Share

4. Ide Gila

Penulis: Songdeok eunjoo
last update Terakhir Diperbarui: 2025-04-13 04:01:30

Hoek! Hoek!

Belum sempat Danis menyingkirkan Zahira, wanita itu sudah muntah.

"Akkhh!" Danis memekik dengan suara tertahan, saat jasnya yang mahal terkena muntahan wanita itu. Aromanya sangat bau, antara bau amis susu, minuman alkohol dan cairan lambung.

Satu kata 'Menjijikan' itu yang ada di kepala Danis.

"Ma-af ..."

Hoek!

Kali kedua Zahira muntah di atas rumput, tubuhnya membungkuk, kedua tangannya memegang rambut pendek sebahunya yang terurai.

Danis hanya bisa berdiri dengan kesal sambil memijit keningnya. Dia mau marah tapi percuma, jasnya sudah kotor, dengan kasar Danis segera melepasnya.

Setelah hampir memuntahkan seluruh isi perutnya, kepala Zahira merasa sedikit ringan. Walaupun rahangnya terasa sakit dan dia masih sedikit pusing. "Tuan Gigolo ... " panggilnya dengan bibir mengerucut.

Kali ini Danis menyodorkan air mineral, "Minum ini juga!" titahnya dengan galak.

Zahira yang sudah mulai membaik, baru menyadari bahwa dirinya sedang berjalan sambil di peluk oleh pria asing. Namun dia membiarkannya karena kedua kakinya juga terasa lemas. "Tuan Gigolo, kita di mana?" ujarnya lirih.

"Kamu sudah sedikit sadar, apa kamu ingin berubah pikiran?" tanya Danis. Dia tidak mau di salahkan jika nanti terjadi hal yang di luar batas.

Zahira mendongak, matanya yang indah berkedip. Setelah diam beberapa saat, Zahira membuka mulutnya, "Aku ingin menyewamu bukan karena aku sedang tidak sadar. Aku hanya butuh teman."

Wajah Danis yang dingin menatap lamat mata Zahira. Mata yang sangat familiar baginya, namun karena dia amnesia jadi tidak ada yang dia ingat. Dengan nada sedikit menggoda, Danis bertanya, "Jadi lanjut ini? Kamu tidak menyesal?"

"Tidak! Lanjutkan saja. Tapi kita pergi ke hotel saja. Tidak usah menyewa apartemen. Uangku tidak cukup," ujar Zahira dengan suara canggung.

"Ini tempat tinggalku, kamu tenang saja. Kamu cukup bayar jasaku saja," ujar Danis dengan nada sedikit ramah. "Aku tahu kamu rakyat jelata," lanjutnya.

Zahira ingin menangis saat mendengar kata 'Rakyat jelata' tapi untuk beberapa saat dia justru tertawa, "Wah! Hanya Gigolo, tapi bisa punya apartemen mewah. Aku saja tinggal di rumah rusun yang kumuh. Hebat! Kamu Gigolo sukses ternyata!"

Entah apa yang terjadi pada diri Danis, dia tidak bisa marah kali ini saat mendengar celotehan wanita itu. Wanita konyol itu benar-benar percaya bahwa dia adalah seorang gigolo. "Naif dan mudah tertipu," batin Danis dengan senyum penuh arti.

Ting!

Suara lift terbuka, Danis tampak kewalahan, tangan Denis memegang pinggang Zahira dengan erat dan satunya memegang tas dan jas kotor miliknya.

Di sebuah mobil hitam yang misterius, ada seorang pria yang sedang mengecek hasil gambar tangkapannya di sebuah kamera digital.

Tanpa Danis sadari bahwa ada seseorang yang mengambil fotonya dari luar club sampai ke dalam lobi apartemen. Tanpa izinnya dan pasti ada niat buruk yang akan merugikan dirinya. "Kita lihat saja Danis! Apakah kamu bisa menghadapi skandal ini?!" Pria asing itu mengangkat sudut bibirnya.

Setelah sampai di dalam unit apartemen Danis, Zahira duduk di sisi ranjang.

"Kamu duduk di sini, aku mau mandi," ujar Danis dengan ketus.

Zahira mengangguk dengan patuh, namun matanya mulai terasa berat. Saking ngantuknya, tubuh Zahira jatuh di atas ranjang dengan posisi terlentang dan kaki yang masih menempel di lantai. Matanya yang sayu mulai terpejam.

Beberapa saat kemudian, Danis keluar dari kamar mandi. Dia hanya menggunakan handuk di pinggangnya. Langkahnya tertahan saat mata elangnya seperti melihat makanan yang menggiurkan tersaji di atas ranjang. Pria itu hanya berdiri menatap tubuh Zahira yang indah dan terbungkus gaun yang indah juga.

Danis berjalan mendekatinya, lalu saat dia berdiri tepat di samping kaki wanita itu. Danis hanya memandangi wanita yang tertidur pulas di ranjangnya. "Cantik, naif dan bodoh!" gumam Danis.

Tanpa dia sadari, bibirnya yang tipis mengulas senyum. Lalu merasakan ada reaksi aneh di tubuhnya. Danis segera berpaling saat wajahnya mulai terasa panas, darahnya berdesir dan jantungnya berdebar-debar. Jangkunnya juga naik turun, dia merasakan gairah yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.

