kantor karena sedang opname, kan. Apes banget nasibnya,” gumamnya. Nathan mencoba menyalakan ponsel milik Loraine itu, “bisa-bisanya ponselnya tak memakai sandi, coba ku cari kontak asisten manajer atau manajernya.” Saat membuka kontaknya, Nathan menggelengkan kepalanya. Ia benar-benar tak habis pikir, bisa-bisanya tak memiliki satu kontak tersimpan. “Apa dia dirundung dan dikucilkan di kantor? Bukankah perusahaan akan menindak tegas jika terjadi perundungan antar karyawan. Ah sudahlah,” Nathan kembali memasukkan ponsel milik Loraine ke dalam tas itu seperti semula. Ia mengeluarkan ponselnya untuk menelepon Jackson. “Halo, pak. Ada yang bisa saya bantu?” jawab Jackson. “Tolong sampaikan ke bagian SDM, bahwa karyawan bernama Loraine tidak masuk hari ini karena opname. Proses secepat mungkin.” “Yang bersangkutan di unit apa, pak?” “Kau cari tahu sendiri, bukankah itu tugasmu?” Nathan menutup ponselnya. Di waktu yang sama, Loraine merasa jauh lebih baik. Saat perawat berkunjung, ia menanyakan apakah sudah boleh pulang hari ini. Perawat itu menjelaskan bahwa ia baru bisa pulang besok. Loraine menatap ke arah luar jendela, langit terlihat cerah. Seolah beban hidupnya terasa tak seberapa dibandingkan awan-awan di langit. “Syukurlah, sebelum pulang kerja kemarin aku sudah mengajukan cuti untuk dua hari. Setidaknya ponselku hilang tak menjadi masalah besar buatku. Toh tak ada hal penting di dalamnya,” gumamnya. Hari itu ia merasa sedikit damai atau mungkin terasa ringan seolah semua beban hidupnya terangkat sementara. “Aku harap perasaan ini tak sementara,” bisiknya pelan. Lalu setelahnya ia tertawa getir, “orang sepertiku tak pantas mengharapkan kedamaian. Hanya kesepianlah yang paling setia menemaniku pada akhirnya.” “Ya, aku memang terlahir seperti itu, kan? Bahkan orang tuaku telah membuangku saat aku lahir,” senyum getir itu kembali menghiasi wajahnya. “Selain itu… anakku, bahkan juga meninggalkanku disaat aku menjaganya sepenuh hati,” Loraine menangis sambil meremas perutnya. Ia teringat kandungannya yang keguguran. Kemudian tersadar dan menyeka air matanya sendiri. Loraine menarik napas panjang dan menghembuskan pelan. “Maafkan ibu, nak,” bisiknya akhirnya dengan suara yang bergetar. Perawat kembali datang untuk mengantarkan makan siang. Ia menyapa namun Loraine tak menjawabnya. Perawat itu mengamatinya, tampak hidung dan matanya masih membekas warna merahㅡjelas akibat menangis. “Ehm… selamat siang, bu” ucap perawat pelan. “Ah… ya, siang. Maaf saya sepertinya melamun, hingga tak menyadari kedatangan anda,” jawab Loraine. “Cuaca di luar terlihat cerah, apa ibu mau saya temani keluar menghirup udara segar? Anda bisa sekalian makan siang juga seperti sedang piknik,” kata perawat. “Terima kasih, tapi saya hanya ingin sendirian di sini saja,” jawab Loraine. “Baiklah, kalau begitu saya permisi,” pamit perawat itu. Loraine menatap makanan yang sudah disiapkan perawat tadi. Dia hanya memakan beberapa suap saja akibat tak berselera makan. Ia kembali membaringkan tubuhnya. Punggungnya sesekali terasa perih, namun masih bisa ditahan. “Tadi malam, jika pak Nathan tak menyelamatkanku. Bukankah artinya aku bisa bertemu dan berkumpul dengan anakku, kan?” gumamnya pelan dan air matanya kembali menetes tanpa sadar. “Apa anakku mau bertemu ibu pengecut sepertiku? Bahkan aku saja tak pantas sekedar mengharapkan bertemu dengan anakku,” Loraine menangis tersedu. Ia kembali menyeka air matanya. Pintu ruangannya terbuka, Loraine menoleh dengan cepat. Tatapan matanya bertemu langsung dengan tatapan mata perawat. Perawat itu menunduk pelan sambil tersenyum. “Maaf saya mengganggu lagi, seseorang telah mengirimkan sesuatu pada anda, bu,” ucapnya. Pandangan Loraine turun ke arah tangan perawat yang sedang menjinjing sesuatu. Deghhhh! Detak jantung Loraine berdegup cepat. Telapak tangannya seketika terasa dingin. “Leon? Apa dia sudah tahu kalau aku di sini?” pikirnya. Pikiran itu kembali memenuhi kepala Loraine. Bersambung…Loraine akhirnya kembali bekerja. Pagi itu, ia duduk di meja kerjanya yang berada tepat di luar ruangan Nathan. Di seberangnya, Jackson sudah sibuk memeriksa beberapa dokumen yang menumpuk. “Selamat datang kembali di dunia kerja,” ucap Jackson tanpa mengalihkan pandangan dari layar komputernya. Loraine tertawa kecil. “Terima kasih.” “Bagaimana rasanya kembali?” “Lumayan.” Jackson meliriknya. “Tidak merasa ingin kembali libur?” “Kalau bisa, tentu saja.” Jackson mengangguk setuju. “Jawaban yang sangat jujur.” Loraine baru saja membuka salah satu dokumen ketika pintu ruangan Nathan terbuka. “Bu Loraine.” Loraine langsung menoleh. “Ya, Pak?” “Bisa masuk sebentar?” “Baik.” Loraine bangkit dari kursinya dan membawa sebuah map sebelum masuk ke ruangan Nathan. Jackson memperhatikan pintu yang kembali tertutup. Ia kemudian melihat jam. Lima belas menit telah berlalu. Jackson kembali menatap pintu itu. “Mentang-mentang sudah resmi menikah, sekarang terang-terangan berduaan,” gerut
Beberapa hari berlalu setelah keluarga Kimberly menerima konsekuensi atas apa yang mereka lakukan.Untuk pertama kalinya setelah minggu-minggu yang berat, Nathan dan Loraine benar-benar terasa tenang.Pagi itu, Loraine berdiri di depan meja makan sambil memperhatikan Nathan yang masih membaca sesuatu di tablet.“Bukankah kau bilang sudah tidak mau membuka pekerjaan saat sarapan?”Nathan mengangkat wajah. “Aku tidak sedang bekerja.”Loraine menunjuk layar di tangannya. “Lalu itu apa?”Nathan melihat tabletnya sendiri sebelum tersenyum santai. “Laporan.”“Laporan itu pekerjaan.”“Ini hanya lima menit.”Loraine menarik napas panjang lalu mengambil tablet tersebut dari tangannya.“Nathan.”“Loraine.”“Sudah.”Nathan menatap istrinya yang dengan tenang meletakkan tablet itu jauh dari jangkauannya. “Kau sekarang mulai mengatur ya.”“Apa tak boleh?”Nathan tertawa kecil. “Baiklah. Aku menyerah.”Loraine kembali duduk di hadapannya. “Bagus.”Nathan memperhatikannya beberapa detik sebelum berk
Pagi itu, sebelum ayah Kimberly sempat melakukan apa pun terhadap bukti yang masih tersisa, suara ketukan keras terdengar dari pintu rumahnya.Pria itu baru saja turun dari tangga ketika beberapa orang berseragam berdiri di hadapannya dengan surat perintah penangkapan. Wajahnya seketika berubah saat salah satu penyidik menyebut namanya dan mengatakan bahwa ia diperiksa atas dugaan keterlibatan dalam rekayasa kecelakaan bus dua puluh tahun lalu.“Apa maksud kalian?” tanyanya dengan suara berat.“Kami memiliki cukup bukti untuk membawa Anda ke kantor kepolisian.”Pria itu sempat mencoba membantah, tetapi tidak ada lagi ruang untuk berkelit. Kesaksian mantan pekerja bengkel, catatan pembayaran, dokumen perusahaan, serta pengakuan Kimberly telah membentuk rangkaian bukti yang tidak mudah dipatahkan.Untuk pertama kalinya setelah dua puluh tahun, pria yang selama ini bersembunyi di balik nama besar keluarganya akhirnya dibawa pergi dengan tangan terikat. Dan kali ini, tidak ada seorang pun