Atau mungkin dia lupa. Maklum amnesia!

"Aku harus pakai baju atau aku akan hilang akal!" ujar Danis. Pria itu pergi menuju lemarinya guna berganti pakaian.

Saat Danis hendak membuka lemari bajunya, tangannya tertahan di udara saat mendengar suara lembut mengalun.

"Kak Emran ... "

Wanita itu mengigau, wajahnya tampak kesulitan.

Saat Danis mendengar wanita itu mengigau dengan menyebut nama pria lain. Dia merasa sedikit kesal dan agak cemburu. Danis tertawa mencibir, "Apa dia menganggapku sebagai pelampiasan?"

Karena tidak terima, Danis melangkah maju ke arah wanita itu. Lalu kemudian dia menyadari sesuatu, "Eh ... emang iya kan?" gumamnya. "Ada apa denganku?" batinnya.

Danis merasa frustasi, bebannya kini bertambah. Selain kehilangan sebagian ingatan, dia juga bingung dengan jantungnya yang berdebar pada wanita asing itu. Kecelakan tunggal itu benar-benar merubah hidupnya. Ingatannya hanya sampai usia 20 tahun saja, selebihnya hilang.

Di balik semua pikirannya yang berkecambuk, Danis mempunyai ide gila. Apakah ide gila itu?

Paginya.

Zahira menggeliat, kepalanya terasa pening, tubuhnya sakit semua. Wanita itu langsung bangun dan duduk, dia menguap sambil mengucek-ucek matanya. Setelah nyawanya terkumpul, dia merasakan hal yang aneh. "Aku di mana?" gumamnya sambil melihat ke sekeliling.

Ranjang yang empuk dan mewah, kamar yang rapih dan bernuansa klasik. Gaun pesta yang berserakan di lantai plus daleman juga. Ada tissu bekas yang berhambur. Wajah Zahira langsung memucat, "Itu gaunku kan?" tanyanya.

Benar saja! Saat Zahira menyibak selimut, tubuh munyilnya polos alias bugil. "Akkkkhhhh!!!" Zahira memekik saat ada noda merah di seprei. "Siapa yang memperkosaku!"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dikhianati Mantan, Dijadikan Tunangan CEO Galak   76. Air Mata Buaya

    Zahira yang sedang berkemas menoleh dan terseyum lalu berkata, "Dokter Emran tidak di sini, Ta."Talitha tertawa, "Aku tahu."Setelah mendengar jawaban Talitah, Zahira tidak berkata apa-apa lagi. Setelah selesai berkemas dia pergi melewati Talitha dengan acuh tak acuh. Kedua tangan Talitha terkepal kuat, senyumnya langsung menghilang. Gadis itu mengejar Zahira dan menarik lengannya, "Tunggu, Ra. Aku datang kesini mau ngomong sesuatu."Zahira melepas cekalan tangan Talitha dengan hati-hati, "Aku ngantuk, kapan-kapan aja ya."Mata Talitha berkaca-kaca, dia bahkan sampai menitikkan air mata dan berkata dengan sedih, "Kamu ngindari aku ya? Mentang-mentang kamu adik Zaidan dan pacar Danis jadi lupa sama ak.""Bukan begitu, Ta. Tapi menurutku, kita sebaiknya emang jaga jarak," ujar Zahira dengan canggung.Sebenarnya Zahira memang ingin jaga jarak kepada Talitha dan Emran. Tapi karena dia orang yang tidak enakan, Zahira menjadi merasa bersalah.Talitha tersenyum. "Aku cuma bercanda kok. Kam

  • Dikhianati Mantan, Dijadikan Tunangan CEO Galak   75. Ancaman Emran

    "Ya! Lagian perawat itu kekasihku. Dia hanya sedang merajuk." Emran kembali menegakkan punggungnya, kedua tangannya terlipat di dada dan mengangkat wajahnya dengan bangga. Revan mendengkus dan membuang muka. Tidak lama kemudian, pintu kembali terbuka,. Zahira datang sambil membawa nampan yang berisi perlengkapan merawat luka. Tanpa sadar, dua pria itu tersenyum lembut, yang satu menatapnya dengan penuh kerinduan dan yang satu menatapnya dengan cinta yang mengebu-gebu. Emran menyingkir dan membiarkan Zahira melakukan tugasnya. Zahira memegang tangan Revan dan perlahan melepaskan perban. "Lukanya kembali robek. Tolong tahan ya Pak." Revan memiringkan kepalanya lalu berkata dengan nada menggoda, "Tidak masalah. Aku bahkan rela dirawat oleh Suster secantik anda seumur hidup." Tepat saat Zahira mengangkat wajahnya, Revan berkedip dengan genit. Zahira hampir tersedak air liurnya sendiri. Gadis itu hanya bisa tersenyum canggung. Kenapa selalu seperti ini? Siapapun pria yang Zahira t