Pagi berikutnya, suasana di rumah utama keluarga Green terasa jauh lebih berat daripada biasanya.Tidak ada percakapan santai seperti hari-hari sebelumnya. Para anggota keluarga yang mengetahui Kimberly sedang diperiksa polisi memilih diam, sementara August sejak pagi belum kembali ke rumah setelah meninggalkan kantor kepolisian tempat istrinya menjalani pemeriksaan lanjutan.~Di tempat lain di ruang keluarga West, Nathan duduk bersama Loraine, Clara, Daniel, Adrian, dan Daisy. Tidak seorang pun berbicara sampai suara pintu terbuka.Jackson masuk sambil membawa sebuah map tebal di tangannya.Nathan langsung menatapnya. “Bagaimana?”Jackson berjalan mendekat dan meletakkan map tersebut di atas meja. “Kami menemukan bukti terakhir yang kami butuhkan.”Adrian yang sejak tadi diam langsung mengangkat wajah. “Bukti apa?”Jackson membuka map itu perlahan. “Mantan pekerja bengkel yang saya ceritakan sebelumnya akhirnya memberikan keterangan lengkap. Setelah melihat kembali salinan surat pem
Ruangan pemeriksaan itu terasa jauh lebih dingin daripada yang Kimberly bayangkan.Ia duduk di salah satu sisi meja dengan seorang pengacara di sampingnya. Di seberang mereka, dua penyidik membuka beberapa map berisi dokumen yang sudah dikumpulkan selama penyelidikan ulang kecelakaan bus dua puluh tahun lalu. Kimberly berusaha mempertahankan wajah tenangnya, tetapi kedua tangannya yang sejak tadi saling menggenggam terlalu erat menunjukkan hal yang berbeda.“Sekali lagi kami tegaskan, Nyonya Kimberly. Pemeriksaan ini dilakukan untuk memperoleh keterangan Anda mengenai sejumlah bukti yang ditemukan dalam penyelidikan ulang,” ujar penyidik di depannya.Kimberly mengangguk pelan. “Saya mengerti.”Penyidik membuka dokumen pertama.“Pada pemeriksaan kendaraan sebelum kecelakaan, tidak ditemukan kerusakan serius pada sistem pengereman bus tersebut. Namun setelah kecelakaan, ditemukan kerusakan yang cukup parah pada bagian yang sama.”Kimberly hanya diam.“Apakah Anda mengetahui hal tersebut
Pagi itu, rumah utama keluarga Green yang biasanya tenang mendadak kedatangan beberapa orang berseragam polisi.Beberapa pelayan yang sedang berada di ruang depan saling berpandangan ketika dua polisi masuk bersama seorang penyidik. Mereka tidak datang untuk sekedar bertamu, karena salah satu dari mereka membawa sebuah map berwarna cokelat yang sejak tadi berada erat di tangannya.“Maaf mengganggu. Kami ingin bertemu dengan Nyonya Kimberly,” ujar salah satu polisi.Kakek Green yang kebetulan sedang duduk di ruang keluarga langsung mengernyitkan dahi. “Ada urusan apa polisi datang ke rumah saya?”“Kami membawa surat perintah pemeriksaan terkait penyelidikan kecelakaan bus dua puluh tahun lalu.”Suasana seketika berubah.Nenek Green yang duduk tidak jauh dari Kakek langsung menatap polisi itu dengan wajah terkejut. Sementara beberapa anggota keluarga yang sedang berada di ruangan tersebut mulai saling berbisik.“Kecelakaan dua puluh tahun lalu?” ulang Kakek dengan suara berat.“Benar, T