  • Dikhianati Mantan, Dijadikan Tunangan CEO Galak   74. Devan

    "Rumah sakit," jawab Emran dengan acuh tak acuh. Pria itu masuk kembali ke dalam kamar mandi. Dahi Talitha mengerut melihat masih ada busa sabun di tengkuk suaminya. Itu artinya pria itu belum selesai mandi dan keluar dengan terburu-buru. Sekarang berbagai pertanyaan muncul di kepalan Talitha.Hah! Taitha benar-benar kesal dan pusing di buatnya.***Malam ini Zahira shift malam. Saat Zahira berjalan sendiri di koridor setelah dari kamar mandi, dia melihat sosok yang tidak asing berdiri tidak jauh di depan ruang perawat. Zahira tanpa sadar memelankan langkahnya dengan perasaan was-was.Sosok itu adalah Emran. Pria itu tersenyum dan melambaikan tangan. Zahira reflek menoleh kebelakang untuk memastikan tapi tidak ada siapapun kecuali dirinya."Zahira ... " panggil Emran.Deg!Panggilan itu hampir membuat jantung Zahira jatuh, dia menggigit bibirnya karena takut. Sikap Emran yang keras kepala dan obsesif benar-benar membuat Zahira trauma. Gadis itu berpura-pura tidak dengar, dia yang ha

  • Dikhianati Mantan, Dijadikan Tunangan CEO Galak   73. Budak Cinta

    Ucapan Zahira begitu lembut dan sopan, namun setiap katanya mengandung duri yang tajam. Wulan membeku di tempat, wajah ramahnya hilang tak berjejak. Namun sekali lagi, dia menahan diri demi status dan kemewahan. Wulan meraih gelas minumnya dan meneguknya hingga tandas. Wulan mengelap bibirnya dengan tissu lalu melirik jam tangannya dan berkata dengan lembut, "Maaf ya Ra ... Tante pamit dulu karena ada janji. Tapi tolong pertimbangkan tawaran Tante, oke ... " Zahira mengangkat kelopak matanya, matanya yang hitam dan jernih dipenuhi hawa dingin. Dia tidak menyangka ada orang yang tidak tahu malu seperti Wulan. Wulan berdiri dengan santai, mengambil tas mahalnya dan tersenyum. Saat berbalik badan dan berjalan menuju pintu keluar, ekspresi Wulan tampak mengerikan. Zahira melirik kue yang sudah tidak berbentuk itu dengan jijik dan bergumam, "Sayang sekali, padahal kuenya enak." *** Thalita duduk di meja rias sambil bersolek, dia masih menggunakan jubah mandi dan rambutnya yang bas

  • Dikhianati Mantan, Dijadikan Tunangan CEO Galak   72. Lamaran Wulan

    Pertanyaan itu cukup membuat Zahira termangu beberapa detik, "Maksudnya?"Wulan mengerutkan bibirnya dan wajahnya berubah murung lalu berkata dengan nada sedih, "Ehhh ... Talitha sangat sibuk, dia tidak pernah di rumah dan tidak pernah mengurus putraku. Jika di rumah dia hanya malas-malasan."Wulan menceritakan kehidupan Emran dan Talitha yang tidak ada hubungan dengan Zahira, membuat gadis itu merasa canggung. Zahira mengusap tengkuknya lalu berkata sambil tersenyum tipis, "Wajar si ... Talitha kan sedang hamil."Melihat ekspresi Zahira yang polos dan tidak terpengaruh membuat Wulan merasa kesal. Wanita paruh baya itu hanya menggertakkan giginya lalu kembali berpura-pura. Wulan kembali menghela nafas dan terlihat tidak berdaya. "Aku juga pernah hamil, tapi aku merasa dia aneh. Dia kadang terlihat dingin dan acuh pada Emran. Aku juga dengar rumor bahwa dia sedang dekat dengan pria lain. Jangan-jangan anak itu bukan milik putraku."Setelah mengatakan hal buruk pada menantunya yang dulu

  • Dikhianati Mantan, Dijadikan Tunangan CEO Galak   71. Pesan Sesat

    Melihat Zahira ketakutan, Wulan menggigit bibirnya dengan canggung dan berkata dengan lembut dan hati-hati, "Boleh masuk, Ra? Ada hal yang ingin aku katakan." Zahira tercengang. Apakah matahari terbit dari barat? Kenapa nyonya angkuh seperti Wulan akan bersikap rendah hati seperti ini. Semakin dipikirkan, semakin terasa mustahil. Melihat Wulan begitu sopan, Zahira semakin merasa gelisah. Dia berkedip beberapa kali sambil memegang gagang pintu dengan kuat. Dia masih ingat setiap interaksi bersama Wulan, mereka tidak pernah berakhir menyenangkan. Jadi Zahira harus membuat alasan karena tidak ingin berduaan saja dengan ibu mantan pacarnya yang problematik itu. Setelah menenangkan diri, Zahira berdehem dan mulai merangkai alasan. "Tante, kebetulan tempat tinggalku masih berantakan. Sebentar lagi orang yang akan membereskannya akan segera datang. Bagaimana kalau kita mengobrol di kafe depan?" ujarnya dengan ragu. Jika ada interaksi di antara mereka berdua harus di depan umum agar ti

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status